Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

"Tidak akan memaksa apa pun. Tidak akan menuntut peran istri selain yang tertulis di kontrak."

Aira menatapnya.

"Dan anak-anak?" tanya Aira.

"Tidak akan diberi tahu sekarang."

"Lalu apa yang akan mereka lihat?"

"Kita menikah,tapi tidak di hadapan mereka. Di rumah ini, Anda tetap ‘Tante Aira’."

Dada Aira terasa sesak.

"Apa Anda sadar betapa rumitnya ini?"

Arka mengangguk. "Hidup saya memang penuh dengan kerumitan."

Aira tertawa pelan. "Dan anda sudah menyeret saya ke dalamnya."

"Ya!!"

Aira mengusap wajahnya, lalu menghela napas panjang.

"Baik,Saya setuju." katanya akhirnya.

Arka menatapnya tajam. "Anda yakin?"

"Tidak,Tapi saya tidak punya pilihan." jawab Aira jujur.

Arka tidak membantah. Karena mereka berdua tahu itu benar adanya.

Mobil melaju dalam keheningan.

Aira duduk di kursi penumpang, mengenakan gaun sederhana warna krem, tidak ada riasan berlebihan.

Tidak ada bunga,tidak ada gaun putih. Hanya dirinya dan keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Arka duduk di belakang kemudi.

Fokus.

Tenang.

Seolah yang akan mereka lakukan hanyalah rapat penting, bukan pernikahan.

"Kita akan langsung kembali setelah selesai,” kata Arka.

Aira mengangguk.

"Dan mulai malam ini Anda pindah ke kamar tamu di lantai dua." Arka berhenti sejenak.

Aira menoleh cepat. "Bukan kamar utama?"

"Itu kamar saya."jawabnya cepat

"Dan anak-anak?"tanya Aira lagi

"Kamar mereka tetap."

Aira menelan ludah.

Bagi Arka baik jarak fisik, jarak emosional, semuanya tertata rapi, Di atas kertas.

Kantor KUA itu terlihat sepi.

Hanya ada penghulu, satu saksi dari pihak Arka, dan satu staf administrasi.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada doa panjang.

Tidak ada tangis haru.

Ketika penghulu mulai membaca ijab kabul, Aira merasa tangannya dingin.

Arka duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat

Ataupun terlalu jauh.

"Saudara Arka Mahendra bin...." suara penghulu menggema lembut memulai pembacaan ijab Qabulnya.

Aira menunduk.

Ketika ijab kabul diucapkan, suara Arka mantap, Jelas, Tanpa ragu.

Dan ketika kata sah terdengar…

Aira tidak menangis,Ia hanya merasa aneh.

Seperti seseorang yang baru saja melompat, tapi belum menyentuh tanah.

Arka menoleh padanya.

"Mulai sekarang,Anda istri saya." katanya pelan,

Aira mengangguk,"Iya."

Tidak ada senyum.

Tidak ada ucapan selamat.

Hanya kesadaran bahwa hidupnya telah bergerak tanpa suara.

Mereka pulang menjelang sore, Anak-anak berlari menyambut begitu pintu terbuka.

"Tante Aira!" seru Zidan.

Aira berjongkok, memeluk mereka sekilas, Arka memperhatikan dari belakangnya.

"Papa kenapa lamaaa" protes Ardan.

"Papa dan Tante Aira Ada urusan" jawab Arka.

"Urusan apa?"

Arka menatap Aira sepersekian detik,"Urusan orang dewasa."

Anak-anak meringis, tidak puas, tapi terpaksa menerima jawaban Arka.

Aira berdiri.

Ia sadar sejak detik ini, setiap langkahnya akan diawasi oleh kontrak yang tak terlihat.

**

Malam harinya, setelah anak-anak tidur, Aira memasuki kamarnya,ia berdiri di depan cermin kamar tamu.

Kamar yang bersih, nyaman tapi terasa asing.

Ia menyentuh cincin sederhana di jarinya,bukan cincin mewah.

Tapi memiliki makna yang berat.

Ketukan terdengar di pintu.

Tok.... Tok....

Aira membuka pintunya dan ternyata Arka berdiri di sana.

"Jika Anda berubah pikiran...." katanya.

Aira menggeleng. "Tidak!!"

Arka mengangguk.

"Selamat datang di rumah,Mahendra" ucapnya datar.

Aira menatapnya lama.

"Terima kasih" jawabnya pelan.

Arka berbalik pergi dan saat pintu itu tertutup,Aira duduk di tepi ranjang.

Air matanya jatuh satu persatu,bukan karena sedih,bukan karena bahagia.

Tapi karena ia tahu,Pernikahan ini mungkin dimulai tanpa cinta,tapi yang namanya perasaan pasti tidak pernah mau patuh pada kontrak.

**

Malam sudah berganti dengan pagi,tidak ada ucapan "selamat pagi, istriku."

Tidak ada kecupan di kening.

Tidak ada sarapan berdua di meja yang sama.

Yang ada hanyalah suara langkah kaki Arka di koridor lantai bawah, teratur, disiplin, seperti hidupnya yang selalu berada di jalur kendali.

Aira terbangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena alarm.

Melainkan karena kesadaran yang menyadarkannya pelan tapi konstan.

Cincin itu masih ada di jarinya. Ia mengangkat tangannya perlahan,

Cincin emas polos itu melingkar di jari manisnya, dingin, sederhana, tapi terlalu nyata untuk dianggap sebuah mimpi.

"Istri."

Kata kata itu kini terasa asing buat Aira.

Ia bangkit, merapikan tempat tidur kamar tamu yang kini resmi menjadi kamarnya.

Tidak ada barang pribadi Arka di sana. Tidak ada jejak maskulinitas, tidak ada aroma parfum mahal.

Kamar ini terlihat netral, seperti posisinya di rumah ini.

Netral, sementara, dan mudah digeser dan dapat di ubah ubah.

Aira turun ke lantai bawah.

Dari kejauhan, ia mendengar suara tawa kecil Ardan dan Zidan.

Ia berhenti di ujung tangga.

Dua anak kembar itu duduk di meja makan, masih dengan piyama, rambut acak-acakan.

Arka duduk di seberang mereka, memegang tablet, sesekali menjawab pertanyaan mereka dengan singkat.

Pemandangan itu…

terlalu normal, bahkan terlalu normal untuk yang namanya keluarga.

Dan justru itu berbahaya bagi Aira.

Aira melangkah mendekat.

"Tante Aira!" seru Zidan lebih dulu.

Ardan menyusul, turun dari kursi dan berlari memeluk kakinya.

Aira refleks mengusap rambut mereka, refleks yang seharusnya bisa ia kendalikan dengan bersikap biasa saja.

"Pagi" Jawab Aira lembut.

Arka mengangkat pandangannya.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada kelembutan baru.

Tidak ada jarak baru juga.

Hanya kesepakatan diam yang berdiri di antara mereka.

"Duduk" kata Arka singkat.

Aira menurut.

Ia duduk di kursi yang sama seperti kemarin,karna baginya itu adalah posisi yang aman.

"Tante, hari ini kita ke taman?" tanya Ardan penuh harap.

Aira menoleh ke Arka, menunggu jawaban Arka.

Arka menghela napas kecil,"Setelah Papa pulang kerja."

Mata anak-anak berbinar, Aira pun tersenyum kecil.

"Papa kerja?" tanya Zidan.

"Ya."

"Kok Tante nggak ikut kerja?" tanya Ardan polos.

Pertanyaan itu membuat Aira menegang.

Saat Ia hendak membuka mulut...

"Tante Aira di rumah,Tugasnya di sini." potong Arka cepat.

Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi terasa seperti pengingat akan posisinya.

Aira menunduk tanpa kata lalu berpura pura menyesap teh hangat yang ada di depannya.

Pukul sembilan pagi, rumah kembali sepi. Anak-anak diantar ke les renang.

Arka bersiap berangkat ke kantor, Aira berdiri di dekat pintu, ragu.

Apakah ia harus mengantar?

Apakah itu melanggar batas?

Arka mengenakan jasnya, lalu berhenti.

"Ada satu hal" katanya tanpa menoleh.

"Apa?" tanya Aira.

"Mulai hari ini, Anda akan jadi bagian dari sorotan."

Aira mengernyit,"Sorotan apa?"

Arka berbalik,"Media."

Jantung Aira berdegup lebih cepat.

“Seseorang dari KUA membocorkan Pernikahan saya sudah terdaftar. Nama Anda juga tercantum di sana."

Aira membeku,"Secepat itu?"

"Nama saya selalu cepat di kenal,Dan orang-orang selalu penasaran jika CEO Mahendra Group menikah diam-diam." jawab Arka datar.

Aira menelan ludah,"Apa yang akan Anda lakukan?"

"Diam."

"Hanya itu?"tanya Aira

"Ya."

"Dan saya?"

Arka menatapnya lurus, "Jangan bicara pada siapa pun. Jangan keluar rumah tanpa sopir. Jangan unggah apa pun."

"Apa saya tahanan?" tanya Aira pelan.

Arka terdiam sejenak.

"Tidak,Saya rasa Anda belum siap menghadapi mereka.” katanya akhirnya.

"Atau mungkin Anda belum siap menghadapi konsekuensinya menjadi istri saya." Kalimat itu tidak diucapkan Arka.

Arka melangkah keluar.

Pintu tertutup dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu sah, Aira benar-benar sendirian.

Aira duduk di ruang keluarga, menatap layar ponsel.

Ia tahu ia tidak seharusnya membuka berita. Tapi rasa ingin tahu selalu lebih kuat dari ketakutan.

Satu notifikasi muncul.

"BREAKING NEWS: CEO Mahendra Group Menikah Diam-Diam?"

Tangannya gemetar, Ia membukanya. Foto Arka terpampang jelas. Judul-judul bermunculan seperti hujan.

"Siapa Wanita Misterius di Balik Pernikahan Tertutup Arka Mahendra?"

"Tanpa Resepsi, Tanpa Publikasi: Pernikahan Paling Rahasia Tahun Ini. Kontrak atau Cinta? Spekulasi Publik Meningkat”

Aira menutup ponsel itu cepat, dadanya terasa sesak.

Ia tidak pernah meminta ini, tidak pernah bermimpi menjadi headline.

Ia hanya ingin ibunya sembuh dan sekarang Ia menjadi istri pria yang hidupnya bukan miliknya sendiri.

Bel pintu berbunyi.

Aira terlonjak kaget, Ia menatap jam. Masih terlalu pagi untuk Arka pulang.

Ia ragu, lalu mendekat.

"Siapa?" tanya Aira pelan.

"Kurir."

Aira membuka pintu sedikit, sebuah kotak besar disodorkan.

"Untuk Nyonya Mahendra."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel