Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Klinik Kecil

*POV Wei Lin*

Setelah pertengkaran dengan Adrian semalam, aku bangun dengan mata bengkak dan hati yang masih sakit. Aku tidak turun untuk sarapan—tidak siap menghadapi tatapan curiga Adrian atau pertanyaan-pertanyaan lanjutan tentang masa laluku.

Pukul 8 pagi, ponselku berdering. Dr. Liem.

"Wei Lin, ada emergency di IGD. Pasien dengan gejala acute coronary syndrome, tapi EKG-nya ambigu. Bisakah kau datang?"

"Sekarang?"

"Sekarang. Aku butuh second opinion dari dokter yang pernah handle kasus serupa."

"Baik, Dok. Aku akan datang."

Aku bergegas mandi dan berpakaian. Ketika keluar dari kamar, aku bertemu Adrian di koridor. Dia sudah rapi dalam kemeja putih dan celana bahan, siap berangkat ke kantor.

"Pagi," sapanya hati-hati. "Kau mau sarapan?"

"Tidak. Aku harus ke rumah sakit. Ada emergency."

"Wei Lin, tentang semalam—"

"Nanti saja." Aku berjalan cepat ke arah tangga. "Aku terlambat."

Perjalanan ke RS Cipto Mangunkusumo memakan waktu 30 menit di tengah kemacetan Jakarta. Aku langsung menuju IGD dan menemukan Dr. Liem sedang menunggu di depan ruang resusitasi.

"Pasien 45 tahun, nyeri dada sejak 2 jam lalu. Nyeri menjalar ke lengan kiri, berkeringat dingin, mual," jelasnya sambil berjalan. "EKG menunjukkan ST elevation yang minimal di lead II, III, aVF. Troponin I masih pending."

"Vital sign?"

"TD 150/90, nadi 110, regular. Saturasi 98% tanpa oksigen tambahan."

Kami masuk ke ruang resusitasi. Pasien, pak Bambang, terlihat pucat dan gelisah. Istri dan anaknya berdiri di sudut ruangan dengan wajah cemas.

"Pak Bambang, saya Dr. Wei Lin," kataku sambil mendekat. "Bagaimana nyeri dadanya sekarang?"

"Masih sakit, Dok. Seperti ditusuk-tusuk," jawabnya dengan napas yang sedikit tersengal.

Aku memeriksa EKG dan mendengar suara jantung dengan stetoskop. Ada murmur sistolic yang ringan, kemungkinan karena stress atau iskemia ringan.

"Dr. Liem," kataku setelah selesai pemeriksaan. "Ini borderline STEMI. ST elevation-nya minimal, tapi dengan gejala klinis yang jelas dan faktor risiko—dia merokok 20 tahun, hipertensi, diabetes—kita tidak bisa mengambil risiko."

"Rekomendasi?"

"Primary PCI kalau tersedia. Kalau tidak, thrombolytic therapy. Tapi aku lebih prefer PCI mengingat usia dan comorbid-nya."

Dr. Liem mengangguk. "Setuju. Aku akan hubungi cath lab."

"Dok," tiba-tiba istri pak Bambang mendekat. "Suami saya akan baik-baik saja kan?"

Aku melihat kekhawatiran yang sama yang dulu kulihat di mata ibuku saat ayah sakit jantung. Perasaan takut kehilangan orang yang dicintai.

"Bu, suami ibu mengalami serangan jantung ringan. Kami akan melakukan tindakan untuk membuka sumbatan di pembuluh darah jantung," jelasku dengan sabar. "Prosedurnya relatif aman, dan dengan penanganan cepat, prognosisnya baik."

"Terima kasih, Dok," katanya sambil menangis lega.

Setelah pak Bambang dipindahkan ke cath lab, aku dan Dr. Liem duduk di ruang istirahat dokter.

"Bagus," katanya sambil menuang kopi. "Diagnosis dan managementnya tepat. Kau memang dokter yang baik, Wei Lin."

"Terima kasih, Dok."

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau tidak mengambil spesialisasi. Dengan kemampuan seperti ini, kau bisa jadi kardiolog atau spesialis penyakit dalam yang hebat."

Aku menghela napas. "Keluarga tidak mendukung, Dok. Mereka pikir aku sudah cukup jadi dokter umum."

"Tapi sekarang kau sudah menikah dengan Adrian Hartanto. Pasti dia mendukung karir istrinya?"

"Kami... kami masih menyesuaikan diri."

Dr. Liem menatapku dengan tatapan yang mengerti. "Wei Lin, jangan sia-siakan talentmu. Kau masih muda. Masih bisa mengambil spesialisasi kalau mau."

"Saya akan pikirkan, Dok."

Jam 2 siang, aku memutuskan untuk mampir ke klinik lama—Klinik Sehat Mandiri. Meskipun sudah tutup, aku masih punya kunci karena belum mengembalikannya ke pemilik.

Klinik kecil itu terlihat kosong dan berdebu. Kursi-kursi tunggu masih tersusun rapi, meja registrasi masih ada, tapi tidak ada lagi hiruk-pikuk pasien yang biasa memadati ruang tunggu.

Aku duduk di kursi yang dulu jadi tempat kerjaku. Di sini, aku merawat ibu hamil yang tidak mampu kontrol ke rumah sakit besar. Di sini, aku menangani anak-anak yang sakit dengan gratis karena orang tuanya tidak punya uang. Di sini, aku merasa berguna dengan cara yang sederhana tapi nyata.

"Dok Wei Lin?"

Aku menoleh dan melihat bu Sari, seorang ibu yang dulu sering membawa anaknya berobat ke klinik ini. Dia berdiri di depan pintu dengan anak balitanya di gendongan.

"Bu Sari? Sedang apa di sini?"

"Anak saya demam tinggi, Dok. Saya tidak tahu kliniknya sudah tutup." Dia terlihat putus asa. "Saya tidak punya uang untuk ke rumah sakit."

Aku melihat anak bu Sari yang terlihat lemas dan panas. Naluri sebagai dokter langsung bekerja.

"Ayo masuk, Bu. Saya periksa dulu."

"Tapi kliniknya sudah tutup, Dok."

"Tidak apa-apa. Saya masih punya kunci."

Aku menyalakan lampu dan membawa bu Sari ke ruang periksa. Untungnya, obat-obatan masih tersisa di lemari. Aku memeriksa anak bu Sari—demam 39 derajat, tenggorokan merah, kemungkinan infeksi virus.

"Ini obat penurun panas," kataku sambil menyiapkan paracetamol sirup. "Berikan setiap 6 jam. Kalau dalam 3 hari tidak membaik, bawa ke rumah sakit."

"Berapa biayanya, Dok?"

"Gratis. Anggap saja ini konsultasi terakhir dari klinik ini."

Bu Sari menangis. "Terima kasih, Dok. Semoga Allah membalas kebaikan dokter."

Setelah bu Sari pergi, aku duduk lagi di kursi itu. Perasaan hangat memenuhi dada. Inilah yang selalu kurasakan saat jadi dokter—bisa membantu orang yang membutuhkan, bisa menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang kumiliki.

Ponselku berdering. Pesan dari Adrian: "Dimana kau? Sudah jam 4 sore."

Aku tidak membalas. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali ke rumah dan menghadapi realitas sebagai istri kontrak.

Jam 6 sore, aku akhirnya pulang. Adrian sudah menunggu di ruang tamu, masih mengenakan kemeja kantor tapi sudah melepas dasinya. Wajahnya terlihat cemas.

"Dimana kau seharian?" tanyanya begitu aku masuk.

"Rumah sakit. Ada emergency."

"Dari pagi sampai sore?"

"Setelah itu aku ke tempat lain."

"Tempat apa?"

"Klinik lama." Aku meletakkan tas. "Aku akan ke kamar."

"Wei Lin, tunggu." Adrian bangkit dari sofa. "Kita perlu bicara tentang semalam."

"Tidak perlu. Aku sudah paham posisiku di sini."

"Posisimu?"

"Istri kontrak yang tidak boleh punya rahasia dari suami yang membayar kontrak." Aku menatap matanya. "Aku akan lebih transparan ke depannya. Tapi aku juga berharap kau menghargai privasi yang tersisa."

"Bukan itu maksudku. Aku minta maaf karena menyelidiki tanpa bilang dulu. Tapi aku tidak minta maaf karena ingin tahu tentang dirimu."

"Kenapa kau ingin tahu?"

Adrian terdiam sejenak. "Karena... karena aku mulai menyadari bahwa aku tidak mengenal istri ku sendiri. Dan itu salah."

"Kau tidak perlu mengenalku, Adrian. Ini kontrak. Kita hanya perlu memainkan peran masing-masing."

"Tapi bagaimana kalau aku tidak mau hanya memainkan peran?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Aku menatap Adrian, mencoba memahami apa yang dia maksud. Tapi aku terlalu lelah untuk perdebatan filosofis tentang kontrak pernikahan.

"Aku capek. Aku mau istirahat."

"Wei Lin—"

"Selamat malam, Adrian."

Aku naik ke kamar dengan perasaan bingung. Apa yang Adrian maksud dengan "tidak mau hanya memainkan peran"? Apakah dia mulai menganggap serius pernikahan kontrak ini?

Tapi yang lebih penting, apakah aku siap menghadapi perubahan itu?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel