Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

"Nanti kita bicara, tentang aturan rumah. Dan tentang kontrak." lanjut Arka dengan suara kembali dingin.

Aira mengangguk pelan.

Arka menutup pintu perlahan.

Namun sebelum benar-benar pergi, suaranya terdengar lagi, lebih rendah.

"Terima kasih... Karna kamu memilih untuk melanjutkan kontrak ini setelah bertemu mereka."

Satu jam kemudian

Pagi itu tidak ada suara sepatu menginjak marmer. Tidak ada suara telepon berdering, tidak ada aroma kopi pahit yang biasanya memenuhi rumah itu.

Ia menatap jam di dinding, Pukul enam lewat sepuluh.

Dan Arka belum berangkat?

Biasanya pria itu sudah meninggalkan rumah bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik.

Ardan menggeliat kecil, Zidan mendengus pelan.

Aira bergerak perlahan, berhasil melepaskan diri tanpa membangunkan mereka.

Ia keluar kamar dengan langkah ringan. Ruang makan tampak sepi, Lampu sudah menyala.

Dan di sana Arka duduk di ujung meja panjang. Tanpa jas, tanpa laptop.

Hanya secangkir kopi hitam di depannya dan map hitam yang sangat Aira kenal.

"Selamat pagi" sapa Aira ragu.

Arka mengangkat wajahnya.

"Duduk!!" ucapnya singkat, Nada itu bukan ajakan tapi perintah.

Aira menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya, menjaga jarak.

"Anak-anak masih tidur' lapor Aira.

"Biarkan,Hari ini saya ambil cuti." jawab Arka.

Kening Aira terangkat tanpa sadar.

"CEO mengambil cuti?"

"Ini rumah saya dan hari ini, rumah ini perlu diatur ulang." balas Arka datar.

Jantung Aira berdegup kencang,perasaannya mulai merasa tidak nyaman.

Arka membuka map hitam itu, beberapa lembar kertas tertata rapi.

"Kontrak pernikahan kita, dan mulai hari ini, aturan rumah sudah mulai berlaku." ucapnya dingin.

Aira mengangguk, tangannya terlipat di pangkuan.

"Aturan pertama : Anda adalah istri saya secara legal. Tapi tidak di depan anak-anak. Mereka tidak boleh bingung." Arka menatap lurus.

Aira mengangguk lagi,"Saya paham."

"Aturan kedua : Anda bukan pengganti ibu mereka." lanjut Arka

Kalimat itu seperti ujung pisau yang menggores kulit Aira.

Aira hanya bisa tersenyum tipis, "Saya tidak pernah berniat menggantikan siapa pun."

"Tapi apa yang Anda lakukan seperti itu" potong Arka cepat.

"Karena mereka yang meminta Bukan karena saya yang memaksa." balas Aira pelan tapi tegas.

Hening....

Arka menghela napas pelan, sesuatu yang jarang ia lakukan.

"Aturan ketiga : Tidak ada janji janji yang akan membuat mereka berharap" katanya, sedikit melunak.

Aira menegang.

"Tidak ada kata 'Selamanya'. Tidak ada 'Mama' "

Aira menggenggam jarinya sendiri.

"Kalau mereka bertanya?" tanyanya pelan.

"Katakan sejujurnya,Bahwa Anda tinggal di sini… untuk sementara." jawab Arka.

Kata itu kembali "Sementara"...

"Aturan keempat : Jaga jarak emosional." Arka menatapnya lebih dalam.

Aira tertawa kecil, getir,"Bagaimana caranya?"

"Itu bukan urusan saya,Itu tanggung jawab Anda sebagai pihak yang menandatangani kontrak." balas Arka dingin.

Aira menunduk.

"Dan aturan terakhir : Jangan membuat saya… kehilangan kendali atas rumah ini." suara Arka sedikit merendah.

Aira mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya tak mengerti maksud dari Arka "Kehilangan kendali karena apa?"

"Karena perasaan" jawab Arka jujur bahkan terlalu jujur.

Hening terjadi di antara mereka, Aira menarik napas panjang.

"Sekarang giliran saya" katanya pelan.

Arka menyandarkan punggung ke kursi. "Silakan!!"

"Aturan saya sederhana,Jika Anda ingin saya menjaga jarak emosional, maka Anda juga harus berhenti menggunakan anak-anak sebagai alasan untuk menekan saya." ucap Aira.

Tatapan Arka mengeras, "Contohnya?"

"Larangan tidur bersama mereka,Bukan karena itu salah. Tapi karena Anda takut mereka terlalu dekat dengan saya." jawab Aira lugas.

Arka terdiam.

"Jika Anda ingin batas,maka batas itu harus adil." lanjut Aira,

"Dan aturan Anda yang lain?" tanya Arka dingin.

"Jangan mengingatkan saya setiap hari bahwa saya hanya istri kontrak,Saya tahu posisi saya." ucap Aira lirih.

Hening kembali terjadi di ruangan itu, dan langkah kecil sudah mulai terdengar dari arah tangga.

"Papa?" Suara Zidan.

Arka dan Aira menoleh bersamaan. Dua anak kembar itu berdiri di anak tangga terakhir, masih dengan piyama dan rambut berantakan.

"Papa nggak kerja?" tanya Ardan polos.

Arka berdiri.

"Hari ini Papa di rumah."

Mata kedua anak itu berbinar.

Aira hendak bangkit dari duduknya tapi Arka menahan lengannya.

"Di depan mereka,ingat aturan." ucap Arka pelan,

Aira mengangguk.

Zidan mendekat dan memeluk kaki Aira.

"Tante ikut sarapan bersama kami?"

Aira menoleh ke Arka, Pria itu mengangguk tipis.

Itu bukan persetujuan melainkan toleransi.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, mereka sarapan bertiga. Aaaahh.... tidak,tapi berempat.

---

Sarapan pagi itu berjalan dengan keheningan,tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan,

sendok beradu dengan piring, suara susu dituangkan ke gelas, dan sesekali tawa kecil Ardan atau Zidan ketika mereka saling berebut roti panggang.

Aira duduk di samping mereka.

Bukan di kepala meja.

Bukan pula terlalu jauh.

Posisi yang pas seolah rumah itu sendiri sedang menguji di mana seharusnya ia berada.

Arka duduk berseberangan.

Kemejanya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan, ekspresi wajahnya kembali terkendali.

Tapi Aira menangkap satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Tatapan Arka.

Ia tidak menatap anak-anaknya.

Ia menatap Interaksi yang terjadi di meja itu.

Cara Zidan tanpa sadar menyodorkan sendoknya ke arah Aira.

Cara Ardan meminta Aira meniupkan sup yang masih panas.

Cara Aira yang reflek melakukan semuanya tanpa berpikir.

Dan jujur Arka tidak menyukainya ataukah justru… terlalu menyukainya.

"Papa,hari ini kita ngapain?" kata Ardan sambil mengunyah,

Arka mengalihkan pandangannya,"Kalian sekolah."

"Libur!" sahut Zidan cepat.

Arka menghela napas pelan, "Benar Libur...Papa lupa"

"Kita bisa ke taman?" tanya Ardan penuh harap.

Aira menunduk, pura-pura fokus pada roti di piringnya.

Ia tidak ingin menjawan dan tidak ingin ikut campur.

Tidak ingin melanggar batas yang baru saja mereka tetapkan beberapa jam lalu.

Arka terdiam beberapa detik.

"Kita lihat nanti" jawab Arka akhirnya.

Jawaban aman menurut Arka.

Anak-anak terlihat sedikit kecewa, tapi tidak memaksa.

Zidan menoleh ke Aira. "Tante ikut, kan?"

Pertanyaan itu membuat sendok Aira berhenti ketika ia hendak memasukkan makanan ke mulutnya.

Ia menoleh perlahan ke Arka, tatapan mereka bertemu.

Hanya sepersekian detik.

Cukup lama untuk mengingatkan Aira pada satu kata yang terus berdengung di kepalanya sejak tadi.

"Sementara."

"Kalau Papa mengizinkan" jawab Aira lembut.

Arka mengangguk singkat. "Aira Ikut kalian"

Satu kalimat saja, tidak ada nada emosional, tidak ada tambahan lainnya.

Tapi Aira tahu setiap keputusan Arka selalu punya konsekuensi.

Setelah sarapan, Arka menyuruh pengasuh membawa anak-anak ke taman bermain yang ada di simpang perumahannya.

"Jangan jauh-jauh,nanti Papa dan Aira menyusul" pesan Arka.

"Iya Papa!" jawab mereka serempak.

Begitu langkah kecil itu menjauh, suasana ruang makan kembali berubah.

Udara terasa lebih berat.

Arka berdiri, merapikan manset kemejanya.

"Kita harus menyelesaikan satu hal penting hari ini,” ucapnya.

Aira menegang. "Apa?"

Arka menatapnya lurus. "Pernikahan."

Kata itu jatuh keluar begitu saja dari Arka tanpa Ekspresi.

Tidak dramatis.

Tidak ada jeda.

Tapi dampaknya seperti palu.

Aira menelan ludah. "Hari ini?"

"Ya.."

"Tanpa persiapan?"

"Tanpa persiapan, Tanpa publikasi, Tanpa tamu, Tanpa drama, dan sesuai Kontrak yang sudah kamu tanda tangani" jawab Arka datar.

Aira berdiri perlahan dari kursinya.

"Arka,ini bukan sekadar tanda tangan." katanya pelan,

"Bagi saya, ini hanya legalitas" potong Arka.

"Bagi saya....Pernikahan adalah hidup buat saya" Aira berhenti sejenak, mengambil napas.

Arka terdiam.

Untuk pertama kalinya pagi itu, rahangnya mengeras bukan karena marah, tapi karena masalah pernikahan.

"Kita tidak punya waktu,bukankah Ibu Anda butuh pengobatan lanjutan. Saya sudah mengurus semuanya.” katanya akhirnya.

Aira memejamkan mata, Kalimat itu selalu berhasil membuatnya jadi SkakMat hingga Aira tidak bisa membantah.

"Kapan?" tanyanya lirih penuh kepasrahan

"Siang ini... Di KUA khusus, Saya sudah bicara dengan penghulu."

Aira tertawa kecil, getir. "Cepat sekali."

"Efisien."balas Arka datar

"Keji sekali" balas Aira tanpa sadar.

Arka tidak tersinggung, Ia justru mengangguk kecil. "Mungkin.."

Hening kembali menyelimuti mereka.

Lalu Arka berkata, dengan suara lebih rendah, “Tenang saja, Saya tidak akan menyentuh Anda."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel