
Ringkasan
Saat Rani pindah ke rumah warisan neneknya di desa Karangjati, ia tak menyangka sebuah sumur tua akan mengubah hidupnya. Tangisan malam, bayangan hitam, dan kutukan yang terkubur mulai bangkit—memanggil namanya. Apa yang disembunyikan desa ini? Dan mengapa roh di dalam sumur tak ingin dimaafkan... tapi dibebaskan?
Bab 1 Kepindahan Kerumah Warisan
Langit Karangjati sore itu terlihat mendung, seolah menyambut kedatangan Rani dan ibunya dengan tatapan sedih. Mobil tua yang mereka tumpangi berbunyi setiap kali melintasi batu-batu besar di jalanan desa. Suasana hening menyelimuti sepanjang perjalanan, hanya suara gesekan ban dengan kerikil dan napas berat sang ibu yang terdengar.
Rani menyandarkan kepalanya di jendela, memperhatikan pepohonan tinggi yang berbaris seperti penjaga sunyi. Cabang-cabangnya melambai lemas, daun-daunnya berguguran, seakan mengisyaratkan keengganan menerima orang baru. Kabut tipis melayang di antara batang pohon, membuat pandangan terasa berat.
Ini bukan hanya perjalanan pindah rumah. Ini adalah awal dari lembaran baru yang tak diinginkan—lembaran yang samar, kelam, dan dingin.
Setelah kematian neneknya, rumah tua peninggalan keluarga itu menjadi satu-satunya pilihan tempat tinggal. Tidak ada lagi kontrakan di kota, tidak ada pekerjaan tetap, dan tidak ada siapa-siapa yang bisa dijadikan tempat bersandar. Hanya rumah itu. Rumah kayu tua di Karangjati, dengan segala kisah kelam yang dulu hanya diceritakan setengah-setengah oleh sang ibu.
Rani diam, menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang tak berani diucapkan. Kenapa ibu begitu enggan menyebut masa lalunya di desa ini? Kenapa mereka tak pernah sekalipun kembali selama bertahun-tahun?
“Sudah dekat,” ucap ibu pelan, matanya menerawang lurus ke depan.
Rani hanya mengangguk. Ia tak tahu arah, tapi ia bisa merasakan hawa berbeda merayapi kulitnya.
Saat mobil berhenti, Rani memandang bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya. Rumah dua lantai dari kayu jati, catnya sudah memudar, dindingnya ditumbuhi jamur dan lumut di beberapa sisi. Beberapa jendela terbuka seperti mata yang mengamati, seakan rumah itu hidup dan tahu siapa yang datang.
Halaman belakang yang luas menyembunyikan sumur tua yang langsung menyita perhatian Rani. Sumur itu tertutup seng berkarat dan ditindih dengan batu besar. Tapi entah kenapa, ia merasa sumur itu... memperhatikannya.
Barang-barang diturunkan. Tak banyak yang dibawa. Rumah itu ternyata masih terisi perabot peninggalan neneknya. Meja bundar, kursi rotan reyot, lemari tua dengan ukiran motif bunga yang pudar. Aroma kayu lembap dan dupa kering yang mengisi ruang masuk ke dalam, menyelimuti seluruh rumah dengan bau nostalgia yang samar dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang sulit dijelaskan.
Kamar Rani berada di lantai dua. Saat membuka pintu, hawa dingin menerpa wajahnya. Ia menyalakan saklar, tapi hanya terdengar suara klik. Lampu tua di langit-langit hanya berkedip sekali lalu mati. Rani menghela napas panjang dan menjatuhkan tasnya ke atas ranjang yang bersuara pelan.
Malam pun tiba. Langit tak berbintang. Lampu minyak menjadi satu-satunya penerang. Ibu sudah tidur di bawah, tapi Rani masih terjaga. Ia menatap ke luar jendela, langsung ke arah sumur yang samar terlihat di balik kegelapan. Puncak seng penutup sumur memantulkan cahaya bulan sedikit saja, cukup untuk terlihat dari kamarnya.
Ketika ia mulai memejamkan mata, terdengar suara samar.
“Rani…”
Ia membuka mata. Jantungnya berdetak cepat. Ia duduk dan menajamkan pendengaran.
Sunyi. Tidak ada apa-apa.
Tapi ia yakin, sangat yakin, bahwa namanya baru saja dipanggil.
Esok paginya, Rani berjalan menyusuri halaman belakang. Udaranya dingin dan tanah masih basah. Langkahnya berhenti di depan sumur tua itu. Batu besar yang menindihnya tampak berat dan lembap. Di salah satu sisi seng penutup, ada bercak merah gelap yang terlihat seperti darah lama. Atau karat? Rani tak yakin.
Ia jongkok, menyentuhkan jari ke batu. Dingin, bahkan lebih dingin daripada udara sekitar. Ia menatap dalam, merasakan tarikan aneh dari sumur itu.
“Jangan sering-sering ke sana,” tegur ibu dari arah belakang.
Rani menoleh cepat. “Kenapa?”
“Licin. Banyak yang jatuh,” jawab ibu cepat. Tapi matanya tidak menatap sumur, melainkan menghindar.
