Bab 5
“Ye-yena, coba jelaskan padaku kenapa kamu tidak mencoba mencegah perselingkuhan mereka? Apa menurutmu tawaranku adalah omong-kosong? Apa kamu pikir kamu bisa hidup setelah tiga tahun berlalu tanpa menemukan cinta sejatimu?” kejar Luke.
Yena mengukir senyum sambil menatap wajah Luke di sampingnya. Lalu mendekat dan menarik kerah kemeja hitamnya. Luke hampir tidak bisa menahan diri dan permen di dalam mulutnya hampir terjatuh. Yena menatapnya dengan pandangan mata tidak berkedip, tampak kejam dan dingin seperti sosok Liusen di masa lalu. Anehnya wajah Yena terlihat sangat menawan dan membuat jantung Luke berdebar tidak tenang.
“Memangnya kenapa? Bukankah hanya mati saja? Semua orang di dunia ini memang akan mati pada akhirnya. Malaikat Luke yang terhormat, kenapa kelihatannya kamu sangat kecewa padaku? Sebenarnya apa rencanamu?!”
Luke menarik lepas genggaman tangan Yena dari kerahnya. Membalas tatapan mata Yena dengan ekspresi dingin. “Sia-sia saja aku memberikan sebagian jiwaku padamu,” balasnya.
Yena menelan ludahnya sendiri, bibir tipis Luke begitu dekat dengan bibirnya. Yena merasa detak jantungnya berdetak sangat cepat lalu berhenti. Dadanya terasa sesak dan membuatnya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
Aku belum pernah seperti ini, apakah-apakah ini cinta yang sebenarnya? Ti-tidak mungkin aku jatuh cinta pada malaikat maut yang akan mengambil nyawaku. Ini sangat tidak masuk akal!
Luke sepertinya bisa merasakan apa yang Yena rasakan, Luke langsung menarik wajahnya mundur. Yena juga kembali duduk dengan tenang.
Sopir di depan tampak bingung dengan kondisi Yena, diam-diam pria itu bergumam.
“Apa wanita itu sakit jiwa? Kenapa dia bicara sendiri seolah-olah sedang bicara dengan orang lain?”
***
Di perusahaan.
Pagi ini Yena harus memimpin rapat penting di ruangan khusus, sementara itu di dalam ruangan kerja Yanu, Zisu dan pria itu sedang bermesraan. Yena ingat dia mendapatkan bukti perselingkuhan Yanu dan Zisu melalui rekaman cctv yang dia sembunyikan di dalam boneka kayu. Boneka tersebut adalah hadiah ulang tahun dari Yena yang sekarang diletakkan Yanu di atas rak dalam ruangan kerja Yanu.
Yena memikirkannya, jika dia pergi sekarang mungkin masih sempat. Luke sejak tadi malah mondar-mandir di dalam ruangan karena melihat Yena melamun dan tidak pergi ke ruangan kerja Yanu untuk menghentikan perselingkuhan Yanu.
Luke berjalan mendekatinya lalu membungkuk dan bicara tepat di depan wajah Yena.
“Apa kamu akan membiarkan mereka melakukan hal yang sama lagi? Yena! Sadarlah!” tegur Luke.
“Aku sangat sadar, berhentilah bertindak aneh atau semua karyawan di sini bakalan mengira aku sakit jiwa!” desisnya.
Luke mengerutkan keningnya, dengan wajah muram pergi meninggalkan ruangan.
Karena kesal Luke pergi ke ruangan Yanu. Dia melihat pasangan tersebut sedang bercinta dengan sangat panas. Yanu menyangga tubuh Zisu dalam gendongan, baju keduanya berantakan dan hampir telanjang.
“Ah, ah, Zisu, okh, kamu sangat hebat sayang, okh,”
“Yanu, okh, terus dorong, okh, oh, sangat nikmat sekali, okh, ooh,” balas Zisu sambil memeluk kedua bahu Yanu.
Tubuh Zisu diturunkan di atas meja kerja, kedua paha Zisu ditopangnya dengan kedua lengan, Yanu mendorongnya dengan sangat cepat sampai meja kerja Yanu berantakan.
“Ah, ah, Zisu, ookh, aku tidak tahan sayang, oohh,”
“Aku juga, Yanu, ookh, oouhh, Yanu!” Zisu memekik dan sampai di klimaks.
Luke menatap dua orang tersebut sambil menarik napas berat. Dia tahu semua aktivitas tersebut telah direkam melalui boneka kayu di atas rak. Luke menggunakan kekuatannya dan sengaja memutar tayangan tersebut di layar digital yang ada di dalam ruang rapat.
Yena sedang berdiri di samping layar untuk membahas rancangan desain tiba-tiba layar tersebut menampilkan dua orang yang sedang bercinta.
Yena menelan ludahnya dan berusaha menekan tombol off untuk mematikan layar tapi tidak bisa seperti ada yang konslet.
“Kenapa tidak bisa dimatikan?! Sialan!” umpat Yena sambil terus menekan tombol.
Dia menarik paksa stop kontak dan malah muncul percikan api. Yena panik, stop kontak meledak tapi layar tetap terus menyala.
Luke datang dan langsung memeluknya, melindungi Yena dari percikan api menggunakan punggungnya.
Secara pribadi Luke tahu dirinya sendiri sudah menentang takdir dan mengundur kematian Yena sampai tiga tahun. Selama itu akan terus ada bahaya yang mengancam nyawa Yena. Awalnya niat Luke memang demi menyaksikan wanita itu menderita dan memiliki akhir yang mengenaskan. Sudah berulang kali Luke menyaksikannya di akhir hidup Yena, tapi semua itu rasanya tidak menyenangkan lagi. Terasa sangat hambar dan membuatnya frustrasi tanpa sebab.
Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain. Untuk ke tiga kalinya Luke menyelamatkannya.
“Ka-kamu menyelamatkanku, lagi ....” Yena meremas baju yang membalut dada Luke.
Luke tidak menjawab dan tetap memeluknya. Perasaannya sendiri menjadi kacau balau tanpa sebab. Kedua matanya tampak berkaca-kaca seolah-olah mencemaskan Yena.
Beberapa saat yang lalu semua orang bisa melihat Luke masuk ke dalam ruangan, hanya saja mereka tidak tahu siapa pria yang datang tersebut. Mereka semua juga mengabaikannya karena terlalu sibuk menonton tayangan cabul antara Yanu dan Zisu di layar.
“Astaga! Bukankah itu wakil direktur dan Pak Yanu?”
“Apa-apaan ini?”
“Jika Pak Yanu dan wakil direktur Zisu memiliki hubungan seperti ini apakah artinya Pak Yanu sudah putus dengan Bu Yena?”
Semua karyawan beralih menatap ke arah Yena yang kini berada dalam pelukan pria tampan dengan baju formal.
Yena melepaskan pelukan Luke. Dia baru sadar penampilan Luke sangat mirip dengan seorang pebisnis. Harga baju yang dipakai Luke juga tidak murah. Luke terlihat sangat tampan karena mengenakan setelan jas, rambutnya juga ditata rapi. Penampilannya sungguh sangat menawan.
“Ya, aku sudah putus dengan Pak Yanu, kalian juga sudah melihat sendiri dia dan Zisu sangat dekat,” jawab Yena dengan sedikit gagap.
Luke masih berdiri di sampingnya, dan dia tidak tahu harus menjelaskannya pada karyawan di sana.
“Oh, perkenalkan, aku Luke, Pemimpin perusahaan Diamon. Kedatanganku hari ini untuk bekerja sama. Aku secara khusus meminta Direktur Yena membuat rancangan gedung anak cabang perusahaan Diamon. Tidak disangka kedatanganku ternyata bukan di waktu yang tepat,” ujarnya pada semua orang.
Yena mengerutkan keningnya, dia ingat dahulu dia memang bekerja sama dengan perusahaan Diamon. Dan tepat hari ini di jam ini dia ingat asisten direktur dari perusahaan tersebut datang ke ruangan kerjanya bukan di ruang rapat seperti yang Luke lakukan.
Yena berdiri mematung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Sebenarnya apa yang terjadi? Waktu itu aku ingat asisten perusahaan Diamon datang untuk menawarkan proyek. Dan proyek itu berjalan sangat sukses tapi .... setelah sukses dan namaku terkenal Zisu melaporkanku di kantor pusat dan mengatakan bahwa aku telah melakukan plagiat. Apa jangan-jangan Luke sudah tahu sejak awal? Kenapa dia memilih datang hari ini? Apakah dia memang datang untuk mencegah hal buruk menimpaku atau untuk mencabut nyawaku?
“Kondisimu sepertinya tidak baik-baik saja?” Tanya Luke tiba-tiba. Tanpa bertanya pada Yena, Luke langsung menggendong Yena dan membawanya keluar dari dalam ruangan. Yena mengerjap kaget.
“Luke, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!”
Luke tidak mengindahkan perintahnya, pria itu malah mengukir senyum lalu berbisik, “Ini adalah drama seorang pahlawan menyelamatkan orang!”
Semua karyawan di dalam ruang rapat melihatnya. Mereka malah merasa bahagia melihat Yena berada di dalam gendongan Luke.
“Wah, aku kira Direktur akan sangat sedih karena pacarnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri,”
“Apakah mereka memiliki hubungan?”
“Mereka terlihat sangat serasi!”
