Bab 8 Prasangka
Lina mengusap pergelangan tangannya. Bulatan hijau keunguan tampak membekas di sana. Apa salahnya sampai Ibu Wasti memperlakukannya demikian? Juga, apa yang harus Lina katakan pada Zafir jika tahu debit card yang ia berikan diambil Ibu Wasti?
Hati Lina muram. Zafir sudah begitu baik padanya, memberinya hadiah jam tangan yang begitu indah dan mahal tetapi ia tidak bisa menjaga amanah yang Zafir berikan.
"Sshhh ...." Lina meringis saat menekan pelan pergelangan tangannya.
Drrrt!
Ponsel di atas nakas samping ranjang Lina bergetar. Lina beringsut, mendekati nakas dan meraih ponsel. Sendu di wajah Lina terangkat, seulas senyum mengembang membuatnya kembali berseri.
Naina:
Assalamualaikum.
Met malem ukhty?
Lina terkekeh. Meskipun jauh, Naina selalu saja membuatnya bisa tersenyum kembali meski itu hanya lewat layar ponsel.
Lina:
Waalaikumsalam
Naina:
Singkat banget sih Lin? Panjangan dikit dong. Kangen nih. Nggak ada yang bisa aku gangguin?
Lina terkekeh pelan. Memang, setiap kali bertemu, Naina selalu heboh dan menganggunya. Kebanyakan orang menganggap Naina terlalu cerewet dan cengengesan, tetapi bagi Lina, Naina menjadi hiburan tersendiri.
Naina:
Apa kabar? Cie yang kerja di rumah cogan
Pepet terus Lin, siapa tau .... uhuy?
Bibir Lina menipis. Hatinya berdebar mengingat wajah tampan dan senyum hangat Zafir, belum lagi jam tangan yang diberikan untuknya.
Lina:
Udah ah jangan dibahas. Udah malem, aku mau tidur. Assalamualaikum:)
Naina:
Eh lin! Astagfirullah. Jangan kabur dulu dong:(
Naina:
Linaaaaaaa!
Naina:
Astagfirullah:(
Salah apa aku ini? Punya temen kok gini banget. Aku bukan debt collector yang harus di hindari, Lin.
Naina:
Tapi yaudah deh. Dadah lina. Waalaikumussalam :(
Lina tersenyum tipis. Setelahnya ia mematikan sambungan data dan menaruhnya kembali ke atas nakas. Lina sendiri tidak paham dengan dirinya. Apa yang sebenarnya ia rasakan pada Zafir.
Ah tidak!
Lina menggeleng pelan. Ia harus sadar diri. Siapa dirinya yang bisa bersanding dengan pria seperti Zafir? Segalanya pria itu miliki, sedangkan dirinya?
Ia harus kuat. Sekalipun Ibu Wasti tampak tidak suka padanya, tetapi Lina akan bertahan. Sebelum Ibu Zafir kembali sehat, Lina akan berjuang. Ia akan menguatkan hatinya.
"Semangat," gumam Lina sembari mengulas senyum simpul.
Namun, senyum Lina sedikit luruh ketika mengingat ayah dan kedua adiknya. Sejujurnya Lina merindukan mereka. Barangkali jika ada waktu, Lina akan meminta izin pada Zafir untuk menemui keluarganya.
***
Dalam ruangannya, Zafir masih terjaga. Ia tidak bisa tidur bahkan rasa kantuk tidak menyapanya sedikit pun. Zafir tengah dipusingkan dengan biaya pengobatan yang harus keluarkan.
50 juta.
Memangnya obat saja yang digunakan sampai dibayar sedemikian besar? Kenapa biaya kamar harus 10 juta? Apakah kamar tersebut dipenuhi perabotan yang disepuh emas?
Kepala Zafir berdenyut nyeri memikirkannya. Zafir sedikit menyesal karena keluar dari asuransi dan tidak menjadi peserta BPJS. Jika ia masih ikut, sebagian biaya bisa ditanggung dan tidak membuatnya harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Namun Zafir juga tidak mau jika harus terus-terusan membayar setiap bulan. Merepotkan.
Zafir terdiam, mengedarkan pandangan pada ruangannya yang sengaja ia matikan lampunya, lama terdiam Zafir meraih laptopnya, iseng mencari di google berapa biaya pengobatan stroke.
Cukup lama membaca, Zafir menegang ketika menilai nominal yang tertera.
'Diperkirakan bahwa biaya pengobatan stroke bisa mencapai sekitar 150 juta rupiah, bahkan dalam kasus stroke yang lebih berat bisa mencapai sekitar 450 juta rupiah.'
150 juta?! 450 juta?!
Zafir sangat menyesal keluar dari asuransi saat ini. 150 juta? Itu pemborosan namanya.
"Argh!" Zafir mengacak rambutnya frustasi.
Zafir terdiam merenung, menatap laptop yang masih menyala. Lama ia terdiam, sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi.
Ia bangkit dari kursi, meregangkan tangan dan berjalan keluar dari ruangannya.
Zafir melangkah ke dapur, ia berniat mencari sesuatu untuk dimakan. Namun telinganya menangkap suara gemericik air. Mata Zafir mengedar, mencari dan matanya menyipit saat melihat Lina keluar dari kamar mandi dengan kerudung segi empat yang longgar.
"Lina?" seru Zafir.
Lina terperanjat kaget, terburu-buru membenarkan jilbabnya agar menutupi rambutnya. Ia tersenyum canggung pada Zafir yang mendekat. "Iya, Pak?"
Manik Zafir menelisik. Butir-butir air masih tertinggal di wajah Lina dan lengan baju serta ujung celana gadis iti sedikit basah. "Kamu abis ngapain?"
"Lina baru selesai wudhu, Pak. Mau solat tahajud," ungkap Lina. "Bapak mau solat juga?"
Lidah Zafir terasa kelu sejenak. Matanya bergulir menatap ke arah lain, lalu kembali pada Lina dengan sedikit menaikkan dagu tersenyum bangga. "Iya. Setiap hari saya solat tahajud. Ini saya mau wudhu."
Ganteng, rajin solat juga, batin Lina mengagumi. Senyum Lina terkembang tanpa sadar. "Kalo gitu Lina duluan ya, Pak?"
"Nggak mau nunggu saya?"
Bibir Lina terbuka, menatap Zafir bingung.
"Saya jadi imam kamu. Mau?"
Lidah Lina kelu. Tidak bisa dipungkiri kedua pipinya memanas karena ucapan Zafir.
"Ayo jawab. Mau nggak? Nanti keburu subuh. Saya mau solat subuh berjamaah di masjid." sahut Zafir sedikit kesal.
"Euh ... " kedua mata Lina bergulir."Enggak, Pak. Maaf ya, Pak, Lina duluan. Permisi."
Sebelah alis Zafir terangkat ketika melihat Lina pergi terburu-buru. Zafir membalikkan badan, pergi dari dapur untuk kembali ke kamar dan tidur.
***
Pukul lima lebih sepuluh, Zafir keluar dari kamarnya setelah sholat subuh. Ia sudah lengkap memakai jaket, celana training dan sepatu lari.
Zafir cukup menyadari keadaan. Di saat ibunya sakit seperti ini, Zafir harus menjaga kesehatannya pribadi. Karena itu, ia berniat untuk sedikit lari pagi.
"Mau kemana, Pak?"
Zafir menoleh. Tak jauh darinya, Wasti tampak berjalan mendekat sambil menatapnya heran. Mungkin aneh karena tidak biasanya ia memakai pakaian seperti ini.
"Saya mau lari dulu," balas Zafir seraya melangkahkan kaki menjauh.
Wasti mengangguk. "Baik, Pak."
Kaki jenjang Zafir memudahkannya berjalan dengan cepat. Ketika ia hendak pergi, langkahnya terhenti di depan kamar Misha. Ia menoleh, terdiam sejenak menimbang untuk melihat keadaan ibunya.
Zafir menghela napas panjang. Mungkin lain kali, pikir Zafir. Ia takut saat ia masuk, istirahat ibunya terganggu.
Meski berat hati, Zafir kembali melangkah. Kedua alisnya terangkat ketika tiba-tiba melihat Lina tengah berjalan sambil membawa segelas air.
"Lina," panggil Zafir. Bahu Lina terperanjat dan ia menoleh kaget pada Zafir, sementara pria itu mengulas senyum tipis.
"I-iya, Pak. Ada apa?"
"Saya mau lari dulu. Kalau mommy bangun, tolong kamu urusi ya. Saya pergi dulu," pamit Zafir pada Lina sambil mengurai senyum tipis.
Kedua mata Lina berkedip beberapa kali, terpukai melihat senyum Zafir. Namun tak lama ia menggeleng sadar dan mengangguk. "Iya, Pak."
Zafir tersenyum puas dan berlalu pergi keluar dari rumah.
Pandangan Lina mengikuti Zafir yang pergi. Ia terus menatap hingga tanpa sadar seulas senyum simpul terangkat di bibirnya. Tampan sekali, batinnya memuji.
"Mau cari muka depan Bapak? Mentang-mentang ngurus Ibu?" Sinis Wasti. Matanya menyipit tak suka.
"Lina ngnggak cari muka, Bu." Bantah Lina menggeleng. Air mukanya langsung muram, ketakutan. Tangannya masih belum sembuh.
Garis bibir Wasti tertekuk ke bawah, membentuk sebuah cemoohan. Dengan decakan jijik, Wasti berlalu pergi meninggalkan Lina yang masih tertunduk memegang gelasnya.
***
Peluh membasahi kening Zafir. Ia mengusapnya dan juga leher yang terasa basah. Dada Zafir naik turun mengikuti laju pernapasannya yang juga cepat. Pandangannya mengedar, mencari Lina. Namun gadis itu tidak ada, mungkin tengah mengurusi ibunya.
"Bapak udah pulang? Mau saya bikinin kopi?" Tiba-tiba Wasti datang, mengulas senyum.
"Ngnggak usah. Saya mau air putih," Tolak Zafir
Wasti hanya bisa memasam dan diam di tempat, memperhatikan sang empunya rumah yang tengah berjalan ke dapur.
Zafir melangkah mendekati lemari pendingin, ia mengusap peluh di dagunya sebelum membuka pintu lemari es dan mengambil botol air minum. Namun ketika akan menutup pintu, dorongan Zafir pada pintu terhenti. Keningnya tampak berkerut, berpikir. Dibuka kembali pintu lemari es tersebut.
Kulkasnya penuh? Seingat Zafir, kemarin kulkas tidak sepenuh saat ini dan lagi, ia baru ingat sesuatu. Sorot mata Zafir menajam.
"Wasti!" panggil Zafir dengan nada tinggi.
Suara langkah cepat terdengar. Wasti berjalan tergopoh-gopoh dengan raut wajah cemas. Di saat berdiri menghadap Zafir, ia sedikit tertunduk, menatap takut-takut putra sang majikan.
"Iya, Pak?"
"Kulkas penuh? Perasaan saya liat kemarin nggak sepenuh itu." Sebelah alis aristokrat Zafir terangkat, mengintimidasi.
Lidah Wasti kelu, tak mampu menjawab. Kedua tangannya sibuk memilin daster yang dikenakannya, menyalurkan gugup dan takut atas ungkapan Zafir.
"Ini belanjaan yang saya minta buat kamu beli kemarin?"
"I-iya, Pak."
"Kok bisa? Padahal saya belum ngasih kamu uang. Kemarin saya lupa."
Keringat sebesar biji jagung muncul dari pelipis Wasti. Ia semakin tertunduk dalam. Berulang kali Wasti menelan ludah kering. Jangan sampai Zafir tahu kalau ia merebut debit card yang diberikan pria itu pada Lina. Tidak! Wasti bisa dipecat.
Sorot mata Zafir menajam. "Dari mana kamu dapat uang? Kamu nyuri?"
