Bab.4. Teman dari Kampung
Mata pelajaran Agama Islam telah usai. Jam istirahat pun dimulai. Terdengar bel penanda jam istirahat dari kantor ruang guru. Murid- murid di kelas itu berhamburan ke luar. Mereka menuju ke kantin yang terletak di samping bangunan sekolah. Ada juga yang kembali ke kosantnya karena jarak kosant tidak jauh dari sekolah. Tinggal berjalan beberapa langkah sudah sampai, kebetulan kosant itu terletak di depan gedung sekolah. Tinggal menyeberang jalan sedikit kita sudah tiba di sana.
Entah dari mana kosant itu berawal, dahulunya itu hanya lahan kosong, hanya kebun dan beberapa rumah penduduk. Semenjak gedung sekolah itu dibangun, bermunculanlah rumah- rumah indekost. Entah stategi marketing atau keinginan pemilik lahan yang membangun tempat indekost di sana. Yang pastinya pemilik lahan itu diuntungkan dengan adanya sekolah ini.
Banyak siswa maupun siswi dari kampung yang indekost di sana. Pundi- pundi rupiah pun mengalir ke kantong pemilik lahan sekaligus pemilik indekost. Tak terkecuali dengan Asep, remaja tanggung dari kampung yang bersekolah di Bandung. Ia bertekad merantau ke Bandung dengan bermodalkan semangat. Demi cita- citanya agar bisa lulus dengan baik dan melanjutkan kuliah di ITB. Demi itu semua, ia rela berpisah dengan keluarganya.
Ira melihat Asep yang berjalan keluar kelas. Seperti biasanya, ia akan kembali ke kosant. Ira menghampiri Asep perlahan.
“ Kamu mau pulang ke kosant ya, Cep?” tanya Ira pada Asep yang biasa dipanggil Cecep oleh teman- temannya.
“ Iya, Ir! Aku teh mau istirahat di kosant aja,” jawab Cecep dalam logat sundanya.
Maklumlah Cecep memang orang Sunda tulen. Berbeda dengan Ira yang blasteran. Bukan Blasteran Indonesia Jerman atau Belanda seperti artis- artis Indonesia. Tapi Blasteran lokal Sunda- Palembang. Negeri yang terkenal dengan pempek kapal selamnya serta kebudayaan yang sangat kental. Ayahnya Ira yaitu Imran Cik Nang memang berasal dari negeri pempek kapal selam itu. Sedangkan Ibunya berasal dari bumi Parahyangan atau kota yang dijuluki dengan kota kembang.
Seperti di salah satu kabupaten yaitu Kabupaten Lahat yang terkenal dengan julukan negeri megalith dan seribu air terjun karena di sini banyak terdapat megalith peninggalan zaman purba serta air terjun yang sangat indah seperti Curup Maung yang sempat menjadi tranding topik di Indonesia. Selain Curup Maung, ada juga air terjun lain, seperti Curup Buluh, Curup Panjang, Curup Sambar Nyawa dan lainnya. Negeri ini juga menawarkan tempat wisata yang begitu ikonik terutama di wilayah Merapi Selatan, tepatnya di desa Perangai.
Di sini kita akan disuguhi pemandangan cantik gunung jempol atau biasa disebut bukit jempol. Gunung ini begitu ikonik dengan menyerupai jempol. Itulah sebabnya gunung ini disebut dengan gunung Jempol atau bukit Jempol. Gunung ini sangat indah dengan bentangan alam yang menawan. Hutan, hamparan sawah penduduk yang hijau menyejukkan mata serta jembatan gantung yang di bawahnya mengalir sungai Lematang.
Gemericiknya air di sela bebatuan serta kicauan burung yang bernyanyi menambah suasana eksotis tempat itu. Di sebelah bukit Jempol terdapat bukit Besak. Bukit yang menjadi surganya para pendaki. Tempat ini sering dijadikan tempat pendakian karena view di bukit ini sangat menawan. Jika kita mendaki di bukit ini, kita akan melihat gunung Jempol secara jelas.
Ira pun menjawab perkataan Asep dengan tersenyum.
“Oh kitu nya!” ujar Ira dengan bahasa sundanya.
“ Memangnya kamu mau ngapain di kosant, Cep? Tidur atau mau makan?” tanya Ira penasaran.
“ Ya istirahat sambil makan juga, Ir! Habisnya aku teh kudu berhemat. Kamu tahu sendiri kan, aku hanya anak kosant yang kiriman uang bulanannya tidak seberapa. Itu pun kadang telat.”
Ira jadi prihatin dengan nasib temannya itu. Ia bermaksud menyenangkan hati Cecep. Ira berinisiatif mengajak Cecep untuk jajan di kantin, sekadar membelikan semangkuk bakso dan segelas es teh manis. Kebetulan ia membawa uang jajan yang cukup. Kali in ia akan mentraktir temannya itu.
“ Gini aja, Cep, kamu enggak usah pulang ke kosant. Hari ini biar kamu aku traktir aja di kantin,” ujar Ira pada Cecep.
“ Gimana? Kamu mau kan, Cep?” tawar Ira pada Cecep.
“ Duh, aku jadi enggak enak nih, Ir! Takut merepotkan kamu,” ujarnya perlahan. Cecep berusaha untuk menolak meskipun sebenarnya dalam hatinya ia juga tidak keberatan kalau ditraktir sama Ira.
“ Enggak apa- apa, Cep! Sesekali berbagi kan baik,” ujar Ira tersenyum.
“ Ayo kita ke kantin, Cep!” ajak Ira pada Cecep.
Cecep hanya mengangguk. Ia pun setuju untuk ke kantin. Mereka berdua pun melangkah ke kantin yang berada di samping gedung itu. Kantin itu cukup ramai, wajar saja karena kantin ini merupakan kantin terfavorit dibandingkan dengan kantin lain yang ada di sekolah itu. Selain makanan dan minuman di sini enak, harganya juga terjangkau, pas dikantong untuk ukuran anak SMU. Di sana Ira memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es teh manis.
Tidak terlalu lama, pesanan itu pun sampai. Keduanya pun segera menyantap bakso itu. Mereka berdua tampak menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Apalagi Cecep, ia tampak lahap menyantap bakso itu. Ia tidak menyangka mendapat rezeki sebesar ini, ditraktir bakso oleh Ira. Hal itu sungguh membuat hatinya senang sekaligus bersyukur.
.**
Sementara itu, Maya yang berada di ruangan Pak Fahmi tampak sedikit gugup. Ia harap - harap cemas, kiranya masalah apa yang ingin dibicarakan Pak Fahmi padanya. Ada masalah apa Pak Fahmi sampai memanggil ku kemari, batin Maya bertanya. Apakah masalah di kelas tadi? Mungkin saja masalah itu yang ingin dibicarakan Pak Fahmi padaku, pikir Maya kembali.
Setelah mempersilahkan Maya duduk, Pak Fahmi pun memulai pembicaraan. Matanya memandang Maya yang tertunduk malu. Perlahan ia membuka pembicaraan.
“ Maya, sebenarnya apa yang kamu pikirkan di kelas tadi? Bapak yakin kamu sedang memikirkan sesuatu sehingga kamu tidak fokus dengan apa yang Bapak jelaskan.” Pak Fahmi tampaknya penasaran sekali dengan apa yang dipikirkan Maya di kelas tadi. Ia berusaha mengulik hal itu lebih dalam pada Maya. Ia ingin kejujuran yang keluar dari mulut muridnya itu.
“ Bukan apa- apa kok ,Pak!” tegas Maya, menjawab perlahan. Ia berusaha untuk menutupinya dari Pak Fahmi. Ia tidak ingin Pak Fahmi tahu kalau ia sedang memikirkannya tadi.
“ Jangan bohong! Saat bapak tanya, kamu jawabnya ngelantur,” kata Pak Fahmi pada Maya. Memaksa agar dia berkata jujur.
“ Jujur saja tidak mengapa! Bukankah lebih baik begitu, kalau ada masalah lebih baik diceritakan saja. Siapa tahu Bapak bisa membantumu,” tawar Pak Fahmi.
“ Tidak apa- apa kok ,Pak! Ini hanya masalah kecil, masalah pribadi.”
“ Masalah pribadi, masalah dengan siapa? Apakah itu menyangkut pacarmu?” tanya Pak Fahmi menyelidik.
“Ya... kurang lebih seperti itu, Pak!” ujar Maya berbohong karena tidak mungkin ia menceritakan hal yang sebenarnya. Tidak mungkin kalau dia memikirkan Pak Fahmi dan mengkhayal berumah tangga dengan guru muda itu.
“ Oh... jadi begitu! Kamu gagal fokus dengan pelajaran yang Bapak berikan karena memikirkan pacarmu!”
“Sekolah itu untuk belajar, Maya! Bukan untuk memikirkan pacar,” ujar Pak Fahmi sedikit meninggikan suaranya. Tampaknya ia sedikit kesal dengan sikap Maya yang memikirkan pacar di saat jam pelajarannya.
“ Lain kali kalau ada pelajaran, sebaiknya kamu jangan memikirkan hal lain. Kamu itu harus fokus dengan pelajaran yang diberikan oleh gurumu,” pesan Pak Fahmi memperingatkan Maya.
“Iya, Pak! Maya tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan Maya, Pak, karena kurang fokus dengan pelajaran yang Bapak berikan tadi, “ ujar Maya meminta maaf.
“ Tampaknya kalian sangat romantis. Masih pacaran saja sudah memanggil Abi Umi, bagaimana kalau menikah nanti, pasti tambah romantis ya,” goda Pak Fahmi pada Maya sambil tersenyum. Ia pun mencoba melunak, mencoba untuk sedikit tidak marah pada Maya.
Maya hanya melihat sekilas ke wajah Pak Fahmi karena ia tidak ingin memandangi wajah tampan itu lagi. Takut kalau ia terpesona dan mengkhayal yang bukan- bukan, seperti di ruang kelas tadi. Ia hanya mampu membalas senyum itu dan menundukkan wajahnya. Melihat hal itu Pak Fahmi pun kembali berkata,” Ya sudah, kesalahanmu kali ini Bapak maafkan. Tapi ingat kamu jangan mengulanginya lagi ya! Sekolah itu untuk belajar bukan tempat pacaran dan memikirkan hal yang tidak penting!” tegas Pak Fahmi memberikan pengarahan.
“Iya, Pak,” ujar Maya.
“ Ya sudah, itu saja yang ingin Bapak sampaikan padamu. Sebaiknya kamu istirahat saja sekarang.”
Setelah berpamitan pada Pak Fahmi, Maya pun segera meninggalkan ruangan itu. Rasanya lega setelah keluar dari ruangan itu karena ia tidak lagi diberi pertanyaan menyangkut apa yang dipikirkannya di kelas tadi.
