Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.7. Telepon dari Kakek

KETIKA HUJAN TURUN

Bab.7. Telepon dari Kakek

“ Sampean ora dike'i sangu karo mbokmu. La piye iku, mosok cuma ongkos taksi doang!” kata Santi pada Yoga.

“Kumaha atuh, si Yoga teh teu kasih sangu sama ambunya. Terus Yoga makan apa? Nanti kelaparan gimana kitu?” tanya Cecep dengan polosnya.

Sontak perkataan Cecep itu membuat Ira dan Maya tertawa.

“ Ya makan sangu la masa makan roti, Cep! Sudah kayak orang bule saja makan roti,” ujar Ira menimpali perkataan Cecep sambil tertawa cekikikan. Ia tampak geli mendengar perkataan Cecep barusan. Bagaimana tidak, Cecep berpikir bahwa Yoga tidak diberi makan nasi oleh orang tuanya. Padahal itu bukan makan melainkan uang jajan. Sangu di sini maksudnya uang jajan dalam bahasa Jawa sedangkan dalam bahasa Sunda bisa diartikan nasi. Tampak terjadi miskomunikasi di antara keduanya. Ira mencoba meluruskan persepsi yang salah itu pada Cecep

“ Kamu teh salah persepsi, Cep! Sangu itu artina uang jajan dalam bahasa Jawa bukan nasi Cecep!” ujar Ira menjelaskan dengan perlahan.

“ Oh... kitu nya! Aku pikir nasi tadi. Maaf nya, ternyata sangu artina uang jajan menurut bahasa Jawa. Kudu belajar bahasa Jawa kitu , biar teu salah mengartikanna,” ucap Cecep dengan malu- malu.

“ Iya, bener kamu Cep. Kamu kudu belajar bahasa daerah lain juga. Biar nyambung kalau diajak bahasa daerah, terutama bahasa Jawa. Bahasa Jawa kan yang paling banyak di gunakan sekarang. Lihat saja, lagu- lagu sekarang banyak yang berbahasa Jawa. Kayak lagunya Denny Cak Nan atau Via Vallen. Apalagi kayak penyanyi Jawa legendaris Didi Kempot. Lagu mereka berbahasa Jawa semua,” tutur Ira pada Cecep.

“Iya.., iya neng geulis! Neng Ira mah amis pisan euy! Boleh kan aku cokot lagi tekwannya. Boleh kan? Boleh ya? Boleh lah,” ujar Cecep dengan bercanda.

“Ya boleh lah ,Cep. Masa enggak boleh. Apa yang enggak buat kamu ,Cep!” ujar Ira sembari tertawa kecil.

“ Sok atuh di cokot we,” kata Ira kembali dalam bahasa sundanya.

Tanpa malu – malu Cecep kembali mengambil makanan itu. Ia menyendok kan tekwan itu ke mangkuknya. Tak lupa juga ia menambahkan kecap dan saus ke dalamnya. Tampaknya Cecep menikmati sekali sampai – sampai ia menambah tekwan untuk yang kedua kalinya. Suasana riuh di ruang tengah itu tidak dihiraukannya. Ia asyik menikmati semangkuk tekwan yang ada di tangannya.

Dengan lahap Cecep menyantap tekwan itu. Ira hanya tersenyum melihat tingkah Cecep. Begitu juga dengan Santi, dia dari tadi memperhatikan Cecep.

“ Rupanya ada yang mau tambah tekwan nih, itu doyan apa kelaparan,” celetuk Santi pada Cecep yang saat itu sedang menyendokkan tekwan ke mulutnya. Ia sedikit heran dengan Cecep yang makan banyak, seperti orang kelaparan saja. Seperti dua hari tidak bertemu nasi.

Cecep yang saat itu sedang makan, mendadak berhenti. Ia menjawab perkataan Santi walaupun dalam kondisi makanan yang masih berada di mulutnya.

“ Kamu kalau iri bilang aja, Santi. Enggak usah nyindir – nyindir gitu,” ucap Cecep.

“ Loh, siapa yang nyindir, Cep! Aku kan cuma bilang, bukan nyindir,”ujar Santi berusaha membela dirinya. Ia tidak menyangka perkataannya membuat Cecep tersinggung.

“ Itu tadi maksud kamu apa? Itu kan sama aja dengan menyindir,” ucap Cecep kembali sambil menghabiskan sisa tekwan di mangkuknya. Cecep pun meraih teko yang berada di depannya. Ia menuangkan teko yang berisi air minum itu ke dalam gelas lalu meminumnya perlahan.

“ Ah, kamu bisa aja ngelesnya, Santi. Bilang aja kalau kamu iri.”

“ Aku enggak iri kok, aku heran aja sama kamu, Cep. Habisnya kamu makannya banyak, kayak orang kelaparan gitu!”

“ Tuh kan, nadanya kayak menghina banget,” ujar Cecep dengan kesal. Ia pun sadar kalau tadi memang ia makan banyak tapi setidaknya dirinya jangan di hina seperti ini. Jujur ia tersinggung dengan perkataan Santi barusan. Raut wajah Cecep mendadak masam yang menandakan ia sedang menahan emosinya.

Melihat situasi ini Ira dan Maya berusaha menengahi. Mereka berdua mencoba mendamaikan keduanya.

“ Sudah... sudah..., kalian jangan bertengkar! Ini hanya salah paham saja. Mungkin maksud Santi itu baik, dia hanya heran melihat kamu makannya banyak,” ujar Maya pada Cecep.

“ Iya nih, kamu jangan cepat tersinggung gitu atuh, Cep,” ucap Ira perlahan

Ira berusaha mendinginkan suasana, meredam emosinya Cecep yang sempat tersulut beberapa saat. Seperti api yang membakar kayu, Ira seperti air yang akan memadamkan api itu. Ia yang akan meredam emosinya Cecep.

“ Sudah, kalian baikan lagi ya. Enggak baik loh sesama teman saling bertengkar,” bujuk Ira kembali.

“ Iya, Cep! Jangan diambil hati, maafin aja,” ujar Maya yang juga membujuk Cecep agar tidak marah.

Cecep melirik sekilas, ia pun berkata,” Yang bersalah seharusnya minta maaf duluan.”

Merasa tertampar, Santi pun berkata,” Ya sudah aku minta maaf, Cep, kalau aku ada salah kata ke kamu. Maafin aku ya,” ucap Santi dengan sungguh – sungguh sambil mengulurkan tangannya meminta maaf.

Cecep pun menerima permintaan maaf itu. Ia menyambut uluran tangan dari Santi. Melihat hal itu Ira dan Maya senang, akhirnya kedua temannya itu berdamai kembali.

“ Nah gitu dong! Kalau damai begini kan enak dilihatnya,” ucap Maya tersenyum pada keduanya.

Mereka pun melanjutkan tugas membuat majalah dinding itu. Menjelang sore akhirnya tugas itu selesai juga. Tampak mereka puas dengan hasil karya yang mereka buat. Mereka optimis akan mendapat nilai yang bagus besok di sekolah. Sebagai ketua kelompok, Ira bertugas mengumpulkan majalah dinding itu. Ia akan mengumpulkannya ke sekolah besok pagi.

Setelah teman- temanya pulang, Ira bergegas merapikan ruang tengah itu. Ia membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Setelah semuanya terkumpul di dapur. Ia pun bersiap membersihkan piring- piring dan gelas kotor itu. Sehabis ini ia akan mandi dan sholat ashar terlebih dahulu sebelum membantu ibunya memasak di dapur. Meskipun anak tunggal, Ira tidak dimanja oleh ibunya. Sebaliknya, ia amat mandiri dan jauh dari kata manja. Ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri dan sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Ira sendiri berprinsip selama ia bisa melakukannya, ia tidak akan meminta bantuan orang lain.

**

Sementara itu, di kediaman Ryan. Tampak Ryan tertidur di kamarnya selepas sholat dzuhur tadi. Ryan yang tidur siang tiba- tiba terbangun oleh nada dering telepon di ponselnya. Nada itu cukup keras hingga menimbulkan suara berisik yang membuatnya terganggu.

Dengan malas ia meraih ponsel yang tergeletak di tempat tidurnya. Ia menatap layar ponsel itu. Tampak nama kakeknya tertera di sana. Rupanya kakeknya dari Yogya menelepon.

“ Ada keperluan apa sampai kakek Hartono meneleponku siang ini,” pikir Ryan.

“ Hmm, tampaknya ada hal penting yang ingin di sampaikan kakek padaku,” gumamnya perlahan.

Segera ia menerima panggilan telepon itu. Tampak suara terbatuk- batuk terdengar dari ujung sana, itu merupakan suara khas kakeknya. Ryan sangat mengenali suara itu karena ia sendiri tahu kakeknya menderita asma dan terkadang penyakit kakeknya itu sering kambuh. Ryan tampak cemas, kalau- kalau penyakit kakeknya itu kambuh sekarang. Namun demikian, ia tetap berpikir positif, mudah- mudahan hal itu tidak terjadi pada kakeknya sekarang.

“ Hallo assalamualaikum Ryan. Ini kakek, kamu lagi apa?” tanya kakek di ujung telepon.

“ Waalaikum salam. Ryan baru bangun tidur siang, Kek!”

“ Oh, tidur siang ya. Kakek tidak mengganggu kamu kan?” tanya Kakek kembali.

“ Tidak, Kek! Sama sekali tidak mengganggu. Kakek menelepon Ryan ada apa ya?” tanya Ryan pada Kakek perlahan.

“Kakek hanya ingin tahu kabarmu di sana Ryan.” Kakek berkata dengan suara agak berat.

“ Ryan, cucu kesayangan kakek apa kabarnya di Bandung? Betah kamu tinggal di sana?” tanya Kakek pada Ryan.

“ Alhamdulillah Ryan baik, Kek! Kakek sendiri bagaimana kabarnya? Penyakit Kakek tidak kambuh lagi kan?” tanya Ryan dengan sedikit cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada kakeknya di sana.

“ Alhamdulillah kakek baik- baik saja di sini Ryan. Tanpa kekurangan sedikit pun.”

“Syukurlah kalau begitu, Kek! Ryan cemas kalau terjadi sesuatu pada Kakek soalnya Kakek tadi sempat terbatuk- batuk. Ryan pikir penyakit asma Kakek kambuh.”

“Kamu tidak usah khawatir dengan Kakek, yang harus dijaga itu kamu Ryan. Bukankah kamu juga menderita kanker otak. Kamu harus menjaga kesehatanmu. Jangan berpikir terlalu keras , jangan terlalu lelah dan jangan lupa minum obat. Kakek sudah tua Ryan, jika esok Kakek tiada mungkin itu tidak apa- apa. Memang sudah waktunya mungkin. Tapi kamu, kamu masih muda Ryan. Masih punya harapan untuk masa depan. Kamu tidak usah sedih dengan kondisimu yang mengidap penyakit kanker otak. Kakek yakin kamu pasti akan sembuh Ryan karena cucu Kakek pasti orang yang kuat menghadapi cobaan ini,” ucap Kakek menjelaskan panjang lebar. Dia juga memberikan nasihat dan semangat untuk cucu kesayangannya itu.

Ryan tampak tertegun mendengar perkataan Kakeknya. Ia tahu Kakeknya mengkhawatirkan penyakitnya saat ini. Kanker otak bukanlah penyakit yang biasa dan main- main. Sebagian besar orang yang menderita penyakit ini meninggal, tak terkecuali dengan dirinya juga kelak. Namun demikian ia tetap optimis menjalani hari- harinya. Baginya melewati semua ini sangat sulit. Bayangan kematian selalu saja tampak di pelupuk matanya. Satu yang membuatnya bertahan adalah harapan kedua orang tuanya yang ingin melihatnya berhasil dan juga Ira, gadis yang sangat ia cintai saat ini.

“ Iya Kek, Ryan akan selalu mengingat pesan Kakek. Terima kasih Kakek sudah peduli dan sayang pada Ryan,” ucap Ryan sedih.

Tanpa terasa netranya sudah berkabut sejak tadi. Butiran – butiran bening itu semakin berat di ujung matanya. Ia mencoba untuk tidak menangis di hadapan Kakeknya itu. Namun tetap saja Ryan meloloskan butiran itu. Kini tanpa terasa air matanya jatuh perlahan. Melewati rahangnya yang sedikit tirus sebelum jatuh ke kaus putih yang ia kenakan saat ini. Entah mengapa perasaannya begitu sedih. Seakan kematian itu semakin dekat menghampirinya.

Perlahan Ryan menyeka air matanya itu dengan tangan kirinya. Ia pun menyemangati dirinya sendiri. Aku tidak boleh cengeng seperti ini, batinnya. Aku laki – laki, aku harus kuat, batinnya kembali.

“ Itu sudah menjadi kewajiban Kakek untuk selalu menyayangimu. Kamu adalah satu- satunya cucu laki- laki di keluarga besar ini. Kakek sangat sayang padamu Ryan, kapan kamu mau main ke Yogya? Kakek sudah rindu padamu.”

“ Iya Kek, insyaallah kalau tidak ada halangan liburan semester nanti Ryan akan main ke Yogya, atau mungkin Kakek yang akan ke sini?” tanya Ryan berharap agar Kakeknya itu mau datang ke Bandung.

“ Iya Ryan, insyaallah ya. Mungkin suatu saat nanti Kakek akan ke sana menemuimu.”

“ Oh iya Ryan, Kakek ingin sekali kamu kemari, Kakek tunggu kedatanganmu. Kakek ingin mengajakmu ke kebun jagung milik kita, memetik jagung lalu memanggangnya di dekat pondok. Seperti saat kamu masih kecil dulu,” kata Kakek mengingatkan Ryan akan kebersamaan mereka dulu.

Cukup lama keduanya larut dalam pembicaraan di telepon. Kakek tampak bersemangat sekali. Mungkin dengan cara inilah ia dapat mengobati kerinduannya terhadap cucu kesayangannya itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel