Malam yang Berbeda
*POV Adrian*
Jam menunjukkan pukul 2 pagi ketika aku tersadar dari tidur yang tidak nyenyak. Kepala terasa berat, tenggorokan perih, dan tubuh menggigil meskipun AC kamar tidak terlalu dingin. Flu yang sudah kurasakan sejak sore tadi ternyata semakin parah.
Aku mencoba bangkit dari tempat tidur untuk mengambil obat di bathroom, tapi kepala langsung berputar. Demam yang cukup tinggi membuat penglihatan sedikit blur. Sial. Besok ada presentasi penting untuk klien dari Jepang.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat aku menoleh. Wei Lin berdiri di ambang pintu dengan piyama pink bermotif bunga, rambut yang sedikit berantakan, dan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Kau kenapa?" tanyanya sambil mendekat. "Aku dengar suara aneh dari kamarmu."
"Tidak apa-apa. Hanya flu biasa." Aku berusaha duduk tegak, tapi tubuh terasa lemas. "Kau bisa kembali tidur."
Wei Lin tidak mendengarkan. Dia malah semakin mendekat dan dengan natural meletakkan punggung tangannya di dahiku. Sentuhan tangannya yang dingin terasa sangat melegakan di kulit yang panas.
"Demam tinggi," diagnosisnya dengan nada serius. "Berapa lama kau merasakan gejala ini?"
"Sejak sore. Tadi hanya meriang biasa."
"Kau minum obat?"
"Belum sempat."
Wei Lin menghela napas—entah karena khawatir atau kesal dengan ketidakpedulianku pada kesehatan sendiri. "Tunggu di sini."
Dia keluar dari kamar dan kembali sepuluh menit kemudian dengan tas kecil yang kusadari adalah tas dokter. Aku tidak tahu dia membawa peralatan medis ke rumah ini.
"Buka mulut," perintahnya sambil menyalakan senter kecil. "Mau periksa tenggorokan."
"Wei Lin, kau tidak perlu—"
"Aku dokter," potongnya tegas. "Dan kau pasien. Jadi diam dan ikuti instruksiku."
Ini pertama kalinya aku melihat Wei Lin dengan sikap yang begitu percaya diri dan authoritative. Selama ini dia selalu terlihat rendah hati, hampir pemalu. Tapi saat ini, dia benar-benar terlihat seperti dokter profesional.
"Tenggorokan merah dan bengkak. Kemungkinan strep throat," murmurnya sambil mencatat sesuatu di notes kecil. "Aku akan ambil termometer dan obat."
"Kau tidak perlu repot-repot. Besok aku ke dokter saja."
"Dengan kondisi seperti ini? Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan stabil." Wei Lin sudah memasang termometer di telingaku. "38.5 derajat. Cukup tinggi."
Dia keluar lagi dan kembali dengan segelas air hangat, beberapa jenis obat, dan kompres dingin.
"Minum ini," katanya sambil menyodorkan pil antibiotik dan paracetamol. "Antibiotik diminum setiap 8 jam, paracetamol setiap 6 jam untuk demam. Kalau perlu, aku akan kompres kepalamu."
"Kau... kau mengingat semua obat yang ada di rumah?"
"Aku survei kotak P3K di kamar mandi bersama minggu lalu. Kebetulan lengkap." Wei Lin duduk di tepi tempat tidur. "Sekarang istirahat. Aku akan jaga kalau-kalau demammu naik lagi."
"Tidak perlu. Kau butuh tidur juga."
"Adrian," katanya dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Aku dokter. Ini instingku. Lagipula, kalau kau sakit parah, siapa yang akan menandatangani kontrak klien Jepang besok?"
Aku terkekeh pelan, meskipun tenggorokan masih perih. "Praktis sekali alasanmu."
"Memang begitu seharusnya."
Wei Lin duduk di kursi di dekat tempat tidur, sesekali memeriksa suhuku dan memastikan aku minum obat tepat waktu. Dia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa... menenangkan. Berbeda dengan keheningan canggung yang biasa ada di antara kami.
"Wei Lin," panggilku ketika dia sedang mengganti kompres di dahiku. "Terima kasih."
"Tidak perlu. Ini kan bagian dari kewajiban istri." Jawabnya ringan, tapi aku menangkap nada yang berbeda. Lebih hangat.
"Kau seperti dokter yang berbeda saat merawat pasien."
"Maksudmu?"
"Lebih... percaya diri. Authoritative. Berbeda dengan biasanya."
Wei Lin terdiam sejenak. "Saat jadi dokter, aku harus mengambil keputusan yang bisa menyelamatkan nyawa. Tidak ada waktu untuk ragu atau minder."
"Kenapa kau tidak begitu di kehidupan sehari-hari?"
"Karena..." dia menghentikan gerakan tangannya. "Karena di kehidupan sehari-hari, aku selalu menjadi yang kedua. Adik yang lebih pintar, istri yang dibayar untuk peran. Tapi saat jadi dokter, aku adalah diriku sendiri."
Ada sesuatu dalam cara dia mengatakan itu yang membuatku merasa... bersalah. Selama ini aku memang memperlakukannya sebagai "istri yang dibayar untuk peran."
"Kau dokter yang baik," kataku tulus. "Pasienmu beruntung punya dokter sepertimu."
Wei Lin tersenyum—senyum pertama yang tulus yang kulihat darinya. "Terima kasih."
Obat mulai bekerja dan aku merasa mengantuk. Tapi sebelum tertidur, aku melihat Wei Lin masih duduk di kursi, sesekali memeriksa kondisiku. Dia rela begadang untuk merawat suami kontrak yang bahkan jarang berbicara dengannya.
"Wei Lin?"
"Hmm?"
"Kau tidak perlu jaga semalam. Kondisiku sudah lebih baik."
"Aku akan tidur di sofa kamar ini. Kalau ada apa-apa, bangunkan aku."
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Melakukan apa?"
"Merawatku. Kau kan tidak harus. Ini bukan bagian dari kontrak."
Wei Lin menatapku dengan mata yang sulit kubaca. "Karena aku dokter, Adrian. Dan karena... meskipun ini kontrak, kau tetap manusia yang membutuhkan perawatan."
Aku tertidur dengan perasaan aneh di dada. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak ini, aku merasa... diperhatikan. Bukan sebagai CEO yang harus selalu kuat, tapi sebagai manusia biasa yang juga bisa sakit dan butuh dirawat.
Keesokan paginya, aku bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Demam sudah turun, tenggorokan tidak seperih semalam. Wei Lin sudah tidak ada di kamar, tapi ada segelas air hangat dan obat yang sudah disiapkan di nakas.
Ada sticky note kecil dengan tulisan tangannya: "Minum obat setelah sarapan. Jangan lupa antibiotik. Kalau masih tidak enak badan, cancel meeting hari ini. - W"
Aku menatap tulisan itu cukup lama. Kapan terakhir kali ada orang yang begitu memperhatikan kesehatanku? Bahkan asisten pribadiku tidak pernah sememperhatikan ini.
Saat turun untuk sarapan, Wei Lin sudah duduk di meja makan dengan baju kerja—kemeja putih dan celana hitam. Dia terlihat segar, meskipun pasti kurang tidur karena menjagaku semalam.
"Pagi," sapanya sambil mengangkat mata dari tablet yang sedang dibacanya. "Bagaimana perasaanmu?"
"Jauh lebih baik. Terima kasih sudah merawatku semalam."
"Sama-sama." Dia meletakkan tablet. "Aku sudah bicara dengan sekretarismu, meeting dengan klien Jepang diundur ke sore. Kau butuh istirahat lebih."
"Kau bicara dengan Lisa?"
"Tadi pagi. Aku bilang kau flu dan butuh recovery time." Wei Lin menuang jus jeruk ke gelasku. "Vitamin C bagus untuk pemulihan."
Aku terduduk di kursi, masih terkejut dengan inisiatif yang diambil Wei Lin. "Kau... kau tidak perlu melakukan itu."
"Aku tahu. Tapi aku dokter, dan aku tidak bisa membiarkan pasienku memaksakan diri saat belum sembuh total." Dia tersenyum kecil. "Lagipula, kalau kau kolaps di tengah presentasi, itu akan memalukan untuk reputasi keluarga Hartanto."
"Praktis sekali alasanmu," kataku, mengulangi kata-kata semalam. Tapi kali ini aku tersenyum.
"Memang begitu seharusnya," balasnya, juga tersenyum.
Untuk pertama kalinya, sarapan kami tidak berlangsung dalam keheningan canggung. Wei Lin bercerita tentang artikel medis yang sedang dibacanya, dan aku berbagi tentang strategi presentasi untuk klien Jepang. Percakapan yang... normal. Seperti pasangan sungguhan.
"Oh ya," kata Wei Lin ketika kami hendak beranjak. "Aku mulai kerja part-time di rumah sakit hari Senin. Jadwalku Senin, Rabu, Jumat pagi. Tidak akan mengganggu kewajiban sebagai istri."
"Bagus. Kau terlihat lebih bersemangat membicarakan pekerjaan."
"Aku memang selalu bersemangat soal kedokteran." Matanya berbinar. "Ini passion-ku sejak kecil."
"Kenapa memilih kedokteran?"
Wei Lin terdiam sejenak. "Karena... karena saat jadi dokter, aku bisa menyelamatkan nyawa. Aku bisa berguna untuk orang lain dengan cara yang nyata."
Berguna untuk orang lain. Kata-katanya mengingatkanku pada perkataan ayahnya waktu pertama kali melamar kontrak pernikahan ini. "Dia bisa berguna untuk keluarga." Sepertinya Wei Lin selalu merasa harus membuktikan kegunaannya.
"Kau sudah berguna, Wei Lin. Semalam kau menyelamatkanku dari demam tinggi yang mungkin bisa berkembang jadi pneumonia."
"Itu berlebihan."
"Tidak. Aku serius." Aku menatap matanya. "Terima kasih. Untuk semuanya."
Wei Lin mengangguk, pipinya sedikit memerah. "Sama-sama."
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu pernikahan, aku berangkat kerja dengan perasaan yang berbeda. Ada kehangatan di dada yang tidak bisa kujelaskan. Mungkin karena akhirnya aku melihat sisi lain dari Wei Lin—bukan hanya istri kontrak yang penurut, tapi seorang dokter yang kompeten dan peduli.
Mungkin pernikahan kontrak ini tidak harus sedingin yang kubayangkan.
---
