Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pernikahan Tanpa Cinta

*POV Wei Lin*

Suara musik organ yang megah menggema di gereja mewah di kawasan Menteng, namun hatiku sedingin es yang menusuk tulang. Gaun putih yang melilit tubuhku terasa seperti kain kafan—indah tapi mencekik. Setiap langkah yang kubuat menuju altar terasa seperti berjalan menuju eksekusi.

"Kau cantik sekali hari ini, Wei Lin," bisik Wei Ning, adikku yang berjalan di sampingku sebagai bridesmaid. Senyumnya tulus, tidak seperti seringai puas yang terpasang di wajah ibu di barisan depan. Ibu yang selalu bangga pada Wei Ning, anak kesayangan yang berhasil meraih beasiswa PhD di Harvard. Sementara aku? Aku hanya dokter biasa di klinik kecil yang akan menjadi tumbal untuk menyelamatkan keluarga dari kebangkrutan.

Adrian Hartanto berdiri tegap di depan altar, tampan dalam setelan tuxedo hitam yang pasti harganya lebih mahal dari gajih tahunanku. Wajahnya datar, ekspresif seperti topeng marmer yang dingin. Mata kelabunya menatapku tanpa emosi, seolah-olah ini hanyalah transaksi bisnis biasa—yang memang begitu adanya.

"Dearly beloved, we are gathered here today..." Suara pastor mulai mengalun, tapi aku tidak benar-benar mendengarkan. Pikiranku melayang ke percakapan tiga bulan yang lalu, ketika hidup berubah total.

*Flashback*

"Wei Lin, kau harus menikah dengan Adrian Hartanto," ucap ibu dengan nada yang tidak bisa dibantah. Kami duduk di ruang tamu yang sempit, jauh berbeda dengan kemewahan rumah keluarga Hartanto yang akan menjadi tempat tinggalku nanti.

"Apa?" Aku hampir tersedak teh yang sedang kuminum. "Ibu, apa maksud—"

"Ayahmu sakit jantung, Wei Lin. Operasinya butuh biaya ratusan juta. Klinik tempat kau bekerja bangkrut. Kita tidak punya pilihan lain." Mata ibu berkaca-kaca, tapi wajahnya tetap keras. "Adrian membutuhkan istri untuk menenangkan kakeknya yang mendesak dia menikah. Ini kontrak dua tahun. Kau akan dapat uang yang cukup untuk biaya operasi ayah dan menghidupi keluarga."

"Kenapa tidak Wei Ning saja? Dia kan—"

"Wei Ning punya masa depan cerah di Harvard. Dia tidak boleh terganggu." Ibu memotong dengan tajam. "Kau sudah 28 tahun, Wei Lin. Belum menikah, kerja sebagai dokter klinik biasa. Setidaknya dengan cara ini kau bisa berguna untuk keluarga."

*Berguna untuk keluarga.* Kata-kata itu masih menggema hingga detik ini.

"Do you, Wei Lin, take this man to be your lawfully wedded husband?"

Suara pastor mengembalikanku ke realitas. Adrian menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Apakah dia juga merasa terjebak seperti aku? Atau baginya ini memang hanya formalitas belaka?

"I do," kataku dengan suara yang hampir berbisik. Kata-kata itu terasa asing di lidahku.

"Do you, Adrian, take this woman to be your lawfully wedded wife?"

"I do." Suaranya dalam dan tegas, tidak ada keraguan. Profesional hingga ke detail terakhir.

Pastor tersenyum hangat. "You may kiss the bride."

Adrian melangkah mendekat. Tangannya menyentuh pipiku dengan lembut—sentuhan pertama dari pria yang secara resmi menjadi suamiku. Bibir kami bertemu dalam ciuman singkat yang terasa hambar, tidak ada percikan api atau kupu-kupu di perut seperti yang selalu kubaca di novel romantis. Hanya kewajiban yang harus dipenuhi di depan para tamu.

Tepuk tangan meriah memenuhi gereja, tapi aku merasa seolah-olah berada di dalam gelembung yang kedap suara. Ini bukan pernikahan impianku. Ini adalah kontrak bisnis yang disegel dengan sumpah kudus.

"Selamat, Mrs. Hartanto," bisik Adrian di telingaku ketika kami berpelukan untuk foto. Bahkan namaku yang baru terdengar asing.

Resepsi berlangsung mewah di ballroom hotel bintang lima. Aku tersenyum dan mengangguk pada setiap ucapan selamat dari tamu yang sebagian besar adalah relasi bisnis Adrian. Mereka memuji gaun Vera Wang-ku, cincin berlian yang berkilau di jari manisku, dan betapa cocoknya kami sebagai pasangan. Jika mereka tahu ini semua hanya sandiwara...

"Kau baik-baik saja?" tanya Adrian ketika kami sedang duduk di meja pengantin. Ini adalah kalimat pertama yang dia ucapkan padaku sejak ciuman tadi.

"Baik," jawabku singkat. Apa yang bisa kukatakan? Bahwa aku merasa seperti aktris yang memainkan peran seumur hidup?

"Kontraknya sudah ditransfer ke rekening ayahmu tadi pagi. Operasinya bisa dijadwalkan minggu depan."

Aku mengangguk. Setidaknya ada satu hal baik dari semua ini. Ayah akan selamat.

"Terima kasih," ucapku tulus. Meskipun ini adalah transaksi, Adrian telah menyelamatkan keluargaku.

"Ini bagian dari kesepakatan." Jawaban dinginnya mengingatkanku bahwa kami bukan pasangan sungguhan. Hanya dua orang asing yang terikat kontrak.

Malam itu, ketika acara berakhir dan kami berdiri di pintu kamar hotel yang disewa untuk pengantin baru, kecanggungan mencapai puncaknya.

"Aku akan tidur di sofa," kata Adrian sambil melepas dasi.

"Tidak perlu. Ranjangnya cukup besar." Aku langsung menyesal mengucapkan itu. Pipi ku memanas. "Maksudku, kita orang dewasa. Kita bisa—"

"Wei Lin," potong Adrian. "Kita perlu menetapkan batasan yang jelas. Ini adalah pernikahan kontrak. Kita tidak perlu memperumit dengan hal-hal yang tidak perlu."

Hal-hal yang tidak perlu. Itukah yang dia sebut keintiman?

"Baik," kataku, mencoba terdengar profesional. "Kita akan membahas aturan mainnya besok."

Adrian mengangguk. "Selamat malam, Wei Lin."

"Selamat malam, Adrian."

Aku berbaring di ranjang king size yang terasa terlalu luas dan dingin. Melalui jendela, lampu-lampu Jakarta berkedip seperti bintang yang terjatuh. Cincin kawin di jariku terasa berat, pengingat konstan akan kehidupan baru yang akan kumulai besok.

Kehidupan sebagai istri Adrian Hartanto. Kehidupan sebagai istri kontrak.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel