5. Jebakan Yang Gagal
Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas.
Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar.
Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang.
Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris.
Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu.
Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi.
Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu.
Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya.
Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang?
Brengsek!
Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sudut bibirnya.
“Apakah Anda sedang menunggu seseorang, Tuan Moreau?” tanya Xeyren pelan, dalam suara yang rendah tapi menusuk tajam.
Lucien menelan ludah. Setelah terlihat seperti sedang berpikir untuk beberapa saat, akhirnya ia pun memutuskan.
Persetan!
Apa pun yang terjadi, ia harus menangkap Xeyren Crow dan membawanya kepada seseorang yang menginginkan pria ini dengan memberikan hadiah sejumlah uang yang sangat besar!
“Tangkap dia, hidup-hidup!” Perintah Lucien kepada tiga orang bodyguard yang berdiri di belakangnya.
Lalu tiba-tiba saja, semua lampu di kasino pun padam. Situasi berubah menjadi gelap total.
Kemudian terdengar suara tembakan, teriakan, dan kepanikan yang memenuhi ruangan.
Orang-orang berdesakan keluar dari pintu, beberapa jatuh dan terinjak, serta chip poker berserakan.
Beberapa menit kemudian, lampu pun mendadak kembali menyala.
Namun sayangnya, Xeyren Crow telah menghilang tanpa jejak.
Hanya ada Lucien, bodyguardnya, dan beberapa pengunjung Casino yang masih tersisa.
Lucien mendengus pelan, lalu segera menghubungi seseorang di ponselnya.
“Maaf… aku belum bisa membawa Xeyren. Dia berhasil melarikan diri.”
Tidak lama kemudian, Lucien keluar dari kasino menuju sebuah mobil hitam mewah yang telah menunggunya.
Namun baru beberapa detik setelah masuk, sebuah ledakan besar tiba-tiba menghancurkan mobilnya.
Menghadirkan kobaran api yang menyala terang serta logam yang beterbangan di udara malam yang gelap.
Bisa dipastikan jika Lucien serta beberapa pengawalnya telah tewas terpanggang api di dalamnya.
***
Beberapa jam kemudian.
Suara baling-baling helikopter terdengar memecah keheningan malam di sebuah Mansion megah, yang berdiri di tengah tanah luas dan sunyi.
Helikopter hitam itu perlahan turun dan mendarat dengan halus di sebuah helipad pribadi.
Ketika salah satu pintunya terbuka, tampak Xeyren Crow turun dari dalamnya.
Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah malam penuh kekacauan di Las Vegas tadi hanyalah sebuah gangguan kecil yang tak berarti.
Seorang pria yang mengenakan setelan formal segera berjalan mendekat.
“Selamat datang kembali, Tuan Crow.” Ia adalah kepala pelayan Mansion yang bernama Christian.
Xeyren berjalan melewati helipad tanpa berhenti, sementara Christian berjalan di belakangnya.
“Bagaimana keadaan Daniela?”
Christian langsung menjawab, “Dia masih berada di dalam kamar pribadi Anda, Tuan. Terikat di kursi dan diawasi oleh dua orang pengawal.”
Xeyren mengangguk pelan dengan ekspresi yang tidak berubah.
“Pindahkan dia ke ruang kerja,” Xeyren berucap seraya melangkah menuju pintu besar Mansion.
Beberapa pengawal yang berjaga tampak menundukkan kepala penuh hormat saat ia lewat.
Ketika sampai di dalam rumah, Xeyren akhirnya berkata dengan nada datar, “Pengawal yang menjaganya boleh bubar.”
Pelayan itu tampak sedikit terkejut. “Tapi, Tuan... Daniela itu mata-mata! Bisa jadi wanita itu berpura-pura bersikap polos untuk mengecoh dan menjebak Anda!"
Xeyren menatap ke arah koridor panjang yang menuju kamar pribadinya. Lalu kembali berkata,“Aku tidak ingin diganggu, Christian."
Ia berjalan menuju tangga, lalu melukiskan seringai tipis seraya menatap Christian.
“Terutama saat aku sedang bersama Daniela.”
***
