Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Yena melihat sorot mata penuh dendam di kedua mata Luke. Seketika Yena langsung melepaskan genggaman tangannya dari kemejanya lalu berjalan mundur menjauh. Beberapa detik kemudian, ekspresi gemetar dan ketakutan di wajah Yena pun berubah. Dia menatap Luke dengan tatapan penuh keberanian.

“Palingan kamu hanya menipuku, aku tahu kamulah silumannya! Mustahil aku seorang silumaaan!” teriaknya dengan sekuat tenaga.

Luke mengorek lubang kupingnya lalu memicingkan mata.

“Oke, ini akan sangat menyakitkan! Tapi kamu harus tetap mengingatnya kembali!”

Luke mengeluarkan bola api biru di atas telapak tangannya. Air kekosongan dari tubuh Yena diserap habis oleh api tersebut. Dia melakukan semua itu untuk membuka ingatan Yena di kehidupan sebelumnya.

“Air danau kekosongan di tubuhmu akan aku keluarkan! Liusen, terbukalah kembali kehidupan lampaumu sebelum hari ini!” perintahnya.

Yena mulai mengingatnya, di masa lalu dia memang seekor rubah yang berlatih kultivasi lalu berubah menjadi manusia setengah dewa. Dia diturunkan ke alam fana untuk mengatasi bencana yang akan menimpa kerajaan Weigu. Liusen bekerja sama dengan Raja Zuoxu. Di masa lalu keluarga Dingyan menggelapkan pajak sehingga membuat masyarakat di wilayah itu tertimpa bencana kelaparan. Ini adalah ingatan pertama yang muncul di dalam kepala Yena.

Yena menggelengkan kepalanya, ingatan itu menyerbu bersamaan seperti air bah memenuhi seluruh ruang kosong di dalam. Sekujur tubuhnya ikut terasa sakit dan nyeri, setiap luka yang pernah dia terima di masa lalu kembali dia rasakan pada detik ini.

“A-aku sudah ingat, sebenarnya i-ini bukan salahku! Aku menerima tugas dari kerajaan Weigu. Tidak disangka ka-kamu memiliki kekuatan seorang cenayang, ka-kamu mengutukku dengan kejam, Ding-dingyan,”

Yena hampir pingsan karena merasakan nyeri di dalam kepalanya. Dia berjalan dengan tertatih-tatih ke depan lalu jatuh ke dalam pelukan Luke.

“Luke .... Ti-tidak, Dingyan, kamulah yang menjadi sumber bencana sebenarnya! Bukankah tetua di langit itu yang menjadikanmu sebagai malaikat pencabut nyawa? Kamu terus menyaksikanku hidup di alam fana tanpa ingatan di masa lalu. Bukankah itu sangat menyakitkan bagimu? Kamu sangat ingin membalas dendam padaku bukan?” tanyanya dengan senyum penuh ejekan.

“Kamu sudah sekarat! Tapi masih saja berdalih!” bentak Luke, dia mencampakkan tubuh Yena dari pelukannya sehingga Yena jatuh ke lantai.

Yena tertawa tanpa suara, semua ingatan di masa lalunya telah kembali. Liusen mati karena diburu oleh para penyihir dan pemburu siluman. Dia disergap hingga tidak bisa bertahan hidup. Inti silumannya diambil oleh salah satu dari pemburu siluman. Tapi sekarang dia melihat bola inti siluman tersebut berada di dalam tubuh Luke.

“Awalnya penghuni langit memang menurunkanku ke alam fana untuk mengatasi dan mencegah terjadinya bencana. Keluargamu adalah keluarga pendosa! Menggelapkan pajak sehingga menyebabkan bencana kelaparan selama bertahun-tahun! Aku hanya melakukan tugasku waktu itu! Kaisar memerintahkan pembantaian keluarga pejabat yang membelot dan menggelapkan pajak, keluargamu adalah salah satunya.” Jelasnya.

“Liusen, kamu pikir aku akan percaya? Kamu hanya bicara omong-kosong!”

Yena masih tertawa, dia memejamkan mata, air matanya kembali menetes. Saat air matanya jatuh di lantai semua ingatannya tampil seperti layar film yang diputar di segala penjuru ruangan. Dia melakukan pembantaian di masa lalu, serta perintah kerajaan yang dia terima semuanya bisa dilihat Luke dengan jelas di sana. Keluarga Dingyan yang membelot dan memakan harta haram juga terlihat di sana.

“Kamu sudah mengembalikan ingatanku di masa lalu. Kamu juga sudah memberikan sebagian jiwamu untukku. Air mata rubah ekor sembilan bisa membuka tabir kenangan di masa lalu, kamu sebagai malaikat maut dan mantan seorang cenayang pasti paham semua masalah ini. Tapi, karena kutukanmu waktu itu, aku mati dengan mengenaskan!”

Yena mengepalkan tangannya, dia menyeka kedua pipinya, dia bangun dengan perlahan lalu berjalan mendekati Luke. Dia menggenggam kerah kemejanya lalu menatap kedua matanya dengan serius.

“Sadarlah! Ini adalah karma bagimu! Bukankah kamu juga mengalami takdir ini? Pada saat ini kamu sudah menyerahkan sebagian jiwamu padaku .... Ini adalah rencana mereka untuk mendorongmu mendekat padaku, Luke! Kamu masih berpikir aku adalah siluman kejam dan haus darah? Tapi siapa yang kejam selama lebih dari lima ratus tahun berturut-turut belakangan ini? Orang itu adalah kamu sendiri!”

Sinar menyilaukan muncul di antara mereka, muncul peristiwa demi peristiwa, Yena mengalami kematian tragis di setiap reinkarnasi, Luke sendiri yang mengambil nyawa Yena di setiap kehidupannya. Luke merasa bosan karena terus menyaksikan akhir yang sama. Dia merasa tidak puas dengan akhir yang selalu sama sehingga muncul ide mengembalikan kehidupan Yena tiga tahun.

Yena melepaskan genggaman tangannya lalu berjalan pergi meninggalkan Luke dengan semua kenangan Yena di masa lalu yang masih diputar dan terus disaksikan olehnya.

“Aku hanya pesuruh, aku ingat saat aku mati di masa lalu usiaku baru lima ratus tahun! Siapa sangka keluarga Ding memiliki darah seorang cenayang!” keluhnya sambil memeluk kedua lengannya.

Yena terus berjalan, dia keluar dari perusahaan berjalan kaki. Yena lupa bahwa dia memiliki mobil dan seharusnya dia mengemudikannya menuju ke rumah. Yena terus berjalan dalam kegelapan malam. Di jalan yang sepi ada lima orang preman menghadang.

“Nona cantik!”

“Malam-malam begini, kamu pulang sendiri?” salah satu dari mereka mencolek lengan Yena.

“Ka-kalian mau apa?” Yena menepis tangan mereka. Yena mencoba menggunakan kekuatannya tapi ternyata tidak bisa, kekuatan itu sangat terbatas dan hanya bisa digunakan ketika dia berada di dekat Luke.

Dua lainnya mulai memeganginya. “Hangatkan saja kami malam ini, kami akan melepaskanmu!” ujar salah satu dari mereka.

Tangan para bandit mulai menggerayangi dan membawanya ke lorong gelap di antara dinding gedung bangunan.

Yena panik, dia memukuli mereka sebisanya tapi tenaganya sama sekali tidak cukup.

“Tolooong!” teriaknya.

Luke berdiri bersandar di ujung lorong. Di tengah kegelapan dia menyalakan sebatang rokok di antara bibir tipisnya lalu melemparkan pemantik ke arah mereka dan mengenai kening salah satu dari para penjahat.

“Si-sialan! Jidatku! Siapa yang melemparkan pemantik!”

Para preman tersebut langsung berhenti dan melihat ke arah ujung lorong.

Sosok Luke yang tinggi dan tegap tengah berjalan dengan langkah lebar. Di sekitar tubuhnya dipenuhi dengan kabut dan aura dingin. Setiap langkah kakinya begitu tenang. Api di ujung rokoknya menyala seperti kunang-kunang yang terbang mendekat ke arah mereka.

Yena merasa sangat tertolong.

“Siapa pun itu, tolong selamatkan aku!” teriak Yena.

“Si-siapa di sana?! Kalau kamu berani melangkah maju ke sini, kami akan menghabisi nyawamu!” teriak salah satu dari mereka.

Luke bergerak cepat, tanpa suara, tanpa aba-aba. Melesat dan seketika tubuh lima orang yang menahan Yena tergeletak di lantai dalam keadaan babak belur.

Luke menatap Yena dengan tatapan dingin, dia membungkuk lalu meraih tubuhnya ke dalam gendongan. Yena menatap kedua matanya sambil berpegangan di belakang tengkuknya. Masih tidak percaya bahwa sosok yang menyelamatkannya adalah sosok yang paling ingin melihatnya mati mengenaskan.

“Lu-luke?”

Luke mengukir senyum satu detik lalu menatapnya dengan dingin.

“Siapa pun tidak ada yang boleh menyentuhmu! Nyawamu .... hanya aku yang berhak mengambilnya!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel