Bab 3 Bisikan dari Dalam Sumur
Langit Karangjati masih tertutup awan gelap saat Rani membuka matanya pagi itu. Tidur semalam tak memberi ketenangan. Ia lebih banyak terjaga daripada tertidur. Setiap kali ia hampir lelap, bisikan itu muncul kembali membisikkan namanya, menyebut-nyebut “pulang”, “lihat aku”, dan “jangan tinggalkan aku”.
Ketika ia turun ke dapur, ibunya sudah duduk di meja makan. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, matanya cekung, dan tangan gemetar saat menuangkan teh.
“Kamu mimpi buruk?” tanya ibu pelan.
Rani mengangguk. “Ibu juga?”
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, ke arah sumur di halaman belakang.
“Kalau kau dengar suara aneh lagi, jangan ditanggapi,” ucapnya kemudian.
Rani ingin bertanya lebih jauh, tapi ada ketakutan dalam sorot mata ibunya yang membuatnya mengurungkan niat.
Di sekolah, Rani kembali dihampiri oleh Lestari saat istirahat. Kali ini, Lestari membawa sebuah buku tua.
“Aku nemu ini di perpustakaan desa. Jarang ada yang buka perpustakaan itu. Tapi lihat halaman ini,” bisik Lestari.
Rani melihat ke halaman yang ditunjuk. Di sana ada lukisan hitam putih sumur tua yang sangat mirip dengan sumur di belakang rumahnya. Di bawah lukisan itu tertulis dalam aksara Jawa kuno:
‘Pintu Roh Tertambat Jiwa. Siapa membuka, ditagih kembali.’
“Apa maksudnya?” tanya Rani.
“Dulu katanya, sumur itu dipakai untuk menyegel roh penasaran. Tapi kalau ada yang mendekat… segel bisa melemah.”
“Jadi, aku yang membuka segel itu?”
“Mungkin bukan kamu. Tapi kamu mungkin ‘dipanggil’ karena kamu yang tinggal paling dekat sekarang.”
Rani menutup mulut. Pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan. Siapa roh itu? Kenapa dia memanggilnya? Dan apa maksud dari kata “pulang” yang terus disebut-sebut dalam bisikan?
Sepulang sekolah, Rani kembali melewati jalan kecil yang berbatasan dengan hutan bambu. Angin sore berhembus pelan, namun membuat bulu kuduknya berdiri. Di persimpangan dekat pohon besar, seorang perempuan tua tiba-tiba muncul dari arah berlawanan. Wajahnya keriput dan rambutnya digelung ketat, mengenakan kebaya hitam lusuh.
“Rani, ya?” suara perempuan itu serak, tapi tegas.
“Iya…”
“Kamu cucu Bu Rukiyah?”
“Iya. Nenek saya.”
Perempuan itu mendekat. Tatapannya dalam dan tajam. “Kamu jangan sering menatap sumur itu. Dia tahu kamu melihat.”
“Siapa, Bu?”
“Yang di dalam.”
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, perempuan tua itu berbalik dan berjalan masuk ke gang kecil di antara pohon bambu. Rani hanya bisa menatap punggungnya sampai ia menghilang dari pandangan.
Malam kembali datang. Dan seperti malam sebelumnya, Rani tidak bisa tidur. Boneka di meja tampak seperti mengawasinya. Ia sudah mencoba mengembalikannya ke loteng, tapi setiap pagi boneka itu kembali ke kamarnya. Entah bagaimana caranya.
Pukul 2.00 dini hari, suara itu datang lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dalam.
“Rani… turunlah… aku kedinginan…”
Ia menutup telinganya dengan bantal. Tapi suara itu tetap menembus masuk ke pikirannya.
“Lihat aku… Rani… tolong aku…”
Suara itu bukan hanya terdengar dari luar. Kini, ia terdengar seolah berasal dari dalam kamar. Rani bangkit, menyalakan lilin, dan memandangi sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi saat ia mendekati jendela, ia melihat sesuatu yang membuatnya gemetar—tutup seng sumur terbuka sedikit. Padahal sebelumnya selalu tertindih batu besar.
Dengan hati-hati, Rani turun ke lantai bawah. Ia membuka pintu belakang perlahan, dan menatap sumur yang kini seperti menunggu. Rasa takut dan penasaran bertarung dalam dirinya.
Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya disambut oleh hembusan angin dan suara berisik dedaunan. Saat ia berdiri di tepi sumur, ia mendengar suara lirih dari dalam:
“Rani… bantu aku keluar…”
Tangannya gemetar. Ia hendak menyentuh tutup sumur, tapi tiba-tiba tangan seseorang mencengkeram lengannya dari belakang.
“JANGAN!” suara itu keras.
Rani berbalik. Mbah Karyo berdiri di belakangnya, napasnya terengah. “Kamu jangan ganggu sumur ini! Ini bukan tempat bermain!”
“Tapi… ada suara, Mbah. Dia minta tolong.”
“Itu bukan suara manusia.”
Rani terdiam. Mbah Karyo menatapnya dalam-dalam. “Kalau kau terus jawab panggilannya, dia akan mengira kamu… bersedia.”
“Bersedia untuk apa?”
“Menjadi penukar.”
Malam itu, Rani tak bisa tidur. Kata-kata Mbah Karyo terus menerus terpikir kan di kepalanya. Penukar? Apa maksudnya? Dan kenapa ia merasa suara itu semakin kuat… seolah semakin dekat?
Ia memandangi jendela, lalu berbalik dan menarik selimut. Tapi sebelum ia sempat menutup mata, ia melihat sesuatu terpantul di cermin kecil di mejanya.
Wajah pucat. Rambut panjang. Mata yang menatap langsung ke arahnya dari belakang punggungnya.
Rani berbalik cepat—tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika ia menoleh lagi ke cermin, bayangan itu masih ada. Lebih dekat.
Rani langsung berdiri, mematikan lampu kamar, dan menyalakan kembali lilin di meja. Tangan kirinya gemetar, sementara tangan kanannya menggenggam jimat kain merah pemberian nenek yang kini tak pernah ia lepas. Ia menatap cermin dengan ngeri. Bayangan itu masih ada, meski samar, seolah menantinya menoleh sekali lagi.
Tanpa sadar, air mata menetes dari mata Rani. Ia mulai merasakan tekanan yang luar biasa di kepalanya, seolah ada sesuatu yang menyusup masuk ke dalam pikirannya. Bisikan-bisikan yang sebelumnya samar kini terdengar lebih jelas, dengan nada lirih:
“Kau milikku… kau sudah ditandai…”
Rani menjatuhkan lilin. Api kecilnya padam seketika. Ruangan berubah gelap total. Dalam gelap itu, ia meraba-raba untuk mencari korek api, tapi yang ia temukan justru sesuatu yang dingin dan lembap di atas meja.
Ia menarik tangannya dan melihat cairan gelap menempel di jarinya. Darah.
Dengan panik, ia menggeser benda itu, dan mendapati boneka kain yang selama ini menemaninya. Tapi kali ini, matanya terbuka, dua manik hitam bundar seperti mata kancing, kini bersinar redup dalam kegelapan.
Boneka itu tersenyum.
Rani terjatuh ke belakang dan berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Seolah ruangan itu telah merampas suaranya. Ia mencoba berdiri, tapi tubuhnya terasa berat, seperti ditahan oleh sesuatu.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka sendiri. Angin dingin masuk, menggoyangkan tirai, dan bayangan panjang meluncur masuk. Di antara suara hembusan angin, terdengar kembali bisikan yang menekan:
“Aku hampir sampai, Rani…”
Semua itu berhenti seketika ketika pintu kamar terbanting menutup. Lilin tiba-tiba menyala sendiri. Boneka itu kembali ke posisi semula. Cermin kosong. Ruangan hening.
Rani terduduk di lantai dengan napas terengah-engah. Ia memeluk jimat kain merahnya erat-erat. Tak ada yang bisa ia lakukan malam itu selain menunggu fajar datang.
Pagi pun tiba. Ibunya menatap Rani dengan wajah khawatir. Ia tahu, anaknya tidak baik-baik saja. Tapi bibirnya tetap bungkam.
“Bu… tolong bilang ke aku, apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah ini? Dengan sumur itu?” suara Rani serak.
Ibunya akhirnya duduk, memandangi Rani dalam-dalam.
“Dulu… sebelum kamu lahir, nenekmu pernah bicara soal suara-suara dari sumur. Tapi tak ada yang percaya. Sampai suatu malam, pamanmu menghilang. Ia ditemukan tak bernyawa di dasar sumur dengan posisi yang sangat tidak wajar.”
Rani kaget.
“Ibu nggak pernah cerita…”
“Ibu takut kamu akan mengalami hal yang sama. Tapi mungkin sudah terlambat,” ucap ibunya dengan suara gemetar.
Rani terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Rani merasa pikiran di kepalanya penuh. Ada banyak yang disembunyikan. Banyak yang tak ia ketahui.
Dan sekarang, ia harus tahu.