Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 3 : Mereka, Di Masa Lalu

“Oh? Kau si mata empat?” 

“Dan kau si gay?” 

   Sapaan ramah mereka lemparkan satu sama lain begitu Khaidar menghampiri meja bar dan mendudukan dirinya tepat di hadapan Viona. Mereka dulunya adalah teman satu kelas saat di sekolah menengah pertama. Masing-masing dari mereka punya kesan buruk satu sama lain dan tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. 

   Viona pada masa itu dikenal dengan gadis culun berponi tebal, rambut diikat dua rendah tepat di belakang telinga, dan juga kacamata bulat yang tebal karena mata minusnya. Tidak begitu pandai bergaul dan hanya memiliki satu teman dekat yang duduk satu meja dengannya, yaitu Gita. Karena hanya Gita satu-satunya yang ia miliki, Viona amat peduli dan sayang padanya. Dia tidak akan tinggal diam dan selalu punya cara yang mengejutkan untuk membalas orang yang membuat Gita sedih. 

   Karena paras dan juga latar belakangnya yang sama menawannya, Khaidar adalah laki-laki idaman para gadis. Namun ada rumor bahwa ia tidak pernah menerima satu pun perempuan yang mendekatinya, secantik ataupun sebohai apapun dia. Tentu saja Khaidar melakukan itu karena ia tidak ingin ada yang tersakiti karena kutukannya. 

   Berbagai rumor pun tersebar. Mulai dari Khaidar yang sudah memiliki tunangan hasil perjodohan neneknya sampai jati dirinya yang sebenarnya adalah seorang gay. Meskipun begitu, tidak sedikit gadis yang masih bersikukuh ingin mendapatkan hati seorang Khaidar. Salah satunya adalah Gita, teman dekat yang paling disayang oleh Viona. 

   Setelah menelan harga diri dan berniat untuk menyatakan perasaannya pada Khaidar, jawaban yang ia dapatkan sama seperti gadis yang lainnya. Ingat, semua yang menyakiti Gita akan berurusan dengan Viona. Dari penolakan itu lah mereka berinteraksi untuk pertama kalinya. 

   Suatu pagi yang cerah, Khaidar datang pada jam sama seperti yang hari lainnya. Hari itu Viona kedapatan jadwal piket membersihkan kelas dan ia mendapatkan bagian mengepel ruang kelas dan juga koridor. Ia sedang mengepel koridor saat Khaidar datang dan tidak sengaja menyenggol Viona yang berjalan mundur saat mengepel. Tanpa mengatakan apa-apa, Khaidar langsung masuk ke dalam kelas dan duduk seolah tidak terjadi apa-apa. 

   Kekesalan Viona memuncak dan ia berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah keras, memperingatkan siapapun bahwa ia sedang tidak ramah saat ini. Ia langsung menghampiri Khaidar yang sedang mengeluarkan buku-bukunya. Tanpa mengatakan apapun ia langsung mengangkat ember berisi air kotor bekas membilas alat pel dan menumpahkan begitu saja di atas kepala Khaidar. Semua barang milik Khaidar dan pakaian yang dikenakan olehnya tidak luput dari air kotor tersebut. 

“Aku tidak akan meminta maaf karena kau berutang permintaan maaf padaku. Jadi kita impas.” , ujar Viona dan langsung pergi ke luar ruangan, tidak mempedulikan tatapan teman-teman satu kelasnya yang memandangnya bingung, tak percaya. 

   Sejak saat itu, Khaidar memutuskan untuk menjauhi Viona bagaimana pun caranya. Meskipun mereka sekelas, Khaidar berusaha sebisa mungkin untuk tidak kontak mata ataupun berpapasan dengannya. Begitu juga halnya dengan Viona. Setelah membuat teman dekatnya menangis selama dua malam ditambah lagi hukuman mengepel seluruh koridor kelas selama tiga minggu, Viona bersumpah tidak akan mau berurusan dengan Khaidar lagi. 

   Namun semesta selalu punya cara untuk mematahkan sumpah manusia. Setelah 10 tahun berlalu, mereka kembali bertemu di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. 

“Kau sudah tidak memakai kacamata mu lagi.” , komentar Khaidar dengan senyum kecil agak menyeringai. 

Tanpa Khaidar tahu, Viona merasa harga dirinya dikoyak dengan komentar sekaligus senyuman itu. 

Seakan ingin menunjukkan bahwa ia masih sama gilanya seperti dulu, Viona meletakkan kedua tangannya ke atas meja dan menatap lurus pada Khaidar, “Dan aku masih bisa mencium aroma pembersih lantai datang bersamamu.” 

Khaidar terkekeh sambil memijat pelipisnya, “Wah, sungguh sapaan yang amat ramah. Aku datang bukan untuk mencari masalah denganmu. Kau peracik minuman di sini? Tolong buatkan aku minuman yang akan membuatku lupa dengan semua yang terjadi hari ini dan aku akan bangun besok seolah hari ini tidak pernah datang.” 

Viona mundur menarik tangannya dari meja dan mulai meraih sebuah gelas kaca berukuran kecil dan meletakannya tepat di hadapan Khaidar, “Ada apa denganmu? Sepertinya posisimu sebagai orang penting tidak bisa membuatmu bahagia bahkan untuk satu hari saja.” 

“Kata-katamu terlalu kejam, nona.” , balas Khaidar melipat satu kakinya ke atas kaki lainnya, “Aku mengharapkan kesenangan di tempat ini dan bukannya ocehan mendengung yang mengganggu.” 

“Ha!” , respon Viona mulai merasa kalah, “Maaf, aku tidak bisa membuatmu senang di tempat ini karena itu bukanlah kewajibanku. Silahkan datang lebih malam jika ingin melihat lusinan gadis muda dengan tubuh wanita dewasa untuk menyenangkanmu dan bukannya duduk di sini setelah membuat seorang pekerja melewatkan waktu tidurnya.” 

“Aku pikir kau dibayar untuk itu.” , timpal Khaidar, “Jadi kau akan membuatkanku minum atau tidak?” 

   Mata Viona melirik pada dua pria besar dengan pakaian rapi yang berdiri di dekat pintu masuk dan mendapati mereka sedang melihat ke arahnya. Hal itu membuat Viona harus mengurungkan niatnya yang hendak menyiramkan air ke wajah Khaidar seperti dulu. 

   Alih-alih menyiramkan air pada wajah Khaidar, Viona meraih gelas kocok tanpa mengalihkan perhatiannya dari Khaidar. Ia mulai menuangkan berbagai jenis minuman, memberikan perasan lemon dan memasukan beberapa es batu, kemudian mengocoknya dengan gerakan khas seorang bartender. Semua itu ia lakukan dengan mata yang tak lepas dari pria di depannya, sibuk mengutuknya dalam hati. 

   Tatapan mengintimidasi itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Khaidar. Perhatiannya lebih terpusat pada gelas kocoknya. Baginya itu sangat menarik. Seperti mesin ajaib, dimana beberapa cairan dimasukkan kemudian diberi sedikit guncangan, maka akan berubah menjadi bentuk dan rasa yang baru. 

   Di belakang mereka, Hadrian yang masih menunggu di mobil mendapatkan panggilan dari sekretaris pribadi nenek Khaidar. Panggilan itu berhasil membuat wajahnya jadi pucat pasi lalu bergegas keluar dari dalam mobil sedan. Begitu masuk, ia melihat Khaidar tengah asyik melihat bagaimana minumannya dibuat. Sadar bahwa Khaidar sudah cukup tersiksa dengan kenangan buruk di hari ulang tahunnya, Hadrian mengurungkan niatnya dan sebagai gantinya ia berbisik pada pria besar yang berjaga di dekat pintu. 

“Nyonya mendapat serangan jantung. Aku akan pergi ke rumah sakit, kalian jaga Khaidar.” , bisik Hadrian membuat kedua pria besar itu ikut pucat sama seperti dirinya. 

“Apa kami harus mengabarinya?” , tanya seorang pria dengan wajah bulat. 

Hadrian menatap punggung Khaidar lama, “Tidak perlu. Biar aku yang bicara padanya.” 

Pria besar itu saling menatap dan mengangguk bersamaan, “Kami mengerti.” , dan Hadrian pun pergi. 

“Silahkan.” , Viona menggeser gelas berisi minuman ke arah Khaidar. 

Mata Khaidar bergerak mengikuti gerakan gelas yang berhenti beberapa senti di depannya, “Mau minum bersamaku?” , katanya seraya mengangkat kepala, menatap ke arah Viona.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel