Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 6 : Lamaran Untuk Berbisnis

“Jadi kau minta aku untuk menikah denganmu untuk mendapatkan perusahaan milik nenekmu? Begitu?” , tanya Viona, duduk berdampingan dengan Khaidar di depan meja bar. 

Khaidar mengangguk sekali, “Aku senang kau bisa langsung paham.” 

“Bagaimana bisa? Maksudku, kenapa harus aku? Kau tahu kan bahwa aku sangat tidak menyukaimu sejak dulu? Awalnya kukira perasaan orang akan berubah seiring waktu, ternyata tidak. Sudah lebih dari 8 tahun kita tidak pernah bertemu dan aku masih tidak menyukaimu.” 

Tidak senang dengan balasan Viona, Khaidar menggeleng beberapa kali seraya memejamkan matanya, “Tidak, tidak. Aku akan menarik kembali kata-kataku, sepertinya kau belum begitu mengerti apa maksudku,” , komentarnya, “Aku membutuhkanmu karena kau tidak menyukaiku. Aku tidak butuh kau untuk menyukaiku, aku hanya butuh orang yang bisa bertahan berada di sisiku.” 

Viona menghela nafasnya dan memandang Khaidar selama beberapa saat. 

“Bagaimana? Ini mudah. Kau dan aku menikah. Selesai.” , tanya Khaidar lagi, tidak sabar menanti jawaban. 

“Sebenarnya..” 

“Kenapa? Jangan bilang kau sudah menikah?” , raut wajah Khaidar terlihat sedikit khawatir. 

Viona menggeleng. 

“Kau punya kekasih? Panggil kekasihmu kemari. Biar aku yang bicara dengannya. Aku yakin uang 1 milyar bisa membuatnya diam.” , tutur Khaidar. 

   Ucapan Khaidar yang terdengar enteng itu berhasil membuat gadis yang duduk di sampingnya terperangah. Mulutnya terbuka sama seperti matanya. 

“Wow, itu pasti akan bagus jika aku punya kekasih.” , ucap Viona tanpa sadar. 

“Apa?” 

“Tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak mengerti semuanya. Semua yang kau katakan padaku di awal. Kau bilang apa? Kau membutuhkanku karena aku tidak menyukaimu dan apa? Kau butuh aku untuk menikah denganmu karena aku tidak menyukaimu?” , tanya Viona dan dibalas dengan anggukan oleh Khaidar, “Tapi kenapa?” 

“Aku tahu ini akan terdengar sangat konyol, tapi aku tidak pernah berbohong, oke?” , Viona mengangguk dan Khaidar melanjutkan, “Kau pernah mendengar sesuatu seperti kutukan?” , tanya Khaidar seraya memainkan gelas di tangannya. 

“Oh kutukan? Aku tidak pernah menganggapnya konyol. Karena ibuku juga memiliki sesuatu seperti itu.” , ujar Viona menanggapi, “Aku tidak tahu pasti, tapi sewaktu kecil dulu bibiku pernah berkata ibuku punya sebuah kutukan. Hanya saja dia mengatakan kutukan tentang apa dan aku langsung mempercayainya begitu saja.” 

“Turut sedih mendengarnya,” , komentar Khaidar dengan wajah yang tidak menunjukkan iba sedikitpun akan cerita Viona, “Aku juga punya kutukan seperti itu. Itu sebabnya aku memilihmu.” 

“Wow, wow, tunggu dulu.” , Viona beranjak turun dari tempat duduk tinggi itu, “Maksudmu kutukanmu yang membuatmu harus menikah denganku begitu?” 

“Tidak juga tapi… Yah, mungkin itu yang paling mudah untuk dimengerti.” , sahut Khaidar. 

Viona mengernyitkan dahinya. Ia tidak puas dengan jawaban yang Khaidar berikan padanya. 

“Apa kutukanmu adalah menikah denganku?” , tanya Viona dengan polosnya membuat Khaidar tertegun. 

   Keduanya terdiam, hanya saling melempar pandang satu sama lain. Mata mereka berkedip canggung beberapa kali. 

“Kau tahu? Aku hanya butuh jawaban ya dan tidak. Itu saja.” 

“Apa yang akan aku dapat jika aku menikahimu?” , tanya Viona seraya kembali ke tempat duduknya. 

Dengan cepat Khaidar langsung balik bertanya, “Apa yang kau mau?” 

“Hmm, sebenarnya ada banyak yang aku inginkan. Tetapi saat kau bertanya begitu, tiba-tiba saja mereka semua pergi dari pikiranku.” 

“Bagaimana dengan rumah? Atau apartemen?” , tawar Khaidar dengan enteng. 

   Viona terkejut namun berusaha mempertahankan wajah tak peduli seakan itu bukanlah hal besar. Ia yakin jika ia bertahan selama beberapa saat lagi maka ia bisa mendapatkan lebih dari sekedar rumah. 

“Hanya itu?” , balas Viona menantang. Ia meneguk air jeruk miliknya untuk menutupi kegugupannya. 

Khaidar menatap kilau cahaya pada gelasnya seraya berpikir, “Berapa gajimu bekerja di tempat ini?” 

“Seratus ribu per hari untuk 7 jam kerja.” 

“Kalau begitu 1 unit apartemen dan aku akan menggajimu seratus ribu–” 

“Tidak mau.” , Viona langsung menyela begitu mendengar nominal yang sama dengan gaji hariannya, “Itu sama saja aku bekerja di si–” 

“Per jam.” , kata Khaidar menyelesaikan kalimatnya, “Dan itu diluar uang belanja bulanan.” 

   Viona yang hendak bersikap tidak tertarik dengan meneguk airnya, langsung terbelalak dan menyemburkan air jeruk yang sudah masuk ke dalam mulutnya sampai membasahi meja bar di depannya. Khaidar tahu itu tawarannya sudah cukup menarik untuk Viona. Seringai puas mulai tampak di wajahnya. Ia bahkan tidak mempedulikan beberapa tetes air jeruk yang juga mendarat di tangannya. 

“Jadi kau tertarik?” , tanya Khaidar 

   Melihat meja yang mengkilap itu dikotori dengan air jeruk dari mulutnya, buru-buru Viona beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kain lap dan membersihkannya. Ia tidak langsung menjawab dan berpura-pura fokus mengelap meja. 

“Tunggu, apa ini artinya kau sedang melamarku?” , tanya Viona tiba-tiba membuat Khaidar tersedak minumannya sendiri. 

“Uh, bisa dibilang begitu.” 

“Kalau begitu dimana bunga dan cincinnya?” 

Khaidar langsung melongok mendengar pertanyaan yang lebih terdengar seperti tagihan, “A-apa?” 

“Bukankah begitu cara melamar yang benar?” 

“Tunggu. Kenapa kau malah membuatnya jadi rumit?” , cela Khaidar, “Dengar, aku tidak benar-benar mau menikah denganmu. Aku hanya butuh kau untuk menikah denganku. Anggap saja aku sedang menawarkan tawaran berbisnis denganmu, kau tinggal menjawab ‘ya aku mau’ atau ‘maaf, tidak bisa’. Mudah kan?” 

Viona menghentikan gerakan tangannya dan melempar pandang ke arah botol kocoknya yang berharga, “Ini tidak mudah bagiku. Aku akan menikah dan statusku berubah.” 

“Oh tentu saja. Kau menikahi seorang CEO. Sudah tentu statusmu akan berubah.” 

Viona kembali tercengang, “Kau seorang CEO?” 

Khaidar melemparkan senyum bangga sebagai jawaban. 

“Tunggu. Kau sedang tidak menipuku kan?” 

“Apa 2 orang besar yang tadi berjaga di dekat pintu tidak cukup untuk membuatmu percaya?” , ujar Khaidar menaikan kedua alisnya beberapa kali seraya menyeringai. 

Ia paling suka saat dimana ia harus menyombongkan diri. 

“Mereka pengawal CEO? Bukan pengawal bos mafia?” 

“A-apa? Bos mafia?” 

Viona mengangguk, “Aku sering melihatnya di film ataupun novel-novel yang aku baca. Seorang bos mafia yang berperawakan biasa saja memiliki penjaga berbadan besar karena semua otot yang mereka punya.” 

   Khaidar menundukkan kepalanya, melihat badannya. Ia yakin Viona secara tidak langsung telah menyebut dirinya memiliki bentuk tubuh yang biasa saja. Itu sangat menyakiti perasaan sekaligus harga dirinya. Bertahun-tahun ia menjalani diet ketat dan juga olahraga yang keras untuk membentuk semua otot di balik kulitnya, tetapi Viona dengan mudahnya menyebut dirinya biasa saja. 

   Ditambah lagi Viona berkata dengan kiasan. Itu semakin menyakiti harga dirinya, sebab ia merasa Viona telah menganggapnya tidak cukup tangguh untuk menerima kritik dan hinaan. 

“Sudah cukup. Aku muak dengan semua omong kosong ini.” , ujar Khaidar dan langsung melenggang pergi dari sana, meninggalkan Viona yang terheran-heran. 

“Apa tidak jadi?” , tanya Viona, bergumam pada dirinya sendiri melihat kepergian Khaidar, “Sial! Aku membiarkan apartemenku pergi begitu saja.”  

   Tepat beberapa saat setelah Khaidar menghilang dari balik pintu, seorang pria bertubuh besar masuk dan langsung mendekat pada Viona. Tanpa mengatakan apapun ia langsung mengangkat Viona dengan satu tangannya lalu memikulnya di bahu dan membawanya keluar. Pria itu tidak peduli meskipun Viona meronta-ronta bahkan memukulinya dan mengancam akan berteriak. 

   Pria itu membawanya Viona keluar dari bar dan langsung melemparnya masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup Viona bangun, mencoba untuk duduk dengan benar. Rambutnya sudah acak-acakan karena ia terus bergerak saat diangkat. Saat ia mengangkat kepalanya, Viona bisa melihat Khaidar sudah duduk tenang di sampingnya sambil melipat kaki. 

“Apa-apaan ini Khaidar?” , tanya Viona terdengar kesal. 

“Menculikmu.” , kata Khaidar sambil tersenyum santai dan mobil pun melaju pergi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel