Bab 4
Luke tidak menanggapi, dia sudah terlanjur menunda kematian Yena selama tiga tahun. Dia juga sudah terlanjur membuat kontrak jiwa dengannya dan artinya dia harus bersama Yena selama batas waktu tersebut.
“Kontrak yang sudah dibuat tidak bisa dibatalkan, kamu tahu bagiku lebih berat tinggal di sisimu meski hanya beberapa menit saja dibandingkan mengawasi dari kejauhan dan mencabut nyawamu ketika kematian datang? Ini adalah penyiksaan bagiku! Apa kamu pikir aku sedang bersenang-senang sekarang? Tidakkah kamu tahu di masa lalu di depan mataku kamu telah mengambil nyawa seluruh keluargaku bahkan nyawaku sendiri?! Bayangkan saja setiap detik aku selalu berada di sekitar pembunuh kejam sepertimu!” keluhnya.
Yena tidak mengatakan apa-apa, dia langsung melemparkan botol ke dalam sampah lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Setelah memejamkan mata beberapa menit dia tertidur.
***
Pada keesokan paginya, Yena membuka mata. Dia melihat jam di meja menunjukkan pukul enam pagi. Yena melihat ke samping dan dia mendapati Luke sedang berdiri dengan mata terpejam sambil bersandar di dinding.
Yena penasaran, dia bangun lalu berjalan mendekat. Mengulurkan tangan untuk menyentuh bulu matanya yang lentik. Tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuhnya tiba-tiba mata Luke terbuka, dengan cepat dia menggenggam pergelangan tangan Yena.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanyanya. “Apa kamu pikir kamu bisa membunuhku lagi? Yena, gunakanlah otak kecilmu! Kenapa kamu begitu bodoh setelah bereinkarnasi menjadi manusia?” cibirnya.
Mem-membunuh? Dia pikir aku ingin membunuhnya lagi?!
Yena menelan ludahnya sendiri. Tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata menyakitkan seperti itu dari bibir Luke. Dia hanya ingin menyentuh bulu matanya yang lentik, jujur di dalam hatinya dia tidak bisa mengatasi detak jantungnya yang berantakan setiap melihat Luke.
“Hoh! Wah! Ya! Aku memang bodoh! Aku bodoh dan berpikir aku bisa membunuhmu hanya dengan ujung jariku! Aku bahkan tidak punya kuku tajam seperti siluman rubah ekor sembilan di masa lalu! Jika aku pintar kenapa harus mati tragis di setiap lapisan kehidupan?! Kamu bilang padaku bahwa nasibku yang sial?! Menurutmu semua ini adalah salahku?! Oke, salahku! Puas kamu!?” Yena meluapkan seluruh emosinya karena tidak tahan lagi.
Yena pergi berjalan ke kamar mandi, dia melepaskan seluruh bajunya dan mulai membasuh tubuhnya.
Saat mengoleskan busa sabun dia baru ingat kalau Luke pasti berada tidak jauh dari posisinya. Yena memutar badan, dia hanya ingin memastikannya.
Ternyata benar, di dalam kamar mandi yang luas pria itu berdiri di balik tirai tipis sebagai pembatas tengah ruangan.
Yena sangat gugup, dia hampir tidak bisa menggerakkan tangannya. Dia bahkan sangat takut untuk kentut. Yena menghela napas berat lalu buru-buru membilas tubuhnya dengan air.
“Tu-tunggu! Kenapa dia terus berada di dekatku? Aku-aku bahkan sangat malu untuk buang air kecil, bagaimana kalau aku ingin buang air besar? Aku juga tidak mungkin terus menahan sepanjang waktu, bukan? Ini adalah hukuman nyata!” gerutunya.
Luke bisa mendengar semua yang Yena katakan. Dia merasa terganggu karena dia bukan manusia biasa tapi Yena memandangnya sebagai manusia mesum dan memiliki niat terselubung di luar kontrak perjanjian.
Luke membuka tirai dan menyaksikan Yena tanpa sehelai pakaian.
“Bicaramu sangat keterlaluan! Bagaimana kamu bisa begitu keji? Kamu sudah merendahkanku!”
“Luke, apa yang kamu lakukan? Kamu sungguh tidak tahu malu, hah?!” Yena buru-buru menarik sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya.
“Yena, apakah kamu pikir aku manusia biasa? Bahkan aku melihat penampilan ini selama ratusan tahun lamanya! Apa kamu lupa aku siapa?”
Yena dengan gugup menggelengkan kepala. “Ja-jadi apa maumu? Apa kamu pikir aku-aku bisa melakukan semua hal memalukan dan ambigu di depan matamu? Apa kamu tidak berpikir aku punya privasi? Kenapa kamu tidak memiliki toleransi sedikit pun?!” keluhnya.
Luke berkacak-pinggang lalu bicara dengan blak-blakan.
“Apa masalahnya? Bukankah semuanya sama saja!? Aku bahkan pernah mencabut nyawa seseorang tanpa pakaian! Saat mereka sedang buang air, saat mereka sedang mandi lalu terkena serangan jantung. Orang tenggelam di laut, dan masih banyak lagi! Apakah masih sempat memikirkan rasa malu sementara mereka tidak tahu sebentar lagi mereka akan mati?”
Yena sangat kesal mendengarnya. Dia berjalan mendekat lalu memegang kedua bahu Luke.
“Tuan Malaikat yang terhormat, itu karena mereka tidak bisa melihatmu! Sementara aku? Aku bisa melihatmu siang dan malam bahkan aku bisa menyentuhmu seperti menyentuh manusia hidup pada umumnya!” teriak Yena dengan emosi.
“Kalau begitu abaikan saja aku, mudah bukan?” balas Luke dengan entengnya.
“Bagaimana caranya menganggapmu tidak ada padahal kamu selalu ada di depan mataku? Aku bahkan takut kentut di depanmu, aku sudah menahannya sampai perutku sakit! Aku sangat malu! Ini adalah penyiksaan!”
Karena guncangan tubuhnya, handuk Yena tiba-tiba terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke lantai. Keduanya langsung bungkam seribu bahasa.
Luke tidak tahu bagaimana harus menunjukkan ekspresinya. Dia berpura-pura buta lalu memutar badan dan berjalan keluar dari pintu.
Yena masih berdiri di tempat, dia menahan napas dan saat pintu menutup dia berteriak.
“Aaaaaaaaaaa! Tidak! Ini sangat memalukan! Aku tidak bisa bertahan jika terus begini. Ini lebih sakit dibandingkan mendapati Yanu berselingkuh dengan Zisu!! Ini adalah hukuman berat! Huuuuu, hiks .... hiks,”
Luke mendengarnya menangis dari luar pintu. Dia sedikit merasa bersalah.
“Yena, bukankah kamu harus pergi ke perusahaan? Sampai kapan kamu akan menangis di kamar mandi? Apakah semuanya akan berubah jika kamu terus menangis? Air matamu tidak mengubah apa pun!”
Yena menyeka air mata di pipinya. Dia meremas handuk di tubuhnya lalu berjalan pelan menuju ke pintu lalu melongokkan kepalanya keluar.
Luke berdiri di samping pintu sambil melipat kedua tangannya.
“Bisakah kamu memberikan sedikit privasi padaku? Jangan selalu menunjukkan diri di depanku, bisakah?” tanyanya dengan tubuh gemetar. Kedua mata Yena tampak sembab karena baru berhenti menangis.
Luke tidak berkomentar dia hanya berjalan pergi lalu menghilang.
Yena mengendap-endap masuk ke dalam kamar. Dia merasa cemas tanpa alasan karena takut jika Luke tiba-tiba muncul di waktu yang tidak tepat.
“Di-dia sungguh pergi, bukan? Syukurlah!” gumamnya.
Yena mulai bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan. Dia ingat hari ini dia akan bertemu dengan klien penting.
Satu tahun kemarin dia memutuskan untuk berpacaran dengan Yanu. Perselingkuhan Yanu dimulai pertengahan bulan ini. Yena mencatat semua hal yang akan terjadi dan dia berusaha mengambil tindakan untuk mencegah hal buruk menimpanya.
Dia duduk di dalam taksi dan tidak memperhatikan Luke sudah duduk di sampingnya. Luke memakan permen lolipop.
Yena sedang sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti ketika itu terjadi. Anehnya pada saat ini dia malah tidak merasa sakit hati sedikit pun seolah-olah dia tidak pernah mencintai Yanu.
“Aneh sekali, kenapa saat memikirkan Yanu dan Zisu aku merasa biasa-biasa saja? Apakah perasaan di dalam hatiku tidak nyata untuknya?” tanyanya pada diri sendiri.
“Apa itu?” tanya Luke.
Yena melirik ke arah sopir taksi yang sedang mengemudi, dia tahu sopir tersebut tidak bisa melihat Luke di sampingnya. Dia juga tidak ingin orang-orang di sekitar berpikir dia gila dan sedang bicara sendiri.
Dengan hati-hati Yena berbisik pada Luke.
“Tanggal ini?” tanya Yena padanya.
“Hem!”
“Tanggal ini adalah hari di mana pacarku berselingkuh dengan temanku,” jawabnya dengan santai tanpa menunjukkan kesedihan sedikit pun.
“Apa rencanamu? Apa kamu ingin mencegahnya untuk mendapatkan cinta sejati?” tanyanya penasaran. Dalam hati, Luke bersumpah Yena tidak akan pernah bisa menemukan cinta sejati dengan semudah itu. Dia berniat akan menghalangi setiap usahanya dan membuat Yena tetap mati tragis tiga tahun lagi. Luke ingin tertawa di atas kemenangannya dan berkata pada Yena bahwa Yena tidak akan pernah mendapatkan apa yang diinginkan meski telah berjuang sebanyak apa pun!
Yena menggelengkan kepalanya. “Aku akan merestui mereka.” Jawabnya sambil tersenyum menatap Luke di sampingnya.
“Apa?!” Luke menatapnya dengan tidak percaya.
Dia pikir Yena akan merebut Yanu dan mencegah berselingkuh dengan Zisu demi mempertahankan cinta mereka berdua, tidak disangka Yena malah berkata akan memberikan restu.
