Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Kata itu membuat Aira terdiam,"Nyonya Mahendra?"

"Iya."

Aira menerima kotak itu dengan tangan gemetar lalu menutup kembali Pintu.

Ia menatap kotak itu lama, Namanya bukan Aira tapi tertulis  statusnya. Istri yang Tidak Diakui

Kotak itu berisi pakaian, Gaun-gaun sederhana tapi mahal, Sepatu, Tas dan sebuah amplop kecil.

Aira membuka amplop itu,tulisan tangan Arka.

"Untuk kebutuhan Anda, Media akan mulai mencari. Jangan gunakan barang lama jika keluar rumah."

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada kata istri.

Aira tersenyum pahit,bahkan setelah sah Ia tetap anonim dimata pria itu.

Siang harinya....

Aira mendapatkan telepondari ibunya.

Ibu Aira :

"Aira...kamu sudah menikah?"

Pertanyaan itu membuat Aira memejamkan mata.

Aira :

"Sudah Bu."

Ibu Aira :

"Kenapa ibu tahu dari tetangga?"

Aira :

Aira menelan ludah, "Maaf..."

Ibu Aira :

"Siapa suamimu nak?"

Hening.

Nama itu terlalu besar untuk diucapkan sembarangan.

Aira :

"Dia Orang baik dan juga orang sibuk bu" jawab Aira akhirnya.

Ibu Aira :

Ibunya terdiam, "Kamu Bahagia?"

Pertanyaan itu seperti pisau tumpul,"Sedang belajar" jawab Aira jujur.

Ibunya tidak bertanya lagi tapi suara napas di seberang terdengar berat.

Setelah panggilan berakhir, Aira duduk lama. Ia sadar ke sofa,Ia sudah menikah tapi belum pernah benar-benar dipilih di luar kontrak.

Arka dan Dunia yang Tidak Memberinya Ruang.

Di kantor, Arka berdiri di balik dinding kaca.

Telepon tidak berhenti berdering.

"Pak, media menunggu pernyataan anda."

"Pak, saham masih stabil tapi investor bertanya."

"Pak, rumor kontrak pernikahan mulai menyebar."

Arka memijat pelipisnya.

"Tidak ada pernyataan,Tidak ada konferensi pers." katanya dingin.

“"Dan istrinya, Pak?"

Arka menatap kota di bawah sana."Istri saya bukan konsumsi publik."

Kata-kata itu tegas,tapi entah kenapa Bayangan Aira di kamar tamu muncul di benaknya.

Sendiri, Diam dan mungkin kewalahan.

Malam Pertama yang Tidak Pernah Direncanakan

Malam turun.

Anak-anak sudah tidur. Aira duduk di ruang keluarga, membaca buku yang sama berulang kali tanpa menyerap isinya.

Pintu terbuka.

Arka masuk lalu melepaskan Jasnya, Wajahnya lelah.

"Kamu tidak makan?" tanyanya singkat.

Aira menggeleng,"Tidak lapar."

Arka menatapnya lalu berkata, "Besok kita akan keluar."

Aira terkejut. "Keluar?"

"Makan malam, Publik."

"Apa? Bukankah tadi Anda bilang saya untuk diam di rumah!" Aira berdiri.

"Sekali sekali menampakkan Wajah di depan paublik sudah cukup,Agar spekulasi berhenti." jawab Arka.

"Sebagai apa?" suara Aira bergetar.

Arka menatapnya lama,"Sebagai istri saya."

Kalimat itu seharusnya sederhana tapi bagi Aira Itu terdengar seperti medan perang baru.

Ia mengangguk pelan,"Baik"

Hening...

Arka berjalan menuju tangga, lalu berhenti,"Aira"

Ia menoleh,"Jika Anda merasa ini terlalu berat..."

Aira menggeleng cepat.

"Saya masih di sini,Saya masih bertahan" katanya.

Arka menatapnya lama, lalu naik ke lantai atas dan Aira duduk kembali, menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia sangkal.

Aira tidak bisa tidur malam itu,bukan karena takut,bukan karena gugup.

Tapi karena kesadaran yang pelan-pelan menekan dadanya seperti tangan tak terlihat.

Besok ia akan berdiri di samping Arka Mahendra, Sebagai istri.

Bukan sebagai “tante”.

Bukan sebagai pengasuh.

Bukan sebagai wanita kontrak yang bersembunyi di kamar tamu,tapi sebagai wajah resmi dan itu lebih menakutkan dari apa pun.

Pagi datang dengan cahaya pucat karna matahari belum memancarkah cahayanya.

Anak-anak tertawa di ruang makan, mereka tak tahu apa yang akan terjadi malam nanti.

Ardan menyuapkan potongan roti ke mulut Zidan.

"Papa, Tante Aira cantik nggak kalau pakai baju pesta?" tanya Zidan tiba-tiba.

Aira tersedak minumnya, Arka berhenti membaca berita di tabletnya.

"Kenapa Kamu tanya begitu?" suaranya datar.

"Karena tadi aku lihat lemari Tante Aira ada baju baru" jawab Ardan polos.

Hening beberapa detik, Aira menatap Arka dan tatapan mereka bertemu.

"Cantik" jawab Arka singkat.

Hanya satu kata tapi jantung Aira berdetak tidak wajar.

Anak-anak bersorak kecil, Aira tersenyum tipis.

Tapi di dalam dadanya Ia tahu malam nanti tidak akan sesederhana gaun dan senyum.

Menjelang sore, stylist datang,tanpa banyak bicara, tanpa memperkenalkan diri dengan ramah.

Profesional, Cepat, Efisien.

Gaun hitam panjang dengan potongan sederhana tapi elegan dipasangkan di tubuh Aira.

Tidak berlebihan,tidak mencolok. Tapi jatuh indah di tubuhnya yang membuatnya cukup merasa terekspos.

Ia berdiri di depan cermin, Wanita di sana terlihat dewasa, tenang, berkelas. Tapi mata itu masih milik Aira yang ragu.

Pintu diketuk...

Stylist pun pamit karna tugasnya sudah selesai. Arka masuk tanpa ekspresi.

Ia berhenti memandang Aira dan untuk satu detik yang terlalu lama membuat Arka lupa untuk bernapas.

Aira menoleh."Aneh ya?" tanyanya pelan.

Arka tersadar lalu menggeleng "Tidak."

Hening...

"Media akan ada di luar restoran, Jangan lepaskan tangan saya."

Kalimat itu bukan romantis Itu sebuah instruksi, membuat Aira terpaksa mengangguk.

"Baik."

**

Mobil berhenti di depan restoran mewah di pusat kota. Lampu kilat langsung menyala bahkan sebelum pintu dibuka.

Aira terdiam, Arka turun lebih dulu lalu membuka pintu untuknya.

Untuk pertama kalinya tangan Arka terulur. Aira menatapnya beberapa detik lalu meletakkan tangannya di sana.

Hangat,kokoh, terlalu pas. Begitu kakinya menginjak karpet merah kecil di depan pintu restoran, suara mulai terdengar.

"Pak Arka! Benarkah ini istri Anda?"

"Sejak kapan anda menikah?"

"Apakah ini pernikahan karena bisnis?"

"Apa benar kontrak dua tahun?"

Jantung Aira terasa mendadak berhenti beberapa detik.

Kontrak?? Apakah mereka sudah tahu??

Arka menggenggam tangannya lebih erat.

"Tidak ada komentar" ucapnya tegas.

Flash kamera menyilaukan, Aira tersenyum tipis. Tersenyum seperti yang diajarkan.

Tenang,terkendali, dan senyum layaknya Istri CEO,tapi di dalam Ia merasa seperti pajangan.

Di dalam restoran, beberapa rekan bisnis Arka sudah duduk menunggu.

Tatapan mereka berbeda bukan karna penasaran tapi mereka seperti sedang menilai.

Wanita di sebelah Arka adalah seorang sosialita terkenal.

Ia tersenyum manis.

"Jadi ini istrinya pak Arka?" katanya lembut, tapi nada suaranya tajam.

Aira mengangguk sopan,"Selamat malam."

Wanita itu mengangkat alis,"Anda dari keluarga mana?'

Pertanyaan sederhana tapi begitu tepat sasaran. Aira menjawab jujur,"Saya dari Keluarga biasa."

Senyum wanita itu sedikit melebar,"Ah..."

Seolah itu menjelaskan segalanya, Arka langsung memotong,"Dia tidak perlu berasal dari keluarga mana pun untuk menjadi istri saya."

Hening...

Aira menoleh padanya, Arka tidak melihatnya tapi kalimat itu terasa seperti perlindungan atau mungkin sekadar pernyataan kepemilikan, Sulit dibedakan.

Makan malam berlangsung dengan percakapan bisnis.

Aira duduk diam, hanya sesekali menjawab jika ditanya.

Lalu satu pertanyaan datang seperti peluru.

"Apakah Anda mencintai suami Anda, Bu?"

Semua mata beralih, Jantung Aira berdetak kencang.

Arka berhenti memotong steaknya, Ia tidak membantu, tidak mengintervensi, Ini wilayah Aira sekarang jadi dialah yang harus menjawabnya.

Aira tersenyum.

"Cinta tidak selalu datang sebelum pernikahan,Kadang ia datang setelah kita belajar” jawabnya tenang dan elegan.

Tapi mata Arka terangkat perlahan dan menatapnya.

Seolah kalimat itu menembus sesuatu yang tidak ia siapkan.

Makan malam selesai,mereka keluar bersama. Tapi kali ini, suasana di luar lebih kacau.

Seseorang membocorkan sesuatu,seorang wartawan berteriak keras..

"Apakah benar istri Anda dulu bekerja sebagai pengasuh anak di rumah anda?!"

Suara itu seperti menusuk dadanya, Aira membeku. Sementara Flash kamera membabi buta ke arahnya.

"Apakah Anda menikahinya karena anak-anak lebih dekat kepadanya?"

"Apakah ini hanya demi citra keluarga harmonis?"

Darah Aira terasa surut dari wajahnya. Ia tahu Ini akan terjadi tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.

Arka berhenti berjalan, Ia berbalik.

Tatapannya berubah.

Dingin.

Berbahaya.

“Siapa yang menyebarkan itu?” suaranya rendah tapi tegas,rahanya mulai mengeras.

Tidak ada yang menjawab, tapi kamera tetap menyala.

Aira merasakan genggaman Arka menguat lalu seseorang mendorong dari belakang.

Tubuh Aira terhuyung.

Tumitnya terpeleset dan untuk satu detik Ia hampir terjatuh tapi Arka menariknya cepat ke dalam pelukannya.

Tubuh mereka bertabrakan, napas mereka terlalu dekat.

Flash menyambar wajah mereka dan tanpa sadar tangan Aira mencengkeram jas Arka seperti orang yang benar-benar takut dan untuk pertama kalinya Arka memeluknya.

Bukan untuk formalitas.

Bukan juga untuk sebuah strategi tapi memang refleks.

Protektif.

Begitu masuk kedalam mobil, pintu tertutup keras.

Dunia luar teredam.

Aira masih gemetar sementara Arka menatap ke depan, Rahangnya masih mengeras.

"Siapa yang membocorkan itu?" gumamnya.

Aira tertawa kecil, Getir, "Fakta tidak perlu dibocorkan. Orang hanya perlu menggali informasi."

Arka menoleh tajam,"Apakah Anda menyesal?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel