Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Mommy

Selepas kepergian Zafir dan Lina, Misha terdiam di atas kursi rodanya. Ia tidak bodoh saat melihat pergelangan tangan Lina yang memar.

Ada yang aneh. Hari ini aku tidak melihat Wasti menolong Lina untuk memindahkan aku ke kursi roda, sebetulnya apa yang terjadi di rumah ini? tanya Misha dalam hati.

Misha mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya saat ini, kedua matanya terpejam saat pikiran buruk tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Namun, semua itu hilang saat indra penciumannya menghirup bau parfum yang sering digunakan oleh Zafir, anaknya.

Suara kursi besi yang terseret terdengar sebentar lalu menghilang, digantikan dengan Zafir yang saat ini duduk tepat di sebelah Misha.

"Mommy harus cepat sembuh, rumah sepi tanpa suara Mommy.” Zafir menarik pelan tangan Misha, lalu mengusap punggung tangan Misha dengan lembut. "Mom ...." perusahaan yang Papi bangun terancam bangkrut, Mommy harus cepat sembuh biar Zafir bisa lebih menghemat pengeluaran selama masa kritis seperti sekarang.

Mendengar ucapan Zafir, kedua mata Misha terasa panas, karena merasa tidak berguna. Ia menengok ke arah lain, berusaha menghindari kontak mata dengan anaknya. Namun yang Misha lihat saat ini adalah Wasti tengah menunjuk Lina yang saat ini menangis.

Sebetulnya apa yang terjadi saat anakku membawa Lina pergi tadi? Lagi-lagi pertanyaan itu yang kembali muncul.

Menengok ke arah Zafir, Misha mengerutkan dahi ketika melihat anaknya itu sedang bersandar pada kursi dengan tatapan yang terlihat kosong. Misha baru sadar akan satu hal, ada yang terjadi di dalam rumah ini, tetapi apa?

Melirik tangannya yang masih digenggam Zafir, Misha berusaha membalas genggaman anaknya dan membuat Zafir menengok ke arahnya.

"Mommy?" raut wajah Zafir melunak, terlihat binaran kebahagiaan saat Misha membalas genggaman Zafir.

Jika bibirnya bisa digerakkan, Misha ingin menyemangati anaknya dan segera menyelesaikan masalah tentang Tini yang dikeluarkan, sekaligus memecat Lina, karena wanita itu, Wasti terlihat sedih dan murung.

Menengok ke arah kanan, Misha tidak menemukan Wasti dan Lina yang sebelumnya seperti bertengkar di bawah tangga, dekat ruang makan.

"Pasti Mommy cari Lina, ya?" tanya Zafir pelan.

Misha kembali menengok ke arah Zafir dengan kepala yang mengangguk. Zafir tersenyum hangat dalam hatinya sedikit bersyukur karena ibunya mulai sedikit demi sedikit merespon apa yang ia katakan, itu artinya ibunya sebentar lagi akan sembuh, tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk pengobatan ibunya ‘kan?

Zafir tersenyum penuh arti, saat pikiran itu melintas di dalam kepalanya. "Mommy, Zafir panggil ‘kan Lina dulu ya. Sudah waktu nya jam makan siang, pasti Mommy lapar ‘kan?"

Misha kembali mengangguk dengan sudut bibir yang melukis senyum. Aku harus cepat sembuh, agar Zafir tidak kerepotan mengurusku, tekad Misha dalam hati.

Bangkit dari kursi, Zafir membetulkan letak tangan Misha seperti sebelumnya, lalu mencium kening Misha pelan sebelum pergi mencari Lina yang belum kembali ke taman belakang setelah perbincangan mereka bertiga selesai dua puluh menit yang lalu.

***

Lina kembali ditarik oleh Wasti keluar dari ruang kerja Zafir menuju ruang makan, lalu mendorong Lina ke bawah tangga agar tidak terlalu terlihat dari dalam ruang tamu.

"Puas kamu! Puas kamu ngebuat nama yang sudah lama saya jaga rusak di depan Pak Zafir! Puas kamu Lina!" bentak Wasti dengan suara yang tertahan, takut terdengar oleh Zafir atau Pak Naryo.

Lina menunduk dengan menggelengkan kepala. Tubuhnya bergetar, kedua tangannya disatukan ke bawah pertanda ia tertekan.

"Ma-maaf, Bu, ta-tapi—"

"Diem kamu! Ini semua salah kamu! Kamu dan kamu! Tini yang dipecat tanpa pemberitahuan juga semua salah kamu! Saya yang dimarahin Pak Zafir tadi juga salah kamu! Karena kamu gaji saya dipotong!"

Amarah benar-benar menguasai Wasti, wajahnya mengeras, bahkan urat di lehernya terlihat jelas, kedua matanya turut merah menahan tangis, dengan jari telunjuk yang menunjuk wajah Lina.

"Karena kamu, uang yang seharusnya saya kirim ke cucu saya jadi kurang! Pasti kamu kan yang mengadu ke Pak Zafir? Ngaku kamu!"

"Enggak, Bu, enggak, Lina nggak mengadukan apa pun ke Pak Zafir, Lina berani bersumpah, Bu.”

"Halah! Sumpah-sumpah! Kalau sudah licik ya licik aja, nggak usah pura-pura baik! Semua ini karena kamu, Lina!"

Kedua mata Lina membola mendengar ucapan Wasti yang menusuk hatinya. Ya Allah. Apa iya aku seperti itu selama ini? Hati Lina terasa tercubit mendengar semua itu.

Menangis, Lina memilih menangis saat ini. Hatinya terlalu sakit mendengar ucapan Wasti, walaupun Lina tahu, Wasti saat ini tengah dikuasai oleh amarah, tetapi kenapa harus seperti itu.

"Berhenti menangis! Kamu mau saya dipecat hah?!" sentak Wasti, kali ini dengan mendorong bahu Lina sampai wanita itu terdorong ke belakang.

Pak Naryo yang melihat itu langsung menahan Lina agar tidak langsung terjatuh menghantam lantai.

"Astaghfirullah! Wasti! Apa yang kamu lakuin ke Lina?!" tanya Pak Naryo dengan pandangan tidak percaya. "Sebetulnya apa masalah kamu?"

"Sudah deh, Pak, Bapak nggak akan ngerti apa masalahnya, yang jelas Lina itu penghancur di rumah ini!"

"Ya, Allah. Nyebut kamu Wasti! Nyebut! Punya dendam apa kamu sama Lina!" Pak Naryo membantu Lina agar berdiri tegap. "Kamu nggak apa?" tanya pak Naryo khawatir saat melihat memar di tangan Lina.

"I-iya, Pak, Lina nggak pa-pa,” jawab Lina gemetar.

"Wasti, aku adukan masalah ini ke Pak Zafir!" ancam pak Naryo dengan tatapan tajam.

Mendengar hal itu, Wasti menoleh ke arah Naryo dengan tatapan panik. Lina yang mendengar itu pun reflek menahan Naryo yang ingin pergi menghampiri Zafir dan Misha.

"Pak, jangan, Pak! Lina ngnggak mau Bu Wasti dipecat hanya karena masalah ini, Pak. Lina nggak apa-apa, Pak, beneran.”

Naryo diam, lalu menatap Lina dengan tatapan tidak percaya. "Lina, Wasti sudah jahat sama kamu, kamu nggak seharusnya belain Wasti.”

"Nggak, Pak, jangan. Lina mohon.”

Menghembuskan napas kasar. "Wasti, kamu dengar itu. Orang yang kamu sakitin masih bisa memikirkan keadaan kamu, seharusnya kamu lebih terbuka dengan Lina, dia yang bisa bantu kamu di dapur kalau Nyonya sedang tidur." Bukannya mendengarkan apa yang diucapkan Naryo, Wasti pergi begitu saja menyiapkan makan siang untuk Zafir.

"Lina, maafkan Wasti, ya, sebetulnya dia orang yang baik.”

"Iya, Pak." Menghapus air mata, Lina tersenyum tulis pada Naryo. "Terima kasih ya, Pak, Lina buat makanan dulu untuk ibu.”

"Iya, kamu harus menjaga dirimu sendiri, kalau begitu bapak ke depan dulu, ya.”

"Iya, Pak.”

***

Zafir masuk ke dalam dapur dan menemukan Wasti yang masih berkutat dengan peralatan masak. Mengambil gelas, Zafir membuka kulkas lalu menuangkan air dingin yang ada di dalam botol ke gelasnya, lalu kembali menutup kulkas setelah memasukkan botol.

"Wasti, Lina dimana?" tanya Zafir dengan dingin.

"Ada di taman, Pak, nemenin ibu, ada yang bisa saya bantu, Pak?"

"Tidak, kalau sudah masuk jam makan siang, panggil saya di ruangan kerja, bilang pada Lina untuk membuatkan kopi lalu antar ke ruangan saya."

Setelah mengatakan itu Zafir pergi meninggalkan dapur lalu memeriksa ke taman belakang sebelum pergi ke ruang kerjanya. Zafir terdiam saat melihat Lina dengan telaten menyuapkan makanan untuk ibunya.

Sudut bibirnya sedikit terangkat, memperlihatkan senyuman dingin. "Itu memang tugasnya ‘kan." Berbalik badan, Zafir meminum air yang ada di gelasnya seraya berjalan keruang kerjanya. "Kira-kira berapa lama lagi mommy sembuh? Terlalu banyak uang yang keluar hanya untuk biaya pengobatan, belum lagi perusahaan tidak tau kapan stabil, haaahh …."

Membuka pintu ruang kerjanya, Zafir melangkah masuk lalu meletakkan gelas di atas mejanya setelah menutup pintu.

Hembusan napas kasar terdengar. Zafir meraup wajah kasar seraya membanting tubuhnya ke atas kursi. Pelipis Zafir terasa berdenyut nyeri. Dunia seakan tengah menghujaminya dengan segala beban. Mulai dari ibunya yang sakit sampai pembantunya yang pengkhianat.

Zafir tidak tahu apa yang membuat perusahaannya seperti sekarang, ia terus mencari dimana masalah itu muncul, namun belum menemukan titik permasalahan sampai ia tega menyuruh seluruh karyawan nya untuk bekerja lembur.

Pintu ruangannya diketuk dari luar, Zafir mendonnggak dengan raut wajah dingin.

"Masuk!" ujar Zafir.

Pintu jati itu terbuka lebar dan menampilkan Lina yang membawa cangkir berwarna hitam dengan piring kecil sebagai alas cangkir tersebut.

Raut wajah Zafir berubah, bersamaan dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Lina yang melihat senyum Zafir pun reflek ikut tersenyum.

"Pa – eh, Mas, ini kopi nya, tadi kata Bu Wasti Mas minta dibuatkan kopi.”

"Iya, mommy dimana?"

"Ibu sudah ada di kamar Mas, sedang istirahat."

Zafir menggeleng tidak senang, membuat Lina mengernyit bingung saat meletakkan cangkir kopi di atas meja.

"Kenapa, Mas?"

"Jangan panggil mommy dengan panggilan ibu, kamu harus terbiasa memanggil mommy itu mommy, bukan Ibu."

"Tapi, Bu Wasti dan Pak Naryo juga memanggil Ibu dengan Ibu, bukan Mommy, Mas."

"Khusus untuk kamu, panggil mommy dengan sebutan mommy."

"I-iya Mas.”

Zafir tersenyum lembut, lalu mengangkat cangkir kopi dan meminumnya perlahan, menikmati rasa pahit dan manis yang tercampur mengalir ke tenggorokkan. Kedua matanya tidak sengaja melirik jam tangan pemberiannya yang dipakai oleh Lina.

"Kalau begitu Lina izin ke kamar ib-mommy dulu, Mas.”

"Siapa yang memperbolehkan kamu pergi Lina Eka Putri? Mas masih ingin mengobrol sebentar tentang perkembangan mommy, duduk kamu."

Lina duduk di salah satu kursi empuk di depan meja Zafir. "Kamu pakai jamnya? Cocok, benar dugaan saya saat membelinya waktu itu."

Kedua mata Lina membola, tidak menyadari jika Zafir sejak tadi memperhatikan dirinya. "Ma-makasih, Mas.”

"Kamu suka dengan jam itu?"

"Suka, Mas.”

Zafir tertawa saat melihat ekspresi yang Lina perlihatkan saat ini. Meletakkan cangkir di atas piring kecil, Zafir menenggakkan tubuhnya lalu menatap Lina dalam.

"Lina, bagaimana perkembangan mommy, kira-kira kapan mommy sembuh?" Terdiam sebentar, Zafir menunduk. "Mas merindukan suara mommy di rumah ini, rasanya sepi …."

"Lin-"

Ponsel Zafir berdering, membuat Lina menggantung ucapannya di langit-langit mulutnya. Menengok ke arah Lina, Zafir memberikan perintah untuk menunggu selama pria itu mengangkat panggilan masuk.

Memutar tempat duduknya membelakangi Lina, Zafir menggeser tombol hijau lalu mendekat ‘kan ponsel ke telinganya.

"Ha-Assalamualaikum, ada apa?" hampir saja Zafir memaki sekertarisnya, jika tidak ingat ada Lina didalam ruang kerjanya.

”Wa-Waalaikumsalam pak Zafir, maaf saya ingin mengingatkan jika hari ini ada rapat membahas perkembangan kantor, sekaligus saya ingin menyerahkan daftar nama yang Bapak minta tempo hari,” jelas sekertaris Zafir dengan nada terkejut diawal.

Menarik napas dalam-dalam, Zafir harus berusaha tenang untuk sekarang, ia tidak ingin image yang sudah susah-susah dibangun hancur dalam sekejap hanya karena sebuah telepon dari sekertarisnya.

"Baik, siapkan semuanya dan pastikan semuanya hadir dalam rapat. Ada hal lain?"

”Tidak, Pak, baik saya akan menyiapkannya dari sekarang dan memastikan semuanya hadir dalam rapat.”

"Bagus, kalau begitu saya tutup. Assalamualaikum!"

"Baik, Pak. Waalaikumsalam."

Membalikkan kursi menghadap Lina, Zafir memasang wajah tegas. "Lina, kamu boleh kembali ke kamar mommy, Mas harus ke kantor karena ada rapat."

Bangkit dari kursi, Zafir mengambil jas yang terselampir di belakang kursinya, memakai jas, Zafir mengambil kunci mobilnya di atas meja.

"Ayo, aku mau ke kamar mommy sebelum berangkat," ujar Zafir dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel