BAB 2 – PELAYAN DARI MASA LALU
BAB 2 – PELAYAN DARI MASA LALU
Dasar jurang terasa dingin. Tapi tidak sedingin tatapan pemuda di hadapan Liana.
Dia berlutut di atas lautan darah. Sayap hitamnya terbuka lebar, bulu-bulunya bergetar seperti terserang angin topan. Wajahnya tampan — terlalu tampan untuk seorang iblis. Tapi matanya... matanya merah menyala, sama seperti mata Liana sekarang.
Dan dia menangis.
“Aku yang membunuhmu di kehidupan sebelumnya.”
Liana merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut. Bukan karena marah. Tapi karena ada sesuatu yang aneh di dalam kepalanya. Seperti ada ingatan yang mencoba keluar, tapi terhalang tembok kaca.
“Aku tidak ingat kehidupan sebelumnya,” kata Liana pelan. “Jadi aku tidak peduli siapa yang membunuhku dulu. Yang aku peduli... siapa kau sekarang?”
Pemuda itu mengangkat kepalanya. Air matanya berubah menjadi uap saat terkena udara panas dari lautan darah.
“Namaku Renaldo. Aku adalah Iblis Pelayan tingkat sembilan. Dulu aku adalah tangan kanan Master Iblis — ibumu.”
Liana terkesiap.
“Ibuku?”
Renaldo mengangguk. “Ibumu adalah Master Iblis generasi sebelumnya. Dia dibunuh oleh aliansi sekte kotor saat kau masih dalam kandungan. Sebelum mati, dia menyegel kekuatanmu dan menyembunyikanmu di dunia fana. Aku... aku diperintahkan untuk melindungimu. Tapi aku gagal.”
Liana menyipitkan mata. “Kau bilang kau membunuhku di kehidupan sebelumnya. Maksudmu kehidupan sebelumnya yang mana?”
Renaldo tersenyum pahit. “Kau sudah bereinkarnasi tujuh kali. Tujuh kali aku menemukanmu. Tujuh kali aku melindungimu. Dan tujuh kali... aku selalu gagal di detik-detik terakhir. Lalu kau mati. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.”
Dia mengepalkan tangan. Kuku-kukunya yang tajam menusuk telapak tangannya sendiri. Darah hitam menetes ke lautan darah, tapi tidak menyatu — malah menguap seperti air di atas bara.
“Tapi kali ini berbeda,” lanjut Renaldo. “Kali ini kau datang ke jurang ini. Tempat di mana kekuatan sejatimu tersimpan. Ibumu sudah meramalkan ini ribuan tahun lalu. Dia bilang... hanya jika kau jatuh ke neraka, kau akan bangkit menjadi surga.”
Liana diam. Semua informasi ini terlalu berat. Baru beberapa menit yang lalu dia adalah gadis yang dikhianati, dibuang, dihancurkan. Sekarang dia mendengar tentang reinkarnasi, Master Iblis, ibunya yang ternyata seorang penguasa kegelapan.
Tapi anehnya... hatinya tidak menolak.
Seperti ada bagian dari dirinya yang sudah lama tahu.
Ding!
[Host terdeteksi sedang dalam masa adaptasi warisan]
[Rekomendasi: Segera latihan dasar kultivasi ganda untuk menstabilkan qi]
[Peringatan: Jika tidak distabilkan dalam 24 jam, host akan hancur dari dalam]
Liana membaca notifikasi di hadapannya. Sistem itu nyata. Segala sesuatu di sini nyata.
“Renaldo,” katanya tegas. “Aku tidak punya waktu untuk meratapi masa lalu. Katakan padaku — bagaimana caranya aku keluar dari jurang ini dan menjadi cukup kuat untuk membunuh Xu Feng dan Lin Tian?”
Renaldo berdiri. Sayap hitamnya mengepak sekali, dan seluruh lautan darah berdesir. Dari dalam darah itu, puluhan bayangan mulai muncul. Sosok-sosok wanita dengan mahkota, sosok-sosok pria dengan tanduk, sosok-sosok makhluk yang bahkan tidak punya bentuk.
Mereka semua berlutut.
“Ini adalah pasukan bayangan ibumu,” kata Renaldo. “Mereka terjebak di sini selama ribuan tahun, menunggu perintah dari pewaris sejati. Tapi untuk mengaktifkan mereka, kau harus mencapai Level 50 terlebih dahulu.”
Liana menatap pasukan itu. Ratusan. Mungkin ribuan. Semua mata mereka bersinar merah.
“Level 50? Aku baru Level 1.”
“Justru itu,” Renaldo mendekat. “Kita tidak punya banyak waktu. Misi pertamamu bukan membunuh Xu Feng dan Lin Tian. Misi pertamamu adalah... bertahan hidup selama tiga bulan ke depan. Karena begitu kau meninggalkan jurang ini, seluruh dunia kultivasi akan mencium bau kekuatan Master Iblis padamu.”
Liana menghela napas. “Berapa banyak musuh yang akan kuhadapi?”
Renaldo tersenyum. Kali ini senyumannya tidak pahit. Tapi dingin. Sangat dingin.
“Semua sekte di dunia ini. Semua jenius. Semua penguasa. Bahkan para dewa yang tidur di alam atas akan terbangun untuk membunuhmu. Karena kau... kau adalah satu-satunya yang bisa menghancurkan takhta surga mereka.”
Liana tidak merasa takut. Anehnya, dia malah merasa... bersemangat.
“Bagus,” katanya. “Aku tidak suka musuh yang sedikit. Mereka cepat habis.”
Renaldo terkekeh. “Kau benar-benar mirip ibumu.”
Ding!
[Quest tersembunyi terdeteksi]
[Bangkitkan Pasukan Bayangan: 0/1000]
[Hadiah: Kunci Keluar dari Jurang + 50.000 EXP]
[Batas waktu: Tidak ada, selama kau tidak mati dulu]
Liana mengangguk. “Oke. Pertama, aku butuh tempat untuk latihan. Kedua, aku butuh makanan. Ketiga...”
Dia menatap Renaldo. “Kau bilang kau iblis pelayan tingkat sembilan. Seberapa kuat kau?”
Renaldo membusungkan dada. “Cukup kuat untuk menghancurkan satu sekte tingkat menengah sendirian.”
“Kalau begitu, mulai sekarang kau adalah guruku. Ajari aku semua yang kau tahu tentang kultivasi ganda.”
Renaldo menggeleng. “Aku tidak bisa menjadi gurumu. Aku hanya pelayan. Tapi...” Dia menunjuk ke tengah lautan darah. “Di sana ada ruang pelatihan ibumu. Di dalamnya tersimpan semua ilmunya. Tapi kau harus masuk sendirian.”
Liana tidak ragu. Dia berjalan menuju titik yang ditunjuk Renaldo. Lauzan darah terbelah di depannya, membentuk jalan setapak dari cahaya ungu.
Di ujung jalan itu, ada sebuah pintu.
Pintu dari batu hitam dengan ukiran naga dan phoenix yang saling melilit. Di tengah pintu itu terukir satu kalimat:
“Hanya yang mati berkali-kali yang layak hidup sekali.”
Liana mengulurkan tangan. Saat telapak tangannya menyentuh permukaan batu, pintu itu terbuka dengan suara berat.
Di dalam... gelap.
Tapi Liana tidak takut gelap. Dia sudah lahir dari kegelapan.
“Aku masuk,” katanya tanpa menoleh ke belakang.
Renaldo hanya bisa berdiri di luar. Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Semoga kali ini... aku tidak gagal lagi, Nyonya,” bisiknya.
BAM!
Pintu itu menutup sendiri.
Liana sekarang berdiri di ruangan kosong. Lantai dari kristal bening. Langit-langit setinggi seribu meter. Dan di tengah ruangan...
Sebuah peti mati.
Terbuat dari emas hitam. Di atas peti mati itu duduk seorang wanita. Tidak bergerak. Matanya terpejam. Rambutnya seputih salju. Wajahnya...
Wajah itu sama persis dengan wajah Liana.
Liana merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak.
“Ibu...?”
Wanita itu membuka mata.
Matanya tidak merah. Tapi biru keemasan — warna yang tidak pernah ada di dunia kultivasi mana pun.
“Kau datang,” suaranya lembut, seperti angin musim semi. “Sudah kutunggu. Tiga puluh ribu tahun lamanya.”
Liana ingin bertanya banyak hal. Tapi wanita itu mengangkat tangan, menyuruhnya diam.
“Tidak perlu bertanya. Semua jawaban akan kau dapatkan jika kau berhasil menyelesaikan pelatihan ini. Tapi ingat... setiap langkah di sini adalah pertaruhan nyawamu. Jika kau gagal, kau tidak akan mati. Kau akan terperangkap di sini selamanya, menjadi bagian dari peti mati ini.”
Liana menelan ludah. “Apa yang harus kulakukan?”
Wanita itu tersenyum. Senyuman yang sama — persis sama — dengan senyuman Liana saat dia kecil dulu, sebelum semua kebohongan dimulai.
“Kultivasi ganda adalah jalan untuk menguasai dua elemen yang berlawanan dalam satu tubuh. Iblis dan dewa. Api dan es. Hidup dan mati. Tapi untuk memulainya... kau harus mengalahkan dirimu sendiri.”
Ding!
[Tantangan pertama: Lawan bayanganmu sendiri]
[Deskripsi: Bayangan akan memiliki semua kemampuanmu saat ini + 10% lebih kuat]
[Peraturan: Tidak boleh ada bantuan dari pihak luar]
[Kegagalan: Terjebak di ruang ini selamanya]
[Apakah siap?]
[Ya] / [Tidak]
Liana tertawa.
“Dulu aku takut melawan siapa pun. Tapi sekarang... aku tidak takut bahkan pada diriku sendiri.”
Dia menekan tombol Ya.
Seketika, dari lantai kristal, muncul sesosok bayangan. Bentuknya sama persis dengan Liana. Pakaian yang sama. Mata merah yang sama. Bahkan ekspresi dingin yang sama.
Tapi bayangan itu tersenyum lebih lebar.
“Halo, Liana. Aku adalah kau yang akan menjadi jika kau terus takut dan ragu. Aku adalah versi terburukmu. Dan aku akan membunuhmu.”
Liana tidak menjawab. Dia langsung melesat ke depan.
Tanpa senjata.
Tanpa teknik.
Hanya tinju kosong dan amarah yang menggelegak selama tiga tahun.
BRAK!
Tinjunya menabrak perut bayangan. Tapi bayangan itu tidak bergeming. Sebaliknya, bayangan itu membalas dengan tendangan ke dada Liana.
DUAR!
Liana terpental. Tubuhnya menghantam dinding kristal. Rasanya seperti dihantam gunung.
“Lemah,” kata bayangan itu dingin. “Kau pikir amarah cukup? Amarah tidak akan membunuh Xu Feng. Amarah tidak akan membunuh Lin Tian. Yang kau butuhkan adalah... kekejaman.”
Bayangan itu melesat. Lebih cepat dari Liana. Jauh lebih cepat.
Dor! Dor! Dor!
Tiga pukulan berturut-turut mengenai wajah, perut, dan dada Liana. Darah menyembur.
Liana jatuh tersungkur.
“Bangun,” bisik suara wanita dari peti mati. “Kau tidak akan mati di sini. Karena kau... kau adalah putriku.”
Liana menggigit bibir. Darahnya sendiri terasa asin. Tapi di dalam rasa asin itu... ada sesuatu yang manis.
Kekuatan.
Dia merasakan qi aneh mulai mengalir di nadinya. Bukan qi kultivasi biasa. Tapi sesuatu yang lebih tua. Lebih gelap. Lebih... liar.
Ding!
[Kekuatan Warisan Master Iblis teraktivasi 1%]
[Host memasuki mode 'Bangkit']
[Semua stat sementara meningkat 50%]
[Peringatan: Mode ini hanya bertahan 60 detik]
Liana tersenyum. Dia berdiri.
“Enam puluh detik? Cukup.”
Dia menatap bayangannya.
“Sekarang giliranku.”
---
Detik terakhir Bab 2:
Liana melesat. Kali ini dia tidak meninju.
Dia meraih kepala bayangan itu.
Dan membantingnya ke lantai kristal.
KRAAAK!
Seluruh ruangan bergetar.
Liana tidak berhenti. Dia membanting lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Hingga bayangan itu tidak bergerak.
Liana terengah-engah. Tapi tidak ada rasa lelah. Yang ada hanya... kepuasan.
Ding!
[Tantangan pertama selesai]
[EXP +500]
[Level: 1 → 3]
[Buka skill baru: Hantaman Neraka (Level 1)]
Liana menoleh ke arah peti mati. Wanita di atasnya tersenyum bangga.
“Bagus. Sekarang... tantangan kedua.”
Liana mengerutkan kening. “Tantangan kedua? Apa itu?”
Wanita itu melompat turun dari peti mati.
“Lawan aku.”
BERSAMBUNG KE BAB 3...
