Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rahasia mulai Terbongkar

*POV Adrian*

Tiga hari setelah Wei Lin merawatku saat sakit, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari pengamatanku. Cara dia membaca dengan fokus yang intens, koleksi buku medis yang semakin bertambah di perpustakaan, dan yang paling mencurigakan—ponselnya yang sering berdering dengan panggilan dari nomor yang tidak kusimpan.

Pagi itu, aku sengaja keluar dari study lebih awal untuk mengambil kopi di dapur. Wei Lin sedang menelepon di teras belakang, membelakangi jendela dapur. Suaranya terdengar serius dan profesional.

"...pasien di bed 3 perlu dosis antibiotik yang lebih tinggi. Resistensi bakteri kemungkinan sudah berkembang," katanya dengan nada yang sangat berbeda dari cara bicaranya denganku. "Coba ganti ke ceftriaxone 2 gram IV setiap 12 jam."

Aku menajamkan pendengaran. Ceftriaxone? Itu antibiotik spektrum luas yang biasa digunakan untuk infeksi serius. Bagaimana Wei Lin bisa tahu detail seperti itu?

"Dr. Liem, saya akan datang sore ini untuk cek kondisi pasien. Kalau tidak ada perbaikan dalam 48 jam, mungkin perlu konsultasi dengan spesialis penyakit dalam."

Dr. Liem? Nama itu familiar. Bukankah dia kepala bagian internal medicine di RS Cipto Mangunkusumo? Salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta?

Wei Lin menutup telepon dan berbalik. Dia tersentak ketika melihatku berdiri di ambang pintu dapur.

"Adrian? Kau sudah bangun?"

"Siapa yang menelepon?" tanyaku sambil menuang kopi. "Terdengar seperti urusan penting."

"Oh, itu..." Wei Lin terlihat gugup. "Teman dari rumah sakit tempat aku mulai kerja. Konsultasi kecil."

"Konsultasi? Bukankah kau baru mulai kerja hari Senin?"

"Iya, tapi... mereka sudah mengirim beberapa case file untuk kupelajari dulu." Jawabnya terburu-buru. "Supaya tidak kaget saat mulai kerja."

Ada yang tidak beres. Cara Wei Lin menjelaskan kasus medis tadi terlalu detail dan percaya diri untuk seorang dokter klinik biasa. Dan sejak kapan rumah sakit mengirim case file ke dokter part-time yang belum mulai bekerja?

"Rumah sakit mana tempat kau akan bekerja?"

"RS Harapan Kita. Bagian umum." Wei Lin mengambil tas kerjanya. "Aku harus pergi. Ada... orientasi hari ini."

"Hari ini kan Kamis. Kau bilang mulai kerja hari Senin."

"Orientasi tambahan," katanya sambil bergegas ke arah pintu. "Sampai jumpa sore nanti."

Aku menatap mobil Wei Lin keluar dari halaman dengan perasaan curiga yang semakin besar. Ada yang disembunyikan Wei Lin, dan aku berniat mencari tahu apa itu.

Siang itu, aku menelepon Lisa, sekretarisku.

"Lisa, tolong cari informasi tentang istri saya. Chen Wei Lin. Riwayat pendidikan, pekerjaan, apapun yang bisa ditemukan."

"Baik, Pak. Ada yang spesifik yang ingin Bapak ketahui?"

"Semuanya. Terutama soal latar belakang medisnya."

"Akan saya kirim laporannya sore ini."

Jam 4 sore, email dari Lisa masuk. Aku membuka attachment-nya dengan hati-hati, tidak tahu apa yang akan kutemukan.

Yang pertama adalah CV standar: Chen Wei Lin, 28 tahun, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran tahun 2018. Bekerja di Klinik Sehat Mandiri sejak 2019 hingga 2024. Tidak ada yang istimewa.

Tapi kemudian aku melihat bagian kedua laporan itu. Lisa berhasil menggali informasi tambahan dari alumni database dan publikasi medis.

"Chen Wei Lin - Valedictorian, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2018. IPK 3.98. Penerima beasiswa penuh selama 4 tahun. Asisten dosen Ilmu Penyakit Dalam tahun 2017-2018."

Valedictorian? IPK 3.98? Itu prestasi yang luar biasa. Tapi mengapa dia bekerja di klinik kecil?

Aku scroll ke bawah dan menemukan yang lebih mengejutkan lagi.

"Publikasi ilmiah: 'Novel Approach to Antibiotic Resistance in Bacterial Pneumonia' - Indonesian Journal of Internal Medicine, 2019. 'Early Detection of Sepsis in Emergency Department' - Asian Pacific Journal of Emergency Medicine, 2020."

Dua publikasi di jurnal internasional? Ini bukan prestasi dokter klinik biasa. Ini prestasi dokter yang seharusnya bekerja di rumah sakit besar atau mengambil spesialisasi.

Yang terakhir membuat rahangku menganga.

"Catatan tambahan: Tercatat sebagai konsultan tidak tetap di RS Cipto Mangunkusumo sejak 2021. Bidang keahlian: Penyakit Dalam dan Emergency Medicine."

RS Cipto Mangunkusumo. Rumah sakit yang sama dengan Dr. Liem yang tadi menelepon Wei Lin.

Aku menutup laptop dan menyandarkan punggung ke kursi. Siapa sebenarnya Chen Wei Lin? Kenapa seorang dokter dengan prestasi segini bekerja di klinik kecil? Dan yang paling penting, kenapa dia menyembunyikan semua ini dariku?

Jam 7 malam, Wei Lin pulang dengan wajah yang terlihat lelah tapi puas. Dia mengenakan scrub rumah sakit yang masih baru—bukan seragam klinik biasa.

"Bagaimana orientasinya?" tanyaku saat kami makan malam.

"Baik. Tempatnya... profesional."

"Scrub-nya bagus. Warna biru muda cocok untukmu."

Wei Lin mengangkat mata dari piringnya. "Apa?"

"Scrub yang kau pakai. Warna biru muda. Biasanya warna itu untuk bagian internal medicine di rumah sakit besar."

"Oh... iya." Dia terlihat gugup lagi. "Mereka... mereka menyediakan seragam untuk semua dokter."

"Bahkan untuk dokter part-time?"

"Iya."

Aku memutuskan untuk mencoba strategi yang berbeda. "Wei Lin, boleh aku tanya sesuatu?"

"Tentu."

"Kenapa kau tidak mengambil spesialisasi? Dengan prestasi akademik seperti milikmu, pasti banyak pilihan."

Wei Lin menegang. "Prestasi akademik?"

"Kau lulusan terbaik dari Unpad. IPK 3.98. Itu prestasi yang luar biasa."

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku suamimu, Wei Lin. Wajar kalau aku tahu latar belakang istriku." Aku menatap matanya. "Yang tidak wajar adalah kenapa kau menyembunyikan semua ini."

Wei Lin meletakkan sendok garpu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku... aku tidak menyembunyikan. Kau tidak pernah tanya detail."

"Kau juga tidak pernah cerita. Publikasi di jurnal internasional, bekerja sebagai konsultan di RS Cipto—ini bukan prestasi yang bisa diabaikan begitu saja."

"Kau menyelidikiku?" Ada nada terluka dalam suaranya.

"Aku mencari tahu tentang istriku. Ada bedanya."

"Tidak ada bedanya!" Wei Lin bangkit dari kursi. "Kau menyelidikiku tanpa izin, seperti... seperti aku penjahat!"

"Wei Lin, aku—"

"Tidak!" Dia menggeleng keras. "Aku sudah cukup dengan kontrak ini. Aku tidak perlu diinterogasi seperti kriminal."

"Aku hanya ingin tahu kenapa kau menyembunyikan prestasi sebesar ini. Kenapa kau tidak bangga dengan pencapaianmu?"

Wei Lin terdiam. Matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya aku melihat kerentanan yang selama ini disembunyikannya.

"Karena..." suaranya bergetar. "Karena setiap kali aku berprestasi, aku selalu dianggap sombong. Setiap kali aku mengakui pencapaianku, aku dianggap meremehkan orang lain. Jadi aku belajar untuk diam, untuk tidak terlihat menonjol."

"Siapa yang bilang begitu?"

"Keluargaku sendiri." Air mata mulai menetes. "Setiap kali aku dapat nilai bagus, ibu bilang aku cari perhatian. Setiap kali aku dapat penghargaan, dia bilang aku sombong. Sementara Wei Ning... Wei Ning selalu dipuji meskipun prestasinya tidak sebaik ini."

Aku terdiam. Mulai paham mengapa Wei Lin selalu terlihat rendah diri, mengapa dia selalu merasa harus membuktikan kegunaannya.

"Wei Lin..."

"Aku capek, Adrian. Aku capek harus menyembunyikan siapa aku sebenarnya." Dia menghapus air mata dengan punggung tangan. "Tapi aku juga capek dianggap sombong kalau aku jujur tentang kemampuanku."

"Kau tidak sombong. Kau berprestasi. Itu berbeda."

"Tidak ada yang melihat perbedaannya."

Wei Lin beranjak dari ruang makan, meninggalkanku dengan perasaan bersalah yang berat. Aku baru menyadari betapa seriusnya trauma yang dibawa Wei Lin dari keluarganya. Dan dengan menyelidiki latar belakangnya, aku malah memperburuk rasa tidak amannya.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan air mata Wei Lin, cara dia bercerita tentang keluarga yang tidak pernah menghargai prestasinya. Untuk pertama kalinya, aku mulai memahami mengapa dia menerima kontrak pernikahan ini. Bukan hanya karena uang, tapi karena dia sudah menyerah pada dirinya sendiri.

Besok, aku harus mencari cara untuk memperbaiki kesalahan malam ini.

---

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel