2. Mencium Sang Antagonis
Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan.
Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap.
Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu.
Seketika Lovelle pun tertegun.
Dimana dirinya sekarang?
Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya.
Dan pakaiannya pun... kering.
Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung.
“Apa yang terjadi?” gumannya pelan.
Mungkinkan ia sedang bermimpi?
Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi.
Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya.
“Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?”
Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Tubuhnya tinggi sekali, bahunya lebar, dan wajahnya luar biasa tampan dengan garis rahang tegas dan mata gelap yang menatapnya tajam seperti pisau.
Ada tattoo yang keluar dari kerah kemeja hitam di lehernya, juga keluar dari sela-sela bagian lengan kemeja di punggung tangannya.
Namun yang paling mencolok dari semuanya, adalah aura dingin yang memancar darinya.
Pria itu melirik tangan Lovelle, lalu sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya.
“Jadi kamu bukan pelayan biasa, hm?” desisnya pelan namun sinis. “Apa yang mau kamu lakukan dengan dokumen itu?”
Lovelle mengikuti arah pandangannya, dan ia pun terkejut ketika melihat ada gulungan dokumen di tangannya sendiri!
“A-Apa… ini??”
Karena terlalu terkejut, tanpa sadar Lovelle pun menjatuhkan kertas itu ke atas lantai, lalu mundur ketakutan.
Namun pria itu malah bergerak maju beberapa langkah.
Satu tangannya yang besar terangkat, dan tiba-tiba langsung mencengkeram kuat leher Lovelle.
Tubuh gadis itu pun sontak sedikit terangkat dari lantai.
Dengan napas terengah, Lovelle berusaha menarik pergelangan tangan pria itu dari lehernya untuk melepaskan diri.
“Apakah kau adalah mata-mata yang dikirim oleh musuh?” pria itu bertanya dengan nada sedingin es.
Lovelle menggeleng panik. Ia mencoba bicara, namun cekikan itu membuat suaranya tidak bisa keluar.
Oksigen yang semakin tipis juga membuat pandangan Lovelle mulai berkunang-kunang.
Tanpa sengaja, matanya tertuju pada sebuah buku di atas meja.
Dan saat itu juga ia membeku, saat melihat sebuah nama yang tertulis dengan tinta emas di bagian sampulnya.
-XEYREN CROW-
Serta-merta, Lovelle merasa jantungnya seolah berhenti berdetak.
Xeyren… Crow?
Nama yang unik dan cukup aneh. Serta... sama persis dengan tokoh antagonis dari novel yang sedang ia baca.
Dan ruangan ini... Situasi ini…
Lovelle merasa tidak pernah berada di sini sebelumnya, namun rasanya begitu familier.
Rasanya ia pernah melihat deskripsi yang sama persis. Di buku itu, buku yang belum selesai ia baca.
Tunggu. Jangan bilang kalau...
Ia telah masuk ke dalam dunia novel??!
Lovelle mulai terbatuk-batuk, tapi sekali lagi ia mencoba berpikir jernih.
Jika ini benar…
Jika ia benar-benar berada di dalam dunia novel, maka ia pun tahu siapa dirinya sekarang.
Dia pasti Daniela.
Seorang mata-mata yang menyamar menjadi pelayan di Mansion milik Xeyren Crow.
Dan pria di depannya ini... adalah Xeyren Crow sendiri.
Penjahat yang akan membunuh Daniela!
Sial.
Saat ini pasti dia berada halaman ke-lima, saat Xeyren memergoki Daniela dan langsung membunuhnya dengan darah dingin!
Tapi Lovelle menolak untuk mati lagi.
Entah dunia apa yang ia masuki sekarang, tapi kali ini ia harus hidup!
Walau napasnya yang semakin tipis dan pikirannya kacau-balau, Lovelle berusaha untuk menjulurkan kedua tangannya ke depan dan meraih kerah kemeja hitam milik Xeyren.
Dengan tenaga lemahnya yang tersisa, Lovelle lalu menariknya sekuat tenaga hingga wajah pria itu mendekat.
Lovelle bisa melihat sekelebat keterkejutan di mata gelap pria itu.
Dan sebelum Xeyren sempat bereaksi, Lovelle segera mendekatkan bibirnya.
Lalu mencium bibir Xeyren.
***
