Bab 9 Pembelaan Zafir
Lina telah mandi pagi dan rapi memakai seragamnya. Di depan cermin ia mematut jilbabnya. Dilihatnya kotak hitam di atas nakas.
Pakai nggak ya?
Lina mengambil kotak itu dan membuka isinya. Jam tangan pemberian Zafir dengan model casual yang bisa dipakai sehari-hari.
Lina mengeluarkan jam tangan itu dari kotaknya lalu mencobanya di pergelangan tangan.
Terasa pas.
Dikaitkannya tali jam sesuai ukuran tangannya. Lina melihat dirinya di cermin, tangannya ia angkat sedikit hingga bayangan tangannya memakai jam tangan terlihat jelas. Ia tersenyum.
Puas dengan penampilannya yang sudah terlihat rapi, Lina bergegas menuju kamar Nyonya Misha. Sudah waktunya nyonya Misha menghirup udara pagi dan sedikit berjemur.
Lina berjalan menuju kamar tidur utama, diketuknya pintu perlahan.
Tok! Tok! Tok!
Lina membuka pintu. "Assalamualaikum. Pagi, Bu."
Misha yang berbaring di atas ranjang tak menjawab hanya menatap Lina dengan tatapan tak suka.
"Waktunya berjemur, ya, habis itu baru kita mandi."
Lina membantu Misha menaiki kursi rodanya. Peluh Lina mengalir, perlu tenaga cukup besar untuk mengangkat tubuh Misha. Wasti biasanya membantu Lina mengangkat tubuh Misha namun insiden kemarin membuat Lina enggan meminta bantuan Wasti.
"Kita ke taman belakang ya, hirup udara segar sekaligus berjemur! Berjemur bagus loh biar Ibu cepet pulih."
Anggukan kecil diberikan Misha sebagai bentuk persetujuan. Lina mulai mendorong kursi roda menuju taman belakang.
***
"Darimana kamu dapat uang? Kamu nyuri?"
"Ng ... nggak, Pak." Ketakutan mulai menyelimuti Wasti, tatapan tajam dan menusuk Zafir membuat detak jantungnya semakin cepat.
"Terus dari mana uang untuk belanja semua isi kulkas ini?"
"Uang saya sendiri.”
"Bohong! Kamu bohong!"
"Be ... ner, Pak."
"Saya nggak suka ada pembohong di rumah ini apalagi pencuri!"
Zafir curiga Wasti mengambil kartu debit yang diberikannya pada Lina karena kedatangan Wasti di ruang kerjanya kemarin tidak lama setelah ia memberikan kartu debit itu pada Lina.
"Ibu Wasti, saya tahu gaji kamu berapa dan tiap bulan gaji itu kamu kirimkan ke kampung, jadi tidak mungkin isi kulkas ini dibeli dari gaji kamu!"
Wasti menunduk, tubuhnya gemetar, lidahnya kelu tak tahu harus berkata apa. Pikirannya buntu, alasan apalagi yang bisa ia berikan pada Zafir?
Dari jendela dapur Zafir melihat Lina yang mendorong kursi roda ibunya di halaman belakang. Diparkirkan kursi rodanya itu menghadap taman, tempat yang paling banyak terkena sinar matahari.
"Kamu, tunggu di ruang kerja saya!" perintah Zafir pada Wasti dengan tegas. Wasti menurut, ia sedikit lega akan ada sedikit waktu untuk ia berfikir.
Zafir melangkah menuju halaman belakang. Ia mendekati kursi roda mommynya. Tepat di depan Misha, Zafir membungkuk mensejajarkan dirinya di hadapan sang ibu.
"Mommy, Zafir ada perlu sebentar dengan Lina. Mommy di sini sendiri dulu ya!" Zafir berkata lembut sambil mengusap lengan ibunya.
Untuk apa Zafir meninggalkanku? Apa yang akan dilakukannya bersama Lina? Batin Misha curiga.
"Sebentar ya, Mom, nggak bakal lama kok."
Zafir mengajak Lina ke ruang kerjanya tanpa banyak bicara hanya menarik pergelangan tangan Lina.
"Aw!" Lina meringis.
Dijarak yang cukup jauh dari sang ibu, Zafir berhenti. "Kenapa pergelangan tangan kamu?"
Lina tidak menjawab, ia hanya menunduk. Zafir mengangkat pergelangan tangan Lina dan memperhatikannya.
"Ini memar kenapa?"
"Keseleo, Mas."
"Jangan bohong! Tatap saya, kenapa pergelangan tangan kamu biru begini?"
Ditatap sedemikian intense oleh Zafir makin membuat Lina tak bisa menjawab. Ketampanan Zafir memukau Lina, dan mata tajamnya membuat lidah Lina kelu. Lina kemudian menunduk.
"Siapa yang berbuat ini? Saya yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di rumah ini. Kamu tanggung jawab saya. Jadi tolong jawab saya!" ucap Zafir tegas namun lembut.
Ingin sekali Lina berkata bahwa Wasti yang melakukannya, namun ia tidak ingin menyulut keributan di rumah itu.
"Tidak perlu takut, saya akan melindungi kamu. Seperti saya bilang kamu tanggung jawab saya, dan kamu penting bagi saya." Zafir menatap Lina dalam-dalam.
"Saya tidak ingin ada keributan di rumah ini."
"Apa Wasti yang melakukannya?"
Lina diam tidak menjawab. Kediaman Lina bagi Zafir berarti iya.
"Sudah kuduga, pasti Wasti." Zafir terlihat menahan emosinya.
"Apa dia mengambil debit card yang saya berikan?" tanya Zafir yang dijawab anggukan oleh Lina.
"Dia pasti mengambil paksa dari tangan kamu sampai tangan kamu memar begitu." tuduh Zafir.
Lina tidak berkata apa pun, dia memang kesal pada Wasti tapi juga kasihan jika Wasti harus menerima amarah Zafir.
"Jangan marahi dia, Mas, Bu Wasti sudah tua."
"Nggak bisa! Ini harus diselesaikan. Ikut saya ke ruang kerja!"
Lina mengekori Zafir, ia berjalan sambil memegang bajunya. Cemas dengan kemarahan Zafir.
Zafir masuk ke ruang kerjanya sambil menatap marah pada Wasti yang berdiri di depan meja kerjanya menghadap ke pintu.
"Wasti, kamu yang berbuat ini pada Lina?" Zafir mengangkat pergelangan tangan Lina memperlihatkan memarnya.
"Enggak, saya nggak akan setega itu."
"Bohong kamu!"
Wasti menunduk, diremasnya ujung bajunya. Zafir mendekati Wasti.
"Kamu ambil debit card yang saya berikan pada Lina ‘kan? Jawab!"
Wasti hanya bisa menggeleng.
"Udah tua, udah bau tanah masih juga berbohong. Jujur atau kamu saya pecat! "
Amarah Zafir menguar, Wasti merasakan itu. Sudah begitu lama ia bekerja di rumah keluarga Zafir baru kali ini ia melihat Zafir semarah itu. Kedua orang tua Zafir pun tak pernah semarah itu padanya meski ia melakukan kesalahan.
"I ... iya."
"Mana debit card-nya?"
"Di kamar.”
"Ambil!"
Wasti segera pergi dari hadapan Zafir. Lina berinisiatif mengambil segelas air putih dari dispenser di ruang itu.
"Minum dulu, Mas."
"Terima kasih, kamu memang sangat mengerti saya." Zafir mengambil air yang disodorkan Lina.
Ada rasa bangga di hati Lina mendengar ucapan Zafir. Laki-laki yang ia kagumi memujinya.
Wasti datang tergopoh-gopoh, sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan diberikannya debit card itu pada Zafir.
"Debit card ini kemarin saya berikan pada Lina, dan hanya Lina yang boleh menggunakannya dan kamu Wasti berani merampas dari tangan Lina sampai tangannya memar. Ini tidak bisa ditolerir!"
"Jangan pecat saya, siapa yang akan membiayai cucu saya di kampung kalau saya dipecat?"
"Bukan urusan saya!"
"Cucu saya anak yatim, bagaimana dia bisa makan dan sekolah kalau saya tidak kerja."
"Salah kamu sendiri kalau dia kemudian tidak bisa makan dan sekolah."
"Saya mohon jangan pecat saya!" Wasti memegang tangan Zafir, dan Zafir menepisnya dengan keras.
Lina merasa iba pada Wasti, ia tahu bagaimana sulitnya hidup saat tidak ada yang bisa menfkahi. Walau ayahnya masih hidup, Lina harus berjuang membiayai hidupnya dan adik-adiknya.
"Mas, jangan pecat Bu Wasti!"
"Ngapain kamu bela dia? Dia sudah menyakiti kamu!"
"Bu Wasti sudah tua, mau kerja di mana lagi kalau tidak di sini. Kasihan cucunya juga."
"Dia layak dihukum."
"Tapi nggak perlu dipecat, Mas."
Zafir berpikir sejenak, apa hukuman yang pantas buat Wasti.
"Baiklah, karena ini permintaan Lina saya tidak jadi memecat kamu. Kamu saya hukum!"
"A ... apa hukuman saya?"
"Gaji kamu saya potong sesuai harga belanjaan yang sudah dikeluarkan dan kamu wajib menghormati Lina sebagai bagian dari keluarga ini."
Bagian dari keluarga? Berdesir hati Lina mendengar ucapan Zafir.
