Bab 5 Percikan
Senyum tipis terukir di bibir Zafir melihat Lina yang menghadapi ibunya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Ibunya butuh perhatian seperti yang Lina berikan apalagi Zafir jarang di rumah karena kesibukannya mengurus perusahaan.
Zafir mengamati Lina. Ia tidaklah secantik gadis-gadis yang pernah dipacarinya tapi Lina manis dan enak dilihat. Tutur bahasanya pun halus tidak akan memalukan jika diperkenalkan pada teman-teman Zafir.
Puas melihat Lina dan mommynya, Zafir teringat pekerjaannya yang menumpuk. Ia bergegas ke ruang kerja.
Di atas meja kerjanya sebuah amplop berlogo rumah sakit tempat mommynya dirawat tergeletak. Ia belum sempat membukanya.
Zafir duduk di kursi kerja warisan almarhum ayahnya. Dibukanya amplop itu, isinya adalah rincian biaya rumah sakit yang ia keluarkan untuk ibunya.
Zafir membaca rincian itu dan terkejut.
3 juta untuk sekali suntik?!
10 juta biaya kamar?!
Zafir menggeleng melihat total angka di lembar terakhir yang hampir mencapai 50 juta rupiah. Sewaktu ibunya diperbolehkan pulang yang mengurusi administrasi adalah Shiren sang sekretaris hingga Zafir tidak tahu berapa yang biaya yang harus dibayar.
Harusnya beberapa bulan lalu ikut daftar jadi peserta BPJS, mahal banget biaya rumah sakit. Sesal Zafir.
Tahun lalu Zafir berhenti dari asuransi keanggotaan kesehatan premium karena malas membayar preminya tiap bulan.
Nasi sudah menjadi bubur, 50 juta kandas sudah untuk biaya pengobatan ibunya. Bukan berarti Zafir tidak ikhlas tapi kalau bisa berhemat kenapa tidak.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Lina membuka pintu, senyum mengembang di wajahnya. Melihat senyum Lina, Zafir seakan mendapat solusi dari permasalahanya.
Lina masuk ke ruang kerja Zafir yang tertata rapi. Selain ada meja dan kursi, lemari berbahan kayu jati yang berisi banyak buku berdiri kokoh di sisi kanan Lina.
"Ada apa?" tanya Zafir tepat saat Lina berdiri di seberang meja.
"Saya mau mengajukan menu diit untuk Nyonya Misha."
"Diit?"
"Iya, diit pasien stroke."
"Diet?"
"Untuk orang sehat disebut diet tapi untuk pasien disebut diit."
"Oh begitu.”
"Diit ini bertujuan untuk memperbaiki fungsi tubuh setelah stroke, menurunkan tekanan darah dan mencegah stroke kembali."
"Apa saja yang harus dikonsumsi Mommy?"
"Ini." Lina memberikan secarik kertas berisi daftar nama makanan yang sebaiknya dikonsumsi para penderita stroke.
Zafir membaca dengan seksama daftar menu tersebut.
Penderita stroke sangat disarankan untuk mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan seperti jeruk, apel, pir, bayam, dan brokoli. Biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan tinggi serat seperti roti gandum, wortel, dan kacang merah. Daging ikan, minimal dua kali seminggu. Asam lemak omega-3 dalam ikan terbukti mampu menurunkan risiko stroke. Contohnya tuna, teri basah, lele, dan nila.daging sapi dan unggas tanpa lemak dan kulitnya. Produk susu rendah lemak seperti yogurt bebas lemak untuk membantu menurunkan tekanan darah.
Selain itu, makanan yang kaya akan asam folat; vitamin B6, B12, C, dan E; serta makanan yang tinggi kalium dan magnesium dapat menurunkan risiko stroke dan memperbaiki fungsi tubuh setelah stroke. Contoh makanannya yaitu kacang almond, biji labu, tomat, jeruk, sereal, ubi jalar, bawang putih, dan pisang.
Membaca daftar itu Zafir tersenyum, senyum Zafir menambah kadar ketampanannya dan terlihat sangat indah di mata Lina.
Ganteng banget, pikir Lina
Zafir berdiri lalu berjalan mendekati Lina. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Wangi parfum Zafir tercium jelas di hidung Lina. Berada sedekat ini dengan Zafir membuat jantung Lina berdetak lebih cepat.
Zafir mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan memberikan pada Lina.
"Ini! Pake debit card ini untuk belanja apa pun keperluan mommy." Mata tajam Zafir menatap Lina.
"I ... iya, Pak."
"Jangan panggil saya, Pak. Kesannya tua banget, kita cuma beda tujuh tahun kan?"
Lina mengangguk membenarkan ucapan Zafir. Ia menunduk lebih memilih menatap lantai dari pada pria di hadapannya, sosok Zafir yang mirip seperti tokoh pria di novel yang sering ia baca di wattpad membuat jantungnya terus berdetak tak menentu.
"Tatap saya, nggak sopan loh bicara dengan saya tapi yang dilihat malah lantai!”
Lina mengikuti perkataan Zafir, ia mendongak. Zafir jauh lebih tinggi dari dirinya. Tatapan mata mereka bertemu, Zafir tersenyum kembali.
"Kamu manis, saya suka."
"Maksud, Bapak?"
"Kan saya tadi sudah bilang jangan panggil pak atau bapak, panggil Mas saja."
"Mas?"
"Iya, terdengar lebih muda ‘kan?"
Lina mengangguk kembali lalu kembali menunduk sembari memasukkan kartu debit pemberian Zafir ke dalam kantongnya.
"Nunduk lagi, lantai itu lebih menarik dari saya, ya?"
"Bu ... bukan begitu." Lina meremas baju putihnya.
"Nggak usah tegang gitu, santai saja, Lina." ucap Zafir dengan lembut sambil menepuk bahu Lina.
Ucapan bernada lembut dan sentuhan yang Zafir berikan seperti memberikan percikan listrik di tubuh Lina.
"Ah iya saya punya sesuatu buat kamu."
Zafir bergerak menjauhi Lina menuju meja kerjanya. Ia membuka laci meja lalu mengambil sebuah kotak.
"Buat kamu," ucap Zafir setelah berdiri tepat di depan Lina.
"Ini apa?"
"Buka aja.”
Lina membuka kotak itu, isinya sebuah jam tangan merk ternama. Lina tahu pasti harganya tidak murah.
Jam tangan itu sudah menghuni laci meja kerja Zafir selama lebih dari enam bulan. Pemberian pacar Zafir yang kini sudah jadi mantan. Modelnya cocok untuk lelaki ataupun perempuan. Dan tentu saja Lina tidak tahu asal muasal jam tangan tersebut.
"Dipakai ya!"
"Iya, Pak ... eh, Mas."
Lina menutup kembali kotak tersebut.
"Atau mau saya pakaikan?"
"Enggak, nggak usah, nanti saya pakai sendiri," tolak Lina.
"Ada lagi yang mau dibicarakan Lina Eka Putri?"
Entah mengapa nama lengkap yang keluar dari mulut Zafir terasa amat indah di telinga Lina.
"Sudah cuma itu saja, Pak."
"Mas, Mas Zafir,” koreksi Zafir.
"Iya, Mas ... Zafir."
"Jangan ragu untuk bicara dengan saya, soal Mommy atau apa pun yang kamu ingin sampaikan."
"Iya, Mas."
"Keberadaan kamu di sini berarti buat saya."
Tok! Tok! Tok!
Wasti mengetuk pintu yang terbuka.
"Ada apa, Wasti?" ucap Zafir dingin berbeda sekali nadanya saat bicara dengan Lina tadi.
"Saya mau kasi tau Lina kalo Nyonya sudah bangun."