Hari demi hari berlalu. Ibu semakin pendiam. Ia menghabiskan banyak waktu di dapur, atau duduk termenung menatap halaman belakang. Rani semakin sering menyendiri. Ia menjelajahi bagian-bagian rumah yang dulu tak pernah dimasuki. Di loteng, ia menemukan peti kayu tua. Isinya barang-barang milik nenek: kain batik lama, beberapa foto usang, dan sebuah jimat yang dibungkus kain merah.
Saat Rani menyentuh jimat itu, terasa panas di telapak tangannya, seolah benda itu baru saja dijemur di bawah terik matahari.
Malamnya, suara itu kembali.
“Rani… lihat aku…”
Ia membuka mata dengan cepat. Tatapannya langsung menuju jendela. Di balik tirai, bayangan seseorang berdiri di dekat sumur. Diam. Tak bergerak. Rambut panjang menutupi wajahnya. Rani terpaku. Ia tak bisa melihat jelas, tapi instingnya mengatakan bahwa sosok itu sedang menatapnya.
Pagi berikutnya, ia memberanikan diri bertanya pada tetangga sebelah, Mbah Karyo. Lelaki tua itu mengenakan sarung dan kemeja batik yang lusuh, duduk di depan rumahnya sambil merokok.
“Mbah, sumur di rumah saya itu… dulunya dipakai apa ya?”
Wajah Mbah Karyo langsung berubah. Pandangannya mengeras. “Sumur itu… udah lama harusnya ditutup.”
“Kenapa?”
“Karena… itu bukan cuma sumur. Itu pintu.”
“Pintu ke mana?”
Mbah Karyo menggeleng dan berdiri. “Udah. Jangan banyak nanya. Kamu belum waktunya tahu.”
Dan begitu saja, lelaki tua itu masuk ke rumah, meninggalkan Rani dalam kebingungan.
Kemudian Rani berjalan menuju ke Sekolah...
Rani adalah siswi berumur 17 tahun yang duduk di bangku SMA kelas XI.
Sesampainya di sekolah, suasana tidak lebih baik. Murid-murid pendiam, guru-guru tidak ramah. Hanya satu gadis bernama Lestari yang sedikit terbuka. Saat Rani menyebut soal sumur, Lestari langsung menunduk.
“Sumur itu… pernah makan korban,” bisiknya.
“Maksudmu?”
“Dulu, ada anak kecil jatuh ke sana. Tapi tubuhnya nggak pernah ditemukan.”
Rani terdiam.
“Sejak itu, suara-suara mulai muncul. Tapi nggak semua orang bisa dengar,” lanjut Lestari.
“Maksudmu aku… bisa dengar karena—”
“Karena kamu mungkin yang selanjutnya,” potong Lestari cepat, lalu buru-buru pergi meninggalkan Rani yang membeku di tempat.
Malamnya, Rani menutup tirai kamarnya rapat-rapat. Ia mulai menyalakan lilin kecil di meja belajar, satu-satunya cahaya yang membuatnya merasa sedikit aman. Di atas meja, buku catatannya terbuka, halaman-halaman dipenuhi coretan tentang mimpi-mimpinya dan suara yang terus memanggil.
Ia menulis:
“Kenapa aku merasa suara itu mengenalku? Siapa gadis kecil yang kulihat? Apa arti dari jimat ini?”
Lilin bergetar terkena angin dari celah jendela, api kecilnya menari-nari tak tenang. Rani menatap nyala itu dalam diam. Lalu, dari lantai bawah, terdengar suara pintu yang berbunyi.
“Ibu?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Perlahan, ia berdiri. Napasnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekannya. Ia membuka pintu kamar dan menatap ke lorong gelap. Tangga ke lantai bawah terlihat seperti menganga, mengundangnya turun.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, suara itu kembali memanggil.
“Rani… waktunya pulang…”
Rani kembali duduk di tepi ranjangnya. Lilin di meja semakin mengecil, cahayanya redup. Tapi ketakutannya tidak mengecil—malah membesar, seperti ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam pikirannya.
Ia memandangi jimat kain merah yang kini selalu ia bawa ke mana-mana. Ia belum tahu apa sebenarnya benda itu. Tapi ia yakin, benda ini milik nenek. Dan entah bagaimana, benda ini terasa seperti satu-satunya pelindung dari suara-suara itu.
Ia memejamkan mata, berharap tidur datang cepat.
Namun sebelum kegelapan membawanya pergi, suara itu datang sekali lagi.
“Rani… kamu akhirnya kembali…”
Rani mencoba menenangkan dirinya, menarik napas panjang, meski udara kamar malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Ia melirik ke jam dinding—pukul 01.47 dini hari. Suara itu, entah berasal dari mimpi atau nyata, tetap menggema di telinganya. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada hembusan angin malam. Hanya keheningan… dan napasnya sendiri.
Ia bangkit pelan, mendekati jendela dan mengintip dari celah tirai.
Halaman belakang tampak kosong, tapi perasaan tak nyaman itu tetap menempel. Ia merasa ada yang bersembunyi dalam gelap. Menanti. Mengawasinya.
Sebelum menutup kembali tirai, pandangannya menangkap sesuatu di tanah dekat sumur—sebuah boneka kain tua yang tampak kotor dan basah. Rani tak pernah merasa memilikinya. Dan yang paling mengganggunya, ia yakin… boneka itu menatap langsung ke arahnya.