Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Diterima Bekerja

Lina berdiri tepat di depan pagar hitam yang menjulang tinggi melebihi tinggi tubuhnya. Meneguk saliva kasar, ia memberanikan diri untuk menekan bel yang ada di sebelah kiri pagar.

Menarik napas panjang, Lina merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Siang tadi ia dihubungi Bu Dana untuk segera datang ke alamat yang tertera di kertas yang sebelumnya diberikan.

Menunggu beberapa saat, Lina terperanjat kaget saat mendengar suara klakson mobil yang berbunyi tepat di belakangnya.

Menoleh ke arah belakang, kedua matanya melebar terkejut saat melihat sebuah mobil Porsche Cayman berwarna biru metalik berada tepat di belakang nya.

Masyaallah .... Ini beneran mobil yang sering diomongin sama temen-temen di sekolah dulu? batin Lina terkagum.

Suara klakson kembali terdengar, membuat Lina terkejut lalu pergi menyingkir agar mobil mahal itu masuk ke dalam kawasan rumah yang terlihat sangat besar dan megah.

Lina berdecak kagum, bibirnya tidak henti melafalkan doa agar kelak ia memiliki rumah sebesar dan semegah ini.

Tanpa sengaja kedua matanya melihat seorang pria ke luar dari dalam mobil dengan satpam yang berdiri di dekat mobil mahal itu. Pandangan matanya dengan pria itu tidak sengaja bertemu, namun pria itu lebih dahulu mengalihkan pandangan untuk berbincang dengan satpam.

Lina bisa melihat dua pria itu berbincang dengan jari telunjuk pria yang menaiki mobil mahal itu menunjuk ke arahnya.

Seorang satpam berlari ke arahnya setelah selesai berbincang dengan pria yang saat ini sudah masuk ke dalam rumahnya dengan salah satu pembantu yang membawa jas pria itu.

“Permisi, Mbak, ada yang bisa dibantu?” tanya satpam tadi, membuat Lina menatap pria yang ia perkirakaan seumuran dengan ayahnya.

“Ah, iya, Pak, perkenalkan saya Lina, dari Home Care Ibu Dana,” jelas Lina dengan senyum hangat membuat satpam itu terdiam sejenak saat melihat senyumnya.

“Saya Pak Naryo, satpam di rumah ini.”

“Tadi saya sudah pencet bel sebelumnya.” Terdiam sebentar, Lina melihat pria yang mengendarai mobil tadi kembali ke mobilnya mengambil sesuatu, lalu menengok ke arahnya dengan sudut bibir yang tertarik mengulas senyum.

“O … iya, maaf, Mbak, tadi saya sedang ke kamar mandi sewaktu Mbak tekan belnya.”

“Iya, Pak, nggak pa-pa.”

“Mbak Lina mau cari siapa?”

“Saya mau cari Pak ...” Lina kembali membaca kertas yang sebelumnya ia genggam. “Saya cari Pak Farabi Zafir Al-Ikhsan, apa benar ini rumah beliau?”

“Benar, Mbak, ada keperluan apa mau ketemu Pak Zafir?”

“Tadi saya ditelepon oleh pemilik Home Care tempat saya bekerja katanya Pak Zafir mencari satu orang untuk mengurus ibu beliau.”

“Ternyata Mbak toh! Masuk, Mbak, sudah ditunggu Pak Zafir di dalam, kebetulan Bapak baru pulang.”

Lina masuk ke dalam lingkungan rumah itu dengan kaki kanan yang melangkah masuk terlebih dahulu, bibirnya mengucapkan Bissmillah agar pekerjaanya di rumah besar dan megah ini berjalan mudah, tidak terdapat rintangan yang terlalu berat.

“Mari, Mbak, biar saya antar ke dalam.”

“Iya, Pak.”

Pak Naryo berjalan terlebih dahulu dari Lina setelah menutup dan mengunci pintu gerbang yang ternyata memiliki dua gerbang; gerbang utama bercat hitam, dan di belakangnya terdapat gerbang kayu setinggi pundak Pak Naryo.

“Ngomong-ngomong umur Mbak berapa?” tanya Pak Naryo saat mereka berdua jalan beriringan.

Lina tertawa kecil, menggenggam tali tas erat-erat. “Umur saya 19 tahun, Pak, memangnya umur Bapak berapa?”

“Yang benar Mbak? Waduh, seumuran sama anak saya yang nomor dua dong, Mbak,” canda pak Naryo dengan tawa kecil diakhir kalimat. “Umur saya 40 tahun,”

Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu yang terbuka lebar, menampilkan ruang tamu dan ruang santai yang menjadi satu. Di salah satu sofa terlihat pria itu sedang berkutat dengan laptop dan kertas-kertas yang tertumpuk di atas meja kaca.

“Permisi, Pak,” ujar pak Naryo dengan tangan kanan mengetuk pintu.

“Ya, Pak, masuk!”

Mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan Lina yang menunduk. “Kenapa?” tanya Zafir mendonnggak, menatap Pak Naryo dan Lina.

“Ini, Pak, ada Mbak Lina dari ... dari mana Mbak tadi?”

“Dari Home Care Bu Dana, Pak.”

“Iya itu, Home Care, Pak. Katanya Bapak sudah telepon ke tempat Mbak Lina bekerja.”

Menganggukkan kepala, Zafir mengangkat tangan kanannya memberikan gesture untuk Pak Naryo pergi meninggalkan mereka berdua.

“Terima kasih, Pak,” ungkap Lina.

“Iya sama-sama. Saya kembali ke depan, Pak.” Pak Naryo mengangguk pelan pada Zafir, lalu beralih menatap Lina. “Mari, Mbak Lina, Bapak tinggal dulu.”

Setelah mengatakan hal itu, Lina tinggal berdua dengan Zafir yang saat ini menatap lekat ke arahnya. Meneguk saliva kasar, Lina memberanikan diri untuk mendekat saat Zafir melambaikan tangan kanannya, menyuruhnya untuk mendekat.

Lina berhenti sedikit jauh dari sofa yang ditempati oleh Zafir. Penampilanku apa ada yang aneh ya sampai di perhatikan begitu? tanya Lina dalam hati.

Mau bagaimana pun, ia tidak ingin memiliki kesan pertama yang buruk dengan calon bosnya itu, semuanya harus sempurna, setidaknya tidak terlalu buruk, itu yang selama ini selalu Lina terapkan pada dirinya sendiri.

“Nama kamu ...” Jantung Lina berdetak cepat saat mendengar suara berat Zafir yang saat ini sedang membaca kertas yang ia perkirakan biography miliknya. “Lina Eka Putri, kamu orang yang paling direkomendasikan oleh Ibu Dana saat saya menghubungi tempat beliau.”

“Iya benar, Pak, nama saya Lina.”

“Cantik ...,” puji Zafir dengan suara kecil, namun sayangnya Lina mendengarnya dan membuat kedua pipinya bersemu merah, namun sebisa mungkin ia sembunyikan, mau bagaimanapun ia harus professional.

Menyandarkan punggung pada sandaran sofa, kaki kanan Zafir bertumpu di atas kaki kiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.

“Perkenalkan diri kamu, secara rinci, jujur saja, saya penasaran saat Ibu Dana merekomendasi kan kamu untuk mengurus mommy saya.”

“Nama saya Lina Eka Putri, saya anak pertama dari tiga bersaudara, tinggi saya 155 cm, saya lulusan dari SMK kesehatan, dan pernah bekerja di salah satu Rumah Sakit Negri karena rekomendasi dari sekolah dan di saat yang sama juga saya bekerja di Home Care,” jelas Lina dengan sedikit nervous, tidak seperti tempat yang sebelumnya pernah ia datangi.

Zafir mengangguk dengan tangan kanan yang mengusap dagu, terlihat seperti menimbangkan data diri dan cara Lina mengenalkan diri.

“Menarik, tadi saat kamu mengenalkan diri katanya kamu pernah bekerja di salah satu Rumah Sakit Negri, apa kamu masih bekerja disana? Maaf-maaf saja, saya tidak ingin mommy saya diurus oleh orang yang salah,”

“Iya. Saya pernah bekerja di salah satu Rumah Sakit Negri, namun saya sudah dipecat dan saya hanya bekerja di Home Care untuk saat ini.”

“Kamu yakin bisa mengurus mommy saya sampai sembuh?” tanya Zafir kali ini dengan melembutkan pandangannya saat menatap mata Lina, tidak seperti sebelumnya yang terkesan mengintimidasi.

“Saya yakin.”

“Mommy saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang baru.”

“Tidak apa, Pak, saya yakin nanti bisa akrab dan dekat dengan Ibu.”

“Kamu langsung membawa pakaian?”

“I-iya, Pak, tadi Bu Dana bilang kemungkinan saya akan menginap.”

“Mhm ....” bangun dari duduknya, Zafir mengulurkan tangannya ke depan dengan senyum hangat. “Kamu diterima, nanti kita berangkat ke rumah sakit untuk menjemput mommy.”

Lina menyambut uluran tangan Zafir dengan senyum bahagia. “Terima kasih, Pak, saya akan bekerja segiat mungkin sampai Ibunya Bapak sembuh!”

“Saya akan menagih itu terus menerus sampai keadaan mommy pulih.”

Melepas jabat tangan, Zafir memanggil salah satu pekerja untuk menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Lina.

“Tunjukkan kamar untuk Lina, dan perlakukan dia dengan baik,” ujar Zafir tegas pada Wasti – pembantunya.

“Ta-tapi, kamar itu masih ditempati oleh Tini, Pak.”

“Tini sudah tidak bekerja disini, jadi cepat antarkan Lina ke kamar itu, sebelumnya bersihkan terlebih dahulu!”

Melirik sinis ke arah Lina, pekerja itu mendengkus kesal setelah menjawab perintah Zafir. Lina tahu, dan sudah jelas kehadirannya tak disenangi.

“Wasti, saya tau apa yang barusan kamu lakukan, jangan ulangi itu, dan cepat antarkan Lina ke kamarnya.”

“Ba—baik, Pak!”

Setelah memastikan Lina dan Wasti pergi, Zafir mengambil ponsel nya lalu menghubungi Dokter Rizal yang merekomendasikan Home Care untuknya.

“Halo, bagaimana keadaan Mommy?”

“Alhamdulillah, keadaan Ibu anda sudah mulai membaik.”

“Alhamdulillah.”

”Bagaimana, kamu sudah menghubungi tempat yang saya sarankan tadi?”

“Ya, sudah. Orangnya juga sudah datang tadi.”

”Namanya?”

“Lina Eka Putri, kemungkinan nanti saya akan kesana bersama Lina.”

”Oh! Lina itu, dia orang yang bekerja dengan ulet dan bersungguh-sungguh, kamu tidak akan menyesal mempekerjakan Lina.”

“Dokter kenal Lina?” tanya Zafir penasaran.

“Pak,” panggil Wasti tiba-tiba.

“Sebentar, Dok,” ujar Zafir pada Dokter Rizal seraya menoleh, menatap di mana Wasti berdiri. “Kenapa?”

“Lina sudah ada di tempatnya, Pak, dan Lina menolak untuk saya bantu membereskan kamar.”

Mendekatkan ponsel, Zafir kembali berbincang dengan Dokter Rizal dan berpamitan. “Nanti saya hubungi lagi. Terima kasih, Dok.”

Setelah mendengar jawaban Dokter Rizal, Zafir mematikan sambungan teleponnya lalu mengatakan pada Wasti untuk mengantar ke kamar yang ditempati oleh Lina.

Sepanjang perjalanan menuju kamar Lina, Zafir bisa melihat jika Wasti terlihat sangat resah dengan tangan wanita itu yang sibuk memilin ujung bajunya.

“Kamu kenapa?” tanya Zafir.

“Ng—ngnggak, Pak,” jawab Wasti gugup.

“Mhm ....”

Zafir dan Wasti tiba di depan kamar yang ditempati oleh Lina lalu terdiam saat melihat keadaan kamar itu berantakan seperti baru terkena angin puting beliung membuat raut wajah Zafir mengeras.

“Apa yang terjadi?” tanya Zafir.

Lina terdiam saat sedang membereskan barang-barang yang sebelumnya di acak-acak oleh orang yang ada di sebelah Zafir.

“Itu ... tadi jatuh semua nggak sengaja jatuh.”

Mendengkus, Zafir membalikkan badan lalu pergi tanpa bicara apapun membuat Wasti benar-benar mematung, saat mendengar suara Zafir.

“Dua kesalahan dalam sehari,” ujar Zafir dengan nada menusuk. 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel