Bab 4
Keesokan harinya, matahari terbit dengan malu-malu, menyembul dari balik kabut pagi desa Sukadamai.
Di dalam rumah gubuknya yang sederhana, Lilis yang sudah bangun sebelum azan Subuh, sedang menanak nasi di atas tungku api kayu bakar.
Matanya sedikit bengkak, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Campuran antara rasa malu dan gejolak rasa rindu pada sosok Sadewa yang telah menjadi sosok pahlawan baru dalam hidupnya.
Wajah Dewa yang tampan, tutur katanya yang sopan, sikapnya yang lembut namun melindungi, membuat benih benih cinta tumbuh begitu saja dalam hati Lilis.
Semalaman Lilis tak dapat memejamkan mata. Teringat akan sosok Sadewa yang dengan gentleman menyelamatkan harga diri Lilis dari gangguan pemuda pemuda berandalan itu.
Setelah menanak nasi, pagi pagi sekali Lilis pergi ke sungai untuk mencuci sarung milik dewa. Dicucinya dengan hati hati, diberi pewangi lalu dijemur secara khusus. Sianh harinya setelah sarungnya kering, barulah Lilis menyetrika dengan disemprot pewangi sederhana agar Sadewa terkesan.
Bu Zubaedah, yang melihat kesungguhan putrinya, hanya bisa tersenyum pilu. Dia tahu, kebaikan kecil Sadewa telah menjadi oasis di padang pasir pengasingan hidup Lilis.
“Lis, biar Ibu saja yang kembalikan sarungnya ke rumah Pak Lurah. Kamu tunggu saja di sini,” tawar Bu Zubaedah saat melihat Lilis melipat sarung dengan berhati-hati agar tidak ada satu lipatan pun yang salah.
Lilis menggeleng, tatapannya rendah. "Enggak usah, Bu. Biar Lilis saja yang mengembalikannya sendiri. Semalam Lilis belum mengucapkan terima kasih. Maka itu Lilis ingin mengucapkan terima kasih langsung pada Mas Dewa.” Suaranya lirih, tapi mengandung tekad yang membuat ibunya terkejut. Ini adalah Lilis yang berbeda. Lilis yang biasanya selalu menghindari orang lain, sekarang bersikeras ingin bertemu langsung dengan Sadewa.
“Tapi, sayang…”
“Bu, dia sudah baik sama lilis. Dia melihat aku menangis, kedinginan, dipermalukan… tapi dia enggak ikut menertawakan. Dia justru menolong dan membela Lilis dari pemuda berandalan itu. Dia bahkan… enggak jijiksama lilis,” ucap Lilis, matanya berkaca-kaca mengenang kembali kejadian semalam. “lilis hanya ingin mengucapkan terima kasih. Itu aja kok. Setelah itu, Lilis akan langsung pulang.” Ucapan terakhir itu diiringi senyum getir.
Bu Zubaedah menghela napas, lalu mengangguk pelan. Dia memahami. Mungkin ini adalah salah satu momen manusiawi terakhir yang bisa diambil putrinya sebelum dunia sepenuhnya mengeras di sekelilingnya.
“Baiklah, Lis. Tapi kamu harus berhati-hati, ya! Jangan sampe kamu diganggu berandalan lagi. Pakailah kerudung dan masker. Jangan sampai… jangan ada orang lain lagi yang menghina hina kamu. Ibu enggak rela, Nak.”
"Iya, Bu." Angguk Lilis, patuh.
---
Siang itu, tepat saat matahari mulai tegak, Lilis bersiap. Dia mengenakan baju lengan panjang yang paling bagus meskipun lusuh, tapi bersih dipadukan dengan kerudung polos berwarna biru muda yang menutupi rambutnya yang borokan.
Sebuah masker kain menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan matanya yang indah berbentuk almond, yang sekarang memancarkan kecemasan dan sedikit harap harap cemas. Sarung Sadewa yang sudah dilipat rapi dimasukkan ke dalam kantong plastik putih bersih.
Dia tahu kebiasaan Sadewa setiap hari, pemuda itu seperti kebanyakan lelaki desa. Dia rajin membantu di ladang milik keluarganya di bukit kecil sebelah utara. Lilis tahu betul rutinitas para petani yang biasanya pulang setengah jam sebelum azan Zuhur, melewati jalan setapak di dekat rumpun bambu besar di tepi sungai. Disana lah Lilis berdiri menunggu, Tempat yang cukup sepi dan terlindungi dari lalu lalang orang orang.
Dengan jantung berdebar-debar, Lilis menunggu di balik rumpun bambu yang rimbun, menyembunyikan dirinya dari orang-orang yang sesekali lewat membawa hasil kebun atau pulang dari pasar. Setiap langkah kaki membuatnya tegang, setiap suara membuatnya ingin lari. Tapi Lilis bertahan. Genggamannya pada kantong plastik itu kuat.
Lalu, dia muncul.
Sadewa berjalan dengan langkah pasti. Pemuda itu memanggul cangkul di pundaknya, memakai singlet, memamerkan otot ototnya yang terpahat simetris khas petani. Singletnya yang sederhana penuh dengan noda getah posang, wajahnya berkeringat namun tetap memancarkan ketenangan dan kekuatan.
Lilis menarik napas dalam-dalam. Keberaniannya hampir runtuh. Dia hampir saja kabur karena malu.
"Apa yang aku lakukan ini? Dia putra pak lurah. Aku hanya… aku hanya…"
Tapi sebelum keraguannya menang, kaki sudah melangkah. Dia keluar dari persembunyian, tepat di hadapan Sadewa.
“M-Mas Dewa…”
Sadewa terhenti, sedikit kaget. Di hadapannya berdiri seorang wanita berkerudung dan bermasker. Tapi matanya… dan postur tubuhnya yang gemetar… Sadewa segera mengenali.
“Lilis?” tanyanya, suaranya lembut seperti semalam. Dia menurunkan cangkul dari pundaknya.
Lilis mengangguk cepat, lalu menunduk, tak berani bersitatap dengan lelaki di hadapannya. Tangannya yang gemetar menyodorkan kantong plastik. “Ini… sarungnya, Mas. Sudah saya cuci dan setrika. Terima… terima kasih banyak untuk semalam. Maaf sudah merepotkan.” Ucapannya terbata-bata, kata kata itu dikeluarkan dengan susah payah.
Sadewa menerima kantong plastik itu. Senyum kecil yang hangat muncul di wajahnya.
“Terima kasih sudah dicuci. Tapi Lilis, kamu tidak perlu repot-repot menyetrikanya. Dan kamu sama sekali tidak merepotkan. Justru mereka bertiga itu yang salah.” Dia menjawab sambil matanya menatap Lilis dengan perhatian penuh. Tidak ada sekelumit pun ekspresi jijik atau ketidaksabaran. Yang ada hanyalah empati. “Kamu baik-baik saja sekarang? Ibumu tidak marah?”
Lilis, di balik maskernya, tersipu. Dia menggeleng. “Tidak, Mas. Ibu juga berterima kasih. Kami… kami tidak tahu harus membalas kebaikan Mas bagaimana.”
“Balas? Tidak perlu dibalas. Itu sudah kewajiban sebagai sesama. Lagian, siapa pun orangnya pasti akan melakukan hal yang sama,” kata Sadewa dengan nada rendah hati. Dia memperhatikan Lilis yang masih menunduk. “Kamu berani sekali datang sendiri ke sini. Jalan sendirian?”
“Saya… saya sembunyi-sembunyi, Mas. Menunggu di balik bambu,” aku Lilis, polos.
Sadewa terdiam sejenak. Rasa iba yang dalam menyergapnya. Betapa sulitnya hidup gadis ini sampai untuk sekadar mengembalikan barang harus bersembunyi seperti pencuri. “Lain kali kalau ada apa-apa, atau butuh bantuan, kamu bisa ke rumah. Jangan takut. Ibu dan Bapak saya baik-baik saja. Atau… sampaikan lewat ibumu juga boleh.”
Perkataan itu begitu tulus, sehingga Lilis merasa dadanya sesak oleh kata kata dewa.
Belum pernah ada satu orangpun lelaki di dunia ini yang bisa bersikap baik padanya selain Sadewa.
Lilis tidak bisa berkata-kata, gadis itu hanya bisa mengangguk lagi. Dalam diam, dia mencuri pandang pada wajah Sadewa yang diterpa sinar matahari siang. Alisnya tebal dan rapi, hidungnya mancung, kulitnya sawo matang, bibirnya tersenyum dengan lembut. Postur tubuhnya kekar dan kuat, tapi tidak sangar atau menyeramkan. Dia seperti pangeran dari dongeng yang turun ke dunia nyata—dan kebetulan menyelamatkannya.
