Chapter 7 : Lamaran Untuk Berbisnis
Langkah kaki berderap cepat di sepanjang lorong rumah sakit lantai 10, menyisakan gaung singkat dan berhenti saat mereka tiba di sebuah pintu yang berada tak jauh dari lift. Khaidar langsung membuka pintu itu dan bergegas masuk kemudian disusul oleh dua orang berbadan besar yang membawa Viona dengan cara masing-masing menggenggam lengan Viona agar wanita itu tidak kabur.
Hadrian yang tengah sibuk membacakan buku di samping nenek Khaidar pun terkejut, begitu pula halnya dengan sang nenek yang sudah sadar dari tidurnya. Keduanya menoleh bersamaan saat pintu dibuka dengan kasar.
“Khaidar?”
Mata pria itu membulat lebar, senang, “Nenek!”
Pertemuan singkat yang dramatis itu sama sekali tidak menarik perhatian Hadrian, sebab ia lebih tertarik dengan wanita yang dibawa oleh dua orang di belakang Khaidar.
“Siapa dia yang kau bawa, tuan muda?” , tanya Hadrian seraya beranjak berdiri dengan tegap.
“Oh dia,” , Khaidar menoleh pada Viona yang tampak semrawut, “Dia wanita yang akan menikah denganku.”
Mulut sang nenek terbuka, terperangah dengan apa yang baru saja dia dengar. Sementara Hadrian tampak tidak bergeming padahal pupilnya membesar karena terkejut bahwa Khadira benar-benar mencari wanita.
Bagi Hadrian ini adalah rekor tercepat mendapatkan pasangan untuk menikah. Bahkan tidak sampai 2 jam. Kemudian ia mulai membayangkan bagaimana cara Khaidar mendapatkan wanita yang sampai detik ini ia masih belum mengetahui identitasnya meskipun wajahnya tampak tidak asing.
“Tuan muda, sepertinya saya perlu bicara denganmu sebentar.” , ujar Hadrian seraya menutup buku tebal berisi teori bisnis yang menjemukan lalu membungkuk hormat untuk meminta izin pada nyonya besar di sampingnya.
Melihat raut wajah Hadrian yang terlihat begitu serius membuat Khaidar tak bisa menolak. Ia pun terpaksa meninggalkan sesi pertemuan dengan sang nenek dan ikut pergi mengikuti Hadrian yang mengajaknya untuk pergi keluar dari kamar.
“Dan kau juga, nona.” , kata Hadrian melirik pada Viona begitu ia berpapasan dengannya.
Dua orang besar yang memegangi Viona sejak turun dari mobil pun langsung menurut, membiarkan Viona ikut melangkah keluar di belakang Khaidar. Tiga orang itu berjalan teratur berbaris rapi layaknya anak bebek berjalan menuju danau, meninggalkan nenek Khaidar yang masih terjebak dalam kebingungan.
Begitu pintu kembali tertutup, Haidar langsung berbalik menatap Khaidar dan Viona bergantian. Khaidar terlihat sama sekali tidak peduli sementara Viona sedang tidak bisa berpikir karena situasi jadi semakin aneh untuknya. Untuk berpikir bagaimana caranya keluar dari situasi ini pun ia tidak bisa. Satu-satunya yang terus mengiang-ngiang di kepalanya hanya tentang penampilan Hadrian. Benar-benar tipenya.
“Nah nona, bisa jelaskan padaku bagaimana kau bisa sampai ke sini? Kulihat bukan dengan cara yang ramah.” , todong Hadrian pada Viona.
“Hei! Hei! Aku hanya membawanya untuk menemui nenek. Jika ingin menikah denganku, setidaknya dia harus bertemu dengan nenek.”
“Dengan menculiknya?” , sindir Hadrian seraya memiringkan kepalanya.
“Aku hanya ingin mengajaknya pergi tanpa ada keributan.” , elak Khaidar melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajah.
Sebal dengan respon Khaidar, Viona memberinya tatapan sinis.
“Sepertinya mata sang wanita tidak berkata demikian.” , balas Hadrian beralih pada Viona, “Siapa namamu nona?”
Tanpa ragu Viona langsung menunjukan senyum dan wajah sumringah, “Viona.” , katanya dengan penuh percaya diri.
Ia tertarik dengan Hadrian.
“Apa benar kau mau menikah dengannya?” , tanya Hadrian tanpa mengubah wajah seriusnya.
“Apa?” , air wajah Viona berubah dalam sepersekian detik.
Khaidar memutar matanya melihat reaksi Viona. Ia merasa dejavu dengan kejadian saat di bar sebelumnya, “Ck, kau akan lelah jika terus bertanya padanya. Dia mau. Buktinya dia bisa ada di sini.”
“Siapa bilang aku mau?!” , sargah Viona tidak terima.
Bahkan ia lupa bahwa dirinya sedang mencoba memberikan kesan baik pada Hadrian.
“Jadi sebenarnya kau tidak mau?” , tanya Hadrian lagi.
“Mengapa akhir-akhir ini aku lihat kau semakin membangkang ya, Hadrian? Aku bilang dia mau. Dia akan menikah denganku, tinggal di rumahku, tapi kau yang mengurusnya.”
“Aku tidak–” , Viona yang baru saja meninggikan nada bicaranya langsung berhenti begitu mendengar akhir kalimat yang Khaidar lontarkan, “Tunggu. Aku menikah denganmu tapi pria rapi dan menarik ini yang mengurusku? Kau bercanda?”
“Untuk apa aku bercanda? Sudah kukatakan puluhan kali bahwa aku hanya butuh menikah denganmu. Bukan berarti aku akan mengurusmu seperti suami yang lainnya.” , balas Khaidar dengan percaya diri.
Viona terdiam. Wajahnya terlihat tidak senang, namun sebenarnya hati kecilnya tengah bersorak kegirangan. Hadrian yang menilai dari raut wajah Viona, merasa tidak enak pada wanita di hadapannya. Tidak seperti pria yang membawa Viona kemari.
“Jadi bagaimana, nona? Benar kau mau menikahi pria egois dan diktator seperti tuan Khaidar?” , tanya Hadrian, menegaskan sekali lagi sekaligus menuntut jawaban pasti.
“Hei, siapa yang egois dan diktator?!” , protes Khaidar, “Kau benar. Itu aku.” , dengan penuh kepercayaan diri, Khaidar mengangkat sedikit dagunya.
Viona tidak peduli. Ia tidak ingin memikirkan kesulitan-kesulitan yang mungkin akan ia dapatkan setiap harinya jika terus-terusan bertemu dengan pria seperti Khaidar. Tetapi angan-angan indah setelah Khaidar mengatakan bahwa Hadrian– pria yang belum ia ketahui namanya, yang akan mengurusnya jika ia menerima tawaran tersebut, tidak bisa Viona abaikan begitu saja.
Menit selanjutnya mereka bertiga kembali masuk dengan urutan sama seperti saat mereka keluar. Nenek Khaidar yang masih lemas tak berdaya di tempat tidur berusaha keras menolehkan kepalanya pada Khaidar yang baru masuk.
“Halo, nenek.” , sapa Khaidar dengan lembut. Ia menghampirinya dan langsung meraih tangan keriput itu.
Sang nenek terenyuh saat melihat wajah Khaidar sedekat ini dan bahkan mendengarkan suaranya secara langsung. Saat itu juga garis detak jantung pada monitor terlihat meningkat dan drastis. Hal itu membuat sang nenek langsung reflek memegangi jantungnya yang mulai terasa nyeri.
Sontak Khaidar langsung melepaskan tangannya dan mundur selangkah. Ia sadar, jika ia terlalu dekat maka sang nenek akan mengalami hal yang sama seperti kedua orangtuanya.
“Nyonya, ada yang ingin Khaidar perkenalkan padamu.” , ujar Hadrian mengambil alih situasi lebih dulu sebelum jadi semakin canggung.
“Siapa?” , tanya nenek Khaidar dengan lirih.
Mengetahui waktunya untuk bicara sudah dekat, Viona buru-buru merapikan rambutnya yang kacau disebabkan oleh penculikan yang Khaidar lakukan padanya.
Tanpa ragu, Hadrian mengambil langkah ke samping. Begitu Hadrian menyingkir, Viona yang sejak tadi bersembunyi dibalik tubuh besar Hadrian langsung mengangkat kepalanya dengan kikuk.
“Aku Viona.” , ujar Viona dengan senyum canggung, “Wanita yang akan menikah dengan Khaidar.”
Nenek Khaidar yang sejak tadi hanya merebahkan kepalanya di bantal, spontan langsung mengangkat kepalanya sampai ia berhasil duduk dan memicingkan mata menatap Viona.
“Kau bilang apa? Menikah dengan Khaidar?” , tanyanya.
Sebelum Viona sempat menjawab, Khaidar melangkah mendekat pada Viona dan meraih tangannya kemudian menggenggamnya erat, “Iya nek. Aku memutuskan akan menikah dengannya.”
Tanpa sadar neneknya membuka mulutnya terperangah. Sementara Hadrian terkejut dengan tindakan tak terduga dari Khaidar untuk meyakinkan neneknya, mata Viona membulat saat tangan Khaidar menggenggam tangannya erat. Ia menoleh pada tangannya kemudian mengangkat kepalanya menatap Khaidar. Ia terkejut saat matanya bertemu dengan netra Khaidar.
“Kita akan menikah secepatnya, Nek. Aku tidak bisa terlalu lama berjauhan dengannya.” , ujar Khaidar lagi tanpa melepaskan tatapan matanya dari Viona, mengunci netra gadis itu agar hanya menatap padanya, “Ya kan?” , Khaidar menyeringai.
