Chapter 4 : Viona, Bukan Fiona
“Kau tidak mau?” , tanya Khaidar lagi setelah beberapa menit berselang, tak kunjung ia dapat jawaban dari Viona.
Gadis itu hanya menatapnya penuh curiga sampai akhirnya ia bersuara seraya berbalik badan untuk membersihkan gelas kocoknya, “Tidak.”
“Kenapa? Kau tidak minum alkohol?”
“Apa kau pernah melihat seorang koki makan bersama dengan pelanggannya?” , Viona balik bertanya.
“Tidak. Tapi satu hal yang pasti, koki itu butuh makan.”
Viona berbalik dengan gelas kocok yang sudah bersih, “Dengar, aku tidak dibayar untuk minum bersamamu. Bagaimana jika bosku datang mendapatiku sedang mabuk dan bukannya menyajikanmu minum?”
“Aku yakin itu balasan yang setimpal dengan air pel yang kau siramkan padaku waktu itu.” , Khaidar menyeringai.
“Apa kau tidak ada orang lain yang bisa kau ajak minum? Bagaimana dengan dua pria besar yang hanya berdiri di sana? Aku yakin mereka akan menerima ajakanmu dengan senang hati.” , balas Viona tersenyum singkat di akhir kalimatnya.
Khaidar tidak menoleh namun ia tahu siapa yang Viona maksudkan, “Ah mereka. Meskipun aku memohon, mereka tidak akan mau melakukannya. Karena taruhannya kontrak kerja mereka.” , jawab Khaidar santai lalu meneguk minumannya dalam sekali teguk.
“Bagaimana dengan pasanganmu? Aku yakin kau sudah cukup bebas untuk mengajak teman pria mu.”
Khaidar memiringkan kepalanya sambil memainkan gelas kaca kecil di tangannya, “Aku tahu manusia memang tidak bisa berubah.”
“Maksudmu?”
“Kau masih menyebalkan,” , kata Khaidar seraya meletakkan gelas di tangannya ke hadapan Viona, “Sama seperti dulu.”
“Kau tahu anjing hanya akan menyalak pada orang yang mencurigakan.”
“Anjing menyalak karena tahu dia kalah kuasa dengan manusia. Itu sebabnya dia menggertak.” , balas Khaidar dengan senyum bangga.
Viona tidak membalas lagi dan memilih untuk menyajikan minuman selanjutnya.
“Kemana perginya kacamatamu? Kau terlihat..”
“Aneh karena tidak memakainya?” , sela Viona, terdengar tidak senang.
“Tidak. Hanya saja kau tampak berbeda. Pernah melihat domba tanpa bulunya?”
Alih-alih menjawab, Viona mengocok gelas kocoknya kuat-kuat sampai suaranya terdengar keras. Hal itu ia lakukan karena tidak ingin mendengar ocehan dari Khaidar. Jika bisa, ia ingin pergi dari tempatnya berada sekarang juga. Namun uang dan juga kebutuhan hidup telah menahannya, memaku kakinya dengan kuat.
Khaidar dengan sabar menunggu. Baik jawaban maupun minumannya. Dalam hatinya ia menyadari bahwa bar di siang hari tidaklah terlalu buruk dan bahkan terasa lebih menyenangkan untuknya. Tidak ada cahaya warna-warni yang menyilaukan dan juga musik yang memekakan telinga. Pada awalnya Khaidar menyukai semua hal itu, sebagai caranya untuk meramaikan hidupnya yang begitu sepi. Tetapi lambat laun semua kebisingan itu memuakkan dan Khaidar kembali menarik dirinya kembali, mulai berteman dengan kesepian.
“Aku sengaja melepasnya.” , kata Viona seraya menuangkan segelas minuman, kali ini berwarna merah seperti buah naga.
“Agar tidak terlihat culun?”
Viona mengernyit dan tersenyum getir, “Yah, aku sendiri lebih suka menyebutnya dengan si kutu buku daripada anak culun.”
“Tiap manusia berhak untuk mempunyai pendapat yang berbeda kan? Begitulah cara kita hidup di dunia ini.” , balas Khaidar tersenyum setelah menyesap minumannya, “Ini enak. Tidak seperti air pel.”
Geram, Viona menggenggam tangannya erat-erat di balik meja bar. Jika saja ia punya cukup uang untuk membeli sebuah meja bar yang sama bagusnya dengan yang ada di tempat ini, sudah pasti Viona membalik meja di hadapannya ini untuk mengusir Khaidar pergi.
“Apa aku boleh pergi sekarang?” , Viona bertanya penuh penekanan.
“Mau kemana? Bukankah kau harus melayaniku sampai aku pergi?”
“Kemana saja asalkan tidak ada kau.”
“Aku bukan ‘kau’ , aku Khaidar.”
“Ya. Aku tahu.”
“Tapi aku belum tahu namamu.” , ujar Khaidar dengan senyum lebar menampakan deretan giginya yang rapi.
Bak sebuah peluru panas menembus ke dadanya, Viona terperangah. Ia tidak tahu ada manusia yang tidak mengetahui nama dari gadis yang sudah menghabiskan waktu tiga tahun berada di satu kelas yang sama dan bahkan pernah menyiramnya dengan air kotor. Hal itu sangat menyakiti harga dirinya.
“Kau benar-benar belum tahu namaku, atau memang lupa, dengan namaku? Itu dua hal yang berbeda. Dan jawaban yang kau berikan akan berpengaruh pada tindakanku selanjutnya.”
“Hei, relaks. Aku ingat namamu mirip dengan salah satu karakter film yang pernah aku tonton, tapi aku bahkan lupa film apa itu. Yang aku ingat hanyalah sifat dari karakternya sangat mirip denganmu.”
“Kartun?”
Khaidar mengangguk.
“Dari Amerika?”
Lagi-lagi Khaidar mengangguk.
Anggukan itu membuat Viona jadi semakin penasaran. Mendadak ia ingin sekali bisa menebak karakter yang dimaksud meskipun petunjuk yang ia dapatkan hanya sedikit dan berupa anggukan dan gelengan saja.
“Karakter wanita?”
“Dia adalah tokoh utama?”
Viona terus mendapatkan anggukan dan itu memacu semangatnya. Dalam pikirannya, berderet berbagai cuplikan tokoh utama dari film animasi buatan Amerika yang pernah ia tonton selama ini. Kepercayaan dirinya semakin meningkat dan ia mulai tersipu. Karakter wanita dari film animasi, terlebih lagi tokoh utama, semuanya cantik dan menarik. Viona pun mulai membayangkan dirinya dalam pandangan orang lain mungkin seperti Belle yang menikah dengan Adam si monster atau Mulan ksatria cantik yang pemberani.
“Ah! Aku ingat!” , pungkas Khaidar mengejutkan Viona, membuat bayangannya kabur.
“Apa?”
“Film Shrek. Iya, benar. Kau Fiona, kan? Sudah kubilang aku ingat.”
Raut wajah Viona berubah seketika. Ada 2 hal yang membuat Viona memutuskan untuk tidak bersabar lagi dengan Khaidar. Yaitu tentang cara Khaidar mengingat namanya dan juga bagaimana namanya berubah dari Viona yang menggunakan V menjadi Fiona yang menggunakan F.
Belum sempat Viona protes, ponsel Khaidar bergetar. Dilihatnya nama Hadrian muncul dan tanpa ragu ia langsung menjawab panggilan tersebut.
“Hei, ini adalah hadiah ulang tahun terbu–”
“Datanglah ke rumah sakit sekarang juga.” , sela Hadrian terdengar serius.
Mendengar itu, raut wajah Khaidar berubah menjadi tegang dan tanpa babibu lagi, ia langsung bergegas pergi bersama dengan dua pria besar yang berjaga di pintu, meninggalkan Viona dalam keadaan bingung.
“Ada apa dengannya?” , Hanifa bertanya-tanya seorang diri.
***
Khaidar yang pergi lebih awal dari dugaannya rupanya tidak serta merta membuat Viona bisa pulang lebih awal dari yang ditentukan oleh bosnya. Saat meminta izin pada bosnya agar ia bisa pulang lebih awal, pemilik bar malah memintanya untuk mengawasi pengiriman stok makanan yang akan datang siang hari. Karena hal itu ia tetap berada di bar sampai waktu pengiriman selesai.
Tidak sampai empat jam berlalu sejak kepergian Khaidar dan Viona baru saja berbenah untuk pulang, pria itu tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa. Viona yang baru saja menata gelas kocok, terkejut melihat Khaidar sudah duduk di hadapannya lagi. Itu artinya, pupus sudah harapannya untuk pulang.
“Kenapa kau datang lagi?” , tanya Viona terdengar tidak senang.
Dengan wajah serius, Khaidar menatap Viona selama beberapa saat sampai Viona harus melambaikan tangan tepat di depan wajah Khaidar untuk menghentikannya.
“Berhentilah menatapku begitu. Kau terlihat menyeramkan.” , komentar Viona memutuskan melanjutkan berbenah.
“Kau menyukaiku?” , tanya Khaidar tiba-tiba.
Ini adalah pertama kalinya Khaidar menanyakan pertanyaan itu pada seorang wanita. Dan untuk kesan pertama yang ia dapatkan adalah tatapan tajam sekaligus mengerikan dari Viona.
“Kau bercanda?”
“Kau tidak menyukaiku, kan?”
“Tentu saja. Standarku lebih tinggi.”
“Kau tidak akan menyukaiku meskipun aku memberimu 1 milyar?” , tanya Khaidar lagi, semakin mendesak.
Viona tercengang, “S-satu milyar? Benar-benar uang 1 milyar?”
Khaidar mengangguk cepat.
“A-aku mungkin akan menyukai uangnya, bukan menyukaimu.”
“Bagus! Kalau begitu kau harus menikah denganku.”
Mata Viona semakin terbelalak, nyaris keluar dari tempatnya, “Tunggu..! Apa kau tuli? Aku bilang aku tidak menyukaimu. Meskipun kau memberiku uang 1 milyar, aku akan mengambil uangnya dan tidak menyukaimu. Apa masih kurang jelas?”
“Tidak. Aku sangat mengerti maksudmu. Aku tidak bodoh.”
“Tidak, kau memang begitu.” , balas Viona mundur selangkah, “Sudah jelas aku mengatakan tidak akan pernah menyukaimu. Seumur hidupku. Dan kau masih memerintahku untuk menikah denganmu. Bukan meminta, tapi memerintahku? Ha! Sepertinya kau mengira semua orang berada di bawah kakimu.”
Tanpa diduga, Khaidar berdiri dan menarik tangan Viona agar mendekat padanya, “Aku bersungguh-sungguh. Aku harus menikah denganmu dan kau harus menikah denganku.” , tegasnya.
Kali ini Viona tertegun. Ia bisa melihat dari sorot mata Khaidar, pria di depannya ini benar-benar serius dengan perkataannya.
