Bab 3.
"Kenapa berkeliaran di gelap begini? Takut petir atau memang sengaja cari saya?"
Suara Reza menggema pelan di lorong yang pekat, hanya ditemani deru hujan yang menghantam atap villa tanpa henti. Kilatan petir sesaat menerangi siluet tubuhnya yang baru keluar dari kamar mandi. Hanya celana pendek hitam ketat yang menempel di pinggulnya, rambut masih basah meneteskan air ke bahu lebar itu.
Syibral menelan ludah keras. "Aku cuma mau ke dapur ambil minum, Bang. Minggir."
Reza tidak bergeming. Malah melangkah satu langkah mendekat hingga Syibral bisa mencium aroma sabun mandi yang bercampur bau tubuh pria itu, segar tapi tetap maskulin dan berat. "Dapur di bawah gelap total. Masuk ke kamar saya. Ada air mineral di sana. Itu perintah, bukan tawaran."
Syibral ingin membantah. Ingin berbalik dan lari ke kamarnya sendiri meski harus meraba-raba lorong gelap. Tapi kakinya terasa berat, seperti ditarik magnet tak kasat mata. "Bang..."
"Sekarang, Syibral."
Nada itu tidak meninggalkan ruang untuk nego. Syibral mengikuti Reza masuk ke kamar utama di ujung koridor. Begitu pintu ditutup, suara hujan menjadi lebih redup, tertahan oleh dinding tebal dan karpet tebal yang menyerap hampir segala getar. Gelap total kecuali kilatan petir yang sesekali menyelinap lewat celah gorden tebal.
Reza berjalan ke meja samping ranjang, mengambil botol air mineral, membukanya, lalu menyerahkan ke Syibral tanpa kata. Jari mereka bersentuhan sesaat. Dingin botol kontras dengan panas kulit Reza.
"Minum."
Syibral meneguk cepat, tapi tenggorokannya tetap kering. Dia meletakkan botol itu di meja, berusaha menjaga jarak. "Sudah. Aku balik sekarang."
Reza menghalangi langkahnya dengan satu lengan terentang. "Kamu gemetaran lagi. Apa suhu ruangan ini terlalu dingin buat kamu, atau sentuhan saya yang bikin kamu menggigil?"
Syibral mundur sampai punggungnya menyentuh pintu kayu yang dingin. "Jangan dekat-dekat, Bang. Ingat, kita ini sepupu."
Reza tertawa kecil, suara itu rendah dan bergetar di dada Syibral. "Sepupu? Nama itu tidak akan menolong kamu malam ini." Dia melangkah maju lagi, kali ini lebih lambat, lebih terukur. "Saya melihat bagaimana kamu menatap saya di balkon tadi. Kamu haus, kan? Tapi bukan haus karena air."
"Bang, cukup." Suara Syibral pecah di ujung. Tapi tubuhnya tidak bergerak menjauh. Malah napasnya ikut memburu mengikuti langkah Reza.
Reza sudah sangat dekat sekarang. Dada bidangnya hampir menyentuh dada Syibral. Dia mencondongkan tubuh, satu tangan menempel di pintu tepat di samping kepala Syibral, tangan lain meraih pergelangan tangan Syibral dan menahannya di samping tubuh.
"Bau kamar ini... bau kamu banget. Kayu cendana, kulit hangat, dan sesuatu yang bikin kepala gue pusing." Batin Syibral berputar kacau. Dia tahu dia harus mendorong pria di depannya ini, harus berteriak, harus apa saja selain diam seperti sekarang.
Reza menunduk, hidungnya menyapu garis leher Syibral. "Kamu gemetar lebih hebat sekarang. Jantungmu berdegup kencang sekali sampai saya bisa merasakannya lewat pergelangan tangan ini."
"Lepas." Kata itu keluar lemah, hampir seperti permohonan.
"Tidak sebelum kamu jujur." Bibir Reza menyapu kulit leher Syibral, tidak benar-benar mencium, hanya menyentuh ringan sampai Syibral menahan desah. "Katakan apa yang kamu inginkan malam ini."
"Aku nggak mau apa-apa." Bohong. Tubuhnya sudah berkhianat. Celana pendeknya terasa semakin ketat di bagian depan.
Reza menggeser tangannya dari pergelangan ke pinggang Syibral, menariknya pelan hingga tubuh mereka menempel. "Bohong. Tubuhmu bilang lain." Jempolnya mengusap pinggang Syibral di bawah kaus tipis yang sudah lembap karena keringat dingin. "Kamu keras di sini. Sudah dari tadi, ya?"
Syibral memejamkan mata rapat. "Bang... jangan."
"Tapi kamu tidak bilang berhenti." Reza menarik kaus Syibral ke atas, membukanya dengan satu gerakan lambat. Kulit Syibral terpapar udara dingin kamar, tapi panas dari tubuh Reza langsung menggantikannya. "Lihat. Putingmu sudah mengeras. Dingin atau karena saya?"
Syibral menggigit bibir bawahnya keras. "Karena kamu bangsat."
Reza tersenyum di kegelapan. Kilatan petir menerangi wajahnya sesaat, memperlihatkan sorot mata yang gelap dan lapar. Dia menunduk, menjilat satu puting Syibral dengan lidah datar, lambat. Syibral tersentak, punggungnya melengkung menjauh dari pintu.
"Ah... jangan di situ." Suara Syibral bergetar.
Reza tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar. Dia mengisap kuat, gigi menyentuh ringan, membuat Syibral mengerang pelan. Tangan satunya merayap ke bawah, meremas tonjolan di celana Syibral dengan tekanan pas.
"Kamu basah di sini. Sudah bocor dari tadi, ya?" Reza berbisik sambil menggosok telapak tangannya naik turun di atas kain celana.
Syibral menggeleng, tapi pinggulnya malah maju mencari gesekan itu. "Aku benci kamu."
"Tapi kamu mau saya terus." Reza menarik celana pendek Syibral turun bersama celana dalamnya sekaligus. Kontol Syibral terlepas, sudah basah di ujung, berdenyut di udara dingin. Reza memegangnya, jempol mengusap kepala yang licin itu. "Lihat betapa kamu menginginkannya."
Syibral tidak bisa menjawab lagi. Napasnya tersengal. Reza berlutut perlahan, wajahnya sejajar dengan pinggul Syibral. Dia menatap ke atas, mata bertemu mata dalam kilatan petir berikutnya.
"Jangan tutup mata. Lihat saya saat saya melakukannya."
Sebelum Syibral bisa protes, mulut Reza sudah menyelubungi kepala kontolnya. Hangat, basah, lidah berputar di sekitar lubang kecil itu, menjilat cairan yang terus keluar. Syibral mengerang keras, tangannya mencengkeram rambut Reza tanpa sadar.
"Ya Tuhan... Bang..."
Reza mengambil lebih dalam, tenggorokan rileks menelan sampai pangkal. Dia menggerakkan kepala naik turun dengan ritme stabil, tangan satunya meremas bola-bola Syibral lembut. Suara basah bercampur deru hujan di luar.
Syibral merasa kakinya lemas. "Aku... aku nggak tahan lama kalau gini."
Reza melepaskan sesaat, benang air liur menghubungkan bibirnya dengan kontol Syibral. "Kamu tidak boleh keluar dulu." Dia berdiri, menarik Syibral menjauh dari pintu, mendorongnya ke ranjang king size di tengah kamar.
Syibral jatuh terlentang. Reza menarik celananya sendiri, memperlihatkan kontol yang sudah tegang penuh, lebih besar dari yang Syibral bayangkan, urat-urat menonjol jelas. Dia memanjat ranjang, menjepit pinggul Syibral dengan lututnya.
"Sekarang giliran kamu." Reza berbisik sambil memutar tubuh Syibral hingga perutnya menghadap kasur. "Angkat pinggul."
Syibral patuh, meski tangannya gemetar. Reza membuka bokongnya lebar, jempol mengusap lubang yang mengerut itu. "Kamu bersih. Bagus."
Tanpa peringatan, lidah Reza menyapu garis tengah, dari bawah sampai ke lubang itu sendiri. Syibral menjerit kecil, pinggulnya terangkat lebih tinggi.
"Bang... itu kotor..."
"Bagi saya tidak." Reza menekan lidahnya masuk, menjilat dalam-dalam, gerakan memutar yang membuat Syibral menggelinjang. Rasa basah, panas, dan tekanan lidah itu membuat kepalanya kosong. Dia mengerang terus-menerus, tangannya mencengkeram sprei.
Reza terus merimming dengan rakus, kadang menarik diri untuk meniup udara dingin ke lubang yang sudah basah oleh air liur, lalu masuk lagi lebih dalam. Syibral merasa dirinya meleleh.
"Aku... aku mau keluar kalau kamu terus begini."
Reza berhenti, naik ke atas tubuh Syibral. Kontolnya menyentuh bokong Syibral, panas dan berat. "Belum. Saya mau masuk dulu."
Dia mengambil pelumas dari laci meja samping, menuang banyak ke jari dan ke kontolnya sendiri. Jari pertamanya masuk pelan, Syibral menahan napas. Kedua jari, menggunting perlahan, mencari titik itu.
"Ahh... di situ..." Syibral mengerang ketika jari Reza menyentuh prostatnya.
"Bagus. Kamu sensitif sekali." Reza menambah jari ketiga, menggerakkan masuk keluar sampai Syibral menggeliat minta lebih.
"Aku siap... masukin sekarang."
Reza mencabut jari, memposisikan kepala kontolnya di lubang itu. Dia mendorong pelan, masuk satu senti, berhenti. "Tarik napas dalam."
Syibral menurut. Reza mendorong lagi, masuk setengah, lalu setengah lagi sampai pangkal. Syibral mengerang panjang, campuran sakit dan nikmat.
"Besaaar... penuh sekali..."
Reza diam sesaat, membiarkan Syibral menyesuaikan. Lalu mulai bergerak, pelan dulu, keluar masuk dengan ritme yang membuat Syibral kehilangan akal. Setiap dorongan mengenai prostat, membuat kontol Syibral menetes lebih banyak.
"Lebih cepat..." Syibral memohon.
Reza mempercepat, tangannya meraih kontol Syibral, mengocok seirama dorongan pinggulnya. Keringat menetes dari dahi Reza ke punggung Syibral.
"Kamu milik saya malam ini. Seluruhnya."
"Iya... milik kamu..." Syibral menyerah total.
Reza membalik tubuh Syibral hingga mereka berhadapan. Dia masuk lagi, kali ini lebih dalam, kaki Syibral diangkat ke bahu Reza. Mereka bertatapan dalam kilatan petir.
"Jangan tutup mata. Lihat siapa yang akan menghancurkan kamu malam ini. Bilang kalau kamu mau saya, Syibral."
Syibral menatap mata itu, air mata kenikmatan menggenang. "Reza... bangsat... lakukan saja."
"Anak pintar."
Reza menggempur lebih keras, dorongan dalam dan cepat. Syibral mengerang tanpa henti, tangannya mencakar punggung Reza. Kontolnya berdenyut di tangan Reza.
"Aku mau keluar... Bang..."
"Keluar bersamaku." Reza mendorong beberapa kali lagi, dalam-dalam, lalu menahan di pangkal. Dia menyemprotkan di dalam, panas dan banyak, mengisi Syibral sampai penuh. Sensasi itu memicu Syibral, dia menyemprotkan di perutnya sendiri, tubuhnya mengejang hebat.
Mereka diam beberapa saat, hanya deru napas dan hujan yang tersisa. Reza masih di dalam, pelan-pelan mencabut, cairan putih menetes keluar dari lubang Syibral yang merah dan basah.
Reza menjatuhkan diri di samping Syibral, menariknya ke pelukannya. Jari-jarinya mengusap punggung Syibral yang basah keringat.
"Kamu baik sekali tadi." Suaranya lembut sekarang, kontras dengan kekerasan sebelumnya.
Syibral menempelkan wajah di dada Reza, mendengar detak jantung yang masih cepat. "Aku nggak tahu harus bilang apa sekarang."
"Tidak perlu bilang apa-apa." Reza mencium keningnya pelan. "Tidur saja. Badai masih lama."
Syibral memejamkan mata, tubuhnya lelah tapi anehnya tenang. Bau Reza menyelimutinya lagi, kali ini bukan menakutkan, melainkan seperti tempat pulang yang terlarang.
Malam itu berlalu dengan hujan yang tak kunjung reda, dan di antara gelap serta kilatan petir sesekali, sesuatu di antara mereka telah berubah permanen.
