Rumah Asing
*POV Adrian*
Mansion bergaya kolonial yang menjadi rumahku selama sepuluh tahun terakhir tiba-tiba terasa berbeda ketika aku membuka pintu untuk Wei Lin. Dia berdiri di ambang pintu dengan koper kecil di tangan, mata bulatnya memandang kagum pada foyer yang luas dengan tangga spiral nan megah.
"Selamat datang di rumah," kataku, meskipun kata 'rumah' terasa janggal di lidah. Selama ini tempat ini lebih seperti kantor kedua, tempat aku menginap di sela-sela jadwal kerja yang padat.
"Ini... sangat besar," gumam Wei Lin, suaranya bergema di ruang yang tinggi. Dia mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang navy—penampilan yang kontras dengan kemewahan yang mengelilinginya.
"Mrs. Sari akan menunjukkan kamarmu," kataku sambil memberi kode pada asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun. "Dia akan membantu segala kebutuhanmu."
"Terima kasih, Tuan Adrian." Mrs. Sari membungkuk sopan, kemudian beralih ke Wei Lin. "Nyonya, silakan ikut saya."
Aku memperhatikan mereka naik ke lantai dua. Wei Lin berjalan dengan langkah hati-hati, seolah takut merusak sesuatu. Postur tubuhnya tegang, berbeda sekali dengan kepercayaan diri yang dipancarkan para wanita yang biasa kudatangi di pesta-pesta sosial.
Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang kuharapkan dari pernikahan kontrak ini. Tiga bulan lalu, ketika Kakek untuk kesekian kalinya mendesak aku menikah dengan ancaman mengalihkan kepemilikan perusahaan ke sepupu, aku sudah putus asa. Hingga Mr. Chen, seorang supplier lama perusahaan, datang dengan proposal yang tidak biasa.
*Flashback*
"Anak perempuan saya, Wei Lin, dia dokter yang baik. Tidak pernah merepotkan, mandiri," kata Mr. Chen dengan suara bergetar. "Dia bersedia menikah kontrak dengan Anda, asalkan Anda membantu biaya operasi saya."
Aku mempelajari profil singkat Wei Lin. Dokter umum berusia 28 tahun, lulusan universitas lokal, bekerja di klinik kecil. Tidak ada yang istimewa, tidak ada drama berlebihan. Cocok untuk kebutuhanku.
"Dua tahun," kataku tegas. "Tidak lebih."
"Dia mengerti, Tuan. Dia anak yang penurut."
*Penurut.* Kata itu terdengar seperti pujian bagi Mr. Chen, tapi bagiku terdengar... menyedihkan.
*End flashback*
"Tuan Adrian?" Mrs. Sari sudah kembali ke bawah. "Nyonya bertanya apakah ada aturan khusus yang perlu diketahui?"
Aturan. Ya, kita memang perlu aturan.
"Beri tahu dia, makan malam jam 7. Sarapan jam 6.30. Kalau ada tamu mendadak, dia harus siap dalam 15 menit." Aku berhenti sejenak. "Dan Mrs. Sari, kamar terpisah. Pastikan dia nyaman."
"Baik, Tuan."
Aku kembali ke study, mencoba fokus pada laporan keuangan kuartal ini. Tapi entah mengapa, konsentrasi ku terganggu. Suara langkah kaki di lantai atas, pintu yang terbuka-tutup, percakapan pelan antara Wei Lin dan Mrs. Sari—semua terdengar asing di rumah yang biasanya sunyi.
Jam 7 tepat, aku turun ke ruang makan. Wei Lin sudah duduk di ujung meja panjang yang biasa kugunakan sendiri. Dia sudah berganti pakaian—dress hitam sederhana yang membuatnya terlihat seperti... seperti istri yang sesungguhnya.
"Selamat malam," sapaku sambil duduk di ujung satunya.
"Selamat malam," balasnya. Jarak antara kami sekitar tiga meter, tapi terasa seperti jurang yang lebar.
Mrs. Sari menyajikan makan malam—steak medium rare dengan kentang panggang, salad segar, dan wine merah. Menu yang biasa kupesan untuk klien penting.
"Apakah menunya sesuai seleramu?" tanyaku, mencoba mengisi keheningan yang canggung.
"Sangat enak, terima kasih." Wei Lin memotong steaknya dengan gerakan yang hati-hati. "Mrs. Sari sudah menjelaskan rutinitas harian. Aku akan menyesuaikan."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu di klinik?"
"Aku sudah mengundurkan diri." Jawaban singkatnya mengejutkanku. "Kliniknya akan tutup minggu depan. Dokter lainnya sudah dapat pekerjaan baru."
"Kau tidak mencari pekerjaan lain?"
Wei Lin mengangkat bahu. "Aku pikir... sebagai istri Adrian Hartanto, aku harus fokus pada peran itu."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku tidak nyaman. Seolah dia menyerah pada hidup.
"Kau bisa bekerja kalau mau. Aku tidak melarang."
"Tidak apa-apa. Lagipula, kontrak ini kan hanya dua tahun." Dia tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Setelah itu kita akan kembali ke kehidupan masing-masing."
Kembali ke kehidupan masing-masing. Tentu saja. Itu memang tujuan awal kontrak ini.
"Ada yang perlu kau ketahui," kataku. "Kakek akan berkunjung minggu depan. Dia akan menginap beberapa hari."
Wei Lin menegang. "Apakah ada... hal khusus yang harus kulakukan?"
"Berperan sebagai istri yang bahagia." Aku meneguk wine. "Kakek orang yang cerdas. Dia akan curiga kalau kita terlalu kaku."
"Baik. Aku akan berusaha."
Setelah makan malam, kami kembali ke rutinitas masing-masing. Aku ke study untuk menyelesaikan presentasi esok hari, Wei Lin... entah kemana. Rumah ini cukup besar untuk kita berdua hidup tanpa saling mengganggu.
Tapi tengah malam, ketika aku keluar dari study untuk mengambil air, aku melihat cahaya redup dari perpustakaan. Wei Lin duduk di sofa, mengenakan piyama sederhana, dengan buku tebal di pangkuannya. Dari jauh, aku bisa melihat judulnya: "Harrison's Principles of Internal Medicine."
Dia tidak menyadari kehadiranku. Ekspresi wajahnya berbeda—fokus, intens, seperti orang yang benar-benar memahami apa yang dibacanya. Sangat berbeda dari kesan 'penurut' yang diberikan ayahnya.
Siapa sebenarnya Chen Wei Lin?
