Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Misha

Bohong jika detak jantung Lina saat ini tidak berdetak lebih cepat dari biasanya. Meskipun ia sudah menemui banyak pasien, tetapi Lina selalu takut tak mampu memenuhi tugasnya dengan benar.

"Saya bayar kamu mahal. Jangan sampai uang yang saya keluarkan jadi sia-sia." Zafir berdiri di samping Lina yang terdiam memperhatikan. Kedua tangannya berada di saku.

Lina mengangguk. Matanya tidak lepas dari sosok wanita yang tengah duduk di kursi roda dekat jendela, menatap kosong keluar seolah semangat hidupnya di cabut paksa.

Kamar bercat putih dengan interior yang didominasi warna emas itu terasa suram meski gordeng di buka lebar membiarkan cahaya matahari masuk. Ranjang yang tampak rapi seolah memberitahu tak disentuh sedikit pun oleh pemiliknya. Di samping ranjang, sebuah foto bertengger di atas nakas.

Foto Zafir dan ibunya yang sama-sama tengah tersenyum lebar. Senyum yang menunjukkan kebahagiaan. Namun saat ini, semua senyum dan rona bahagia itu tenggelam di antara duka yang direnggut oleh sebuah penyakit.

Stroke merupakan penyakit yang disebabkan terganggunya pasokan darah ke otak, membuat otak kekurangan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel pada sebagian otak akan mati.

Stroke dapat digolongkan menjadi dua, stroke non-hemoragic atau iskemik dan stroke hemoragic.

Stroke non-hemoragic atau iskemik adalah stroke yang disebabkan tersumbatnya pembuluh darah, sedangkan stroke hemoragic adalah stroke karena pecahnya pembuluh darah. Dan Nyonya Misha terkena stroke non-hemoragic.

Zafir menghela napas panjang. "Kamu kerja yang bener. Jangan sampai saya denger ada kesalahan dari kamu. Mommy satu-satunya yang saya punya."

"Baik, Pak."

"Sebelumnya mommy belum pernah kena stroke, gejalanya juga ngnggak ada. Cuma mommy saya punya riwayat penyakit darah tinggi dan beberapa bulan terakhir kolesterol-nya tinggi."

Bibir Lina terbuka lalu tertutup, sedikit ragu untuk bicara. "Hipertensi dan kolesterol memang meningkatkan resiko terkena stroke. Stroke terjadi akibat terganggunya pasokan darah akibat pembuluh darah yang tersumbat ataupun pecah."

Zafir terdiam. Matanya tak lepas dari wanita yang telah melahirkannya itu. Ada perasaan sedih dan tak rela, tetapi ia tak bisa apa-apa, membuatnya menghela napas berat.

Zafir melangkahkan kaki, mendekati sang ibu yang tampak diam tak merespon. Kedua kakinya ditekuk, berjongkok di samping kursi roda. Sejenak ia terdiam, melihat ke arah lain lalu menyentuh tangan sang ibu. "Mom."

Wanita bernama Misha itu tidak menoleh. Tetap diam menatap keluar dengan tatapan kosong tak bergairah.

"You will be healthy again, Mom." Zafir meraih tangan Misha, mengecup punggung tangan wanita itu dengan takzim.

Pemandangan itu tak luput dari tatapan Lina. Hawa sedih sangat terasa ketika ia melihatnya. Pria tampan yang sebelumnya mencibirnya dengan tajam itu terlihat begitu menyayangi ibunya. Terbukti betapa sedih ia ketika melihat keadaan ibunya.

Kedua mata Lina berkaca-kaca, berharap jika ibunya masih ada.

Zafir bangkit berdiri, mengecup pelipis sang ibu sebelum berbalik menatap Lina. Kedua alisnya mencuram ketika mendapati gadis itu tengah menatapnya iba. Ia sedikit tak suka, tetapi ia tahan dengan mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Saya titip mommy. Jangan sampai ada kesalahan," Ungkap Zafir memperingati.

Lina sontak menunduk ketika ia mengerjap tersadar. "Ba-baik, Pak."

Zafir mengangguk pelan. Sekilas, matanya bergulir melirik sang ibu dari sudut mata. Penyakit itu benar-benar merenggut ibunya. Zafir hanya bisa berharap, wanita berjilbab itu dapat membantu ibunya pulih kembali.

Setelah kepergian Zafir, ia memberanikan diri untuk mendekat ke arah Misha, ibu dari Zafir yang saat ini masih tetap setiap menatap ke luar jendela.

Berjalan ke sisi kanan kursi roda, Lina menekuk kakinya, berjongkok lalu memperkenalkan diri agar ia dan Misha bisa dekat sebelum melakukan tahap implementasi rencana perawatan.

“Pagi, Bu, Lina buka jendela nya ya, biar udaranya masuk ke dalam kamar,” ucap Lina sopan, namun masih belum mendapatkan tanggapan dari yang bersangkutan.

Berdiri tegap, Lina membuka jendela yang ada di kamar ini lalu kembali ke sisi kanan kursi roda dengan posisi yang sama.

“Mulai hari ini dan seterusnya, nanti Lina akan berusaha sekuat mungkin untuk bantu Ibu biar cepat sembuh."

Lina terus berbicara walaupun tidak ada respon, berusaha mendekatkan diri, itu kunci pertama yang akan Lina lakukan.

“Nama saya Lina, Bu, Lina Eka Putri. Ibu harus semangat juga ya, kata bapak Lina, jika kita mensugesti diri sendiri untuk sembuh maka akan cepat sembuh.”

Lina terdiam saat melihat Misha menoleh ke arahnya dengan tangan yang berusaha menyentuh wajahnya. Sorot mata itu menatapnya tajam, tapi terlihat sendu di sisi lain.

Ini respon pertama Ibu, suatu kemajuan, alhamdulillah .... batin Lina senang.

“Ibu ... Lina yakin, suatu saat Ibu pasti bisa sehat seperti sedia kala.” Tersenyum lembut, Lina memberanikan diri untuk menyentuh punggung tangan Misha lalu mengusap nya lembut. “Kita berjuang bersama ya, Bu. Insyaallah Allah berikan kesembuhan.”

Misha hanya diam, menatap tangannya yang diberi sentuhan. Sedikit kerutan muncul di keningnya, membuat alisnya mencuram. Misha tidak suka orang lain menyentuhnya seenaknya, terlebih lagi perempuan yang seakan sudah mengenalnya lama.

Dari luar kamar Zafir memperhatikan Lina yang sejak tadi terus mengajak Misha berbicara, sudut bibirnya tertarik mengulas senyum tipis.

Melihat Lina sama seperti melihat Misha saat masih sehat, selalu mengajaknya berbicara walaupun terkadang Zafir mengabaikannya dan selalu ada untuknya meskipun dalam keadaan sulit.

Di dalam kamar, hanya suara Lina yang terdengar di antara keheningan lainnya di kamar Misha. Jika ia bisa bicara dengan lancar, tentu Misha sudah mengusirnya. Dan kenapa putranya malah meninggalkannya? Apakah karena ia sudah sakit dan merepotkan membuat putranya itu pergi?

Di kegundahan hati Misha yang menggumpal, Zafir tengah mengagumi Lina yang ia rasa pantas merawat ibunya.  

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel