Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab. 5. Dua Sejoli

Suasana pagi di rumah Ira tampak berjalan seperti biasanya. Hanya saja berhubung hari ini hari libur, Ira bersama ibu dan neneknya menyempatkan olahraga sebentar di pagi itu. Selepas sholat subuh, mereka pun pergi ke CFD Dago. CFD Dago ini seperti CFD di Jakarta. Di sini orang- orang banyak yang joging, senam maupun bersepeda.

Minggu pagi CFD Dago di penuhi oleh orang- orang yang akan berolahraga. Begitu juga dengan keluarga Ira. Mereka bertiga mengikuti senam. Tampak Ira, Ibu dan neneknya mengikuti gerakan dari instruktur senam itu. Fisik neneknya Ira cukup kuat. Di usianya yang sudah mulai senja, beliau masih tetap bugar.

Selepas senam, Ira menyempatkan diri untuk joging sebentar. Sedangkan Ibu dan neneknya masih berada di tempat senam itu. Rupanya instruktur senam akan memulai senam yang kedua kalinya. Ira memilih menjauhi tempat itu. Pada ibunya ia berkata akan joging sebentar. Ibunya tidak melarang Ira untuk melakukan aktivitas kesukaannya itu.

Dengan perlahan Ira memulai jogingnya. Dia melintasi lapangan itu beberapa putaran. Pada akhirnya ia berhenti untuk beristirahat sebentar, ia memilih duduk di tepi lapangan itu. Ira meluruskan kakinya sambil menyeka keringat di wajahnya dengan handuk kecil. Tiba- tiba sebuah suara mengejutkannya.

“Ira!” terdengar suara yang memanggil namanya.

Ira pun segera menoleh. Ia melihat Ryan sudah berdiri di sampingnya. Ia tidak menyangka akan bertemu Ryan di tempat itu.

“ Kamu joging di sini juga ya?” tanya Ryan dengan tersenyum. Senyumnya manis dan menawan, menambah nilai plus pada diri laki – laki itu.

“ Ryan... sejak kapan kamu di sini? Dari tadi aku enggak lihat kamu?” tanya Ira sedikit heran karena tiba – tiba saja Ryan sudah berada di sampingnya.

“Sejak tadi aku bersepeda di ujung sana. Aku melihatmu dari jauh, makanya aku menghampirimu,” kata Ryan seraya menunjuk tempat di mana ia bersepeda tadi. Dan Ira pun melihat dengan ekor matanya, tempat yang ditunjukkan oleh Ryan.

“ Enggak nyangka ya, kita ketemu di sini. Kamu joging sendiri? Orang tuamu mana?” tanya Ryan pada Ira, karena ia tidak menemukan orang tuanya Ira di sana.

“ Tuh mereka,” ujar Ira sambil tangannya menunjuk ibu dan neneknya yang berada di tempat senam.

“ Oh...rupanya mereka senam di sana,” ujar Ryan setelah melihat ibu dan neneknya Ira tengah asyik mengikuti gerakan dari instruktur senam.

“ Kamu enggak ikut senam sama mereka, Ir?” tanya Ryan sedikit heran.

“ Sudah tadi, ini senam yang kedua, Ryan!” tegasnya pada Ryan.

“ Wah, fisik nenekmu hebat juga ya, Ir! Di usianya yang senja masih saja kuat untuk berolahraga,” terdengar suara Ryan yang memuji fisik neneknya. Ia kagum dengan fisik Neneknya Ira yang tetap bugar meskipun usianya sudah senja. Menurutnya sangat jarang di jumpai orang – orang yang seperti itu saat ini karena pada umumnya mereka mempunyai fisik yang tidak kuat lagi di usianya yang mulai menua.

Dengan tersenyum Ira menjawab,” Iya, begitulah. Nenek orangnya aktif. Dia tipe orang yang suka gerak. Di rumah juga nenek sering bersih- bersih kok.”

“ Padahal usia nenek sudah 60 tahun lebih. Di mana usia begitu lebih banyak menghabiskan waktunya bersantai di rumah. Tapi ini beda, nenek enggak suka duduk- duduk aja. Ia sangat aktif, terkadang aku jadi malu sama nenek. Lebih rajin nenek daripada aku,” ujar Ira sambil tersenyum malu.

“ Nah, ketahuan sekarang ya. Ternyata tuan putriku ini suka malas di rumah,” ujar Ryan seraya tangannya menunjuk ke arah Ira.

“ Ih... apaan sih. Enggak gitu juga kali. Di rumah aku enggak malas- malas amat kok,” kata Ira sedikit cemberut.

“ Yakin nih enggak malas? Jangan- jangan kamarmu, nenek yang beresin,” ujar Ryan sambil tertawa seolah mengejek.

Mendengar perkataan Ryan, Ira tampak kecewa karena Ryan berpikir kalau ia malas di rumah. Padahal ia tidak seperti apa yang Ryan pikirkan itu.

“ Ya enggak la Ryan. Mana berani aku menyuruh nenek untuk membereskan kamar,” jawabnya dengan nada sedikit tinggi. Ia merasa kesal, bagaimana bisa Ryan berpikir seperti itu padanya.

“ Kamu kan anak tunggal, Ir! Biasanya kan dimanja loh!”

“ Kata siapa coba? Aku orangnya mandiri kok!” tegas Ira.

“ Syukurlah kalau tuan putriku ini mandiri. Itu artinya kamu bertanggung jawab terhadap masa depanmu nanti.”

“ Maksudmu bagaimana?” tanya Ira tak mengerti.

“ Iya, kemandirian itu harus dibiasakan dari sekarang, Ir! Jika nanti kamu jauh dari keluargamu kamu bisa mengatasi kesulitan itu sendiri. Apalagi kalau sudah berkeluarga,” ujar Ryan menjelaskan.

“Duh, pikiranmu jauh banget Ryan. Sampai bahas berkeluarga segala.” Ira tidak menyangka Ryan sudah memikirkan tentang masa depan dan berkeluarga.

“Ya enggak apa- apa Ir! Tidak ada salahnya bahas tentang berkeluarga, memangnya kamu enggak mau berkeluarga apa?” tanya Ryan tiba -tiba.

Pertanyaan itu begitu menohok di hati Ira. Bisa – bisanya Ryan berpikir kalau dirinya tidak mau berkeluarga. Ah, Ryan ada – ada saja, pikir Ira. Mana ada di dunia ini orang yang tidak mau berkeluarga.

“ Ya maulah berkeluarga, tapi enggak sekarang juga. Aku kan mau kuliah dulu, kerja baru berkeluarga. Aku enggak mau nikah muda, masih banyak yang harus aku gapai!” tegas Ira.

“Nanti kamu nikahnya sama aku ya. Setelah wisuda aku akan kerja, ngumpulin uang buat nikahin kamu Ir!” tegas Ryan dengan tersenyum.

Mendengar kata – kata dari mulut Ryan, Ira tersenyum malu. Namun terlihat jelas di wajahnya ada binar kebahagiaan di sana. Bagaimana tidak, siapa yang tidak akan bahagia jika akan menikah dengan seseorang yang amat kita cintai.

“ Jadilah pasangan hidupku. Jadilah ibu dari anak- anakku. Tetaplah berada di sampingku, Ir! Aku ingin kamu menjadi ratu dalam istana kecil kita nanti. Kamu mau kan?” tanya Ryan sambil menggenggam tangan Ira dan menatapnya dalam- dalam. Tatapan itu begitu lembut dan penuh kasih.

Ira hanya mengangguk dan tersenyum. Dengan cepat Ryan meraih rumput liar di sekitar lapangan itu. Membuat sebuah lingkaran kecil menyerupai cincin lalu dengan perlahan memasangkannya ke jari manis Ira.

“ Ir, aku janji akan melamar dan menikahimu nanti, tapi untuk saat ini hanya ini yang bisa aku berikan. Anggap saja ini cincin sungguhan. Nanti aku akan memasangkan cincin bermata putih itu padamu. Aku janji, Ir!!” tegas Ryan dengan sungguh – sungguh.

“ Iya pangeran, aku mau tapi kamu janji ya akan memberikan cincin bermata putih itu padaku.”

“ Jangan khawatir, aku enggak akan bohong untuk tuan putriku yang cantik ini.”

Ira hanya tersenyum. Ia tertawa kecil, merasa lucu dengan tingkah Ryan barusan. Ia pun berkata,” Sudah ah, drama- dramanya. Seperti di sinetron saja.”

“ Lagian kita kan masih SMU. Nikahnya nanti selesai wisuda dan kamu sudah kerja!” ucap Ira tersenyum manis.

“Iya tuan putri. Sekarang kan enggak apa- apa. Hitung- hitung latihan,” ujar Ryan tertawa.

“ Memang melamar harus latihan dulu ya? Ada- ada aja,” ujar Ira.

“ Kalau sudah latihan kan enak, biar enggak salah saat melamar nanti. Bila perlu sehari sebelum lamaran geladi bersih dulu,” ujar Ryan berpendapat.

“ Ha....ha...! Ada- ada aja kamu. Memangnya upacara bendera pakai geladi bersih segala.”

“ Ya, enggak apa- apa kan, Ir! Melamar kan moment yang spesial, wajar kan kalau kita mempersiapkannya dengan baik,” ujar Ryan tertawa kecil.

“ Iya...iya... Asal kamu jangan lupa aja sama janjimu melamar nanti. Takutnya kamu lupa dan pindah ke lain hati,” ucapnya mengingatkan Ryan.

“ Jangan takut, Ir! Cintaku ini bukan cinta anak kecil yang dengan mudah pindah ke lain hati. Aku benar- benar mencintaimu. Mana mungkin aku meninggalkanmu dan melupakan janji yang kita buat bersama. Aku tak sekejam itu!” tegas Ryan meyakinkan Ira.

“ Iya Ryan. Aku percaya dengan ketulusanmu. Kamu berbeda, aku yakin kamu akan menjaga janji itu. Janji untuk selalu bersama dan menjagaku.”

Tengah asyik di mereka berdua mengobrol. Mereka dikejutkan dengan sebuah suara. Suara itu adalah suara ibunya Ira, Tante Rani.

“ Ir, kamu sudah selesai belum jogingnya? Ayo kita pulang!” ajak Ibunya pada Ira.

“ Iya, Bu. Ini sudah selesai kok.”

Sekilas Tante Rani melirik ke arah Ryan. Ia tidak menyangka akan bertemu Ryan di sana.

“ Nak Ryan, kamu di sini juga? Kalian sudah janji ya bertemu di sini?” tanyanya pada Ryan.

“Oh, enggak Tante. Kami enggak sengaja kok ketemu di sini,” jawab Ryan perlahan.

“Tante kira kalian sudah janji bertemu di sini,” ucap ibunya Ira sambil tersenyum ke arah Ryan.

“ Tante mau ajak Ira pulang. Kamu sudah selesai kan ngobrolnya sama Ira?” tanya ibunya Ira kembali.

“Oh... enggak apa- apa Tante. Lagian ngobrolnya sudah selesai kok!” tegas Ryan.

“Ya sudah kalau begitu, Tante tinggal dulu ya, Ryan. Kalau ngobrolnya masih kurang, main saja ke rumah.”

“ Enggak kok Tante. Sudah cukup kok,” ujar Ryan tersenyum malu.

Sejurus kemudian Ira meninggalkan lapangan itu bersama ibu dan neneknya. Meninggalkan Ryan sendirian di sana. Tak berapa lama Ryan pun meninggalkan lapangan itu, pulang menuju rumahnya dengan sepeda.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel