Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2.

"Kamu terlambat tiga puluh detik dari waktu yang saya tentukan, Syibral." Suara Reza terdengar berat, memotong kesunyian malam di balkon lantai dua yang hanya diterangi cahaya bulan temaram.

Syibral mematung di ambang pintu geser kaca yang masih terbuka sedikit. Dia menelan ludah dengan susah payah sambil menatap punggung lebar Reza yang sedang menyandar pada pagar balkon besi. Pria itu membelakanginya, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Kepulan asap putih tipis keluar dari sela bibir Reza, membawa aroma tembakau mahal yang langsung menyerang penciuman Syibral.

"Tadi Ibu memanggilku sebentar untuk membantu membereskan meja. Aku tidak sengaja." Syibral memberikan pembelaan diri yang terdengar sangat lemah bahkan di telinganya sendiri.

"Alasan hanya milik orang-orang yang tidak punya integritas. Sini, mendekat." Reza memberikan perintah tanpa menoleh sedikit pun.

Syibral melangkah maju dengan ragu. Setiap ketukan sandalnya di atas lantai kayu balkon terasa seperti dentuman jantung yang memburu. Dia berhenti tepat dua langkah di samping Reza, berusaha menjaga jarak aman agar tidak terhisap oleh aura intimidasi yang pekat. Angin malam yang dingin menusuk kulit lengannya yang terbuka, tapi entah kenapa, area di sekitar Reza justru terasa panas dan menyesakkan.

"Kenapa kamu berdiri sejauh itu? Apa saya terlihat seperti monster yang akan memakan kamu hidup-hidup?" Reza akhirnya menoleh. Dia mematikan rokoknya di asbak kaca yang terletak di atas meja kecil, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Syibral.

"Nggak, Bang. Aku cuma merasa lebih nyaman berdiri di sini." Syibral menjawab sambil mencoba menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan mata elang yang seolah bisa menelanjangi rahasia terdalamnya.

"Nyaman atau takut? Saya bisa melihat jakun kamu naik turun sejak tadi. Kamu gemetaran, Syibral. Apa yang kamu pikirkan saat saya menyuruh kamu ke sini?" Reza melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Syibral bisa merasakan deru napas hangat pria itu di puncak kepalanya.

Syibral terpaksa mundur satu langkah sampai punggungnya membentur tiang penyangga balkon yang keras. Dia terjebak. Reza tidak membiarkannya lepas begitu saja. Pria itu meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Syibral, mengunci pergerakannya sepenuhnya.

"Gue benar-benar bodoh karena menuruti kemauannya. Kenapa gue nggak lari saja tadi ke kamar? Sekarang gue malah terjepit di antara tiang dingin ini dan tubuhnya yang terasa membakar. Bau parfumnya bikin gue mau gila." Syibral mengumpat dalam batin sambil memejamkan mata sesaat.

"Buka mata kamu dan tatap saya saat saya bicara, Dik." Reza memberikan perintah dengan suara rendah yang menggetarkan gendang telinga Syibral.

Syibral membuka matanya dengan perlahan. Wajah Reza hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Dia bisa melihat detail wajah abang sepupunya itu dengan sangat jelas. Rahang yang tegas, hidung bangir, dan bibir tipis yang terlihat sangat sinis namun entah kenapa tampak menggoda di saat yang bersamaan.

"Apa mau Abang sebenarnya? Kalau cuma mau menghina aku seperti di meja makan tadi, lebih baik aku pergi sekarang." Syibral berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya.

"Kamu pikir saya meluangkan waktu berharga saya hanya untuk menghina mahasiswa pemalas seperti kamu? Kamu terlalu percaya diri, Syibral." Reza menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang lebih terlihat seperti seringai predator yang telah mengunci mangsanya.

"Terus kenapa Abang suruh aku ke sini? Jangan buat aku bingung."

"Saya hanya ingin memastikan sesuatu. Sesuatu yang saya lihat di mata kamu saat kita pertama kali bertatap mata di ruang makan tadi. Ada gairah yang terpendam di balik rasa takut itu. Kamu benci saya, tapi kamu juga mendambakan perhatian saya, bukan?"

Syibral merasa wajahnya panas seperti disiram air mendidih. Dia ingin membantah, ingin meneriakkan kata-kata kasar tepat di depan wajah sombong itu, tapi lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang dilontarkan Reza terasa seperti tamparan keras yang menyadarkannya pada realitas yang selama ini coba ia sangkal.

"Jangan ngawur, Bang. Abang itu kakak sepupuku. Kita laki-laki. Apa yang Abang omongkan itu menjijikkan." Suara Syibral bergetar hebat saat mengucapkan kata menjijikkan itu.

"Menjijikkan? Tapi kenapa napas kamu makin berat? Kenapa jantung kamu berdetak sangat kencang sampai saya bisa merasakannya dari sini?" Reza semakin mendekat. Hidung mereka hampir bersentuhan sekarang.

"Lepasin, Bang. Aku mau balik." Syibral mencoba mendorong dada Reza dengan kedua tangannya, tapi tangannya justru terhenti saat menyentuh otot dada yang keras di balik kemeja hitam itu. Rasanya sangat padat dan maskulin.

"Tangan kamu bilang hal yang berbeda dari mulut kamu, Syibral. Kamu menyukai ini. Kamu menyukai bagaimana saya menekan kamu, bagaimana saya mengontrol kamu. Akui saja." Reza meraih dagu Syibral, memaksanya untuk terus menatap mata elang itu.

"Aku nggak suka. Abang gila." Syibral menggelengkan kepalanya pelan, tapi dia tidak benar-benar berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Reza di dagunya.

"Gila? Mungkin iya. Tapi kegilaan ini yang membuat kamu tidak bisa berhenti menatap saya sejak tadi sore. Kamu tahu, Syibral? Kamu itu seperti buku yang sangat mudah dibaca. Semua rasa penasaran dan ketakutan kamu tertulis jelas di wajah manis ini."

Syibral merasa seluruh pertahanannya runtuh satu per satu. Dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam, dan Reza adalah orang yang siap mendorongnya kapan saja. Namun, yang paling menakutkan adalah Syibral merasa ingin melompat ke dalam jurang itu secara sukarela.

"Gue harusnya benci dia. Dia sombong, dia kasar, dia memperlakukan gue seperti sampah. Tapi kenapa sentuhannya di dagu gue malah bikin seluruh tubuh gue lemas? Kenapa gue justru merasa ketagihan dengan tekanan yang dia berikan?" Batin Syibral terus berteriak dalam kebingungan yang luar biasa.

Reza melepaskan dagu Syibral, tapi dia tidak menjauh. Dia justru menggeser tangannya ke leher Syibral, merasakan denyut nadi yang berpacu kencang di sana. Jempolnya mengusap kulit leher Syibral dengan gerakan yang sangat perlahan namun penuh dengan muatan seksual yang dalam.

"Kamu punya aroma yang menarik. Aroma ketakutan bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar. Itu membuat saya ingin melihat sejauh mana kamu bisa bertahan sebelum kamu memohon pada saya." Reza berbisik tepat di depan bibir Syibral.

Syibral memejamkan mata, merasakan sensasi panas yang menjalar dari lehernya ke seluruh bagian tubuhnya. Dia merasa sangat berdosa, namun perasaan itu tertutup oleh gelombang kenikmatan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap sentuhan Reza terasa seperti aliran listrik yang membakar saraf-sarafnya.

"Aku tidak akan pernah memohon pada Abang. Jangan harap." Syibral menggumam dengan suara yang hampir menghilang.

"Kita lihat saja nanti, Dik. Malam ini baru permulaan. Saya akan membuat kamu menyadari bahwa kamu tidak akan bisa berpaling dari saya. Kamu akan merangkak kembali pada saya hanya untuk mendapatkan tatapan seperti ini lagi."

Reza akhirnya menjauhkan tubuhnya, memberikan ruang bagi Syibral untuk bernapas kembali. Dia mengambil rokok barunya dan menyalakannya kembali dengan korek api perak yang mengeluarkan bunyi klik yang tajam. Dia kembali menyandar pada pagar balkon, seolah-olah percakapan intens tadi tidak pernah terjadi.

"Sana masuk. Tidur yang nyenyak kalau kamu bisa. Jangan biarkan bayangan saya menghantui mimpi kamu malam ini." Reza berkata tanpa menoleh, kembali fokus pada pemandangan kota di depannya.

Syibral tidak menunggu perintah kedua. Dia segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu kaca. Dia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu dengan sedikit terburu-buru. Dia terus berjalan menuju kamarnya di ujung koridor tanpa berani menoleh ke belakang sekali pun.

Sesampainya di kamar, Syibral langsung mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Napasnya masih memburu. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Dia menyentuh lehernya sendiri, tepat di bagian yang tadi diusap oleh Reza. Kulitnya masih terasa hangat di sana.

"Gila. Ini benar-benar gila. Apa yang sebenarnya dia inginkan dari gue? Dan kenapa gue merasa seolah-olah sudah kalah telak di babak pertama ini?" Syibral membasuh wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menghilangkan bayangan mata elang Reza dari ingatannya.

Dia berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Kamarnya terasa sangat sepi dan dingin, kontras dengan panas yang ia rasakan di balkon tadi. Dia menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba memikirkan rencana untuk menghindari Reza besok pagi. Namun, dia tahu bahwa menghindar dari pria seperti Reza adalah hal yang mustahil di rumah ini.

Suara angin yang menderu di luar jendela terdengar seperti bisikan Reza yang terus terngiang di telinganya. Syibral membalikkan tubuhnya ke samping, memeluk bantalnya erat-erat. Dia merasa sangat lelah secara emosional, tapi matanya sama sekali tidak mau terpejam. Setiap kali dia menutup mata, yang muncul adalah seringai tipis Reza dan aroma kayu cendana yang menyesakkan itu.

Malam itu, Syibral menyadari satu hal yang paling mengerikan dalam hidupnya. Dia tidak hanya takut pada Reza. Dia mulai merasa tertarik pada bahaya yang dibawa oleh pria itu. Dan ketertarikan itu, dia tahu, akan menjadi awal dari kehancurannya sendiri yang paling indah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel