Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 5 : Rencana Pencitraan

Beberapa saat sebelumnya, Khaidar tiba di rumah sakit dengan air muka penuh kekhawatiran. Melalui lift khusus, Khaidar langsung dibawa menuju lantai dimana terdapat deretan kamar VIP, tempat neneknya berada. 

   Saat Khadiar masuk, sudah ada tiga orang berada di dalam sana selain neneknya. Hadrian sudah tentu ada di sana, bersama dengan dewan komisaris dan juga satu orang perwakilan dari para pemegang saham. Sorot mata Khaidar menatap sedih pada neneknya yang terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Di tubuhnya ada beberapa kabel dan selang yang terpasang. 

Hadrian yang tengah berbincang dengan dua orang lainnya di sofa, langsung beranjak berdiri begitu melihat Khaidar dan langsung menghampirinya, “Sekretaris pribadinya menemukan nyonya terbaring setelah mendengar suara keras dari luar ruangan. Beruntung ada orang yang melihatnya saat kejadian, jadi masih sempat terselamatkan.” , jelas Hadrian. 

Khaidar melangkah berat mendekat pada tempat tidur neneknya, “Apa kejadiannya pagi tadi? Tepat setelah melakukan panggilan video denganku?” 

   Hadrian tidak langsung menjawab dan mencoba membaca isi pikiran Khaidar. Ia tahu betul satu-satunya yang muncul dalam benak Khaidar sudah pasti hanyalah tentang kutukan yang melekat padanya. Sayangnya pemikiran seperti itu juga muncul dalam benar dua orang penting lainnya yang masih duduk di sofa nyaman, tengah memperhatikannya. 

“Tidak,” , kata Hadrian setelah usai menimbang-nimbang, “Kejadian itu terjadi tak berselang lama setelah tuan muda pergi ke bar.” 

“Lalu mengapa kau tidak langsung menghubungiku dan malah pergi sendiri?” , tanya Khaidar, terdengar serius meskipun tatapannya tidak fokus ke depan. 

“A-apa? Oh, uh, kau tahu bagaimana tugas sekretaris, kan? Memastikan semaunya aman dan terkendali.” , elak Hadrian, tidak ingin memulai keributan. 

“Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk dan aku tidak sempat untuk mengucapkan apapun pada nenek? Apa kau mau bertanggung jawab jika hal itu sampai terjadi? Kau cucunya atau aku?” , cecar Khaidar terlihat geram. 

   Hadrian selaku sekretaris, meskipun seorang bawahan, dia banyak mengatur hidup Khaidar. Untuk jadwal apa saja yang akan Khaidar lakukan pada hari itu pun sudah diatur oleh Hadrian dan Khaidar hanya patuh saja. Tetapi pada dasarnya Hadrian adalah bawahan Khaidar. Ada saat dimana ia tidak bisa mengatur Khaidar dan itu adalah waktu dimana Khaidar memegang kembali tongkat kekuasaannya. Tidak ada yang boleh menghalanginya. 

“Maaf, tuanku.” , ujar Hadrian menundukkan kepala. 

   Ini bukan waktu yang tepatnya untuk Hadrian berlindung dibalik alasan apapun. Hanya kata maaf yang bisa membantu agar situasinya tidak semakin memanas. 

   Benar saja, melihat Hadrian menyesal dan menyadari kesalahannya, Khaidar mengalihkan pandangan penuh amarahnya ke arah lain, mencoba untuk menenangkan diri sebelum mencoba berbicara dengan neneknya. 

   Dua orang yang memperhatikan mereka dari sofa saling melempar pandangan. Sebelumnya keduanya berencana untuk menghasut Hadrian agar mau membantu mereka menyingkirkan Khaidar dari posisinya. Tetapi setelah melihat bagimana Hadrian dengan mudahnya tunduk di hadapan Khaidar, niat jahat itu mereka urungkan dan memutuskan untuk mengganti rencana. 

   Selama beberapa saat, Khaidar hanya duduk di samping sang nenek yang masih terbaring seraya mengelus tangan keriput di depannya. Matanya sayu menatap wajah neneknya yang masih pucat dan mulutnya sedikit terbuka. Ia mulai membayangkan betapa hebatnya wanita di depannya ini membawa perusahaan sampai sebesar ini seorang diri dan ia tidak bisa berada di sisinya, bahkan untuk menyambut hari lelahnya. 

“Ini sudah yang keberapa kalinya?” , tanya Khaidar pada Hadrian di dekatnya. 

Hadrian diam sejenak memutar kembali ingatannya, “Ini sudah ketiga kalinya dalam tahun ini, tuan.” 

“Apa separah itu?” , Khaidar menoleh. 

Kali ini Hadrian mendekat sambil membuka ponselnya. Ia membuka aplikasi untuk mengambar dan mulai menggambar sesuatu seperti pipa panjang, “Menurut dokter yang tadi memeriksa nyonya, pada awalnya sumbatan pada pembuluh darahnya hanya sebanyak ini,” , katanya sambil membuat coret-coretan di sisi-sisi gambar pipa sehingga lingkarannya jadi semakin kecil, “Dan sekarang sudah sebanyak ini.” , Hadrian menggambar lebih banyak coretan sampai lingkaran di tengahnya jadi semakin kecil. 

“Itu mengerikan.” , komentar Khaidar, “Sepertinya aku harus membawa nenek ke luar negeri, Aku yakin mereka punya rumah sakit dan dokter yang lebih hebat. Mereka pasti bisa menyembuhkan nenek.” 

“Tuan.” 

“Rumah sakit dan dokter disini benar-benar payah! Bagaimana bisa mereka malah membuat keadaan nenek semakin parah?! Sudah berapa banyak uang yang mengalir ke dalam kantong mereka setiap jam yang nenek berikan? Apa itu tidak cukup?!” , cecar Khaidar mulai tak terkendali. 

“Tuan muda.” , sela Hadrian mencoba untuk menenangkan. 

“Bagaimana bisa kamar VIP dimasuki sembarang orang? Bukankah seharusnya mereka punya penjaga di dekat pintu lift untuk mengingatkan bahwa orang yang hanya memikirkan uang saat berkunjung dilarang masuk?!” 

   Omelan Khaidar mengejutkan dua orang yang duduk di sofa. Mereka tahu itu adalah sindiran untuk mereka. Keduanya langsung berdiri dan menoleh pada Khaidar. Tidak, bahkan mereka langsung menghampirinya. 

“Tuan muda Khaidar!” , Hadrian berteriak memperingatkan dan berhasil membuat Khaidar menahan mulutnya untuk kembali berbicara. 

“Keadaan nyonya sudah tidak memungkinkan untuk bepergian jauh.” , lanjut Hadrian dengan nada bicara lebih tenang. 

“Bagaimana dengan helikopter? Kita bisa terbang sekarang kan?” 

Hadrian menggeleng dengan tenang, “Itu akan sangat beresiko, tuan.” 

“Kami datang dengan tulus untuk melihat keadaan nyonya.” , sambar salah satu pria berpakaian rapi yang merupakan perwakilan dari para pemegang saham, “Tapi malah mendapat sambutan yang tidak ramah. Sepertinya peran kami tidak dianggap.” 

Khaidar menatap pria itu dengan tatapan heran. Melihat hal itu, segera Hadrian menyela di antara mereka. Ia bisa melihat tatapan tak senang yang keduanya berikan satu sama lain. 

“Dia perwakilan dari para pemegang saham. Perkenalkan, dia adalah Pak Jose. Beberapa kali dia ikut rapat dewan bersama dengan anda, tuan.” 

“Ah iya. Aku ingat wajahnya. Hanya tidak ingat namanya saja.” , komentar Khaidar terlihat tidak peduli. 

Pria bernama Jose itu melirik pada pria di sampingnya seakan berkata ‘lihat? Ku bilang apa.’ 

Khaidar berdiri dan menjulurkan tangannya, “Maaf aku sudah lancang tidak mengingatmu, Pak Jose. Mungkin karena kau belum melakukan sesuatu yang besar untuk perusahaan sehingga tidak tersimpan dalam ingatanku.”  

Pak Jose menerima uluran tangan itu dan meremasnya erat, “Kalau begitu izinkan aku memberikan sebuah kejutan untukmu, tuan muda. Agar kau bisa mengingatku selalu.” , balasnya dengan senyuman lebar. 

“Aku sangat menantikannya.” 

“Kalau begitu jangan lupa lusa akan diadakan rapat direksi mengingat kondisi nyonya yang tidak memungkinkan untuk mengurus perusahaan. Kalau begitu kami permisi.” , ujar Pak Jose dan berlalu pergi bersama dengan pria yang datang bersamanya. 

“Dubuk itu mulai menyalak. Aku harus memperhatikan dia.” , komentar Khaidar setelah mendengar pintu tertutup. 

Hadrian mengangkat kedua alisnya bersamaan, “Dia adalah orang yang dipercaya oleh para pemegang saham, jadi wajar jika dia mengkhawatirkan perusahaan seperti perusahaan ini adalah miliknya. Atau lebih tepatnya, dia tidak menyukaimu, tuan.” 

“Mengapa begitu?” 

“Ada rumor yang tersebar di perusahaan bahwa kau hanya bermalas-malasan dan berlindung di balik punggung nyonya. Jadi mereka mulai meragukanmu.” 

“Maksudmu aku dipandang kurang dewasa di mata mereka?” , Hadrian mengangguk. 

“Hadrian, katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa dipandang dewasa dengan cepat? Aku tidak punya waktu untuk melakukan pencitraan ini itu, sangat melelahkan..” 

“Yah, mungkin kau bisa coba untuk menikah.” 

“Apa? Menikah kau bilang?” 

Sekretaris cakap itu mengangguk, “Memangnya tuan pikir mengapa nyonya bekerja begitu keras padahal sudah renta dan kondisinya tidak baik?” 

   Khaidar menoleh ke arah neneknya dan memandangnya iba. Selama ini ia hanya memikirkan tentang dirinya dan melupakan neneknya yang dari hari ke hari semakin menua. 

“Tolong jaga nenek selama aku pergi.” , ujar Khaidar dan langsung bergegas pergi. 

Dengan cepat Hadrian menangkap tangan Khaidar, “Tuan mau pergi kemana?” 

“Mencari orang untuk menikah denganku.” 

Khaidar terperanjat dan tanpa sadar melepaskan tangan Khaidar, “A-apa?” 

Tanpa memberi penjelasan apa-apa lagi, Khaidar berlalu pergi, menghilang dari balik pintu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel