Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Meski tatapan matanya terlihat sangat dingin dan perkataannya terdengar tidak manusiawi Yena tahu Luke telah menyelamatkannya dua kali berturut-turut.

Luke menatap wajah cantik Yena dalam gendongan, dia membawanya melesat terbang ke langit.

Para preman yang babak-belur merasa aneh dengan kondisi mereka. Mereka tidak bisa mengingat apa-apa.

“Ke-kenapa wajahku sakit sekali? Apa Kakak tetua baru saja menghukumku?”

“Kakiku juga keseleo, hei, apa kamu baru saja memukulku?”

“Pipiku rasanya seperti baru saja ditampar! Kenapa aku tidak ingat apa pun? Sebenarnya apa yang terjadiiiiii!”

Teriakan para preman tersebut tenggelam di dalam keheningan malam.

Yena diantarkan kembali ke kediamannya, Luke meletakkan tubuhnya di atas kasur. Dia berniat pergi begitu saja setelah mengantarkannya. Ketika hendak pergi ada yang menarik ujung lengan bajunya.

Luke menoleh dan melihat Yena mengerutkan kening sambil memegangi lengan bajunya.

“Sudah malam, aku akan pergi,”

“Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu!” tahan Yena.

Luke duduk di tepi ranjang, menunggu Yena bicara.

“Katakan!”

“Kamu sungguh berpikir aku siluman jahat?”

Luke menarik napas berat lalu menatapnya dengan penuh ejekan.

“Tentu saja! Jika bukan karena ulahmu aku juga tidak akan mengutukmu! Akhirnya semua ini juga tidak perlu terjadi! Tapi ngomong-ngomong, salahkan saja takdirmu yang penuh kesialan itu! Kamu bahkan tega memakan jantungku waktu itu, aku masih mengingatnya!” ketusnya.

“Aku melakukannya karena kamu mengutukku!” balas Yena.

“Liusen, tidak - Yena! Kamu sendiri adalah siluman kejam! Seharusnya tanpa kutukan sekalipun hidupmu juga tidak akan pernah berakhir bahagia! Setengah dewa apanya? Dewa akan menunjukkan perilaku penuh keadilan dan belas kasih, bukan bertindak kejam seperti binatang! Cuih!”

Yena tahu Luke akan terus menyalahkannya meski dalam ingatan itu diawali dari kesalahan keluarga Ding. Tidak ada gunanya dia terus berdebat dengan Luke.

“Baiklah, salahkan saja aku! Salahkan saja terus!” teriaknya dengan frustrasi. Yena rebah di kasur dengan posisi memunggungi Luke.

“Temukan saja cinta sejatimu, masa hidupmu tidak akan berakhir tragis lagi,” nasehatnya.

Yena menghela napas panjang. “Kamu tahu sendiri, Zisu berselingkuh dengan pacarku! Mereka bekerja sama mengambil alih perusahaan! Tidak puas menindasku, saat aku mengetahui kebejatan mereka, Zisu tidak meminta maaf dan malah mendorongku dari lantai tujuh! Cinta sejati macam apa yang kamu maksud? Aku bahkan tidak percaya ada cinta sejati di dunia ini! Cinta tulus macam apa?!” teriaknya.

“Waktu sudah diundur ke tiga tahun, kamu bisa mengubah hasil akhirnya,”

Yena langsung duduk dan beringsut mendekati Luke.

“Eh, bukankah kamu malaikat pencabut nyawa? Kenapa kamu tidak cabut saja nyawa dua manusia sialan itu? Jadi masalah ini bisa selesai dengan cepat! Kalau dipikir—pikir lagi aku juga tidak akan sudi mengemis cinta pada Yanu lagi!” saran Yena.

“Hah?! Mencabut nyawa mereka? Apa kamu pikir mencabut nyawa manusia sama seperti mencabut rumput?! Liusen – aku bukan kamu yang tidak berperasaan! Setiap manusia berhak berubah dan mengambil keputusan sendiri, mereka bisa berubah menjadi jahat dan bisa menjadi baik.”

Yena mendesah lalu memalingkan wajahnya dengan jengah.

“Kamu bilang aku tidak manusiawi, padahal kamu sendiri yang kejam dan tidak berperasaan. Kamu bersikap baik pada orang lain, tapi sangat jahat padaku!” gerutu Yena.

“Yena!” Luke mencengkeram dagu Yena dengan marah. “Aku sudah cukup bersabar padamu!”

Yena ingin menepisnya dan dia menyadari kondisinya yang lemah dan tidak berdaya sehingga malah jatuh rebah di ranjang.

Luke terjatuh bersamanya, dia biasanya cekatan dan cepat dalam mengendalikan situasi tapi kali ini dia gagal dan malah mencium bibir Yena.

Yena melotot kaget ketika bibir Luke secara tidak sengaja menciumnya. Luke sendiri juga merasa aneh, dia sangat membenci Yena tapi yang terjadi malah sebaliknya dan membuatnya jadi serba salah.

Yena tidak memahami situasi yang terjadi, dia menyentuh kerah kemeja Luke lalu berkata, “Kalau kamu masih marah atau kesal padaku, sebaiknya kamu cabut saja nyawaku! Lakukan sekarang ...!” perintahnya sambil menatap kedua mata Luke. Sinar mata Yena sekarang sama persis dengan sinar mata Liusen di masa lalu, kejam dan tidak berperasaan.

Luke ingin bangun dari posisinya tapi Yena malah menggenggam kerah bajunya lebih erat lagi sehingga membuatnya kesulitan menjaga jarak aman. Berimpitan satu sama lain di atas ranjang, Yena merasakan suhu tubuh Luke yang dingin seperti es. Sebaliknya Luke merasakan suhu tubuh Yena yang panas dan siap membakar hangus tubuhnya seperti bara api.

Luke menatap pipi Yena yang memerah, dia merasa harus lekas-lekas pergi meninggalkannya atau semuanya tidak akan berakhir baik baginya.

“Yena! Aku sudah bilang batas waktumu tiga tahun! Jika kamu gagal maka aku akan mencabut nyawamu pada waktu itu sekalipun kamu tidak ingin mati!” Luke menarik lepas tangan Yena dari kerah bajunya dan bangun.

Luke menghilang begitu saja dari pandangan matanya dalam hitungan detik.

Yena masih telentang di ranjang, dia menyentuh kedua pipinya sendiri sambil menatap langit-langit kamar.

“Luke yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, dia tampak sangat tampan meski sedikit kejam, apakah semua malaikat pencabut nyawa di alam baka memiliki paras begitu menawan?”

Yena merasa aneh, dia menyentuh dadanya dan dia menyadari detak jantungnya terasa tidak normal.

“Apa-apaan?! Apakah aku jatuh hati padanya? Hah?! Tidak mungkin! Dia malaikat maut yang akan mengambil nyawaku! Tidak masuk akal!”

Yena berusaha untuk tidur, ternyata dia tidak bisa tidur dan terus memikirkan semua hal yang terjadi di masa lalu. Yena bangun dari atas ranjang lalu pergi ke dapur, dia mengambil sebotol air es. Tepat saat menutup pintu lemari pendingin dia melihat Luke berdiri di sampingnya.

Karena terkejut Yena menjatuhkan botol dari genggaman tangannya.

“Akh!”

Dengan cepat Luke menangkap botol tersebut dalam genggaman. “Oh, air dingin?” gumamnya seraya berjalan pergi menuju ke sofa lalu duduk di sana. Luke membuka tutupnya dan meminumnya seolah benda itu adalah miliknya.

“Luke! Kamu mengejutkanku!” keluh Yena seraya mengejar untuk mengambil botol tersebut lalu meminumnya.

Luke hanya menatapnya tanpa ekspresi apa pun, dia hanya merasa Yena terlalu ceroboh. Yena meminum air bekas dari bibirnya dan sepertinya tidak memedulikan etika sama sekali.

“Itu bekasku,” ujar Luke.

“Apa kamu pikir aku masih peduli? Beberapa jam yang lalu kamu menciumku, apa bedanya dengan meminum dari botol yang sama?”

Luke tidak menanggapi dan hanya menatap Yena.

“Kamu muncul tiba-tiba, bukankah tadi kamu sudah pergi?” tanyanya.

“Karena dirimu terikat kontrak denganku maka aku akan selalu ada di dekatmu,” jawabnya santai.

Wajah Yena memanas lalu dia bertanya. “Jadi, apa yang aku katakan barusan, apakah kamu mendengarnya?”

“Memangnya apa yang kamu katakan? Oh, saat kamu di dalam kamar? Tentu saja! Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Aku khawatir hatimu hancur jika jatuh cinta padaku, jadi sebaiknya kendalikan dirimu baik-baik!” balasnya dengan senyum penuh ejekan.

Yena langsung meremas botol dalam genggaman tangannya.

“Luke, apa ini masuk akal? Kamu memintaku menemukan cinta sejati selama batas waktu tiga tahun, terus menonton dari samping sementara aku berusaha merayu pria lain untuk menemukan cinta sejati? Kamu pasti sengaja karena ingin mengolokku!” tuduhnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel