Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12 Ghibah Karyawan

Matahari bersinar terik berada di atas kepala, mengguarkan hawa panas. Beberapa pohon besar yang tumbuh memberi hawa sejuk, tetapi sayangnya tidak membantu mengurai kepulan panas di hati orang-orang.

Sebaris meja di warung nasi padang dipenuhi beberapa orang yang menghadap piring dengan wajah memasam. Biasanya, kentalnya santan dan potongan rendang selalu menggugah selera makan, tetapi kali ini tidak.

"Kita punya Bos kok makin gila ya? Telat lima menit denda lima puluh ribu. Lintah darat berkedok perusahaan?" sinis Geo. Pria itu menggulung lengan kemejanya penuh nafsu lalu memakan kerupuk sekali lahap.

Di depannya, pria dengan kemeja merah maroon meneguk teh manis, berharap sedikit membuat manis hidupnya yang semakin sulit oleh tingkah laku atasannya.

"Akses internet di password. Nggak bisa nonton tutorial make up lagi!" rengek Vanessa. Wanita berpulas bibir merah itu cemberut. "Pak Zafir jahat banget."

"Bukan jahat lagi. Udah menyatu jadi setan!" sembur Geo. "Izin sakit nggak ada surat sakit denda 300 ribu. Nggak mikir gue yang di Jakarta cuma sendiri?"

"Sabar. Mungkin Pak Zafir lagi kerasukan," kekeh Vanessa, "meskipun gitu, tapi gantengnya bikin hati gue damai banget."

Geo mencebik, enggan menanggapi dan memilih melahap nasi padang di depannya. Nasi padang jauh lebih nikmat daripada mendengar ke-haluan Vanessa yang selalu bermimpi menikah dengan bos pelit semacam Farabi Zafir Al-Ikhsan.

Rahmat menaikkan kacamata yang sedikit turun dari hidungnya. Pria berusia kepala tiga itu menghela napas berat. "Udahlah. Kita ngomong juga nggak berguna."

"Ya ampun!" Satu lagi, seorang wanita datang duduk membanting tubuh di samping Geo. "Lagi ghibah Pak Zafir ya? Ngikut dong."

"Ya ayo, Mbak. Gratis. Nggak perlu bayar," sahut Geo.

Raut wajah Ambar seketika semakin memasam. "Jijik, ya, pas Pak Zafir muji si Vevi."

"Dia 'kan kerja sampe nggak cuti hamil karena laki-nya nganggur. Ya jelaslah kerja. Mungkin juga emang mau cari muka. Kayak si Shiren. Iuh deh." Vanessa mengernyit jijik sambil mengibaskan kedua tangan. "Sok cantik banget."

"Kalo gue mah malu ngejar cowok sampe dandan menor," sahut Ambar seraya memutar bola mata jengah. "Keliatan banget murahannya."

"Eh tapi," bibir Vanessa bergetar geli, "gue mau ketawa pas Pak Zabir ngomong 'karena sudah terlalu banyak pohon yang ditebang untuk dijadikan kertas.' Lucu. Sok bijak gitu."

"Kalo memang mau menjaga pohon karena pohon ditebang jadi kertas, udah aja tutup perusahaan," imbuh Geo terlampau kesal.

Ambar terkekeh. "Kebanyakan bergaul sama cewek, mulut lu bisa lemes gitu ya, Yo?"

"Karena gue punya atasan laknat!"

"Siapa yang kamu bilang laknat?"

Bulu roma Geo meremang. Kedua matanya melebar perlahan saat suara bernada rendah penuh ancaman terdengar. Tak jauh beda, Vanessa, Ambar dan Rahmat ikut menegang. Mereka perlahan tertunduk seraya menelan ludah kering.

Zafir membenarkan kursinya, lalu melihat tajam ke arah para karyawan yang berada di meja seberang tersebut. Ia tidak peduli jika orang-orang terganggu karenanya.

"Kenapa diam? Saya tanya siapa yang laknat, Geo? Jangan pikir saya nggak tau nama kamu." Tatapan Zafir semakin menajam dingin.

Di samping Zafir, Shiren tersenyum puas. Rona merah bekas kemarahan di pipinya masih terlihat. Ia mendengar semua ucapan keempat karyawan tersebut, membuatnya hampir saja meledak ketika namanya juga disebut.

Geo menunduk dalam. Dalam hati ia merutuki dirinya yang terbawa emosi. Ia lupa kalau atasannya itu juga penikmat nasi padang kantin kantor. Kedua mata Geo terpejam sejenak, mati sudah. Ia pasti akan dipecat saat ini.

"Ada yang mau nambahin?" tanya Zafir mengedarkan pandangan. Kebanyakan dari pelanggan warung nasi padang ini merupakan karyawannya.

"Saya tidak suka orang yang beraninya bicara di belakang! Kalau tidak suka, bicarakan sekarang!" tuntut Zafir meninggikan suara.

Shiren mengulum senyum puas sambil melirik ke arah Vanessa yang juga tengah menatapnya geram. 'Mampus lo.' ucapnya tanpa suara.

Shiren berdiri, menyentuh lengan Zafir dan mengusapnya. "Udah, Pak. Tenang. Ini tempat umum. Mending kita pindah aja."

Zafir masih terdiam, mengedarkan mata elangnya ke segala penjuru. Suasana terasa berat dan kaku. Tidak ada satu pun suara sendok beradu piring. Semua sepi, terdiam.

Tidak mendapat jawaban membuat Zafir jengah. Ia berdiri sambil merapikan pakaian, mengabaikan makanan yang belum ia sentuh sama sekali. Melihat Zafir berdiri, Shiren ikut berdiri.

Melihat sang pembawa hawa buruk pergi, perlahan semua orang mulai mengeluarkan napas yang sedari tersendat tak lancar. Mereka ketakutan.

Namun, decitan sepatu ketika langkah Zafir terhenti menarik kembali suasana tegang, mengira-gira hal apa yang akan kembali diungkapkan.

Zafir menggaruk ujung alisnya, berbalik sambil mengedarkan pandangan sekilas hingga akhirnya berhenti pada Geo. "Banyak absen, selalu terlambat, masih mengeluh, malu dengan orang yang tidak memiliki pekerjaan, selesai makan ke ruangan saya."

Setelahnya, tidak ada satu pun yang berani bersuara.

***

Langit nampak biru dipulas awan yang saling bergandengan. Zafir duduk menyamping, menatap bangunan tinggi lewat kaca jendela besar, mengabaikan Geo yang sedari tadi berdiri ketar-ketir.

Mulut Geo terbuka, lalu kembali tertutup. Ingin rasanya ia bersuara, bertanya tentang apa yang ingin atasannya katakan, tetapi malah kebisuan seperti ini yang ia dapat.

Ketukan pelan dari bolpoin dan meja membuat bahu Geo berjengkit. Zafir memutar kursi, menatap Geo yang menunduk dalam. "Kamu tau apa salah kamu?"

"Tau, Pak."

"Apa?" Nada suara Zafir menusuk. "Kenapa kamu sampe bisa di sini?"

Lidah Geo kelu. Tubuhnya panas dingin saat ini. Ia terus tertunduk, meremat kedua tangan. Otak Geo membeku untuk mencari tindakan selanjutnya, ia terlalu takut.

"Maaf, Pak." Lama berdiam, Geo hanya mampu mengucap kata itu. Setelahnya, ia kembali bungkam.

"Yah ...." Zafir menghela napas seraya melirik ke arah lain. Bolpoin terus ia ketuk diatas meja, menjadikan suasana begitu mencekik, "perusahaan nggak akan rugi kalau ada satu lagi pegawai yang keluar."

Geo seketika mendongak, wajahnya menegang dan rona merah terkuras. "Pak, saya minta maaf. Saya—"

"Kalau kamu keluar, kamu nggak perlu lagi punya atasan laknat." sela Zafir meneleng. Ia tersenyum tipis, mengejek, "beresi barang-barang kamu. Silakan keluar dari perusahaan saya."

"Pak! Saya—"

"Pintu keluar di belakang kamu."

Bahu Geo melemas. Ia menatap nanar pada Zafir yang malah membalasnya dengan tatapan dingin. Zafir hanya diam, tidak mengatakan apa pun dan mengulurkan tangan menunjuk pintu, memberitahu Geo untuk keluar.

Tidak ada pilihan, Geo berjalan keluar bermuram hati.

***

"Yo!" Vanessa berseru ketika melihat Geo berjalan kembali ke kubikelnya. Ia segera berdiri menghampiri. "Yo, gimana? Apa kata Pak Zafir?"

Geo mengulas senyum kecut ketika melihat pada Vanessa. "Gue di pecat, Nes."

Pekikan halus terdengar dari pegawai lainnya yang mendengar. Atensi mereka langsung tertuju pada Geo. Gosip tentang Zafir yang 'mengamuk' di warung nasi padang sudah menyebar di semua pegawai.

Binar mata Vanessa meredup. "Sorry, Yo."

Ambar angkat bicara, setelah sedari tadi diam memperhatikan. "Yang gue heranin, kenapa cuma elu yang dipanggil, Yo?"

"Itu karena dia ngatain Pak Zafir atasan laknat. Ya iyalah dipecat." Shiren datang menghampiri. Senyumnya terulas manis. "Dipecat ‘kan? Makanya punya mulut dijaga."

Vanessa meradang, mengepalkan tangan dengan rahang mengeras. "Cewek murahan kayak elu yang mestinya jaga mulut! Jaga tuh bibir dower!"

Shiren melotot. "Heh!" Suaranya membentak. "Siapa yang lo bilang murahan?! Sirik karena Pak Zafir lebih deket sama gue daripada lo? Kasian, cuma bisa halu buat nikahin Pak Zafir. Pak Zafir cuma buat gue!"

Dada Vanessa naik turun cepat, emosi bergejolak membuatnya dengan langkah lebar mendekati Shiren dan mengulurkan tangan menjambak rambut Shiren.

Keributan terjadi. Semua pegawai mengerubungi Vanessa dan Shiren yang saling menjambak seraya mengeluarkan umpatan.

Di sisi lain, Zafir yang tadinya berniat ke kamar mandi terdiam memperhatikan keributan yang terjadi. Mungkin setelah ia ke kamar mandi, ia harus menemui bagian HRD untuk memotong gaji para pegawai yang terlibat keributan yang terjadi hari ini.

Zafir harus menambah peraturan lagi. Siapa pun yang membuat keributan akan mendapat denda berupa potongan gaji.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel