Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1.

Namanya Lilis Kurniati. Seorang gadis perawan di desa Sukadamai yang hingga di usia mendekati 30 tahun, belum juga menikah.

Lagi pula... laki laki mana yang sudi menikah dengan gadis busuk seperti Lilis? Selain wajahnya buruk dan monyong seperti kuda, tubuhnya juga mengeluarkan aroma tak sedap, rambutnya korengan, kulitnya penuh dengan bercak bercak panu yang sudah menetap selama bertahun tahun dalam hidupnya.

Pagi ini di sungai,  gadis buruk rupa yang mengenakan kemben kain sarung itu duduk di sebuah batu datar, tangannya yang kasar menggosok pakaian lusuh milknya di atas batu cuci yang sudah licin.

Ibunya, Siti Zubaedah, duduk di sampingnya. Wanita paruh baya itu terbatuk-batuk kecil sesekali sambil terus mencuci kain sarung yang warnanya sudah pudar.

“Lis, lebih kuat lagi gosoknya. Biar kotorannya betul-betul hilang,” perintah Bu Zubaedah, suaranya serak dan penuh kelelahan yang mengendap.

"Iya, Bu..." Lilis mengangguk. Matanya, yang sebenarnya indah berbentuk almond sayangnya selalu tertunduk, memperhatikan jari-jarinya yang memerah. Kulit di punggung tangannya penuh panu dengan motif bercak putih tak beraturan, seperti peta kekalahan hidupnya.

Tak berapa lama, muncul gerombolan ibu ibu lain dari desa yang sama, yang pagi itu juga hendak mencuci pakaian di sungai. Kedatangan mereka adalah pertanda dimulainya bala bencana.

Ibu Bejo muncul lebih dulu, dengan bakul plastik merah jambu di pinggang. Diikuti oleh Ibu Tejo, dan beberapa ibu lain: Ibu Darmo, Ibu Karso, dan Mbah Nyi—si tua yang mulutnya paling lemes. Mereka berbaris di hilir, tempat airnya lebih jernih. Melihat Lilis dan ibunya di hulu, mereka saling pandang, lalu senyum kecut penuh arti. Seolah tau apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.

“Wah, pagi-pagi gini sudah dapat wewangian spesial aja nih kita!" sindir Ibu Bejo dengan suara nyaring, sengaja dia berteriak agar suaranya terdengar oleh Lilis dan ibunya.

Bu Tejo, wanita berperawakan besar, dengan sorot mata licik melanjutkan kembali kalimat bernada sindirannya,“Aroma tanah kuburan basah dicampur bangkai tikus maksudku lhoo?”

Tawa kecil pecah dari kelompok ibu ibu itu.

Tak mau kalah melempar sindiran, Ibu Bejo wanita kurus dan bermata sipit, segera menyambung. “Ah, paling cuma bau badan si bunga bangkai. Itu kan langganan. Setiap hari kita cuci di sini, dia pasti  sudah booking lebih dulu tempatnya. Lagian siapa yang sudi deketan sama dia sih. Bau badannya aja udah bikin aku mual mau muntah!”

Lilis menggigit bibirnya yang pecah-pecah. Tangannya menggosok lebih kencang, seakan-akan kain di tangannya adalah wajah-wajah itu. Bu Zubaedah menegakkan punggungnya, wajahnya yang keriput memerah.

Mbah Nyi, sambil membuka gulungan kain, menambahkan dengan nada datar tapi menusuk, “Orang bilang, bau badan adalah aroma  jiwa. Kalau baunya busuk, hatinya pasti juga sudah mulai membusuk. Apalagi a n  a k haram… tumbuhnya memang jarang ada yang lurus.”

“Mbah Nyi! Cukup!!” teriak Bu Zubaedah tiba-tiba. Suaranya bergetar. Terlihat sekali emosi sudah naik ke ubun ubun. “Jaga bucaramu! Jangan lancang! Urusan kami dengan Tuhan, bukan dengan kalian!”

Ibu Darmo, yang biasanya lebih pendiam, kali ini ikut nimbrung. “Iya, Bu. Tapi ini urusan hidung kami juga. Kami cuci baju disini bawa sabun supaya wangi,  eh ini malah dapat bonus bau ketek busuk dan panuan. Saya takut nyuci dekat dekat kalian! Takut jamur punya menular!”

“Betul itu,” Ibu Karso menyambar. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung secara dramatis. “Saya heran, kalian berdua ini ndak punya malu apa? Kalau tahu diri kan harusnya gak usah cuci disungai. biar kuman kumannya gak menyebar. Iihh... menjijikkan! Harusnya Bu zubaedah bawa si Lilis berobat, biar bau badan dan panunya gak menyebar kemana mana!”

"Itu yang namanya kena tulah! Akibat dulunya suka jadi jablay dan melahirkan bayi diluar nikah!"

Lilis merasa dadanya sesak. Kata-kata “bayi di luar nikah” seperti pisau belati yang diputar-putar di luka lama. Ibunya sudah bercerita, dengan air mata berlinang, bahwa ayahnya adalah seorang pedagang musiman yang menjanjikan pernikahan, lalu menghilang tanpa jejak setelah mengetahui Bu Zubaedah hamil.

Lilis terlahir dengan “kutukan”. Selain wajahnya buruk, kulitnya juga berpanu dengan aroma bau badan tak sedap, yang menurut desas-desus, adalah akibat dari sumpah serapah keluarga ayahnya.

“Diam kalian!” teriak Bu Zubaedah lagi, bangkit dari tempat duduknya. Tubuhnya yang ringkih, mulai gemetar. “Kalian pikir hidup ini mudah bagi kami? Kalian punya suami, punya putra putri yang normal. Kami cuma punya satu sama lain! Apa dosa kami sampai kalian hampir setiap hari menyiksa dengan mulut kalian yang lebih busuk dari bau apa pun?!”

Ibu Tejo berdiri sambil berkacak pinggang. Matanya melotot siap untuk adu mulut.“Dosa? Tentu saja itu karena dosa dosamu, baedah! Kamu merusak pemandangan dan penciuman desa ini! Lihat putrimumu itu! Sudah jelek, bau, perawatln tua ndak laku-laku sampai umur segini. Pasti ada yang ndak beres! Mungkin kalian dikutuk! Atau karma karena ulahmu dulu yang merusak rumah tangga orang!”

“Apa?! Setan kamu Bu Tejo!” Bu Zubaedah menjerit.

“Iya, iya. Dulu kan kamu juga disebut-sebut dekat sama suaminya Bu Lasmi yang di kota itu sebelum dia nikah,” sergah Ibu Bejo dengan mata berbinar-binar, menikmati setiap detik. “Siapa tahu Lilis ini…”

“Bajingan kalian!” Bu Zubaedah mengambil langkah maju, tapi kakinya tersandung batu licin. Ia terjatuh dengan keras di tepi sungai, dagunya menghantam batu dan sebagian pakaiannya basah kuyup.

“Ibu!” Lilis bergegas, membantu ibunya berdiri. Air mata akhirnya mengalir deras dari matanya, bercampur dengan keringat dan rasa malu yang membakar. “Ibu, jangan… jangan berkelahi. Ayo kita pergi.”

Tapi penghinaan belum berhenti. Mbah Nyi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lihat itu. Sudah tua, masih emosian. Pantas saja putrinya jadi pengecut, cuma bisa nangis. Daripada nangis, mending kamu ceburkan diri di sungai ini, Lis. Siapa tau arwah leluhur kasihan, bersihkan kamu dari kutukan bau badanmu yang busuk itu”

Ibu-ibu yang lain tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka bergema, mengalahkan gemericik air. Beberapa pemuda yang lewat di jembatan kecil di sebelahnya ikut melirik, lalu berbisik-bisik dengan senyum mengejek.

Lilis memandang sekelilingnya. Setiap wajah yang dilihatnya penuh dengan kebencian, penolakan, dan hiburan dangkal dari penderitaannya. Di wajah Ibu Bejo, ia melihat kepuasan. Di wajah Ibu Tejo, ia melihat kebencian tulus. Di wajah Mbah Nyi, ia melihat keyakinan fanatik bahwa mereka yang menderita pantas untuk menderita.

Hati Lilis yang selama ini hanya remuk redam, tiba-tiba terasa membatu. Sebuah titik hitam yang dingin mulai mengkristal di sanubarinya. Air matanya mengering. Yang tersisa adalah getaran aneh, sebuah kemarahan yang begitu dalam hingga tidak bisa lagi diekspresikan dengan tangisan.

Dengan tenaga yang tak terduga, dia membantu ibunya berdiri. “Ibu, kita pindah. Ke hilir saja. Biar mereka punya tempat ini.”

“Tapi Lis…”

“Ayo, Ibu.” Suara Lilis datar, tanpa emosi.

Dengan memunguti kain-kain basah mereka yang berceceran, Bu Baedah dan Lilis  berjalan tertatih menjauh dari tawa dan cibir yang masih terus meluncur.

“Lari saja sana! Bawa itu bau badanmu yang busuk itu!” teriak Ibu Bejo dari belakang.

“Jangan lupa besok mandi  pakai Molto segalon ya!” sambung Ibu Tejo.

Saat mereka sampai di sebuah tikungan sungai yang lebih sepi, jauh dari pandangan, Bu Zubaedah akhirnya roboh. Dia duduk di atas batu, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang menyayat hati. Tangannya yang kurus dan berbintik-bintik menutupi wajahnya.

“Maafkan Ibu, Lis… Maafkan Ibu…” rintihnya berulang-ulang. “Ibu yang membawa dosa untukmu. Ibu yang tidak bisa memberimu wajah cantik, tubuh wangi, kehidupan yang layak… Ibu ini ibu yang gagal…”

Lilis berlutut di depan ibunya. Dia mengamati wajah tua yang tercarik kesedihan itu. Dia ingat, dulu ibunya juga cantik. Foto-foto lama ibunya membuktikan kalau semasa mudanya, Bu zubaedah adalah seorang kembang desa. Kecantikan itu luntur oleh kemiskinan, kerja keras, dan air mata. Dan kini, sisa-sisa terakhirnya habis terkikis oleh kekejaman tetangga.

“Bukan salah Ibu,” bisik Lilis, suaranya parau. Tapi di kepalanya, suara-suara lain bergema. Anak haram. Bunga bangkai. Kutukan. Karma. Ceburkan diri.

“Mereka… mereka itu iblis-iblis berwujud manusia, Bu,” Lilis berkata, matanya menerawang ke air sungai yang mengalir. “Mereka senang melihat kita menderita. Senang merasa lebih tinggi. Apa… apa tidak ada keadilan untuk orang seperti kita, Bu? Apakah karena kita miskin, jelek, dan berbeda… kita pantas jadi sasaran empuk?”

Bu Zubaedah hanya menggeleng, tangisnya belum reda. “Ini takdir, Nak. Kita musti sabar.”

“Sabar?” Lilis mengucap kata itu seperti rasa logam di mulutnya. “Sudah 28 tahun Lilis sabar, Bu. Setiap hari. Setiap kali Lilis ke warung, ke ladang, ke sungai. Hasilnya? Semua orang menghina Lilis. Dulu mereka cuma berbisik-bisik. Sekarang terang-terangan. Dulu cuma ejekan halus. Sekarang seperti tadi. Mau Sampai kapan? Sampai Ibu meninggal? Sampai saya mati bunuh diri seperti saran Mbah Nyi?”

“Jangan, Lis! Jangan pernah berpikiran begitu!” Bu Zubaedah meraih tangan putrinya, mencengkeramnya kuat-kuat.

Tapi di mata Lilis, Bu Zubaedah melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya: sebuah cahaya dingin, keras, seperti es yang terbentuk di danau beku. Bukan lagi keputusasaan, tapi sebuah keputusan.

“Ibu,” Lilis berkata perlahan, “Pernah dengar cerita tentang orang yang berubah nasibnya setelah bertemu mahluk halus? Tentang tumbal dan kesaktian?”

Bu Zubaedah terkejut, tubuhnya gemetar lebih kuat. “Jangan-jangan kau percaya omong kosong itu! Itu jalan setan, Lis!”

“Tapi setan di depan kita, Bu. Yang berbentuk Ibu Bejo, Ibu Tejo, Mbah Nyi. Mereka lebih nyata daripada hantu. Dan mereka menghancurkan kita setiap hari.” Lilis berdiri, menatap jauh ke hutan di seberang sungai. Tempat yang gelap, angker, dan konon dihuni oleh mahluk-mahluk yang tak kasat mata. “Kalau setan di dunia bisa sejahat itu, mungkin… mungkin setan di hutan bisa memberikan keadilan.”

“Lilis, jangan bicara begitu! Kita pulang. Sekarang!” Bu Zubaedah berusaha menarik lengan anaknya, tapi Lilis diam bagaikan batu.

Pikiran Lilis melayang ke malam-malam sunyi ketika dia duduk di depan gubuk mereka, mendengar desas-desus dari para orang tua yang lewat. Cerita tentang Prabu Girijati, penguasa gaib hutan Larangan, yang konon bisa memberikan segala keinginan—kecantikan, kekayaan, kekuatan—dengan imbalan tumbal manusia.

Dia menoleh ke arah suara tawa yang masih sesekali terbawa angin dari tempat cuci tadi. Wajah-wajah itu terpampang jelas di benaknya.

Mereka pantas menderita, bisik sesuatu dalam hati Lilis. Mereka pantas merasakan ketakutan yang lebih dalam dari sekedar diejek. Mereka pantas… menjadi tumbal.

“Ayo Bu, kita pulang,” kata Lilis akhirnya, membantu ibunya berdiri. Suaranya kembali datar, tapi ada tekad baja yang baru terbentuk di baliknya.

Sepanjang perjalanan pulang ke gubuk reyek mereka di ujung desa, Lilis tidak berkata-kata.

Malam itu, setelah menidurkan ibunya yang masih tersedu-sedu, Lilis berdiri di pintu gubuknya. Dia menatap bulan purnama yang mulai naik, bulat dan pucat, seperti mata raksasa yang mengawasi dunia.

“Kecantikan… kekuatan… dan balas dendam,” gumamnya pelan ke angin malam. “Apapun harganya.... Aku harus membalas perbuatan semua orang yang sudah merendahkan harga diriku..." Bisik Lilis hampir tak terdengar.

Dan tanpa ada yang tahu, jika bisikan itu ternyata didengar oleh mahluk gaib tak kasat mata, yang dengan senang hati dan sekuat tenaga akan menyesatkan jiwa jiwa manusia agar tergelincir dari jalan NYA.

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel