Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

"Saudari Aira Rahmani."

Nada Suaranya Tegas,dan datar tanpa emosi.

Aira mengangkat wajahnya perlahan.

"Silakan duduk."

Aira pun duduk dengan tangan saling menggenggam. Jantungnya berdetak kencang apalagi ruangan itu terlalu luas, terlalu dingin, terlalu mewah untuk perempuan seperti dirinya.

"Ini wawancara kerjakan Pak?" tanya Aira yang sedang berusaha menenangkan diri.

"Bukan." Jawab Laki laki yang ada di hadapannya.

Satu kata itu mampu membuat dadanya langsung menegang,detak jantung Aira menjadi tidak karuan.

"Lalu... kenapa saya dipanggil ke sini jika ini bukanlah wawancara untuk pekerjaan?"

Pria yang ada di hadapannya adalah Arka Mahendra,CEO Perusahaan Properti Mahen Group yang memiliki cabang di beberapa kota .

Ia menyandarkan tubuhnya kepada Sandaran kursi kebesarannya, Tatapannya menusuk ketika ia memperhatikan Aira.

"Karena Anda membutuhkan uang."

Aira tersentak.

"Dan saya,membutuhkan seorang istri" lanjut Arka

Hening....

Suasana ruangan menjadi hening,yang terdengar hanya suara hembusan AC di ruangan itu.

"Apa? Maksud Anda Pernikahan kontrak?" Aira tertawa kecil untuk menghilangkan kegugupannya.

"Pak Arka, ini tidak lucu... Pernikahan bukanlah sebuah permainan,Saya tidak tidak suka dengan cara bercanda Anda"

Ia mendorong map hitam ke arah Aira.

"Baca..."

Aira membukanya, Judul dokumen itu membuat napasnya tercekat.

"Perjanjian Pernikahan Bersyarat."

"Ini gila," gumam Aira.

"Ini sebuah solusi." Balas Arka

Aira menutup map itu dengan kasar.

"Kenapa anda meminta saya untuk melakukan pernikahan kontrak ini?"

"Karena Anda bersih.."

"Bersih? Maksud anda apa??"

"Anda tidak memiliki latar belakang bermasalah, Tidak punya pasangan, Tidak punya keluarga yang bisa mengganggu "

Setiap kata seperti mata pisau yang siap menoreh luka di kulitnya.

"Dan karena ibu Anda sedang sakit" tambah Arka datar.

Aira terdiam,"Jangan bawa bawa ibu saya."

"Justru karena itulah Anda di sini." Balas Arka datar

"Apa Anda mengancam saya?"

"Tidak... Saya memberikan penawaran kepada Anda." Balasnya Lagi

Aira tersenyum getir "Menikah dengan orang asing?"

"Dengan saya,Aira. Arka Mahendra"balas Arka yang sedang menautkan jari jarinya.

"Dan setelah itu?" Tanya Aira datar

"Anak-anak saya membutuhkan seorang ibu."balas Arka cepat

"Apa saya akan tidur dengan Anda juga?"tanya Aira lagi.

"Tidak wajib."jawabnya datar

"Apa saya harus mencintai Anda?" Tanya Aira lagi

"Tidak boleh!!"balas Arka Cepat

Aira menatapnya tajam,"Tidak boleh? MAksud Anda??"

Arka mencondongkan badannya ke meja "Itu aturan pertama."

"Berapa lama kontrak ini?"tanya Aira

"Tidak terbatas,sampai saya sendiri yang membatalkannya"

Aira berdiri dan siap untuk melangkah meninggalkan ruangan Arka Mahendra.

"Maaf Pak Arka.... Saya tidak menjual hidup saya untuk pernikahan Kontrak yang tidak jelas waktu berakhirnya kontrak"

"Lima ratus juta..!!"

Langkah Aira terhenti ketika ia hendak membuka pintu.

"Untuk biaya pengobatan ibu Anda,dan ada biaya lainnya"

Hening...

"Dan jika saya menolak?" Jawab Aira setelah diam beberapa saat.

"Tidak apa-apa,itu tergantung anda. Dimana lagi anda akan mendapatkan uang untuk pengobatan ibu anda"

"Benarkah?"tanya aira memastikan

"Ya!!"

Aira menoleh.

"Jika saya menolak, siapa yang akan menjadi ibu untuk anak-anak Anda?"

"Saya akan mencari yang lain" Jawaban itu membuat dada Aira sesak.

"Berapa hari anda memberikan saya waktu untuk berpikir?"

"Tiga"

Aira menggenggam map itu erat, "Jika saya setuju???"

“Mulai hari dimana Anda menanda tangani surat kontrak itu, Anda resmi menjadi istri saya."balas Arka

"Dan jika suatu hari saya ingin pergi?"

Arka berdiri dan menghampiri Aira "Kontrak ini hanya berakhir jika salah satu melanggar,atau saya sendiri yang membatalkan"

"Enak di anda dong... Lalu jika tidak ada yang melanggar?"

Tatapan Arka mengeras,"Berarti seumur hidup."

Aira memejamkan mata.

Ia tidak tahu keputusan apa yang akan diambilnya.

Dan satu hal pasti, Ia baru saja berdiri di tepi jurang.

**

Akhirnya Aira mengambil Keputusan setelah tiga hari kemudian.

Tanpa air mata, tanpa teriakan dan tanpa keraguan

Hanya satu tanda tangan.

Dan sore itu juga, Aira di jemput oleh mobilnya Arka dan saat ini sudah berada di depan gerbang rumah besar milik Arka Mahendra.

Rumah itu bukan hanya besar, Ia merasa seperti berada di dunia lain.

Gerbang besi tinggi terbuka perlahan.

Mobil yang ditumpanginya melaju masuk ke halaman luas dengan taman tertata rapi.

Air mancur kecil mengalir tenang di tengah halaman.

Aira menelan Salivanya,menatap kagum pekarangannya

"Ini rumah mereka?" tanyanya pelan kepada sopirnya Arka.

"Ini Baru pekarangan rumahnya saja,gimana isi dalamnya"gumamnya berbisik pelan

"Iya Bu Aira..." jawab sopir singkat.

Kata "Bu" membuat jantung Aira berdetak cepat dan terasa aneh.

Mobil berhenti,Sopir turun dari mobil dan membuka Pintu mobil Aira.

Saat Aira melangkah turun,ia langsung merasakan tatapan, Dua pasang mata kecil yang sudah menunggu dirinya.

Mereka berdiri di ambang pintu utama bersama Seorang pengasuh di belakang mereka.

"Anak kembar."Gumam Aira

Satu anak laki-laki dengan rambut sedikit bergelombang, memeluk boneka dinosaurus hijau.

Yang satunya lagi, rambut lurus, memegang mobil mobilan kecil dengan tangan gemetar.

Aira membeku, Dadanya tetiba merasa sesak.

"Jadi Ini mereka,si Kembar anaknya pak Arka Mahendra" gumam Aira

Langkah kaki terdengar dari belakang.

"Masuk."Perintah Arka.

Aira mengangguk dan melangkah masuk meski kakinya  terasa berat.

Ruang tamunya luas, sunyi, bahkan terlalu sunyi untuk rumah yang seharusnya diisi tawa anak-anak.

Arka berdiri di depan anak anak kembarnya,ART dan pengasuh si kembar.

"Ini Aira,Mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita." ucapnya singkat.

Tidak ada kata "istri", tidak ada kata "mama".

Hanya kalimat kaku dan Rancu di telinga Aira.

Anak yang memeluk dinosaurus menatap Aira tanpa berkedip.

Anak satunya bersembunyi di balik kaki pengasuhnya.

"Papa?" Panggil salah satu dari mereka yang terdengar ragu ragu.

"Kenapa dia pakai baju seperti mama?"

Pertanyaan itu seperti palu godham yang hantam Aira tanpa ampun.

Tangannya bergetar.

Arka terdiam sejenak.

"Karena Aira orang baik"

Jawaban yang buruk,jujur dan menyakitkan bagi Aira.

Aira perlahan berjongkok dan menyamakan tinggi badannya dengan mereka.

"Halo,Namaku Aira." ucapnya lembut.

Anak yang berambut gelombang dan sedang memegang dinosaurus tidak menjawab.

Yang satu lagi masih mengintip setengah wajah.

"mama?" tanyanya lirih.

Jantung Aira seperti diremas saat satu pertanyaan keluar dari salah satu di antara mereka, Aira menoleh sekilas ke arah Arka.

Pria itu berdiri kaku, tatapannya tajam, seolah memberi peringatan.

Aira kembali menatap anak itu.

"Tante Aira bukan mama kalian,Tapi Tante Aira akan tinggal di sini bersama kalian." katanya jujur.

Anak kecil itu mengerutkan kening.

"Terus mama kami di mana?"

Hening.

Pengasuh si kembar hanya bisa menunduk, Sementara Arka memalingkan wajah.

Aira hanya bisa menghela napas pelan,bingung mau mengatakan apa.

"Mama kalian sedang berada di tempat yang sangat jauh,Tapi mama kalian pasti sayang kalian." jawabnya hati-hati.

Anak yang berambut gelombang dengan dinosaurus di tangannya tiba-tiba melangkah maju.

"Kalau jauh,kenapa mama nggak pulang?" katanya polos

Aira tercekat, Ia mengulurkan tangannya perlahan.

"Boleh tante Aira duduk di sini?"

Anak itu tidak menjawab.

Namun ia tidak mundur.

Aira duduk di lantai.

Diam.

Tidak memaksa.

Beberapa detik berlalu.

Anak yang berambut lurus dengan mobil-mobilan ditangan mendekat sedikit demi sedikit.

"Kalau nanti tante pergi,Papa marah nggak?" bisiknya tiba-tiba,

Aira terkejut."Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Pengasuh sering pergi meninggalkan kita,Mama juga pergi" jawabnya polos.

Hati Aira remuk, Ia menggeleng pelan.

"Tante Aira tidak akan pergi begitu saja tanpa berpamitan."

Anak itu menatapnya lama, "Janji?"

Aira mengangguk.

"Janji."

Tangan kecil itu perlahan menyentuh ujung gamis Aira.

Pegangan kecil.

Rapuh.

"Tante Aira...Kalau kami nakal... kamu akan pergi juga?” suara anak berambut gelombang dengan dinosaurus di tangannya terdengar pelan.

Air mata menggenang di mata Aira. Ia tersenyum lembut.

"Tante Aira tidak akan pergi meski kalian nakal."

Di belakang mereka, Arka terdiam membeku, Ia menatap pemandangan itu lama.

Dua anak kecil, Dan perempuan yang seharusnya hanya istri kontrak, tapi salah satu anak tiba-tiba bersandar ke bahu Aira dan berbisik pelan...

"Jangan pergi seperti mama kita"

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun berlalu,hari ini Hati di Dada Arka terasa nyeri saat mendengar apa yang anak anaknya ucapkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel