Bab.6. Lima Sahabat
KETIKA HUJAN TURUN
Bab.6. Lima Sahabat
Maya adalah salah satu sahabat kental Ira. Pemilik nama asli Maya Frederica Febe merupakan gadis keturunan Tionghoa yang menetap di Bandung. Selain mempunyai nama Indonesia ia juga memiliki nama Tionghoa yaitu Mey Xian Lie atau lebih dikenal dengan sebutan Meymey di kalangan keluarga dekatnya. Dahulunya nenek moyang Maya merupakan orang asli dari Semenanjung Cina yang datang ke Nusantara untuk berniaga.
Mereka dan sekelompok orang cina lainnya berlayar ke Indonesia guna mencoba peruntungan lewat jalur perniagaan. Mulanya mereka berniaga kain dan pakaian. Kini mereka menetap dan bermukim di Indonesia. Tak jarang sebagian dari mereka ada yang menikah dengan penduduk pribumi. Hingga terjadilah blasteran Indo Cina, yang saat ini popularitasnya tersebar di penjuru Indonesia, tak terkecuali di Bandung.
Maya dan Ira bersahabat sejak SMP hingga kini menginjak kelas tiga SMU. Selain Maya, Ira juga mempunyai teman lain yaitu, Asep alias Cecep, Santi Rahayu yang merupakan gadis keturunan Jawa yang dibesarkan di Bandung dan Yoga Sihombing, pemuda berdarah Batak yang kalau bicara suka bernada tinggi. Meskipun kelihatan keras tapi Yoga mempunyai hati selembut kapas. Ibarat cesing, ia diumpamakan seperti buah durian. Di luar terlihat berduri dan tajam tapi di dalam tersimpan sesuatu yang bagus.
Mereka berlima berteman akrab dan selalu bersama. Tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama- sama. Entah itu belajar kelompok di rumah Ira maupun sekadar kumpul biasa. Seperti siang ini, mereka sedang belajar bersama. Mereka mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru yaitu membuat sebuah majalah dinding. Tugas ini merupakan tugas kelompok dan kebetulan mereka berlima satu kelompok dalam tugas pembuatan majalah dinding itu.
Kehadiran mereka di rumah Ira disambut hangat oleh ibunya Ira yaitu Tante Rani. Bahkan Tante Rani sengaja membuatkan mereka tekwan. Sebuah makanan khas Palembang selain pempek. Bahan dasar tekwan sendiri sama seperti pempek. Tekwan terbuat dari tepung terigu dan tapioka yang dicampur dengan ikan giling atau ikan yang sudah dihaluskan. Di beri tambahan bawang putih halus beserta garam dan sedikit penyedap lalu diberi air es bisa juga dengan air panas.
Diaduk hingga rata dan kalis. Selanjutnya adonan ini dibentuk kecil- kecil sebesar jempol lalu di rebus hingga matang. Untuk bahan kuahnya kita membutuhkan merica, bawang putih, udang kering atau bisa juga udang basah yang dihaluskan, sedikit jahe, lengkuas, garam dan penyedap rasa. Bumbu ini di ulek hingga halus lalu ditumis. Di beri air secukupnya, tak lupa juga tambahkan penyedap rasa dan garam.
Untuk campuran kuah ini bisa ditambahkan bunga sedap malam, bengkuang atau bisa juga wortel yang diiris korek api seta jamur kuping. Ini akan membuat cita rasa tekwan lebih enak. Untuk pelengkap tekwan bisa ditambahkan irisan daun seledri dan taburan bawang goreng. Bisa juga ditambahkan sohun jika suka. Hidangan ini baiknya di sajikan sedikit hangat. Akan lebih mantap lagi bila ditambahkan dengan kecap dan cabai rawit yang sudah di haluskan. Makanan ini sungguh enak apalagi kalau di makan saat cuaca dingin seperti siang ini.
**
Kelima sahabat ini sedang mengerjakan tugasnya di ruang tengah. Mereka membuat majalah dinding sambil menonton televisi. Tampak dari tadi acara televisi hanya menyajikan infotainment seputar selebritis tanah air. Salah satunya kasus kawin cerai para artis – artis Indonesia yang akhir – akhir ini sering terjadi. Tak ketinggalan juga info kejahatan berupa penjambretan, pencurian kendaraan bermotor hingga kasus penculikan dan pembunuhan
Seperti kasus pembunuhan yang sedang viral. Di mana seorang suami tega membunuh istrinya sendiri. Padahal usia pernikahan mereka baru satu bulan. Mirisnya lagi saat itu kondisi sang istri sedang mengandung anaknya. Belum diketahui apa motif pelaku membunuh istrinya itu. Pelaku kabur setelah membunuh istrinya dengan cara disekap dan dicekik. Pelaku kabur membawa motor, perhiasan istrinya dan sejumlah uang. Saat ini polisi sedang mencari pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan itu.
Maya tampak memperhatikan berita itu, ia menonton dan mendengarkan dengan seksama. Ia tampak geram dengan berita yang dilihatnya barusan. Kok tega ya, seorang suami membunuh istrinya sendiri. Benar – benar suami Dajjal, umpatnya dalam hati. Semoga saja aku tidak akan menemukan laki - laki seperti itu nanti. Semoga saja suamiku nanti baik dan tidak pernah melakukan KDRT, batinnya berharap.
“ Uh... berita di televisi kebanyakan tentang kekerasan semua. Bikin emosi aja, masa seorang suami tega membunuh istrinya sendiri! Suami macam apa itu? Seorang suami itu dituntut untuk membahagiakan dan melindungi istrinya, tapi ini apa coba? Malahan dia tega membunuh istrinya dan mirisnya lagi kondisi istrinya itu sedang mengandung anaknya.” Maya berkata dengan kesal. Tersimpan suatu emosi dalam nada bicaranya.
“ Iya ya, May. Kok tega ya, suaminya itu. Terkadang aku juga enggak ngerti, apa motif dari pembunuhan itu? Kalau pun harus bertengkar setidaknya jangan main KDRT apalagi ini membunuh! Aku enggak habis pikir dengan suami seperti itu,” ujar Ira menanggapi perkataan Maya.
“ Dasar suami Dajjal itu. Tega – teganya bunuh istrinya sendiri,” umpat Maya kesal.
“ Zaman sudah tua, May. Sudah banyak Dajjal yang mulai bermunculan, salah satunya ya suami yang membunuh istrinya itu.”
“ Iya ya, Ir! Memang sudah akhir zaman ini. Di mana fitnah terjadi di mana – mana. Saat ini kita banyak berdoa, semoga dijauhkan dari hal yang seperti itu.”
“ Iya, kita tawakal saja. Perbanyak doa dan ibadah agar terhindar dari fitnah Dajjal,” ucap Ira menyarankan.
“ Iya benar juga, Ir. Memang kita harus banyak berdoa dan beribadah sekarang.”
“ Oh iya, ibumu mana, Ir? Kok dari tadi enggak kelihatan?” tanya Maya perlahan.
“ Ada, dia lagi di dapur sedang masak!”
“ Emang masak apa, Ir? Kok baunya sampai sini sih?” tanya Maya penasaran.
“ Masak makanan khas Palembang. Kamu pasti suka nanti.” Ira menatap sahabatnya itu dengan tersenyum. Ia yakin Maya pasti akan suka dengan masakan yang dibuat ibunya.
“ Kalau gitu lebih baik aku ke dapur saja. Bantu Tante Rani masak, daripada di sini menonton berita yang bikin emosi,” ujar Maya seraya beranjak dari tempat duduknya menuju dapur.
Kini Maya sudah berada di ruang dapur. Ia melihat Tante Rani sedang membuat kuah tekwan.
“ Tante, Maya boleh bantuin enggak?”
Tante Rani menoleh dan tersenyum ke arah Maya.
“ Boleh kok! Ayo sini dekat Tante,” ajak Tante Rani pada Maya.
Maya pun menghampiri Tante Rani. Ia melihat Tante Rani sangat terampil membuat makanan itu. Rasa penasaran terhadap kuliner Palembang yang satu ini membuatnya bertanya.
“ Tante sangat mahir ya membuat makanan ini. Sejak kapan Tante bisa membuat tekwan?”
“ Lumayan mahir juga Maya. Sejak Tante menikah dengan Ayahnya Ira, otomatis Tante belajar memasak dari ibu mertua. Kebetulan ibu mertua jago masak. Bukan hanya masakan khas Palembang saja tapi masakan lain juga bisa,” ujar Tante Rani menjelaskan
“ Wah boleh tuh , kapan- kapan Maya diajarin sama Tante?” tanya Maya sambil tersenyum.
“ Boleh, Tante siap mengajarimu Maya. Sering- sering saja main kemari!” tukas Tante Rani sambil mengaduk- aduk kuah tekwan.
Bau kuah tekwan yang harum tercium di hidung Maya dan membuatnya terpikat. Aromanya yang khas karena terbuat dari rempah- rempah pilihan menambah nikmat makanan itu. Rasanya Maya tidak sabar untuk menyantapnya.
“Hmm, tampaknya makanan ini lezat sekali ya Tante. Maya belum pernah menyantap makanan ini, kalau pempek sih sering ,” ujar Maya pada Tante Rani.
“ Makanan khas Palembang itu banyak loh Maya. Ada pempek, bolu 8 jam, bolu kojo, celimpungan, lakso, berugo, mie celor, pindang pegagan, pindang tulang, sambal tempoyak, pepes ikan tempoyak, dan masih banyak lagi. Bahkan pempek pun banyak macamnya Maya,” ucap Tante Rani menjelaskan.
“ Oh begitu, setahu Maya cuma kapal selam Tante,” ujar Maya sambil tersenyum.
“Bukan hanya kapal selam tapi ada juga pempek adaan, pempek keriting, pempek lenjer, pempek kulit dan pempek telur kecil.”
“ Wah jadi tambah pengetahuan baru nih Tante. Maya jadi semangat mau belajar cara membuat makanan khas Palembang sama Tante Rani.”
“ Boleh... Tante siap mengajarimu. Tapi kamu harus semangat kalau gagal enggak boleh menyerah. Belajar terus sampai bisa.”
“ Siap Tante. Maya akan belajar sampai bisa. Siapa tahu jodohnya Maya orang Palembang. Jadi kalau di suruh bikin pempek oleh mertua kan bisa Tante,” ucap Maya sambil tertawa kecil.
“ Iya, bagus itu. Tidak ada salahnya kamu belajar,” ucap Tante Rani sambil mematikan kompor karena kuah tekwan itu sudah matang. Segera Tante Rani menata tekwan itu di mangkuk besar lalu menyiramkan kuah di atasnya. Memberi irisan seledri dan juga bawang goreng. Ia menyuruh Maya membawa mangkuk itu ke depan sedangkan Tante Rani sendiri membawa kecap, sohun dan cabai rawit yang sudah di haluskan.
Semangkuk besar tekwan hangat terhidang di meja. Mata teman- teman Ira tertuju pada mangkuk itu. Baunya yang harum membuat teman- teman Ira menelan ludah. Tampaknya makan itu sangat lezat di mata mereka.
Ira segera ke dapur mengambil mangkuk dan sendok tak lupa seteko air bersama gelas. Ia meminta bantuan Santi untuk membawakan gelas dan teko yang berisi air itu. Setelah lengkap, Tante Rani pun menawari mereka untuk menyantap hidangan itu.
“ Ayo Nak, dimakan mumpung masih hangat. Di antara kalian pasti belum pernah makan tekwan kan?” tanya Tante Rani.
“Iya Tante, Cecep teh baru kali ini makan tekwan. Rupanya ini ya yang namanya tekwan. Bentuknya sama kayak soup ya, Tante?” tanya Cecep pada Tante Rani.
“ Hampir mirip tapi tekwan terbuat dari tepung tapioka dan tepung terigu serta diberi campuran ikan dan bumbu- bumbu. Jadi rasanya lebih gurih dan segar. Ayo di coba saja sekarang daripada penasaran kan,” ucap Tante Rani pada Cecep.
“ Iya, Tante! Sok atuh teman – teman di cokot we. Lompatin ke mangkuk,” ujar Cecep.
“ Yang lain juga ayo di makan, Maya ayo di makan. Itu siapa yang cowok sama yang cewek?” tanya Tante Rani menunjuk pada Yoga dan Santi.
“ Yoga Tante, dan ini Santi,” ucap Yoga menunjuk ke arah Santi.
Santi mengangguk dan menjawab perlahan. Mereka pun meraih mangkuk dan mulai mengambil tekwan yang ada di atas meja lalu dengan perlahan menyendok kan makanan itu ke mulut. Yoga yang asli orang Medan tampak menikmati makanan itu.
“Benar- benar lezat! Mana ada di kampungku makanan macam ini. Sumpah ini enak kali. Aku jadi mau tambah lagi. Boleh ku tambah lagi, Ira?” tanya Yoga dalam dialek Medannya.
“ Ya bolehlah, tambah saja seberapa kau mau. Habis ini bayar pakai hepeng ya,” ujar Ira bercanda.
“ Ya macam mana kau ini Ira. Aku tak dikasih uang jajan sama mamakku, dikasihnya ongkos saja untuk ke rumahmu ini. Mana ada aku hepeng . Nantilah kalau besok aku dikasih hepeng , ku bayar makanan ini,” ucap Yoga.
Semua teman- teman Ira tertawa mendengar percakapan mereka. Tak ketinggalan juga Cecep ikut menimpali pembicaraan itu.
“Duh, Ira kejam pisan euy! Masa makanan ini harus di beli, kan kasihan . Ya udah kasih gratis aja kitu!”kata Cecep pada Ira.
“ Iya, sudah pasti gratis lah. Aku kan cuma bercanda. Ayo dimakan, tambah lagi juga boleh,” ujar Ira menyuruh temannya untuk menambah makanan itu.
