BAB 4 – LEMBAH KEMATIAN
BAB 4 – LEMBAH KEMATIAN
Renaldo membawa Liana menyusuri lorong gelap di bawah lautan darah.
Dinding lorong terbuat dari tulang-tulang raksasa. Setiap tulang bercahaya redup, seolah masih menyimpan sisa kehidupan pemiliknya. Liana merasakan qi aneh merambat di udara — bukan qi biasa, tapi qi kematian.
“Di mana ini?” tanya Liana.
“Lembah Kematian,” jawab Renaldo tanpa menoleh. “Tempat di mana ibu-Nyonya dulu berlatih selama seribu tahun. Tempat di mana monster-monster tingkat dewa dikurung. Dan tempat di mana Nyonya akan berlatih sekarang.”
Liana berhenti. “Monster tingkat dewa?”
Renaldo menoleh. Wajahnya serius. “Bukan satu atau dua. Tapi ribuan. Mereka semua lapar. Mereka semua haus darah. Dan mereka semua sudah tidak makan selama sepuluh ribu tahun.”
Liana menelan ludah. “Kenapa ibu menyimpannya?”
“Sebagai cadangan.” Renaldo tersenyum tipis. “Jika dunia menyerang kita, kita lepaskan monster-monster ini. Tapi untuk mengendalikan mereka, Nyonya harus mencapai Level 100 terlebih dahulu. Untuk saat ini... Nyonya hanya perlu bertahan hidup dari serangan mereka selama latihan.”
Ding!
[Quest sampingan: Bertahan hidup di Lembah Kematian selama 7 hari]
[Deskripsi: Tanpa makanan, tanpa air, hanya pedang dan kemauan]
[Hadiah: 5000 EXP + Buku Teknik Iblis Tingkat Langit]
[Kegagalan: Nyawa sebagai taruhan]
Liana menghela napas. “Tujuh hari? Di sini? Dengan monster lapar?”
“Atau Nyonya bisa kembali ke atas dan langsung memburu Xu Feng dengan kekuatan sekarang,” kata Renaldo. “Tapi jujur... Nyonya akan mati di tangan Lin Tian dalam tiga jurus.”
Liana terdiam. Dia benci mendengarnya. Tapi dia tahu Renaldo benar. Lin Tian adalah jenius kultivasi level 50. Sementara dia baru level 7.
“Baik. Aku masuk.”
Renaldo mengangguk. Dia mengambil sebuah batu hitam dari sakunya dan melemparkannya ke Liana.
“Ini batu komunikasi. Jika Nyonya benar-benar dalam bahaya maut, hancurkan batu ini. Aku akan masuk menjemput. Tapi ingat — aku hanya bisa melakukannya satu kali. Jika Nyonya menggunakannya untuk alasan bodoh, Nyonya akan kehilangan kesempatan terakhir untuk selamat.”
Liana memasukkan batu itu ke sakunya. “Tidak perlu. Aku tidak akan menggunakannya.”
Renaldo menghela napas. “Nyonya keras kepala persis seperti ibunya. Baiklah. Semoga beruntung.”
Dia menekan dinding tulang.
GRUK... GRUK... GRUK...
Dinding itu terbuka. Di baliknya...
Kegelapan.
Kegelapan yang hidup. Kegelapan yang bernapas. Liana bisa merasakan ada ratusan pasang mata menatapnya dari dalam.
“Selamat datang di neraka yang sesungguhnya,” bisik Renaldo.
Liana melangkah masuk.
BAM!
Pintu di belakangnya tertutup.
---
Hari Pertama: Kejutan
Liana tidak bisa melihat apa pun. Gelap di sini bukan gelap biasa — gelap yang menyerap cahaya, menyerap qi, bahkan menyerap suara.
Dia hanya bisa mengandalkan indra keenamnya.
Dan indra keenamnya berteriak: ADA MONSTER DI DEPAN!
Liana menghindar ke kiri.
CREET!
Sesuatu yang tajam menyapu tempat dia berdiri sedetik sebelumnya. Bau anyir darah menyebar.
“Siapa?” teriak Liana.
Tidak ada jawaban. Hanya dengusan kasar dari makhluk itu.
Liana mengaktifkan Api Hitam Warisan (Level 1) di telapak tangannya.
Api kecil menyala. Tidak besar. Tapi cukup untuk menerangi satu meter di sekitarnya.
Liana tercengang.
Di depannya berdiri seekor serigala sebesar kuda. Tapi bukan serigala biasa. Tubuhnya terbuat dari batu lava yang masih menyala. Matanya dua bola api. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi-gigi dari besi cair.
“Serigala Magma,” bisik Liana. Dia ingat pernah membaca tentang makhluk ini dalam buku kuno di perpustakaan keluarga Xu. Serigala Magma adalah monster tingkat 30. Satu serangannya bisa melelehkan baja.
Dan dia harus bertarung melawannya dalam kegelapan.
“Brekkkk...” serigala itu mendengus. Lalu menerkam.
Liana tidak sempat menghindar sepenuhnya. Cakar serigala merobek lengan kirinya.
SSSSSSSSS!
Dagingnya meleleh. Bukan karena api — tapi karena lava yang menempel di cakar serigala. Rasa sakitnya luar biasa.
Tapi Liana tidak berteriak. Dia sudah belajar dari pertarungan melawan ibunya: teriakan hanya membuang energi.
Dengan tangan kanan yang masih utuh, Liana menghunus Pedang Jiwa Pemusnah.
Begitu pedang itu keluar dari sarungnya, seluruh lembah bergetar.
Serigala Magma itu mundur selangkah. Matanya yang berapi-api tampak... takut?
“Kau takut pada pedang ini?” Liana tersenyum meskipun tangannya meleleh. “Bagus. Karena aku juga takut pada diriku sendiri.”
Dia menebas.
SWISH!
Bilah pedang tidak menyentuh serigala itu. Tapi gelombang qi hitam dari tebasan itu melesat dan menembus perut serigala.
DUAR!
Serigala itu terpental. Perutnya berlubang. Lava mengalir keluar seperti darah.
Tapi dia tidak mati. Dia malah semakin marah.
“ARRRRGGGHHH!”
Suaranya memekakkan telinga. Seluruh lembah bergema.
Dan dari kejauhan... Liana mendengar suara-suara lain membalas.
Banyak.
Sangat banyak.
“Oh tidak...” bisik Liana.
Serigala itu baru saja memanggil kawanannya.
---
Liana berlari. Tidak peduli ke mana. Asal menjauh dari suara lolongan itu.
Tangannya masih meleleh. Regenerasi bekerja, tapi lambat karena lukanya terkena elemen lava — elemen yang melawan qi iblisnya.
Ding!
[Efek elemen lava: Regenerasi berkurang 50%]
[Level Api Hitam Warisan naik menjadi Level 2 karena terpapar lava]
Liana tidak peduli dengan level. Dia hanya ingin hidup.
Dia berlari melewati lembah tulang, melewati sungai darah beku, melewati hutan jamur raksasa yang bercahaya hijau.
Tapi lolongan itu semakin dekat.
Liana melihat celah batu di kejauhan. Sebuah gua kecil. Cukup untuk satu orang masuk. Monster-monster besar tidak akan bisa masuk.
Dia bergegas masuk.
BRUK!
Tepat saat dia masuk, tiga ekor Serigala Magma menerjang pintu gua.
BRAK! BRAK! BRAK!
Cakar-cakar mereka menghantam batu di sekeliling celah. Tapi gua itu terlalu kecil. Mereka tidak bisa masuk.
Liana terengah-engah. Dia duduk di lantai gua yang dingin.
“Selamat... untuk sekarang.”
Tapi kemenangannya tidak berlangsung lama.
Dari dalam gua, di balik kegelapan, Liana mendengar suara sesuatu bergerak.
Kreek... kreek... kreek...
Seperti suara kaki seribu. Tapi lebih besar. Jauh lebih besar.
Liana mengaktifkan Api Hitam lagi.
Cahaya api menyinari gua.
Dan Liana melihatnya.
Seekor laba-laba.
Bukan laba-laba biasa. Tubuhnya sebesar kerbau. Kakinya delapan, masing-masing sepanjang tombak. Matanya tidak delapan, tapi seratus. Setiap mata berwarna ungu dan menatap Liana dengan lapar.
Di perut laba-laba itu, ada pola wajah manusia. Wajah wanita. Wajah yang menangis.
“Laba-laba Penangis,” bisik Liana. “Monster tingkat 50.”
Laba-laba itu membuka mulutnya.
Dan mengeluarkan suara... suara wanita menangis.
“Hiks... hiks... hiks...”
Suara itu menusuk otak Liana. Kepalanya terasa mau pecah.
Ding!
[Efek suara: Pusing tingkat tinggi]
[Segera tutup telinga atau lumpuh permanen]
Liana menyobek ujung bajunya dan menyumbat telinganya.
Tapi sudah terlambat sedikit. Darah mulai mengalir dari hidungnya.
Laba-laba itu merayap mendekat. Perlahan. Menikmati ketakutannya.
Liana memegang pedangnya. Tangan kanannya masih utuh. Tangan kirinya sudah mulai pulih, tapi belum sempurna.
“Tingkat 50,” gumamnya. “Level 7 melawan level 50. Apa ibu benar-benar mengirimku ke sini untuk mati?”
Tapi kemudian dia teringat sesuatu.
Renaldo bilang: “Jika Nyonya benar-benar dalam bahaya maut, hancurkan batu ini.”
Liana merogoh sakunya. Batu hitam itu masih ada.
Dia bisa menghancurkannya sekarang. Renaldo akan datang. Dia akan selamat.
Tapi...
Liana melihat batu itu. Lalu melihat laba-laba itu. Lalu melihat pedang di tangannya.
“Tidak,” katanya. “Aku tidak akan lari.”
Dia memasukkan batu itu kembali ke saku.
Lalu dia berdiri.
“Kau laba-laba level 50. Aku level 7. Tapi pedang di tanganku adalah pedang ibuku — pedang yang membunuh dewa.”
Dia mengangkat pedang itu ke atas kepala.
“Dan aku bukan lagi Liana yang lemah.”
Ding!
[Mode 'Bangkit' teraktivasi otomatis]
[Karena host memilih bertarung daripada melarikan diri, semua stat sementara meningkat 100%]
[Durasi: 120 detik]
Liana tersenyum. “Dua menit. Cukup untuk membunuh laba-laba satu.”
Dia melesat.
---
Hari Pertama: Malam
Liana tidak tahu berapa lama pertarungan itu berlangsung.
Yang dia ingat: dia menusuk mata laba-laba satu per satu. Dia memotong dua kakinya. Dia hampir tertelan cairan pencernaan laba-laba itu.
Dan di detik terakhir mode 'Bangkit', dia menancapkan Pedang Jiwa Pemusnah tepat di pola wajah wanita di perut laba-laba itu.
Laba-laba itu berteriak. Suaranya bukan lagi tangisan, tapi jeritan kematian.
“AAAAAAAKKKKKKK!”
Lalu tubuhnya roboh.
Liana jatuh tersungkur di samping bangkai laba-laba itu. Seluruh tubuhnya berlumuran darah — darahnya sendiri dan cairan hijau dari laba-laba.
Ding!
[Membunuh Laba-laba Penangis (Level 50)]
[EXP +3000]
[Level: 7 → 12]
[Buka skill baru: Racun Kegelapan (Level 1)]
[Buka skill baru: Lompatan Bayangan (Level 1)]
[Peringatan: Host kelelahan ekstrem. Segera istirahat.]
Liana tidak perlu diberi tahu dua kali. Matanya terasa berat.
Tapi sebelum dia pingsan, dia mendengar suara dari luar gua.
Serigala-serigala Magma itu masih menunggu.
Dan sekarang mereka mencoba melebarkan celah gua dengan cakar mereka.
BRAK! BRAK! BRAK!
Batu mulai retak.
Liana tersenyum getir. “Bahkan setelah mati-matian membunuh laba-laba... aku masih belum aman.”
Dia meraih batu komunikasi di sakunya.
Tapi lagi-lagi dia tidak menghancurkannya.
“Besok... aku akan keluar... dan membunuh kalian semua...” bisiknya.
Lalu dia pingsan.
---
Hari Kedua: Bangkit
Liana terbangun dengan tubuh kaku.
Ding!
[Regenerasi selesai selama tidur]
[Kondisi: Sehat]
[Qi penuh]
[Level masih 12]
Dia berdiri. Di depannya, bangkai laba-laba sudah mulai membusuk. Bau busuk menyengat. Tapi di samping bangkai itu, ada sesuatu yang bersinar.
Liana mendekat.
Sebuah kristal ungu sebesar telur ayam.
Ding!
[Jatuhan dari Laba-laba Penangis: Inti Laba-laba Tingkat Langit]
[Fungsi: Meningkatkan level Racun Kegelapan secara instan + membuka racun area]
[Gunakan sekarang?]
Liana menekan Ya.
Ding!
[Skill 'Racun Kegelapan' naik level: 1 → 5]
[Buka skill cabang: Racun Area (Level 1)]
[Deskripsi: Menyebarkan racun dalam radius 5 meter. Musuh akan lumpuh dalam 3 detik jika tidak memiliki ketahanan racun tinggi.]
Liana tersenyum. “Ini berguna.”
Dia melihat ke luar gua.
Matahari tidak pernah terbit di Lembah Kematian. Tapi dia bisa merasakan waktu — sudah lewat setengah hari sejak dia pingsan.
Serigala Magma di luar sudah tidak ada. Mungkin mereka bosan menunggu.
Liana keluar dari gua dengan hati-hati.
Lembah itu sunyi. Terlalu sunyi.
“Aneh,” gumamnya.
Lalu dia melihatnya.
Di kejauhan, ada sesosok manusia berdiri.
Seorang pria. Jubah hitam. Wajahnya tertutup topeng tengkorak.
Di tangannya, dia memegang kepala Serigala Magma — masih berdarah.
Pria itu menoleh ke arah Liana.
Dari balik topeng, suaranya terdengar seperti gemuruh bumi:
“Akhirnya kau bangun. Aku sudah menunggumu sejak tadi malam.”
Liana menghunus pedangnya. “Kau siapa?”
Pria itu melempar kepala serigala itu ke samping.
“Aku adalah... tantangan ketigamu.”
BERSAMBUNG KE BAB 5...
