Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Boneka di Dekat Sumur

Pagi datang dengan langit yang masih mendung. Matahari belum muncul, hanya cahayanya yang lemah menerobos celah-celah daun yang basah. Rani membuka matanya perlahan. Tidurnya tidak baik. Kepalanya terasa berat, dan di pikirannya, suara itu masih terdengar jelas.

Ia bangkit dari ranjang dengan langkah pelan dan membuka tirai. Sumur tua itu masih di sana, berdiri diam dan gelap. Tapi pandangan Rani langsung terarah pada benda yang ia lihat semalam—boneka kain kotor yang sekarang tergeletak tepat di tepi sumur. Tidak berubah posisi.

“Aku tidak bermimpi,” gumamnya.

Setelah mencuci muka dan berganti baju, Rani turun ke bawah. Ibunya sudah di dapur, menyalakan kompor minyak untuk memasak air. Wajahnya tampak lesu, seperti belum tidur sama sekali.

“Bu, semalam Ibu dengar sesuatu?” tanya Rani.

Ibunya hanya menggeleng, tanpa menoleh. “Tidur saja. Jangan pikir macam-macam.”

Jawaban itu membuat Rani semakin curiga. Ia mengambil segelas air, lalu diam-diam keluar lewat pintu samping, menuju halaman belakang.

Udara pagi masih dingin. Embun menempel di rerumputan, membuat sandalnya basah. Rani mendekati sumur perlahan. Boneka kain itu kini terlihat lebih jelas—berbentuk manusia kecil, dengan rambut benang coklat yang kusut dan wajah yang hampir terhapus. Bajunya compang-camping, dan salah satu tangannya sobek, memperlihatkan isian kapas di dalamnya.

Dengan ragu, Rani jongkok dan mengambil boneka itu. Dingin dan lembap.

“Siapa yang meletakkannya di sini?” bisiknya.

Ia membawa boneka itu ke kamar. Meletakkannya di meja belajar, lalu duduk memandangi wajahnya yang kosong. Boneka ini mengganggunya. Ada sesuatu yang terasa aneh. Ia mencoba membuka bagian belakang boneka, dan menemukan bekas jahitan yang tampak baru.

Rani mengambil gunting dari laci, lalu dengan perlahan membuka jahitan itu. Tangannya sedikit gemetar. Dari dalam boneka, ia menemukan sesuatu yang dibungkus plastik kecil—kertas lusuh yang digulung.

Ia membukanya.

Tulisan tangan yang sudah memudar terbaca samar:

“Jangan buka pintunya. Kalau kau dengar namamu, tutuplah telingamu.”

Jantung Rani berdetak lebih cepat. Ia menggenggam kertas itu erat-erat, lalu menoleh ke arah jendela. Sumur itu kembali menarik perhatiannya. Seolah benda itu tahu bahwa ia telah membaca pesan yang tersembunyi.

Hari itu di sekolah, Rani tidak bisa fokus. Setiap suara, gerakan, dan bayangan membuatnya gelisah. Bahkan saat Lestari menyapanya di kelas, ia hanya bisa menanggapi dengan anggukan lemah.

“Wajahmu pucat banget, Ran. Kamu mimpi lagi?” tanya Lestari khawatir.

“Bukan mimpi…” Rani ragu. “Aku menemukan boneka… dan ada pesan di dalamnya.”

Lestari terdiam. Wajahnya berubah serius. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang mendengar.

“Kamu harus hati-hati. Boneka itu milik anak kecil yang dulu… hilang,” katanya pelan. “Katanya dia ditemukan di dekat sumur. Tapi setelah itu… semua jadi kacau.”

“Kacau gimana?”

“Orang-orang mulai mendengar suara. Sama seperti kamu.”

Rani menatap Lestari dalam-dalam. “Kenapa nggak ada yang cerita soal ini?”

“Karena semua orang takut. Desa ini... menyimpan dosa. Dan sumur itu adalah saksi paling tua.”

Sepulang sekolah, Rani pulang lebih cepat karena jam pelajaran dipangkas. Hujan rintik mulai turun. Jalanan becek dan sepi. Ia berjalan lebih cepat dari biasanya, membawa perasaan was-was yang tak bisa dijelaskan.

Sesampainya di rumah, ia langsung naik ke kamar dan mengecek boneka di meja. Masih ada. Tapi sesuatu terasa berbeda. Lilin yang ia simpan di dekat jimat terbakar habis, dan di cermin… ada tulisan kabur seperti bekas uap:

“Kau mendekat, maka aku juga…”

Rani mundur beberapa langkah. Ia menoleh ke arah boneka—dan mendapati tangan boneka itu kini berada di posisi berbeda dari sebelumnya.

Malam tiba lebih cepat. Langit menghitam sebelum jam enam sore. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan berdesir keras di luar rumah. Ibu Rani tampak gelisah. Ia terus bolak-balik dari ruang tengah ke dapur, tanpa benar-benar melakukan apa-apa.

“Ibu tahu ada yang aneh, kan?” tanya Rani di meja makan.

Ibunya hanya menatap piring kosong. “Sudah kubilang… jangan dekat-dekat sumur itu.”

“Ada apa dengan sumur itu?” Rani mendesak. “Kenapa kita pindah ke sini kalau Ibu sendiri takut?”

Ibu memejamkan mata sesaat, lalu berdiri. “Ada hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi kalau kamu dengar suara… jangan jawab. Jangan pernah jawab.”

Kata-kata itu melekat dalam pikiran Rani sampai ia tertidur malam itu. Tapi seperti sebelumnya, tidurnya tidak pernah benar-benar tenang.

Ia terbangun di tengah malam oleh suara ketukan lembut dari jendela.

Tok… tok… tok…

Ia menoleh perlahan. Tirai masih tertutup, tapi bayangan seseorang tampak jelas di balik kain tipis itu. Rani membeku. Tak bisa bergerak.

Suara itu datang lagi.

“Rani… buka matamu…”

Kepalanya berdenyut. Ia menahan napas, berharap sosok itu pergi. Tapi semakin ia diam, suara itu semakin dekat.

“Rani… aku sudah menunggumu…”

Rani menarik selimut hingga ke dagunya. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan yang merayap dari ujung kaki ke ubun-ubun. Bayangan di balik tirai tak kunjung bergerak. Seolah menunggunya melakukan sesuatu—mungkin membuka jendela, atau memanggil balik.

Ia memalingkan wajah, memejamkan mata erat-erat, dan mulai menghitung dalam hati. Satu... dua... tiga...

Ketika ia membuka matanya kembali, bayangan itu menghilang. Tapi rasa lega belum datang. Sebaliknya, ia mulai mendengar langkah—pelan dan menyeret, seperti sesuatu yang basah berjalan di atas lantai kayu.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya. Rani menahan napas. Suara napas berat terdengar dari celah bawah pintu. Lalu... ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga kali. Pelan. Teratur.

“Rani… ayo keluar…” suara itu berbisik pelan dari balik pintu, dengan nada datar yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Rani memandangi pintu kamar dalam diam, tak mampu bersuara, tak tahu harus apa. Suara itu berbeda dari sebelumnya. Kali ini... lebih nyata. Lebih dekat.

Namun sesaat kemudian, seperti terseret oleh angin, suara itu lenyap. Tak ada lagi napas berat. Tak ada ketukan. Hanya keheningan yang sangat sunyi. Tapi di balik pintu, Rani merasa sesuatu masih berdiri di sana. Menunggu.

Ia menatap jam dinding lagi. Pukul 03.12.

Ia duduk di ranjang sampai pagi, tak sanggup menutup mata. Ketika fajar muncul, dan sinar matahari pertama menyentuh lantai kamarnya, barulah ia berani membuka pintu.

Lorong sepi. Tak ada siapa-siapa. Tapi saat ia hendak turun, ia melihat bekas jejak kaki basah mengarah dari tangga menuju halaman belakang. Dan jejak itu... sangat kecil. Seperti jejak kaki anak-anak.

Rani memutuskan untuk mengikuti jejak kaki itu. Ia mengenakan jaket tipis dan menuruni tangga dengan hati-hati. Langkah kakinya terasa berat, seolah tubuhnya enggan mendekati sumur itu lagi.

Jejak basah itu memudar saat mencapai pintu belakang, tapi bayangan sumur tetap jelas di matanya. Ia berdiri beberapa langkah dari tutup seng yang kini terlihat seperti mulut terbuka.

Saat itu, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Suara bisikan samar terdengar di sela daun-daun yang bergoyang. Bukan suara angin biasa, melainkan seperti kata-kata yang tidak bisa dipahami.

Rani menahan napas dan berbalik menuju rumah. Tapi sebelum ia menutup pintu, ia merasa... sumur itu sedang tersenyum.

Rani menutup pintu perlahan dan bersandar di baliknya. Dadanya naik turun, mencoba menenangkan detak jantung yang tak beraturan. Ia memandang ke arah tangannya—masih menggenggam gulungan kertas dari dalam boneka. Pesan itu kini terasa seperti peringatan yang terlambat.

Di balik keheningan rumah itu, ia tahu satu hal pasti—ia tidak sendiri. Dan malam-malam di rumah warisan ini baru saja dimulai.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel