Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.3. Guru Muda yang Memesona

Pertanyaan dari Bu Eriska berhasil di jawab dengan baik oleh Santi. Akhirnya mata pelajaran Antropologi yang di ajarkan Bu Eriska berakhir sudah. Dengan perlahan Bu Eriska mengakhiri pelajarannya. Ia pun kini memberikan tugas untuk anak didiknya.

“ Baiklah anak- anak, pelajaran kita kali ini hanya sampai di sini. Ibu akan memberikan tugas pada kalian. Nanti tugas itu bisa kalian kerjakan di rumah. Kalian menjawab soal yang berada di halaman 17. Lusa kalian kumpulkan, saat bertemu pelajaran Antropologi. “Apa kalian mengerti?” tanya Bu Eriska pada anak didiknya.

“ Mengerti, Bu...,” ucap mereka serentak. Mereka pun paham dengan apa yang dikatakan Bu Eriska.

“ Baiklah kalau begitu, ibu akan mengakhiri perjumpaan kita kali ini dan jangan lupa untuk mengerjakan tugasnya!” tegas Bu Eriska memperingatkan mereka semua. Dengan perlahan Bu Eriska meninggalkan ruang kelas itu. Ia berjalan keluar. Langkahnya cepat menuju ruang kelas lain, siap untuk memberikan pelajaran.

Sementara itu suasana di ruang kelas agak sedikit gaduh setelah ditinggalkan oleh Bu Eriska. Namun suasana itu tidak berlangsung lama karena pelajaran kedua sebentar lagi akan di mulai. Pelajaran kedua ini tentang Pendidikan Agama Islam. Guru yang mengajar kali ini adalah Pak Fahmi. Seorang guru muda yang pernah mondok di pesantren Tebu Ireng. Dia merupakan sosok guru yang disegani oleh murid – muridnya.

Suasana agak tenang setelah Pak Fahmi memasuki ruang kelas. Tak lupa Pak Fahmi mengucapkan salam ketika memasuki ruangan kelas itu. Anak didiknya pun membalas salam itu. Segera Pak Fahmi duduk di mejanya. Ia pun kini siap memberikan pelajaran di pagi itu.

“ Anak- anak, apa tugas yang Bapak berikan kemarin sudah selesai kalian kerjakan?” tanya Pak Fahmi membuka percakapan. Mata Pak Fahmi pun mulai berpendar menatap wajah murid – muridnya. Ia ingin tahu apakah tugas yang diberikannya kemarin sudah selesai dikerjakan atau belum.

“ Kalau sudah selesai, ayo kumpulkan di meja barisan depan. Setelah itu kalian tukarkan pada meja teman kalian di barisan lain. Kita akan koreksi bersama- sama,” ucap Pak Fahmi memerintah.

Dengan segera mereka mengumpulkan tugas itu di meja depan. Seorang murid yang berada di barisan depan pun segera membawa tugas- tugas itu dan menukarkannya di barisan lain. Tampak murid di bagian depan membagikan tugas itu pada teman- temannya. Setelah selesai dan mereka menerima tugas itu, pengoreksian itu pun berlangsung. Pak Fahmi menyuruh muridnya untuk membacakan soal dan menjawabnya secara bergiliran.

Dimulai dari murid yang berada di barisan depan. Hingga tibalah giliran Ira membacakan soal itu, ia pun membacanya dan memberikan jawaban seperti apa yang ada di buku tugas temannya itu. Untungnya jawaban itu benar. Ira pun merasa lega. Akhirnya pengoreksian itu pun selesai.

Mereka membuat jumlah salah dan benar di buku tugas yang mereka koreksi. Pak Fahmi menyebutkan satu persatu nama muridnya, meminta jumlah benar dari tugas yang mereka koreksi tadi. Setelah selesai, Pak Fahmi menyuruh murid di bagian depan untuk mengembalikan buku tugas itu. Tampak murid di meja barisan depan mengambil buku tugas itu dan mengembalikan ke meja temannya yang lain.

Kini pelajaran Pendidikan Agama Islam pun di mulai. Pak Fahmi menyuruh murid- muridnya untuk membuka bab.15 tentang Hukum Menikah. Pak Fahmi menjelaskan secara terperinci hukum menikah dan wanita yang haram untuk dinikahi. Pak Fahmi menjelaskan pelajarannya secara gamblang dan mudah dimengerti. Ia menjelaskan pelajarannya dengan efektif, tidak bertele – tele, dan langsung pada inti permasalahan sehingga penjelasan itu tepat pada sasaran.

Tampak sedari tadi Maya memperhatikan Pak Fahmi. Ia menatap lekat wajah laki- laki itu. Rupanya ia terpesona akan karisma dan kelembutan yang dipancarkan oleh Pak Fahmi. Ia pun mengkhayal seandainya ia menjadi kekasih halal Pak Fahmi, mungkin dia akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Seandainya aku jadi istri pak Fahmi, aku sangat bahagia sekali, batinnya perlahan.

Aku akan selalu membuatnya bahagia dan akan melakukan kewajiban ku sebagai istri dengan sebaik mungkin. Taat dan patuh terhadapnya, bukankah surga seorang istri itu terletak pada ridha suami. Sebisa mungkin aku akan patuh padanya karena dia adalah imamku. Imam yang menuntun dunia dan akhiratku, bisik hatinya kembali. Maya masih saja asyik dengan khayalannya sendiri.

Tingkah Maya yang tampak melamun sembari menatap dirinya lekat, diketahui oleh Pak Fahmi. Ia pun merasa risih dipandangi seperti itu oleh anak muridnya. Pak Fahmi berinisiatif menyadarkan Maya dengan memberinya pertanyaan. Mungkin dengan ini, Maya akan tersadar, pikirnya perlahan. Ia pun segera memberikan pertanyaan pada Maya.

“ Maya, apakah kamu mengerti dengan apa yang bapak jelaskan barusan?” tanya Pak Fahmi perlahan. Pertanyaan itu tertuju pada Maya yang sedari tadi tampak melamun. Namun tidak ada reaksi dari Maya. Maya terus saja menatap dirinya lekat.

“ Hmm, sebenarnya apa yang gadis ini pikirkan,” gumam Pak Fahmi perlahan. Pak Fahmi pun memutar otaknya. Ia mencari cara untuk membuyarkan lamunan Maya.

“ Sebaiknya kudekati saja Maya, aku yakin dia pasti akan tersadar dari lamunannya,” gumam Pak Fahmi lagi.

Maya masih saja melamun. Ia sibuk dengan khayalannya sendiri, tanpa di sadari, kini Pak Fahmi sudah berada di dekat mejanya. Segera Pak Fahmi mengulangi pertanyaannya,” Maya, apa kamu mengerti?” tanya Pak Fahmi kembali.

“ Mengerti Abi, nanti Ummi persiapkan segala kebutuhan Abi,” jawab Maya tanpa sadar dan mengerti pertanyaan apa yang diajukan oleh Pak Fahmi. Rupanya ia mengkhayal berumah tangga dengan guru muda itu dan memanggil Abi Ummi.

Sontak perkataan Maya mengundang gelak tawa teman- temannya. Suasana riuh sekali di kelas itu, sebagian ada yang mengolok- olok Maya dan sebagian lagi mengejeknya. Mereka semua menertawakan dan membicarakan Maya yang bertingkah konyol itu.

Seketika itu juga Maya tersadar dari perkataannya. Dengan polosnya ia pun meminta maaf.

“ Maaf Pak,” ujar Maya perlahan sembari menundukkan wajahnya. Bermaksud menyembunyikan rasa malunya. Tampak wajah Maya seketika memerah seperti buah tomat masak. Ia sangat malu sekali dengan apa yang ia ucapkan pada Pak Fahmi barusan. Ia pun menyesali mengapa ia bertingkah seperti itu tadi, dan karena tingkahnya itu ia ditertawakan oleh teman – temannya.

“Iya, tidak apa- apa,” kata Pak Fahmi sembari tersenyum.

Teman- temannya pun menyorakinya. Mendengar teriakan itu, Maya semakin malu. Ia pun terus saja menundukkan wajahnya dalam – dalam.

“ Huh...,” ujar mereka serentak.

Mendengar itu, Pak Fahmi mencoba menenangkan.

“ Sudah... Sudah... Kalian diam! Kalian diam semua, ini bukan bahan lelucon!” tegas Pak Fahmi pada murid- muridnya di kelas itu.

“ Apa kalian senang menertawakan teman kalian ini? Kalian senang di atas penderitaan Maya yang menahan malu!” ujar Pak Fahmi dengan nada tegasnya.

Seketika itu, suasana hening. Mereka tampak diam dan berhenti berbicara. Perkataan Pak Fahmi tadi sungguh membuat mereka takut. Rupanya wibawa Pak Fahmi cukup besar terhadap murid- muridnya.

Pak Fahmi pun berkata dengan perlahan pada Maya,” Maya, nanti pas jam istirahat, kamu ke ruangan Bapak, ya! Ada hal penting yang ingin Bapak bicarakan!” perintahnya pada Maya. Maya pun hanya bisa mengangguk perlahan. Mengiyakan perkataan dari Pak Fahmi.

Pak Fahmi segera melanjutkan pelajarannya. Kali ini suasana cukup tenang dan murid- murid mendengarkan dengan serius. Hingga pada sesi pertanyaan, Pak Fahmi mempersilahkan murid- muridnya bertanya jika ada penjelasannya yang belum di mengerti atau kurang jelas. Ira pun bertanya,” Pak Fahmi, saya ingin bertanya tentang hukum menikahi saudara sepupu?”

“ Baiklah Bapak akan menjawab, hukum menikahi saudara sepupu adalah boleh karena sepupu bukanlah mahram. Sedangkan wanita yang haram dinikahi itu salah satunya adalah masih adanya ikatan mahram. Untuk sepupu, dia bukan mahram jadi dihalalkan untuk menikah dengan saudara sepupu dekat maupun jauh,” kata Pak Fahmi menjelaskan secara terperinci.

Ira mengangguk, tanda mengerti. Ia cukup puas dengan jawaban dari Pak Fahmi tadi. Selain Ira ada juga teman satu kelasnya yang bertanya. Selain tentang pernikahan mereka juga bertanya tentang perceraian. Membahas seputar pernikahan dan perceraian merupakan topik yang selalu baik untuk di perbincangkan. Salah satu topik yang tidak membosankan bagi sebagian besar orang pada umumnya. Ada saja hal – hal yang dikulik seputar dunia pernikahan dan perceraian.

Mengingat angka perceraian di Indonesia sangatlah tinggi. Umumnya kawin cerai ini terjadi di kalangan artis- artis Indonesia. Kita juga tidak tahu ada masalah apa di antara keduanya, yang kita lihat hanya kebahagiaan di luarnya saja tanpa tahu masalah pelik apa yang terjadi dalam keluarganya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel