Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5 – TANTANGAN KETIGA

BAB 5 – TANTANGAN KETIGA

Liana tidak bergerak.

Matanya tertuju pada pria bertopeng tengkorak di depannya. Tubuh pria itu tinggi, kurus, tapi memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitarnya seperti membeku.

“Tantangan ketiga?” ulang Liana pelan. “Apa maksudmu?”

Pria itu melangkah maju satu langkah.

BUM!

Tanah di bawah kakinya retak. Bukan karena dia menginjak keras — tapi karena qi-nya begitu padat sampai beratnya seperti gunung.

“Ibumu meninggalkan tiga tantangan untuk penerusnya,” kata pria itu. “Yang pertama, melawan bayangan sendiri. Yang kedua, melawan ibumu. Yang ketiga...”

Dia melepas topengnya.

Liana terkesiap.

Di balik topeng itu... tidak ada wajah. Yang ada hanya lubang hitam. Seperti lorong menuju kehampaan.

“Melawan kematian itu sendiri.”

Ding!

[Tantangan ketiga terdeteksi: Lawan Penjaga Lembah Kematian]

[Level: ???]

[Deskripsi: Bukan makhluk hidup, bukan juga makhluk mati. Dia adalah personifikasi dari setiap kematian yang pernah terjadi di lembah ini. Setiap tebasanmu akan terasa seperti menebas seribu nyawa sekaligus.]

[Hadiah jika menang: Kunci keluar dari Lembah Kematian + 10.000 EXP + Buku Teknik Iblis Tingkat Langit]

[Kegagalan: Jiwa menjadi bagian dari topeng tengkorak itu selamanya]

Liana menghela napas. “Ibu benar-benar tidak main-main.”

Pria tanpa wajah itu tertawa. Suaranya seperti ribuan orang mati berbisik bersamaan.

“Ibumu adalah wanita paling kejam yang pernah kukenal. Dan karena itu... aku mengaguminya. Sekarang, tunjukkan padaku apakah kau layak disebut putrinya.”

Dia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, terbentuk pedang dari kabut hitam.

Liana tidak menunggu.

Dia langsung mengaktifkan Lompatan Bayangan (Level 1) — skill baru yang didapat dari membunuh laba-laba.

SWOOSH!

Tubuhnya berubah menjadi bayangan dan melesat ke belakang pria itu dalam sekejap.

Pedang Jiwa Pemusnah sudah di tangan.

Dia tebas ke arah leher pria itu.

SWISH!

Bilah pedang menembus... udara.

Pria itu sudah tidak di tempatnya.

“Cepat,” suaranya datang dari atas.

Liana mendongak. Pria itu melayang sepuluh meter di udara, kaki bersila, seolah sedang duduk di kursi tak terlihat.

“Tapi tidak cukup cepat.”

Dia menjentikkan jari.

CREAK!

Dari tanah, ratusan tangan tulang muncul. Tangan-tangan itu meraih kaki Liana.

Liana memotong beberapa dengan pedangnya. Tapi tangan-tangan itu terus tumbuh kembali. Setiap satu putus, dua tumbuh di tempatnya.

“Tangan Pengkhianat,” kata pria itu. “Setiap tangan adalah orang yang pernah kau percaya tapi mengkhianatimu. Semakin besar rasa sakit hatimu, semakin banyak tangan yang muncul.”

Liana melihat tangan-tangan itu. Beberapa tangannya besar — milik Xu Feng. Beberapa ramping — milik Lin Tian. Ada juga tangan yang lebih kecil — milik teman masa kecil yang dulu mengolok-oloknya di belakang.

Semua orang yang pernah menyakitinya.

Tangan-tangan itu menarik Liana ke bawah.

“KAU TIDAK BERHAK MENYENTUHKU!” teriak Liana.

Dia mengaktifkan Racun Area (Level 1) .

HISS!

Kabut hitam menyebar dari tubuhnya dalam radius lima meter.

Tangan-tangan tulang itu langsung menghitam dan hancur menjadi debu.

Pria di atas angkat alis — meskipun dia tidak punya alis.

“Racun Kegelapan? Cukup pintar. Tapi...”

Dia melayang turun.

“Kau lupa satu hal. Aku bukan makhluk hidup. Racun tidak mempan padaku.”

BAM!

Dia mendarat tepat di depan Liana. Saking dekatnya, Liana bisa mencium bau kematian dari tubuhnya — bau anyir, tanah basah, dan sesuatu yang manis seperti bunga yang mekar di atas kuburan.

Pria itu mencengkeram leher Liana.

Genggamannya tidak terasa seperti tangan. Tapi seperti ribuan jarum menusuk tenggorokannya.

“Selamat tinggal, Pewaris.”

---

Liana tidak bisa bernapas.

Qi-nya tersumbat. Tangannya tidak bisa mengangkat pedang karena seluruh saraf di tubuhnya mendadak mati rasa.

Ini benar-benar kematian.

Tapi di ambang kematian itu, Liana mendengar suara.

Suara ibunya.

“Anakku, ingat satu hal: kultivasi ganda bukan hanya tentang menguasai dua elemen. Tapi tentang mengubah kelemahan menjadi kekuatan.”

Liana membuka matanya.

Kelemahan... apa kelemahannya sekarang?

Dia tidak bisa bernapas.

Tangannya mati rasa.

Pedangnya terlepas.

Tapi mulutnya masih bisa bergerak.

Dengan sisa tenaga terakhir, Liana berbisik:

“Racun Kegelapan... level 5... tembus ke dalam.”

Alih-alih menyebarkan racun ke luar, dia menarik semua racun itu ke dalam tubuhnya sendiri.

Ding!

[Peringatan: Racun memasuki aliran darah]

[Host akan mati dalam 10 detik jika tidak mengeluarkan racun]

Tapi Liana tidak berniat mengeluarkannya.

Dia membiarkan racun itu mengalir ke tenggorokannya — ke tangan pria yang mencengkeramnya.

“AARRRGGGHHH!”

Pria itu melepaskan cengkeramannya. Tangannya yang hitam kini membusuk. Bukan membusuk seperti daging, tapi membusuk seperti kabut — perlahan menghilang.

“Kau... kau gila!” teriak pria itu. “Racun itu akan membunuhmu juga!”

Liana tersenyum. Darah hitam mengalir dari hidung dan mulutnya.

“Tapi kau akan mati lebih dulu.”

Dia meraih pedangnya yang jatuh.

Pedang Jiwa Pemusnah bersinar merah terang — seolah pedang itu sendiri setuju dengan kegilaan Liana.

Liana menusukkan pedang itu ke dadanya sendiri.

“APA KAU SUDI GILA?!” pria itu mundur.

Bukan ke dalam. Tapi menembus dadanya sendiri sehingga ujung pedang keluar dari punggung — dan menembus dada pria di depannya.

Karena mereka berhadapan sangat dekat.

CRET!

Darah — bukan darah merah, tapi darah hitam pekat — menyembur dari luka di dada Liana.

Dan dari luka pria itu, keluar cahaya putih. Ribuan cahaya putih. Seperti kupu-kupu yang terbang bebas.

Setiap cahaya putih adalah satu nyawa yang terperangkap di tubuh pria itu.

Ding!

[Efek pedang menembus host sendiri: Terdeteksi niat bunuh diri sebagai taktik]

[Kutukan bunuh diri dalam kultivasi Iblis: Tidak ada. Karena iblis tidak takut mati untuk membunuh.]

[Seluruh nyawa yang terperangkap di Penjaga Lembah Kematian berpindah ke host]

[EXP +10.000]

[Level: 12 → 25]

[Buka skill baru: Pertukaran Nyawa (Level 1)]

[Buka skill baru: Pedang Bunuh Diri (Level 1)]

Pria itu roboh. Tubuhnya yang tanpa wajah mulai hancur menjadi debu.

Tapi sebelum benar-benar lenyap, dia berkata:

“Kau... keterlaluan. Ibumu saja tidak segila ini.”

Liana tersenyum lemah. “Ibuku tidak perlu segila itu. Karena dia punya pelayan sepertimu. Aku tidak punya siapa-siapa. Jadi aku harus gila.”

Pria itu tertawa untuk terakhir kalinya. Tertawa yang nyaring, bebas, dan... bahagia.

“Pantaskah kau menjadi pewaris. Selamat, Liana. Kau lulus.”

POOOF!

Tubuhnya lenyap. Yang tersisa hanya topeng tengkorak di tanah.

Dan di sebelah topeng itu...

Sebuah kunci emas.

Dan sebuah buku.

Liana memungutnya.

Ding!

[Kunci Keluar dari Lembah Kematian: 1 buah]

[Buku Teknik Iblis Tingkat Langit: 'Seribu Wajah Kematian']

[Deskripsi: Teknik yang memungkinkan pengguna mengubah bentuk tubuh, suara, dan aura menjadi siapa pun yang pernah dibunuhnya.]

[Level: 1]

[Kondisi penggunaan: Harus Level 25 ke atas. Terpenuhi.]

Liana menyimpan buku itu. Nanti dibaca. Sekarang...

Dia melihat lukanya sendiri. Pedang masih tertancap di dadanya.

Ding!

[Peringatan: Host kehilangan darah 40%]

[Regenerasi bekerja: 2% per detik]

[Waktu yang dibutuhkan untuk pulih total: 20 detik]

Liana menarik pedang itu keluar.

SROOOT!

Darah menyembur lagi. Tapi lukanya mulai menutup. Kulit baru tumbuh. Bekas luka terbentuk — bekas luka berbentuk tengkorak tepat di dada kirinya.

Ding!

[Tanda Pewaris Sejati terbentuk: Tengkorak di dada]

[Efek: Semua makhluk iblis akan mengakui host sebagai pemimpin mereka. Semua makhluk suci akan membenci host.]

Liana menutup bajunya.

“Aku sudah punya cukup banyak musuh. Sedikit lagi tidak masalah.”

---

Liana keluar dari Lembah Kematian setelah tiga hari — bukan tujuh hari seperti yang diperkirakan.

Renaldo menunggu di depan pintu. Matanya membelalak melihat kondisi Liana:

Baju robek.

Rambut acak-acakan.

Bekas luka tengkorak di dada.

Mata merah menyala lebih terang dari sebelumnya.

Dan levelnya...

“Level 25?!” teriak Renaldo. “Kau naik dari 7 ke 25 dalam tiga hari? Biasanya butuh tiga tahun!”

Liana mengangkat bahu. “Aku bunuh laba-laba level 50 dan Penjaga Lembah Kematian. Itu banyak EXP.”

Renaldo terdiam. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

“Benar-benar putri majikanku. Gila. Tapi hebat.”

Dia membungkuk dalam.

“Sekarang, Nyonya sudah siap meninggalkan jurang ini? Atau masih ada yang mau dilatih?”

Liana melihat ke atas. Jauh di sana, langit mulai terang.

Sudah tiga hari sejak dia jatuh.

Di dunia atas, Xu Feng dan Lin Tian mungkin sudah mengumumkan kematiannya. Mungkin mereka sudah berpesta. Mungkin mereka sudah melupakannya.

Tapi Liana tidak akan melupakan mereka.

“Aku siap,” katanya.

Renaldo mengangguk. Dia berjalan menuju dinding batu di ujung lautan darah.

“Di sinilah pintu keluarnya, Nyonya.”

Liana mendekat. Dinding batu itu polos, tanpa ukiran, tanpa tulisan.

Tapi saat dia mendekatkan Kunci Keluar dari Lembah Kematian, dinding itu terbuka.

Cahaya putih menyilaukan menyambutnya.

Liana mengambil napas dalam-dalam.

“Sebelum keluar, Nyonya,” Renaldo berkata dengan serius. “Aku harus memperingatkanmu. Saat Nyonya melangkah keluar dari jurang ini, Nyonya akan berada tepat di tempat yang sama saat jatuh dulu. Di puncak Gunung Canglong. Di tempat Xu Feng dan Lin Tian mengkhianatimu. Mungkin mereka masih di sana. Mungkin juga tidak. Tapi yang pasti... seluruh dunia akan merasakan aura Master Iblis dari tubuh Nyonya.”

Liana mengangguk. “Aku tahu.”

“Dan satu hal lagi.” Renaldo meraih tangannya. “Aku tidak bisa ikut. Pelayan Iblis tidak diizinkan meninggalkan jurang ini sampai tuannya mencapai Level 50. Jadi untuk sementara, Nyonya sendirian.”

Liana tersenyum. “Aku sudah sendirian selama ini. Tidak masalah.”

Dia melangkah ke dalam cahaya.

---

Detik terakhir Bab 5:

Liana membuka mata.

Dia berdiri di puncak Gunung Canglong.

Langit biru.

Angin sejuk.

Bau rumput dan bunga.

Tepat di tempat yang sama. Tepat tiga hari yang lalu.

Dan di depannya...

Xu Feng dan Lin Tian sedang berdiri. Berpesta dengan beberapa tamu. Semua orang tersenyum. Semua orang mengangkat gelas.

Lin Tian tertawa. “Untuk kematian Liana! Akhirnya keluarga kami bersih dari darah pengkhianat!”

Xu Feng menimpali. “Untuk masa depan keluarga Xu!”

Semua orang bersulang.

Tapi kemudian Lin Tian menoleh.

Dia melihat Liana.

Gelas di tangannya jatuh.

PECAH!

“Kau... kau...” Lin Tian pucat pasi. “Kau tidak mati?”

Xu Feng juga menoleh. Wajahnya berubah dari merah menjadi putih.

“Liana? Mustahil! Jurang Kematian Abadi tidak pernah mengembalikan korbannya!”

Liana tersenyum.

Senyuman yang sama saat dia di dasar jurang.

Senyuman seorang iblis.

“Halo, Ayah. Halo, Tian.” Suaranya lembut. Tapi setiap kata terasa seperti belati.

“Aku pulang.”

Ding!

[Quest: Bunuh Xu Feng dan Lin Tian dalam 6 bulan]

[Sisa waktu: 5 bulan 28 hari 23 jam 58 menit]

[Status: Target ada di depan mata. Eksekusi?]

Liana mengaktifkan Pedang Jiwa Pemusnah.

Pedang itu muncul di tangannya.

Bilah merah menyala.

Seluruh Gunung Canglong bergetar.

Langit yang tadinya biru berubah menjadi kelabu.

“Kalian bilang aku pengkhianat?” Liana melangkah maju.

“Sekarang lihat siapa pengkhianat sebenarnya.”

BERSAMBUNG KE BAB 6...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel