Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Peraturan Baru

Seluruh pegawai memasuki ruang rapat dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Firasat buruk menyelimuti seluruh pegawai, bahkan sampai ada yang menangis karena mendengar rumor tidak sedap dari mulut ke mulut.

Sekertaris Zafir masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan, disusul dengan Zafir yang masuk ke dalam ruangan dengan sepatu yang mengkilap karena di semir dadakan oleh Wasti.

Membenarkan kancing jasnya, Zafir menatap seluruh pegawai yang berkumpul di dalam ruang rapat. Keringat mulai membanjiri tubuh setiap pegawai karena atmosphere yang berat.

"Selamat siang semuanya," ucap Zafir setelah duduk di kursi yang ada di balik meja. Sekretaris Zafir meletakkan sebuah map hitam di atas meja Zafir. "Ini sudah semua?"

"Sudah, Pak."

"Bagus, kita mulai rapatnya, saya mau mendengar dari bagian keamanan dan kebersihan terlebih dahulu."

Rapat berjalan selama dua setengah jam dengan seluruh laporan yang disampaikan oleh perwakilan dari setiap bagian yang ada di perusahaan Ikhsan Group.

Seluruh pegawai semakin ketakutan saat melihat raut wajah Zafir saat masing-masing perwakilan memberikan laporan lengkap tanpa ada yang dikurang-kurangi.

Menutup map hitam, Zafir meletakkan map tersebut di atas meja. Menyandarkan punggungnya, Zafir menatap seluruh pegawainya dengan tatapan tak terbaca.

"Saya sudah mendengar semua laporan selama beberapa tahun ke belakang. Saya berterima kasih untuk kalian semua yang sudah bekerja keras dan bekerja sama dengan perusahaan Ikhsan Group," seluruh pegawai mulai ramai saat mendengar ucapan Zafir yang menjerumus ke arah pemecatan.

Sekretaris Zafir menyuruh seluruh pegawai untuk diam dan tidak berbuat macam-macam sebelum Zafir selesai bicara. Saat ruangan rapat kembali tenang, Zafir melanjutkan ucapannya.

"Saya akan memecat beberapa karyawan." Zafir menyebutkan seluruh nama pegawainya yang dipecat hari itu, lalu menyuruh Shiren sekretarisnya untuk memberikan gaji terakhir mereka tanpa uang tambahan, dan hal itu memancing amarah pada pegawai yang dipecat.

Untungnya, pihak keamanan dengan sigap melindungi Zafir agar tidak diamuk oleh orang-orang yang sudah dipecat tadi.

Merasa keamanan mulai kondusif, Zafir menatap seluruh pegawainya dengan tatapan tenang, tidak terlihat sedikit pun raut penyesalan di wajah pria tampan berumur 26 tahun tersebut.

"Saya memiliki beberapa peraturan baru di kantor ini." Tubuhnya bergerak maju dengan memperlihatkan senyum dingin. "Pertama, akses internet di kantor ini, seluruhnya akan saya ubah password nya agar kalian tidak bisa mennggakses aplikasi lain selain aplikasi yang berhubungan dengan kantor. Kedua, kopi mulai minggu dan seterusnya, ditiadakan, lalu diganti dengan teh herbal tanpa gula, jika kalian tidak suka teh tanpa gula boleh meminum air putih, agar kalian tidak mudah sakit. Ketiga, mesin fotokopi dan mesin print boleh digunakan dari jam 9 sampai jam 1 siang, setelah makan siang, selebihnya kirim melalui email, kita harus ikut gerakan menghemat kertas, karena sudah terlalu banyak pohon yang ditebang untuk dijadikan kertas."

Seluruh pegawai diam, beberapa ada yang mengkritik, beberapa ada yang menyetujui peraturan baru. Tersenyum penuh arti, Zafir berhasil mengambil simpati beberapa pegawainya karena mereka berpikir jika ia memperhatikan kesehatan pegawai dan perduli pada lingkungan.

"Empat, untuk kalian yang terlambat masuk kantor 5 menit, dikenakan denda 50 ribu, 15 menit denda 250 ribu. Kelima, saat izin sakit, jika tidak ada surat dokter kalian akan di kenakan denda 300 ribu—"

"Pak, maaf sebelumnya, jika terlambat saya terima untuk didenda, tetapi jika sakit apa itu tidak keterlaluan?" potong salah satu pegawai dengan raut wajah tidak terima.

"Boleh saya menyelesaikan ucapan saya?" tanya Zafir dengan tatapan tidak suka yang menusuk pegawai nya itu.

"Ma-maaf, Pak.”

"Kalian sakit siapa yang buat?"

"Cuaca, Pak.”

"Lingkungan."

"Polusi, Pak."

Zafir mendengus mendengar jawaban yang mungkin anak SD juga mampu menjawab lebih banyak dari pada pegawainya saat ini.

"Sakit itu datang dari diri kalian sendiri, jangan salahkan cuaca, lingkungan, dan polusi," jawab Zafir. "Kalau kalian bisa mencegah dengan pola hidup sehat, tidak begadang, tidak terlalu banyak makan makanan yang berminyak dan mengurangi minuman bersoda dengan perbanyak minum air putih dan tidur cukup, itu sudah termasuk mencegah penyakit agar tidak datang ke kalian semua," jelas Zafir dengan wajah kesal.

Melirik Vevi salah satu sekretaris keuangannya, lalu menyuruh sekretaris itu untuk berdiri dari duduknya.

"Lihat Vevi, walaupun saya sudah menyuruh Vevi untuk mengambil cuti dia tetap masuk bekerja karena merasa punya tanggung jawab yang besar dengan pekerjaannya, itu bagus, saya senang dengan pegawai yang ulet dan berdedikasi tinggi, kamu boleh duduk Vevi, terima kasih." Melihat pegawai yang bertanya tadi, "Lalu kamu, cuma sakit demam batuk pilek izin sakit kayak sakit parah, minta surat dokter biar bisa santai-santai di rumah, memangnya saya tidak tau?"

"Kamu bayangin perjuangan Vevi, kemana-mana bawa dua nyawa, nyawa dirinya sendiri sekaligus nyawa anak yang ada di dalam kandungannya, kamu pikir Vevi nggak sakit? Sakit! Kamu pikir Vevi nggak capek? Ya capek! Dia bahkan berkali kali lipat dari kita yang pria, tetapi balik lagi ke yang tadi, karena merasa punya tanggung jawab, Vevi tetap kerja. Masa kalah sama Vevi, ibu hamil bagian keuangan?"

Pegawai itu terdiam, Zafir mendengus tidak suka saat ia dipikir tidak tau apa-apa. "Ada lagi?" tanya Zafir.

"Kenapa jika terlambat terkena denda sebesar itu jalanan ibukota terkenal macet, Pak." tanya salah satu pegawai tidak terima.

"Belajar disiplin, saya tau kalian terutama kamu suka datang terlambat. Kita masuk kantor pukul 8 pagi, berarti harus berangkat jam berapa? Kalau perjalanan jauh, berangkat pagi-pagi, kalau bisa main buru-buruan sama anak sekolah yang diantar bapak-ibunya, jangan mau kalah sama ayam," Zafir melihat pegawai nya yang bertanya tadi. "Kira-kira, kalau terlambat salah siapa? Lampu lalu lintas? Salahin diri sendiri, kenapa telat bangun, kenapa nanti-nanti, kalau sukanya nunda mulu, yaudah, terlambat dipotong gajinya langsung, ces! Nyesel kalian! Kerja sebulan bukan dapat bonus malah dipotong gaji!"

"Ada lagi?" tanya Zafir, semua orang diam membuat Zafir menghela napas kasar. "Kalau tidak ada yang bertanya saya lanjutkan. Keenam, jika ada acara keluarga saya tidak memberikan kalian izin untuk pergi, kecuali keluarga kalian sakit dan tidak ada yang menunggu, itu pun harus dengan bukti terakurat."

Ruangan tiba-tiba berubah gaduh saat mendengar ucapan Zafir, dan semakin tidak kondusif saat melihat Zafir bangkit dari tempat duduknya.

"Jika kalian tidak suka, kalian boleh keluar dari perusahaan ini, tanpa uang gaji kalian dan tanpa pengakuan jika kalian pernah menjadi bagian dari Ikhsan group, rapat selesai. Kalian boleh kembali bekerja, bagian keuangan dan HRD segera ke ruangan saya setelah kalian sholat dan makan siang."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel