Bab 7 Curiga
Menaiki tangga dengan tergesa-gesa, Lina menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan agar berhenti menangis. Setelah merasa tenang, ia masuk ke dalam kamar dengan mengetik pintu kamar itu sebelumnya.
"Assalamualaikum. Selamat sore, Bu," sapa Lina dengan senyum hangat.
Berjalan mendekati tempat tidur Misha, Lina meletakkan kotak hitam pemberian Zafir di atas nakas, lalu dengan hati-hati membuka selimut tebal yang sebelumnya menutupi tubuh Nyonya-nya itu. Namun, kali ini ada yang berbeda.
Lina terdiam sebentar, saat menyadari suasana di ruangan ini terasa berat. Benar-benar berbeda dari sebelumnya, ia tetap memperlihatkan senyum indahnya walaupun Lina sadar, saat ini Misha tengah menatapnya dengan tajam.
Ya Allah, ada apa sebetulnya? tanya Lina dalam hati.
Hatinya resah bukan main, terlebih lagi saat mengingat kejadian di dapur tadi. Setelah membantu agar Misha duduk dengan punggung yang bersandar pada sandaran tempat tidur. Lina tersenyum saat menatap Misha. "Ibu, sebentar ya. Biar Lina siapkan air hangat untuk Ibu mandi," ujar Lina.
Misha menengok ke arah lain saat Lina tidak sengaja menatap kedua mata Misha. Apa benar Lina sejahat itu sampai Tini di pecat oleh anakku? tanyanya dalam hati, saat melihat kedua mata Lina yang terlihat jujur.
Orang dahulu bilang, mata adalah cerminan hati dan yang Misha liat saat ini adalah pandangan tulus yang diperlihatkan oleh Lina, mata itu terlihat jujur.
Punggung Lina perlahan menghilang di balik kamar mandi yang tertutup. Misha terdiam, terlalu kalut dengan pemikirannya sendiri, namun Misha ingat jika ia tidak boleh banyak pikiran saat ini, atau akan semakin lama ia sembuh.
Pintu kamar mandi kembali terbuka dengan Lina yang sudah siap dengan handuk kecil yang bertengger di bahu kanannya.
Menghampiri kursi roda yang ada di dekat pintu masuk, Lina mendorong kursi roda itu mendekat ke tempat tidur, lalu menurukan dua penahan di dekat roda agar kursi roda tidak mundur saat ia memindahkan Ibu Misha.
"Ayo, Bu, Lina bantu ya," ujar Lina lembut.
Saat ingin membantu Misha pindah ke kursi roda, sebuah suara mengintrupsi Lina untuk diam di tempat. Menengok ke kanan, Lina menemukan Zafir yang berjalan mendekat kearah mereka berdua dengan tangan yang bergantian menggulung kemeja hitam yang digunakan pria itu sampai siku.
"Biar saya yang gendong mommy ke kamar mandi, kamu yang siapkan baju dan keperluan lainnya, jika sudah selesai memandikan mommy, kamu bisa panggil saya lagi," ujar Zafir seraya menggendong Misha ala bridal style dan meninggalkan Lina di tempatnya saat ini.
"Lina!"
Mendengar suara teriakan Zafir dari dalam kamar mandi, membuat Lina cekatan mengambil semua keperluan Misha dan segera menyusul ke dalam kamar mandi.
Melihat Lina masuk ke dalam kamar mandi, Zafir mengambil alih pakaian yang sebelumnya dibawa oleh Lina, dan meletakkannya di sangkutan baju di balik pintu.
"Sudah, Mas tunggu di luar." Melirik ke arah Misha, Zafir tersenyum lembut, lalu mencium dahi Misha lama. "Zafir tunggu di luar ya, Mommy mandi dibantu sama Lina dulu ya, nanti kalau sudah sembuh Mommy bisa mandi sendiri, untuk sementara dulu ya, Mom,"
Setelah mengucapkan itu, Zafir keluar dari kamar mandi dan menunggu di dalam kamar Misha. Selama menunggu Lina membantu Misha mandi, Zafir membereskan kamar mommynya dan juga mengganti sprei tempat tidur, bantal dan guling.
Saat merasa semua beres, Zafir memasukkan semua itu ke keranjang cucian khusus sprei. Duduk di atas tempat tidur, Zafir membaca satu persatu email yang dikirim oleh asistennya, dan berhenti saat namanya dipanggil oleh suara lembut Lina.
Mendongak, Zafir menatap Lina yang berdiri di depan pintu kamar mandi. "Sudah?" tanya Zafir dengan menyimpan ponsel ke dalam saku celana hitamnya.
Lina mengangguk, lalu Zafir menghampiri Lina dan Misha yang ada di dalam kamar mandi. Tersenyum hangat, Zafir kembali menggendong ibunya ke luar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
"Nah sudah cantik, spreinya juga baru Zafir ganti, Mommy istirahat dulu, biar Lina ambilkan makan, jadi Mommy disini ditemani Zafir dulu ya.”
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Gorden kamar sudah ditutup rapi, menutupi jendela yang menampilkan langit malam. Lampu telah dimatikan, membuat kamar temaram dari lampu luar.
Kedua mata Misha masih terbuka, menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang, mengingat kejadian tadi siang.
Lina.
Nama itu yang tengah menjadi renungan Misha. Siapa gadis itu? Meskipun terlihat ramah dan manis, tetapi Wasti berkata gadis itu yang membuat Tini dipecat oleh Zafir. Kesan pertama melihat gadis itu Misha sudah tidak suka. Namun, tidak bisa mengungkapkannya. Ia tidak berdaya saat ini. Bahkan hanya untuk bicara saja sulit. Sekarang Misha hanya menjadi beban. Mungkin karena itu juga Zafir malah membiarkannya dirawat orang asing.
Kedua mata Misha berkaca-kaca. Apakah ia kurang memberikan kasih sayang hingga Zafir mengabaikannya?
Sendu di raut wajah Misha tenggelam, berganti ekspresi dingin. Mungkin ada satu hal yang pasti untuk menjelaskan siapa gadis itu; perawat homecare.
Misha tidak suka. Kenapa Zafir harus mendatangkan perawat homecare? Bibir Misha menipis, karena Zafir tidak mau repot mengurusnya.
