Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Petunjuk

Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah.

Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega.

Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama.

Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya.

“Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan.

Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik.

Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia.

Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar.

Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit.

Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya.

Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam.

Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengamati mangsanya.

“Sekarang... kita bisa berbicara tanpa gangguan,” ujarnya akhirnya.

Ujung pisau itu terangkat, dan bilah dingin itu menyentuh bahu Lovelle.

Tubuh gadis itu sontak menegang, tapi Xeyren tidak langsung melukai.

Ia hanya membiarkan ujung pisau itu meluncur perlahan di atas kain seragam pelayan yang dikenakan Lovelle.

Dari bahu… turun ke lengan… lalu berhenti di dekat tulang selangka hingga membuat Lovelle menggigil ketakutan dibuatnya.

“Siapa yang mengirimmu?” tanya Xeyren.

Pisau itu lalu bergerak lagi, hingga kini menyentuh garis leher baju Lovelle.

Gadis itu serta-merta menahan napasnya.

“Siapa yang kau layani?” lanjut pria itu.

Lovelle membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar.

Bilah pisau itu bergerak perlahan di sepanjang lengannya, hampir seperti sentuhan yang disengaja.

Xeyren terasa terlalu dekat, terlalu dominan.

Dan meskipun situasinya menakutkan… Lovelle merasakan sesuatu yang aneh berdenyut di dalam tubuhnya.

Perasaan yang tidak seharusnya muncul saat seseorang sedang mengancam hidupnya.

Ia merasa malu, namun juga tidak bisa mengabaikan gelenyar aneh yang terasa menggelitik kulitnya.

Sial. Dan sekarang kulit wajahnya yang putih pucat pasti sedang merona hingga ke telinga.

'Yang benar saja! Dia itu jahat, Lovelle! Jangan terpengaruh hanya karena dia sangat tampan!'

Lovelle mengutuk dirinya sendiri diam-diam dalam hati, sementara Xeyren terus memperhatikannya dengan mata yang setengah menyipit.

“Menarik,” gumannya.

Pisau itu kini berhenti di dekat paha Lovelle, menyentuh kain rok Lovelle.

“Biasanya mata-mata akan langsung memohon,” ujarnya.

“Namun kau terlihat… berbeda.”

Tubuh Lovelle pun semakin menegang kala pisau itu masuk perlahan ke dalam roknya.

Xeyren jelas sekali menikmati ketakutan yang terpancar dari wajahnya. Aura pria itu benar-benar seperti penjahat.

Tidak ada belas kasihan atau empati. Hanya rasa ingin tahu… dan kekuasaan.

Lovelle mengigit bibirnya ketika ujung pisau itu kini berada di dekat bagian sensitifnya.

“Jika aku merobekmu sekarang,” ucap Xeyren pelan, “mungkin kau akan lebih kooperatif.”

Pisau itu sedikit bergerak, dan Lovelle langsung tersentak.

Lovelle menarik napas cepat. “Tunggu!”

Xeyren berhenti. Tatapan abu-abu gelap itu menatap Lovelle dengan dingin.

“Aku… aku bisa membantumu.” Lovelle menemukan ide untuk membebaskannya dari takdir kematian kedua.

Setidaknya mengulur waktu, karena ia merasa belum saatnya Xeyren mengetahui kepada siapa sesungguhnya Daniela bekerja.

Itu adalah informasi yang sangat penting dan krusial, mungkin akan ia simpan untuk momen yang lebih menguntungkan.

Hening selama beberapa detik, lalu Xeyren tertawa pelan.

Tawa rendah yang tidak mengandung sedikit pun kepercayaan.

“Benarkah?" Tukasnya seraya memiringkan kepala.

“Mata-mata yang tertangkap basah di kamarku… ingin membantuku?”

Xeyren mengeluarkan pisau itu dari balik rok Lovelle, lalu kembali menyentuh lehernya.

“Cobalah membuatku percaya.”

Lovelle menelan ludah. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya.

Jika ini gagal… ia pasti mati.

“Nanti malam,” ucap Lovelle pelan, “jangan datang ke pertemuan di Las Vegas, dengan klien dari Paris.”

Tatapan Xeyren sedikit berubah. “…lanjutkan.”

Lovelle menarik napas gemetar. Matanya menatap langsung ke Xeyren. “Itu adalah sebuah jebakan. Mereka tidak datang untuk berbisnis, tapi untuk menangkapmu.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi. Xeyren menatapnya lama.

“Dan dari mana kau mengetahui hal itu?” tanyanya perlahan.

Lovelle tidak menjawab, namun ia tahu.

Dalam novel yang ia baca, pertemuan itu memang terjadi.

Xeyren memang selamat, tapi ia terluka cukup parah dalam penyergapan itu.

Dan malam itu menjadi awal perang besar di dunia bisnis gelap yang melibatkan Crow Corporation.

Perusahaan raksasa milik pria yang kini berdiri di depannya.

Xeyren Crow.

Pria paling berbahaya dalam cerita ini.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel