3. Ketika Alur Mulai Berubah
Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren.
Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak.
Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat.
Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar.
Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi.
Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya.
Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati.
Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka.
Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat.
Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu.
Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh.
Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur.
Ia menarik napas dengan rakus, dadanya naik turun dengan cepat.
Namun sebelum ia sempat mundur sepenuhnya, tangan Xeyren kembali bergerak.
Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Lovelle dan menariknya kembali dengan satu gerakan kuat, membuat tubuh Lovelle hampir menabrak dadanya.
Jarak mereka kini kembali terlalu dekat, hingga Lovelle bisa merasakan kehangatan napas pria itu menyentuh wajahnya.
Xeyren menatapnya lekat dan lama.
Matanya yang gelap dan tadi dipenuhi oleh kecurigaan, kini tampak berubah.
Meskipun tetap saja sulit ditebak maknanya.
Tatapan itu tetap tajam, tetap dingin, tetapi ada sesuatu yang baru muncul di dalamnya... seperti sebuah kilatan rasa ingin tahu yang berbahaya.
Tatapan Xeyren turun sejenak ke bibir Lovelle, memandanginya selama beberapa saat, sebelum kembali ke tertuju ke mata biru pucat milik gadis itu.
Cengkeramannya di leher Lovelle akhirnya benar-benar mengendur, meskipun tangannya masih berada di sana.
Xeyren seolah belum memutuskan apakah akan melepaskannya atau tidak.
“Berani sekali,” gumannya pelan.
Suaranya rendah, dalam, dan sedikit serak. Nada yang membuat bulu kuduk Lovelle merinding.
Gadis itu pun menelan ludah.
Ia tidak tahu apakah tindakannya barusan berhasil menyelamatkan dirinya… atau justru malah memperburuk situasi.
Namun satu hal yang pasti, Xeyren belum membunuhnya.
Dan itu bagi Lovelle sudah merupakan sebuah kemenangan kecil.
Pria itu sedikit memiringkan kepala, masih menatap Lovelle seolah sedang mempelajari makhluk aneh yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Biasanya,” ujar Xeyren perlahan, “orang yang menyelinap ke kamarku pada tengah malam, tidak pernah mencoba untuk menciumku.”
Jari-jarinya yang besar bergeser sedikit di leher Lovelle, bukan lagi mencekik, tetapi tetap menahan.
Seolah ia tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja.
Lovelle bisa merasakan pikirannya berpacu.
Jika ini benar-benar dunia novel… jika pria di depannya benar-benar Xeyren Crow… maka setiap detik yang ia miliki adalah detik yang berbahaya.
Dalam cerita yang ia baca, Daniela mati dengan cepat.
Tidak ada percakapan panjang, tidak ada kesempatan kedua.
Xeyren langsung membunuhnya setelah menyadari bahwa pelayan itu adalah mata-mata.
Namun sekarang alur cerita sudah berubah, karena Daniela dalam novel tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Xeyren masih menatapnya tanpa berkedip, dengan tatapan yang terasa seperti pisau yang menguliti setiap rahasia yang ia miliki.
“Sekarang, kau akan menjelaskan” kata pria itu akhirnya.
Nada suaranya tenang, tetapi penuh tekanan yang tak terlihat.
Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Lovelle mengencang sedikit.
“Siapa kau sebenarnya…” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.
“…dan apa yang kau lakukan di kamarku.”
***
Keheningan di kamar itu tidak bertahan lama.
Ketika Xeyren masih menatap Lovelle dengan tatapan tajam yang sulit ditebak, tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar di luar koridor.
Langkah yang cepat dan teratur, seperti beberapa orang yang berlari.
Lalu pintu kamar digedor dengan keras.
DUK! DUK! DUK!
“Tuan Crow!”
Suara pria dari luar terdengar tegang.
“Kami menemukan bukti penyusup di dalam Mansion. Seorang pelayan bernama Daniela dicurigai sebagai mata-mata. Kami datang untuk menangkapnya!”
Darah Lovelle langsung terasa dingin dan jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.
Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali kepada Xeyren.
Pria itu masih berdiri di depannya. Tangan besar yang tadi mencekik leher Lovelle kini bertumpu santai di sisi tubuhnya.
Namun tetap saja aura berbahaya itu terasa kuat.
“Buka pintunya, Tuan!” suara lain dari luar berkata. "Dia harus segera dieksekusi!"
Lovelle merasa dunia di sekitarnya berputar.
Tidak mungkin.
Padahal ia sudah berusaha mengubah alur cerita!
Ia mencium Xeyren, namun ternyata takdir masih mengejarnya.
Dan sepertinya... dia masih berada halaman ke-lima.
Manik biru pucat milik Lovelle tampak membelalak lebar, dan napas gadis itu menjadi tidak teratur.
Ia tidak ingin mati lagi, tidak untuk kedua kali!
Sementara itu Xeyren hanya berdiri diam sembari melirik ke arah pintu, sebelum tatapannya kembali tertuju kepada Lovelle.
Ekspresinya tidak berubah. Tidak marah atau kesal, tapi justru tampak… berpikir.
Beberapa detik pun berlalu, dan ketukan di pintu semakin keras.
“Tuan Crow!”
Akhirnya Xeyren menghela napas pelan. “Cukup.”
Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan kegaduhan di luar.
Ia melangkah menuju pintu dan sedikit membukanya.
Empat pengawal bersenjata berdiri di koridor dengan wajah tegang.
“Kami datang untuk membawa Daniela, Tuan,” kata salah satu dari mereka. “Kami menemukan laporan bahwa dia menyelinap ke area pribadi Anda. Dia harus segera~”
“Tidak.”
Satu kata dari Xeyren memotong kalimat pria itu.
Pengawal itu tampak bingung. “Tuan?”
Xeyren bersandar santai di kusen pintu. “Eksekusi dibatalkan.”
“Tapi dia~”
“Aku bilang tidak.”
Nada suaranya tetap tenang, tetapi ada sesuatu yang membuat para pengawal langsung terdiam.
Xeyren menoleh sekilas ke arah Lovelle, disertai seulas seringai dingin yang tipis di wajahnya.
“Dia tetap di sini.”
***
