Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Pertanyaan itu keluar tiba-tiba dari mulut Arka.

Aira menatap lurus ke depan,"Bagaimana dengan Anda?"

Hening.

Mobil masih melaju.

Lampu kota berpendar di kaca jendela.

"Aira," suara Arka lebih rendah sekarang.

"Jika ini terlalu berat, saya bisa menghentikannya."Sambung Arka lagi

"Menghentikan apa?" tanyanya pelan.

"Semua ini."Jawab Arka Datar tanpa melihat ke arah Aira.

Aira tersenyum kecil,"Kita sudah sah,surat surat sudah siap,Orang orang juga sudah tau"

Arka terdiam,"Itu bukan jawaban."

Aira akhirnya menoleh, Matanya tidak menangis tapi ia merasa sangat lelah malam ini.

"Saya tidak menyesal menikah dengan Anda," katanya jujur.

"Saya hanya tidak pernah menyangka bahwa menjadi istri Anda berarti kehilangan diri saya di depan umum."

Kalimat itu menggantung di antara mereka, Arka tidak langsung menjawab tapi tatapannya berubah.

Sedikit,hanya sedikit.

Ketika mereka tiba di rumah Lampu teras sudah menyala tapi ada sesuatu yang berbeda.

Gerbang terbuka.

Padahal biasanya tertutup, Arka mengerutkan keningnya.

Mobil berhenti mendadak.

"Ada yang masuk?" bisik Aira.

Arka tidak menjawab, Ia turun dan dengan cepat membukakan pintu untuk Aira.

"Kita masuk ke dalam,kamu tetap di belakang saya."

Nada suaranya berubah.

Bukan sebagai CEO.

Bukan juga suami kontrak.

Tapi sebagai seorang ayah.

Mereka masuk.

Ruang tamu berantakan,sepertinya seseorang telah menerobos masuk ke dalam rumah.

Foto keluarga di dinding jatuh, Bingkai retak dan yang paling membuat darah Aira membeku Foto kecil Ardan dan Zidan di meja hilang.

Tangan Aira mulai gemetar.

"Anak-anak?" suaranya pecah ketika teringat sikembar.

Arka langsung berlari ke atas.

"Ayah!" teriaknya.

Tidak ada jawaban, Aira ikut berlari, Jantungnya seperti akan meledak.

Pintu kamar anak-anak terbuka.

Kosong....

Tempat tidur berantakan,lampu menyala tapi mereka tidak ada.

Aira merasa kakinya lemas,"Arka..."

Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan tapi itu tidak membantu menenangkan.

Arka berdiri di tengah kamar, Diam beberapa detik seperti sedang berfikir

Tiba tiba Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Arka mengangkatnya,suaranya rendah bersikap seperti biasa.

"Siapa ini?"

Hening beberapa detik lalu suara seorang pria terdengar samar di seberang.

"Kau ingin menjaga citra keluarga harmonismu, Mahendra?"

Napas Arka berubah,"Kalau ingin anak-anakmu kembali dengan selamat kita perlu bicara."kata pria yang ada di sebrang telepon.

Ponsel terjatuh dari tangannya, dunia terasa berputar.

Arka menutup matanya beberapa detik lalu membukanya dan kali ini tidak ada lagi Arka yang dingin.

Yang ada hanya sesuatu yang jauh lebih berbahaya, marah dan Aira tahu satu hal dengan sangat jelas.

Pernikahan mereka baru sehari.

Tapi semua yang terjadi ini sudah seperti perang sesungguhnya.

Hening....

hal pertama yang terasa setelah telepon itu terputus,bukan keheningan yang tenang.

Tapi keheningan yang menekan dada, yang membuat napas terasa berat.

Aira berdiri di ambang pintu kamar anak-anak,tangannya masih gemetar.

"Arka..." suaranya pecah.

"Apa maksudnya...?"

Arka tidak menjawab, Ia berdiri di tengah ruangan.

Punggungnya tegang, tangannya terkepal dan untuk pertama kalinya Aira melihat pria itu kehilangan kendali.

Ponsel Arka kembali bergetar.

Kali ini bukan nomor asing.

"Angkat" bisik Aira.

Arka tidak bergerak,hanya menatap Hpnya yang bergetar.

"Arka!!"

Pria itu akhirnya mengangkat panggilan itu,"Ya...."

Suara di seberang bukan suara yang sama,ini Lebih formal.

"Pak Arka, kami sudah sampai di lokasi. Tidak ada tanda-tanda perlawanan paksa di sekitar rumah. Tapi… sistem keamanan rumah Anda dimatikan dari dalam."

Aira membeku.

"Dari dalam?" ulangnya pelan.

Arka memejamkan mata.

"Artinya pelaku tahu sistemnya," lanjut suara itu.

"Orang dalam, atau seseorang yang pernah bekerja di sini."

Panggilan ditutup.

Aira mundur satu langkah.

"Orang dalam?" bisiknya.

Arka menatap kosong ke arah tempat tidur anak-anak.

"Bukan sekadar tahu, Tapi Orang ini... memahami rumah ini." katanya pelan.

Hening....

Lalu Ponsel kembali bergetar.

Nomor yang sama.

Arka menjawab,"Aku tidak suka menunggu,”

suara pria itu sekarang lebih jelas. Lebih santai seperti sedang menikmati.

"Apa yang kau mau?" tanya Arka dingin.

Terdengar tawa pendek dari telepon.

“Kita langsung saja. Perusahaanmu atau anak-anakmu."

Dunia seperti berhenti sejenak, Aira mengenggam bajunya kuat.

"Apa?"ucap Aira terkejut,napasnya tercekat.

"Semua saham mayoritas Mahendra Group. Transfer ke nama yang akan kukirimkan. Dalam 24 jam."

"Dan jika tidak?" suara Arka berubah rendah.

"Terlalu klise untuk dijawab, bukan?" suara itu santai.

"Kau akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal dari perusahaan."Sambungnya lagi dengan nada mengancam.

Tangan Aira menutup mulutnya sendiri, Air matanya jatuh.

Arka tidak bergerak.

"Buktinya,Aku akan kirim sesuatu." lanjut pria itu.

Panggilan pun terputus.

Beberapa detik kemudian,Sebuah pesan masuk.

Video....

Arka tidak langsung membukanya,tangannya menegang.

"Apa isinya?" bisik Aira.

Arka menatapnya,"Apa pun isinya... kamu harus siap."

Aira menggeleng,"Tidak ada yang bisa membuat saya siap untuk ini."

Arka membuka video itu.

Layar menyala dan dunia Aira runtuh seketika.

Ardan dan Zidan duduk di kursi, tangan mereka diikat.

Mulut tidak disumpal.

Mata mereka merah.

Takut.

"Papa...?"

Suara Zidan terdengar lirih membuat Aira jatuh berlutut.

"Tidak... tidak... tidak..."

Ardan mencoba kuat,"Tante Aira jangan nangis..."

Kalimat itu menghancurkan segalanya, Aira menutup wajahnya.

Tangisnya pecah tanpa suara, sementara Arka tidak bergerak, tidak berbicara tapi matanya…

Gelap, Sangat gelap. Seperti amarah rang baru saja memuncak.

"Aira."

Suara Arka pelan,bahkan terlalu pelan membuat Aira mengangkat wajahnya.

"Kita tidak punya waktu untuk menangis" katanya.

"Bagaimana saya bisa tidak menangis Arka, Mereka hanya anak anak yang tidak tau apa apa?!" suara Aira pecah.

"Mereka anak saya" potong Arka tajam.

Hening.

Kalimat itu keras,terlalu keras. Aira menatapnya dengan mata basah.

"Dan saya...?" suaranya bergetar.

Arka terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia berkata pelan,"Dan kamu... sekarang bagian dari ini."

Jawaban itu tidak hangat.

Tidak lembut tapi cukup untuk membuat Aira berdiri lagi.

Tak lama kemudian Polisi pun datang.

Tim keamanan.

Orang-orang Arka,semua bergerak cepat tapi tidak ada yang cukup cepat sesuai keinginan Arka.

"Pak, jika ini terkait saham, berarti pelaku bukan orang biasa" kata salah satu tim.

"Orang dalam?" tanya Aira cepat.

"Lebih dari itu,Ini orang yang punya akses dan keberanian melawan Pak Arka.” jawab pria itu.

Semua orang tahu apa Maksudnya.

Musuh besar Mahendra yang tidak ingin melihat Arka bahagia.

Arka berdiri di tengah ruang kerja.

Telepon masih di tangannya.

"Siapkan dokumen transfer" katanya.

Semua orang terdiam.

"Pak...?" salah satu staf ragu.

"Sekarang!!!" Suara Arka tegas tak terbantahkan

Aira menoleh cepat,"Arka, tunggu!"

Arka tidak menoleh ke arah Aira."Kita tidak tahu apakah mereka akan menepati janji!" lanjut Aira.

Arka akhirnya menoleh ke arah Aira karna ucapan Aira,tatapannya dingin.

"Dan kita juga tidak punya pilihan."

Aira mendekat.

"Kalau Anda menyerahkan perusahaan, maka semuanya selesai"

"Kalau saya tidak menyerahkannya, mereka mati."

Kalimat itu seperti menamparnya, Aira terdiam.

"Apa yang lebih penting bagi Anda?" tanya Aira pelan.

Arka menatapnya,"Anak-anak saya."

"Lalu kenapa Anda masih ragu?" suara Aira bergetar.

Arka tidak menjawab.

Aira mundur satu langkah. "Karena perusahaan itu bukan hanya uang, kan? Karena itu identitas Anda, Karena tanpa itu, Anda bukan siapa-siapa.” bisiknya.

Tatapan Arka berubah.

"Aira...."

"Jawab saya," potong Aira.

"Kalau hari ini Anda kehilangan semuanya, apakah Anda masih bisa menjadi ayah mereka?"

Hening.

Pertanyaan itu terlalu dalam.

Terlalu jujur,dan terlalu menyakitkan.

Telepon berdering lagi.

Bukan nomor asing.

Nama yang muncul membuat Arka membeku.

"Rendra Mahendra."

Aira mengernyit. "Siapa itu?"

Arka tidak menjawab, Ia mengangkat telepon itu.

"Sudah lama sekali Arka" suara di seberang terdengar tenang.

Aira melihat perubahan di wajah Arka.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Tapi sesuatu yang lebih berbahaya,Masa lalu.

"Kau…Tidak mungkin." rahang Arka mengeras.

"Semua orang pikir aku sudah mati, kan?" suara itu tertawa kecil.

Dunia Aira terasa berputar.

"Siapa dia?" bisiknya.

Arka menjawab pelan,"Kakak saya."

Sunyi jatuh di ruangan itu seperti bom.

“Kenapa…?” suara Aira hampir tidak terdengar.

Arka menutup matanya sejenak.

"Dia hilang bertahun-tahun lalu," katanya pelan.

"Dan sekarang dia kembali untuk menghancurkan semuanya."

Telepon di tangan Arka masih aktif.

"Jangan terlalu emosional, adik kecil" suara Rendra santai.

"Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku." Sambungnya

"Dengan menculik anak-anak saya?" suara Arka bergetar marah.

"Hanya untuk membuatmu memilih, Sepertu dulu Adik kecil” jawab Rendra.

Aira mengerutkan kening.

"Seperti dulu?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel