Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Ruang Tamu rumah Mahendra suasana kembali Sunyi setelah tangisan kecil mereda.

Aira masih duduk di lantai,sementara dua anak kembar saat ini berada sangat dekat dengannya.

Anak berambut lurus yang bernama Ardan masih memegang ujung Gamis Aira,

Seakan takut Aira akan menghilang jika Ardan melepaskan genggamannya dari Gamis Aira.

Sementara anak yang berambut gelombang yang bernama Zidan masih memeluk Dinosaurusnya tapi tubuh kecilnya sedikit bersandar ke bahu Aira.

Arka berdiri beberapa langkah di belakang mereka,Ia hanya diam melihat dan memperhatikan cara Aira memperlakukan anak kembarnya.

Bahkan Arka sengaja tidak bergerak,seakaan satu langkah saja bisa merusak momen yang bahkan tidak pernah ia dapati.

"Bawa mereka ke kamar" perintah Arka dengan suaranya sedikit serak kepada pengasuhnya.

Pengasuh si kembar tersentak lalu menganggukkan kepalanya "Baik Tuan..."

Tapi sebelum pengasuh si kembar sempat melangkah,Ardan menatap papanya.

"Papa..."

Arka menoleh,"kenapa sayang?"

"Apa Tante Aira boleh ikut dengan kita ke kamar?"

Aira tediam lalu menatap Arka yang ternyata Arka juga ikut terdiam.

Mereka terdiam dan saling tatap cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan

"Ikut nak" katanya singkat

Kata kata Arka membuat jantung Aira bergetar,Ia bangkit perlahan memastikan kedua anak itu tidak merasa di tinggalkan.

Tangannya refleks terulur,satu tangan di genggam Ardan dan satu lagi ditarik pelan oleh Zidan.

Mereka melangkah menuju kamar si kembar,menaiki tangga menuju lantai atas yang begitu terasa panjang bagi Aira .

Dinding dinding rumah itu dipenuhi lukisan mahal,tetapi tidak satupun terasa hangat.

"Kamar si kembar di sini buk" ucap pengasuh kembar pelan, Ia pun membuka pintu kamar si kembar.

Kamar mereka Luas dengan 2 ranjang kecil berdampingan,Mainan tersusun Rapi,bahkan terlalu rapi untuk kamar anak anak.

"Kenapa kamarnya dingin??" Tanya Zidan tiba tiba.

Aira terdiam sejenak,"mungkin karna jarang ada yang tertawa di sini"ucapnya pelan

Zidan mengerutkan keningnya,"memangnya tante bisa tertawa??"tanyanya polos

Aira tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya "Bisa dong..."

"Ketawa yang keras???"tanya Zidan lagi

"Hhhmm...kadang kadang"balas Aira memasang wajah seperti orang yang sedang berpikir.

Ardan ikut menyela obrolan Zidan " Kalau kami ketawa,apa papa akan marah gak tante??"

Aira menoleh cepat ke arah Arka yang sedang berdiri memperhatikan mereka di depan pintu, karna tadi ia ikut menyusul dari belakang.

"Tidak...Papa tidak marah jika kalian tertawa,justru papa senang melihat kalian tertawa"Jawab Arka datar

Dua anak itu saling berpandangan.

"Papa bohong..."

Arka terdiam.

Melihat Arka yang langsung terdiam membuat Aira buru buru menyela,

"Papa kalian hanya jarang mendengar suara tawa,jadi kadang kadang terlihat terkejut atau marah"

Anak anak itu tertawa kecil tapi cukup untuk membuat dada Arka terasa semakin sesak.

"Kita mandi dulu yuk,sesudah itu kita makan malam"ucap pengasuh si kembar

"Apa tante Aira ikut???"tanya Ardan

Aira tersenyum ragu,"tante tunggu di luar ya..."

Anak itu menatapnya lama."Tante janji akan menunggu kita selesai mandi??"

Aira menganggukkan kepalanya "Tante Janji"

Setelah Aira menjawab,barulah mereka masuk kekamar mandi.

Aira berdiri kaku di depan pintu, "terima kasih" ucap Arka tiba tiba

Aira menoleh ke arah Arka,"terima kasih untuk apa??"

"Untuk tidak memaksa mereka memanggilmu mama"jawab Arka datar.

Aira hanya tersenyum pahit,"mereka bukan barang titipan,Pak Arka. Mereka anak anak yang sedang merasakan kehilang ibu mereka"

Akra menegang "Aku tahu"

Nada itu membuat Aira terdiam.

"Mulai malam ini,kita akan tinggal serumah. Dan ada beberapa peraturan di rumah ini" lanjut Arka datar.

Aira menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.

"Dan satu lagi,jangan kamu memberikan janji yang tidak bisa kamu tepati kepada anak anak"ucap Arka sambil menatapnya tajam.

Aira membalas tatapan itu dengan tenang.

"Kalau begitu jangan jadikan anak anak sebagai asalan Kontrak ini terjadi"

Hening...

Arka langsung mengalihkan pandangannya dan berjalan meninggalkan Aira.

---

Makan malam pun berlangsung setelah anak anak selesai mandi.

Anak anak duduk diantara mereka,"kenapa papa gak makan???" Tanya Zidan

"Papa tadi sudah makan"jawab Arka

"Papa Pasti bohong,papa selalu berbohong soal makan" kata anak itu polos.

Tetiba Aira menahan senyumnya saat mendengar protes dari anak anak Arka.

"Papa harus makan,Kalau tidak nanti papa sakit" ucap Aira lembut sambil memainkan matanya seperti memberikan kode kepada Arka untuk ikut makan bersama.

"Ok ok ok...baiklah"jawab Arka yang akhirnya patuh dengan ucapan Aira

Bahkan sikap Arka membuat pengasuhnya si kembar terkejut karna tak biasanya melihat tuannya patuh dengan perintah orang lain

Setelah makan,anak anak menolak untuk tidur cepat.

"Tante mau membacakan kami cerita??"pinta anak berambut lurus.

Aira terdiam sejenak.

"Papa jarang membacakan kita cerita tante..."tambahnya.

Semua mata tertuju kepada Aira hingga membuat Aira menjadi salah tingkah.

"Cerita apa??"tanya Aira akhirnya

"Apa aja tante,cerita sebelum tidur"jawab mereka hampir bersamaan.

"Hhhmmm...ok baiklah"jawab Aira yang duduk di tepi Ranjang.

Ia mulai bercerita tentang bintang,tentang anak anak yang tidak takut gelap,tentang rumah yang selalu menunggu.

Perlahan mata kecil itu terpejam,saat Aira berdiri perlahan...tangan kecil itu menahannya.

"Tante tidur disini saja bersama kami" bisik Ardan

Aira menoleh ke arah Arka yang sedang berdiri didepan pintu.

"Yaudah...kamu tidurlah di sini"ucap Arka pelan sebelum Arka meninggalkan mereka.

Malam itu Akhirnya Aira tertidur di antara dua anak kembar,Ardan dan Zidan.

Dan di balik pintu,Arka berdiri lama,untuk pertama kalinya,rumah itu tidak lagi terasa kosong.

Dan untuk pertama kalinya Arka bertanya dalam hati,apa yang sebenarnya yang sedang ia ikat dengan kontrak itu??

***

Pagi pun berganti,tidak ada alarm berbunyi,tidak ada langkah tergesa para asisten,tidak ada rapat yang menunggu Arka hari ini.

Hanya cahaya mentari yang menyelinap perlahan dari sela tirai tipis di wajah Aira.

Aira mengerjapkan matanya dan butuh beberapa detik buatnya untuk menyadari bahwa ia malam tadi tidak tidur sendirian.

Satu lengan kecil melingkar di pinggangnya,sedangkan yang satunya lagi menempel dibahunya dan terasa hangat.

Aira menahan nafasnya,perlahan menoleh ke arah 2 wajah kecil yang tertidur pulas di kanan kirinya.

Ardan dengan rambut sedikit acak acakan,dan dinosurusnya yang tergeletak di bawah bantal.

Zidan memeluk ujung gamis Aira bahkan sejak mereka belum tertidur.

Tetiba dadanya menghangat dan sekaligus terasa nyeri.

"Aku tidak boleh terbiasa,Karna aku hanya menjadi ibu sementara mereka"ucapnya dalam hati.

Ia mencoba menggerakkan badannya dengan sangat pelan.

Tapi sebelum sempat menarik tubuhnya turun dari ranjang,Zidan mengerang kecil.

"Hhhmm...Tante.."

Membuat Aira menjadi membeku,"Iya??'bisiknya pelan

"Jangan pergi"

Aira menelan ludahnya..

"Tante Aira di sini aja"jawabnya lirih.

Zidan kembali tidur dengan tenang.

Sementara Ardan bergumam dalam tidurnya,lalu tanpa sadar menempel lebih dekat pedanya.

Aira memejamkan matanya "ini berbahaya,berbahaya untuk hati mereka dan juga aku" pikirnya

Ketukan pelan terdengar dari pintu

Tok...

Tok...

Tok...

Aira menoleh cepat,pintu kamar terbuka sedikit,Arka berdiri di depan pintu.

Ia tidak masuk,tatapannya tertuju kepada pemandangan di hadapannya.

Aira di tengah,dua anak anaknya di sisi kiri dan kanan. Mereka terlihat tidur dengan tenang,untuk beberapa detik membuat Arka lupa untuk bernafas.

Ia berdiri disana,jas belum dikenakan,kemeja putih masih terbuka satu kancingnya.

Rambutnya sedikit berantakan,sesuatu yang jarangbahkan tidak pernah terjadi pada Arka selama ini...

Arka berdiri di ambang pintu cukup lama.

Terlalu lama untuk sekadar memastikan anak-anaknya sudah bangun atau belum.

Terlalu lama untuk pria yang biasanya menghitung waktu setiap detik.

Dadanya naik turun perlahan, Pemandangan itu tidak seharusnya mengusik dirinya.

Aira berada tengah, sementara dua anaknya di sisi kiri dan kanan.

Mereka terlihat tenang seperti potongan hidup yang selama ini hilang kini kembali lagi.

"Pak Arka?" bisik Aira sangat pelan, takut membangunkan Ardan dan Zidan.

Arka tersentak dari lamunannya, Seolah baru sadar dirinya ketahuan menatap Aira.

"Maaf" ucapnya rendah.

Satu kata tapi cukup membuat Aira terkejut.

"Untuk...?" Aira bertanya hati-hati.

Arka tidak langsung menjawab tapi tatapannya masih tertuju pada dua anak kecil itu.

"Untuk membiarkan ini terjadi,Tanpa batas." katanya akhirnya.

Aira mengernyit pelan. "Mereka hanya tertidur."

"Justru itu...Mereka tidak pernah tidur setenang ini sebelumnya." Arka mengangkat wajahnya.

Tatapannya tajam, tapi terlihat ada sesuatu yang goyah di dirinya.

Hening....

Aira menelan salivanya, Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Pak Arka..."

"Arka...Itu juga aturan. Panggil nama saya hanya saat kita sedang Berdua,” potong Arka cepat membuat Aira terdiam.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel