Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rutinitas Tanpa Makna

*POV Wei Lin*

Tiga minggu berlalu seperti film yang diputar dalam slow motion. Aku mulai terbiasa dengan kemewahan yang mengelilingi—marmer dingin di bawah kaki, kristal yang berkilauan di setiap sudut, dan keheningan yang mencekam di mansion yang terlalu besar untuk dua orang.

Adrian adalah suami yang... profesional. Dia selalu tepat waktu untuk sarapan dan makan malam, menanyakan kebutuhanku dengan sopan, dan tidak pernah ikut campur dalam rutinitas harianku. Kami seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.

"Nyonya, hari ini ada pengiriman bunga lagi," kata Mrs. Sari sambil meletakkan vas bunga mawar putih di meja ruang tamu. "Dari Tuan Adrian."

Aku menghela nafas. Ini adalah bunga ketiga minggu ini. Bukan karena romantisme, tapi karena minggu depan Kakek Adrian akan datang. Kami sedang mempersiapkan "bukti" bahwa pernikahan ini bahagia.

"Letakkan di ruang keluarga," kataku sambil terus membaca jurnal medis yang kubawa dari perpustakaan. "Supaya terlihat jelas saat Kakek datang."

"Baik, Nyonya. Oh ya, Tuan Adrian meninggalkan ini untuk Nyonya." Mrs. Sari menyerahkan amplop coklat tebal.

Aku membuka amplop itu dan menemukan kartu kredit platinum dengan namaku tertera. Ada sticky note dengan tulisan tangan Adrian: "Untuk keperluan wardrobe. Kakek akan expect istri yang well-dressed. - A"

Keperluan wardrobe. Bahkan ini pun bagian dari kontrak.

Sore itu, aku pergi ke mal mewah di Senayan City. Rasanya aneh berjalan-jalan dengan kartu kredit yang limit-nya mungkin lebih besar dari tabungan seumur hidupku. Sales associate di butik-butik branded langsung mengenaliku sebagai "Mrs. Hartanto"—rupanya kabar pernikahan Adrian sudah menyebar di kalangan sosialita.

"Mrs. Hartanto, kita punya koleksi baru yang sangat cocok untuk Anda," kata sales associate di butik Chanel. "Mungkin untuk acara dinner bersama suami?"

Aku tersenyum paksa. Dinner bersama suami? Kami bahkan hampir tidak berbicara selama makan malam.

Setelah membeli beberapa dress dan aksesoris—semua dengan harga yang membuatku pusing—aku memutuskan mampir ke kafe kecil di lantai bawah. Aku memerlukan waktu untuk menenangkan diri dari kerepotan berbelanja dengan uang yang bukan hasil kerjaku sendiri.

"Wei Lin? Wei Lin Chen?"

Aku berbalik dan melihat Dr. Liem, mantan dosenku di fakultas kedokteran. Dia adalah salah satu dokter yang kurespek, yang selalu mendorongku untuk mengambil spesialisasi.

"Dr. Liem!" Aku bangkit dari kursi. "Senang bertemu Anda."

"Kabar baik tentang pernikahanmu dengan Adrian Hartanto. Keluarga yang berpengaruh," katanya sambil duduk di seberangku. "Tapi aku dengar kau sudah tidak bekerja di klinik?"

"Kliniknya tutup, Dok."

"Sayang sekali. Kau dokter yang berbakat, Wei Lin. Apa rencanamu sekarang?"

Aku terdiam. Rencana? Selama tiga minggu ini, aku tidak punya rencana apa-apa selain menunggu waktu berlalu hingga kontrak berakhir.

"Belum pasti, Dok."

"Kau tahu, rumah sakit tempatku bekerja sedang butuh dokter konsultan. Bagaimana kalau kau bergabung?" Dr. Liem menyodorkan kartu nama. "Kau bisa part-time kalau mau menyesuaikan dengan jadwal sebagai istri."

Kartu nama itu terasa hangat di tanganku. Setelah sekian lama merasa tidak berguna, tiba-tiba ada seseorang yang masih menganggapku berharga sebagai dokter.

"Terima kasih, Dok. Aku akan mempertimbangkan."

"Jangan terlalu lama, Wei Lin. Talent sepertimu tidak boleh terbuang."

Dalam perjalanan pulang, aku terus memikirkan kata-kata Dr. Liem. Talent sepertimu tidak boleh terbuang. Kapan terakhir kali ada orang yang bilang aku bertalenta? Dalam keluarga, aku selalu menjadi yang kedua setelah Wei Ning. Di rumah ini, aku hanya istri kontrak yang tugasnya menjaga penampilan.

"Kau sudah pulang," sapa Adrian ketika aku masuk ke rumah. Dia berdiri di ruang tamu dengan kemeja yang sudah digulung lengannya, terlihat lelah setelah seharian bekerja.

"Hmm." Aku mengangkat shopping bag di tanganku. "Sudah beli yang diperlukan."

"Bagus. Kakek akan datang lusa." Adrian memperhatikan wajahku. "Kau terlihat... berbeda. Ada yang terjadi?"

"Tidak ada." Aku buru-buru menuju tangga. "Aku ke kamar dulu."

"Wei Lin." Suara Adrian menghentikan langkahku. "Makan malam jam 7 seperti biasa. Kita perlu membahas rencana untuk kunjungan Kakek."

"Baik."

Di kamar, aku menatap pantulan diriku di cermin besar. Wanita yang menatapku balik mengenakan blus mahal, tas branded, dan sepatu heels yang harganya bisa untuk biaya hidup sebulan. Tapi matanya terlihat kosong. Tidak ada semangat, tidak ada tujuan.

Ini bukan hidupku. Ini adalah kostum yang kukenakan untuk memainkan peran istri.

Aku mengambil ponsel dan menatap kartu nama Dr. Liem. Mungkin sudah waktunya untuk memilih jalan hidupku sendiri, meskipun aku masih terikat kontrak.

Malam itu, saat makan malam bersama Adrian, aku memberanikan diri untuk berbicara.

"Adrian, aku ingin bekerja lagi."

Dia mengangkat mata dari piringnya. "Bekerja?"

"Sebagai dokter. Ada tawaran dari rumah sakit." Aku mencoba terdengar yakin. "Part-time, jadi tidak akan mengganggu kewajibanku sebagai istri."

Adrian terdiam sejenak. "Kenapa?"

"Aku... aku tidak terbiasa tidak melakukan apa-apa. Selama ini aku selalu bekerja."

"Kau bisa melakukan hobi lain. Yoga, memasak, berbelanja."

"Aku ingin bekerja sebagai dokter," ulangku dengan lebih tegas. "Itu adalah passionku."

Adrian meletakkan sendok garpu. "Baik. Asal tidak mengganggu kewajiban sebagai istri, terutama saat ada acara penting."

"Terima kasih."

"Tapi ingat, Wei Lin. Ini masih kontrak. Jangan sampai pekerjaan membuatmu lupa pada peran utamamu."

Peran utamaku. Istri kontrak.

Aku mengangguk, tapi dalam hati berkata: mungkin sudah saatnya aku mencari tahu siapa Chen Wei Lin yang sesungguhnya.

---

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel