Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3 – IBU MELAWAN ANAK

BAB 3 – IBU MELAWAN ANAK

Liana mengira dia salah dengar.

“Lawan... ibu?”

Wanita di depannya tersenyum. Senyuman itu lembut. Tapi matanya yang biru keemasan menyala dengan api yang tidak pernah padam.

“Jangan panggil ibu dulu. Panggil aku... Master Iblis Pertama. Karena jika kau gagal mengalahkanku, kau tidak pantas menjadi penerusku.”

Liana mengepalkan tangan. Tubuhnya masih sakit dari pertarungan melawan bayangan tadi. Tulang rusuknya retak. Bibirnya pecah. Tapi darahnya terus mengalir — bukan ke luar, melainkan ke dalam. Menyatu dengan qi baru yang liar itu.

“Aku tidak akan kalah,” kata Liana. “Aku sudah jatuh ke jurang. Aku sudah mati sekali. Tidak ada yang lebih menakutkan dari itu.”

Master Iblis Pertama tertawa. Suaranya menggema di seluruh ruangan kristal.

“Kau pikir jatuh ke jurang itu kematian? Kau pikir dikhianati itu penderitaan?” Dia menggeleng. “Kau belum merasakan apa-apa, anakku. Dunia kultivasi akan membuat tujuh kali pengkhianatan terakhir terasa seperti mimpi indah.”

Ding!

[Tantangan kedua: Lawan Master Iblis Pertama (Level ??)]

[Deskripsi: Lawan wanita yang telah hidup 30.000 tahun dan menguasai 7.777 jurus pemusnah]

[Peraturan: Kau boleh mati di sini. Tapi jika mati, kau akan hidup lagi dan melawan lagi. Berulang-ulang. Sampai kau menang.]

[Pantang menyerah: Tidak ada]

Liana merinding. Bukan karena takut mati — tapi karena membayangkan harus melawan ibu kandungnya sendiri berkali-kali sampai menang. Itu lebih mengerikan dari kematian.

Tapi dia tidak mundur.

“Ayo,” katanya.

BREEEEG!

Master Iblis Pertama melesat. Tanpa peringatan. Tanpa gerakan awal. Tiba-tiba saja dia sudah ada di depan Liana.

Sebuah telapak tangan menepuk dada Liana. Lembut. Sekedar sentuhan.

Tapi Liana terpental seperti kain lap.

DUAR!

Tubuhnya menembus tiga dinding kristal sebelum akhirnya berhenti di dinding keempat. Batu kristal itu retak di sekeliling tubuhnya.

Liana batuk darah. Banyak.

“Itu... baru satu persen kekuatanku,” kata Master Iblis Pertama dari kejauhan. Dia masih berdiri di tempat semula, seolah tidak pernah bergerak.

Liana merasakan seluruh tulangnya hancur. Bukan retak — hancur. Tapi anehnya, dia tidak mati. Warisan Master Iblis membuat tubuhnya terus memperbaiki diri.

Ding!

[Tubuh dalam proses regenerasi: 5%... 12%... 27%...]

“Regenerasi cepat,” komentar Master Iblis Pertama. “Itu salah satu kelebihan warisan kita. Tapi regenerasi butuh qi. Dan qi-mu terbatas. Jika kau terus-menerus dihancurkan, qi-mu akan habis. Lalu kau benar-benar mati.”

Liana bangkit. Tangannya gemetar. Tapi matanya tidak pernah lepas dari target.

“Kalau begitu... aku tidak akan terus-menerus dihancurkan.”

Dia mengaktifkan Hantaman Neraka (Level 1) yang baru saja dia dapatkan.

Tinjunya menyala dengan api hitam. Tidak panas. Tapi dingin — dingin yang bisa membekukan jiwa sekaligus membakarnya.

Liana melesat. Lebih cepat dari sebelumnya.

SWOOSH!

Tinjunya mengarah ke wajah Master Iblis Pertama.

Wanita itu hanya mengangkat satu jari.

TAP!

Ujung jari menyentuh buku-buku jari Liana.

Liana berhenti. Bukan karena dia mau berhenti. Tapi karena seluruh tangan kanannya tiba-tiba membeku — bukan es biasa, tapi es hitam yang mengeras seperti baja.

“Teknik Pembekuan Jiwa,” kata Master Iblis Pertama. “Level dasar. Tapi cukup untuk menghentikan serangan pemula sepertimu.”

Liana tidak putus asa. Tangan kanannya beku, tapi tangan kirinya masih bisa bergerak.

Dia memukul dengan tangan kiri.

Kali ini tidak pakai skill. Hanya pukulan biasa yang penuh amarah.

BRAK!

Pukulan itu mengenai pipi Master Iblis Pertama.

Hanya satu sentimeter.

Tidak mempan. Tapi...

Master Iblis Pertama terkejut. Matanya membelalak.

“Kau... berani memukul pipi ibumu?”

Liana tersenyum getir. “Kau bilang jangan panggil ibu dulu.”

Ding!

[Keberanian luar biasa terdeteksi]

[Bonus EXP +200]

[Skill 'Hantaman Neraka' naik level: 1 → 2]

Master Iblis Pertama tertawa. Kali ini tawanya benar-benar terdengar bahagia. Seperti seorang ibu yang bangga melihat anaknya yang bandel.

“Bagus. Kau punya nyali. Tapi nyali saja tidak cukup.”

Dia mengangkat kedua tangannya.

Seluruh ruangan kristal berubah. Lantai, dinding, langit-langit — semuanya memantulkan bayangan Liana. Ribuan bayangan. Dan semuanya bergerak sendiri-sendiri.

“Ini adalah jurus ketujuhku: Lautan Cermin Neraka. Setiap bayangan di sini adalah kau dari masa depan yang gagal. Ada yang mati karena pedang. Ada yang mati karena racun. Ada yang mati karena dikhianati lagi. Kau lihat semuanya. Dan kau akan merasakan setiap kematian mereka.”

Liana dikelilingi. Ribuan dirinya sendiri, mati dalam ribuan cara.

Satu bayangan menunjukkan Liana ditusuk dari belakang oleh Lin Tian — lagi.

Bayangan lain menunjukkan Liana diracun Xu Feng — lagi.

Bayangan lain lagi menunjukkan Liana dihancurkan oleh petir surgawi karena melawan langit.

Liana merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi karena marah.

“Kurang ajar,” bisiknya.

Dia berteriak: “AKU TIDAK AKAN MATI SEPERTI MEREKA!”

Ding!

[Kemarahan sejati terdeteksi]

[Mode 'Bangkit' teraktivasi lagi]

[Durasi: 90 detik]

[Bonus: Semua serangan area +200%]

Liana tidak menunggu.

Dia menginjak tanah. KRAAAK! Tanah kristal retak membentuk gelombang kejut ke segala arah.

Bayangan-bayangan itu terpental. Beberapa hancur. Beberapa hanya mundur. Tapi celah sudah terbuka.

Liana melesat melewati kerumunan bayangan.

Targetnya satu: Master Iblis Pertama.

Tapi wanita itu sudah tidak ada di tempat semula.

“Di belakangmu.”

Liana menoleh. Terlambat.

Sebuah telapak tangan mendarat di kepalanya.

PRAK!

Liana jatuh tersungkur. Wajahnya menghantam lantai kristal. Hidungnya pecah. Darah mengalir deras.

Tapi dia bangkit lagi.

“Kau keras kepala,” kata Master Iblis Pertama dengan nada kagum.

Liana tidak menjawab. Dia melesat lagi.

BRAK! BRAK! BRAK!

Tiga pukulan. Tiga kali gagal. Tiga kali dia terpental.

Tulangnya hancur dan pulih. Hancur dan pulih. Setiap kali regenerasi, qi-nya berkurang.

Ding!

[Qi tersisa: 23%]

[Peringatan: Jika qi di bawah 10%, regenerasi akan berhenti]

Liana mengertakkan gigi. Dia hanya punya beberapa kesempatan lagi.

“Ibu,” kataku tiba-tiba.

Master Iblis Pertama menghentikan langkahnya.

“Apa?”

“Kau bilang jangan panggil ibu. Tapi kau tetap ibuku. Dan ibu seharusnya tidak melawan anaknya sampai mati.”

Master Iblis Pertama terdiam. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Dari dingin menjadi... sedih.

“Kau benar. Aku tidak tega. Tapi dunia tidak akan memberimu ibu yang lembut. Dunia akan memberimu musuh yang kejam. Jadi aku harus menjadi musuh terkejammu sekarang, agar kau siap menghadapi yang lebih kejam nanti.”

Dia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, terbentuk bola api hitam sebesar kepala manusia.

“Ini jurus terakhirku: Ledakan Penghancur Dunia. Jika kau bisa bertahan dari ini, kau lulus. Jika tidak...”

Dia tidak melanjutkan.

Liana tersenyum.

“Kalau begitu... jangan tahan.”

BRUMMMM!

Api hitam itu melesat.

Liana tidak menghindar. Dia malah membuka kedua tangannya lebar-lebar.

“Karena aku putri iblis. Dan iblis tidak lari dari api.”

DHARRRR!!!

Seluruh ruangan berubah menjadi neraka.

---

Detik terakhir Bab 3:

Liana tidak sadar berapa lama dia terbaring.

Tubuhnya hangus. Kulitnya gosong. Rambutnya ludes terbakar. Tapi dia masih hidup.

Ding!

[Tantangan kedua: Berhasil bertahan]

[Level: 3 → 7]

[EXP +2000]

[Buka skill baru: Kulit Baja Iblis (Level 1)]

[Buka skill baru: Api Hitam Warisan (Level 1)]

[Buka status baru: Pewaris Sejati Master Iblis]

[Peringatan: Ibu kandungmu akan menghilang dalam 3... 2... 1...]

Liana membuka matanya.

Master Iblis Pertama berdiri di depannya. Tubuhnya mulai transparan.

“Selamat, anakku. Kau lulus.”

Liana ingin meraihnya. Tapi tangannya menembus bayangan.

“Tidak... jangan pergi... Aku baru saja menemukanmu...”

Master Iblis Pertama tersenyum. Kali ini benar-benar lembut. Seperti seorang ibu yang mengantar anaknya tidur.

“Aku tidak pergi. Aku akan selalu bersamamu. Karena kau... kau adalah potongan jiwaku yang hidup.”

Dia menyentuh dahi Liana.

Seketika, Liana merasakan gelombang ingatan mengalir deras. Bukan ingatan baru. Tapi ingatan yang sudah lama terkubur.

Ingatan tentang seorang wanita yang menggendongnya di tengah hujan darah.

Ingatan tentang seorang wanita yang menangis saat menitipkannya ke dunia fana.

Ingatan tentang janji: “Suatu hari, kita akan bertemu lagi.”

Sekarang janji itu terbayar. Tapi perpisahan datang lagi.

“Ibuuuuuu!”

Master Iblis Pertama menghilang menjadi debu cahaya.

Di tempatnya berdiri sekarang...

Sebuah pedang.

Pedang dari tulang iblis. Gagangnya dari emas hitam. Bilahnya dari kristal merah — warna yang sama dengan mata Liana saat marah.

Ding!

[Warisan Pedang Ibu: Pedang Jiwa Pemusnah]

[Level: 1]

[Deskripsi: Pedang yang hanya bisa digunakan oleh pewaris darah Master Iblis. Setiap tebasan akan menguras qi pengguna, tapi setiap tebasan juga tidak bisa diblokir oleh senjata biasa.]

Liana meraih gagang pedang itu.

Saat jarinya menyentuh logam dingin itu...

Dia mendengar bisikan ibunya untuk terakhir kalinya:

“Hancurkan mereka semua, anakku. Hancurkan dunia yang telah menghancurkan kita.”

Liana mengangkat pedang itu ke atas kepalanya.

“Aku berjanji, Ibu. Aku akan membunuh mereka semua. Satu per satu. Dan tidak akan ada yang selamat.”

Ding!

[Quest baru: Balas dendam kepada Xu Feng dan Lin Tian]

[Bonus jika diselesaikan dalam 6 bulan (setengah dari batas waktu awal): Hadiah rahasia dari ibumu]

[Batas waktu: 6 bulan]

[Sisa waktu: 5 bulan 29 hari 23 jam 59 menit]

Liana keluar dari ruangan kristal.

Di luar, Renaldo masih menunggu. Matanya membelalak melihat pedang di tangan Liana.

“Pedang... Pedang Jiwa Pemusnah? Itu senjata ibumu! Kau berhasil mendapatkannya?”

Liana mengangguk. “Aku juga naik ke Level 7.”

Renaldo tersenyum lebar. “Kalau begitu... kita siap meninggalkan jurang ini?”

Liana menatap ke atas. Jauh di atas sana, ada langit yang dia benci. Ada dunia yang dia benci. Ada orang-orang yang harus dia bunuh.

“Belum. Aku belum cukup kuat. Bawa aku ke tempat latihan terberat yang ada di jurang ini.”

Renaldo membungkuk. “Baik, Nyonya. Ikuti aku.”

BERSAMBUNG KE BAB 4...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel